
Dua bulan kemudian ...
Pasca one night stand dengan Damar malam itu, Quin memilih menghibur dan menenangkan dirinya dengan berlibur ke beberapa negara.
Melupakan semua kenangan manis bersama Angga dan menepis sejauh mungkin perasaannya terhadap Damar karena mama dari pria itu tidak menyukainya bahkan membencinya tanpa alasan yang jelas.
Setelah puas berlibur dan menepi sejenak dari segala kesibukan dan aktifitasnya, ia memilih menetap sementara di negeri ginseng Korea tepatnya di pulau Jeju.
Sedangkan Angga pasca mabuk berat malam itu, ia kembali harus menelan pil pahit setelah mengetahui Quin sudah meninggalkan kota J keesokan harinya. Ia bahkan bela-belain sampai ke Jepang hanya semata ingin menemuinya dan berharap masih di beri kesempatan.
Namun usahanya itu hanya sia-sia karena Quin sudah tidak berada di apartemennya melainkan sudah berangkat ke luar negeri. Bahkan apartemen itu sudah dijual dan telah berganti pemilik.
Kantor Angga ....
Setelah kembali dari Jepang dua bulan yang lalu, Angga tampak banyak berubah dan menjadi sedikit pendiam.
Ia juga mulai menjalin pertemanan dengan Gisha karena gadis itu sedikit banyak menasehatinya. Walaupun Gisha masih merasa jengkel padanya karena telah melukai hati Quin.
Bayangan wajah Quin terus saja menghiasi benaknya dan merasa sulit melupakan ex tunangannya itu. Ia juga lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor ketimbang berkumpul dengan teman-temannya dan lebih memilih menghindari Kinar.
Tok ... tok ... tok ...
Lamunannya langsung membuyar lalu mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk.
"Bram," sapanya lalu melangkah ke arah sofa. "Apa kamu sudah mendapatkan kabar tentang Quin?" tanyanya setelah mendaratkan bokongnya di sofa.
"Maaf, Tuan ... saya sudah berusaha, tapi sepertinya nona Quin menutup semua data pribadinya di internet," jelas Bram.
Angga bergeming, namun sorot matanya benar-benar menyiratkan kekecewaan dan penyesalan mendalam.
Ia mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca lalu mengisyaratkan supaya Bram meninggalkannya.
Angga tertunduk lesu lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Ia mengaktifkan benda pipih itu lalu menatap wajah Quin yang masih ia jadikan wallpaper layarnya.
"Quin ... where are you?!" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia bahkan sering bolak balik ke butik gadis itu demi memastikan jika Quin sudah kembali. Namun lagi-lagi ia tetap harus kecewa karena Quin tak pernah muncul.
Tak jarang ia dan Damar sering bertemu di butik gadis itu bahkan saling sindir. Tak jarang pula keduanya hampir adu jotos jika tak ada yang melerai.
*
*
*
Kediaman Damar ...
Sudah dua bulan terakhir pria itu sering merasakan pusing, mual bahkan tak jarang ia memuntahkan semua isi perutnya.
Ia juga merasa bingung dengan kondisi kesehatannya yang terasa sangat aneh baginya. Tak jarang Adrian dibuat pusing dan repot oleh ulahnya, ditambah lagi keinginannya yang tiba-tiba saja kadang kepengen memakan makanan seperti buatan Quin.
Damar yang saat ini masih berada di wastafel, tampak sedang berkumur-kumur setelah selesai memuntahkan semua isi perutnya. Sedetik kemudian ia menatap pantulan dirinya di depan kaca.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Penyakit ini aneh banget, sangat menyiksaku," keluhnya sambil memijat kepalanya lalu mengelus perutnya yang masih merasakan mual.
"Quin where are you? Kenapa kamu sama sekali nggak memberiku kabar? Ini bahkan sudah dua bulan semenjak kamu meninggalkan ku dan kota ini?" lirihnya.
Perasaan rindu yang begitu mendalam sangat menyiksanya. Tak jarang ia menginap di apartemen gadis itu hanya karena merindukan sosoknya. Dan ia merasa aneh ketika mencium bau parfum gadis itu, seketika membuat rasa mualnya berkurang.
Satu jam berlalu ...
Kini ia sudah tampak rapi dan bersiap ke kantor. Dengan langkah buru-buru ia menuruni anak tangga menuju ke halaman parkir.
"Siang ini aku ingin beristirahat di apartemen Quin saja. Oh Lord, aku sangat merindukannya," gumamnya sesaat setelah duduk di kursi kemudi.
Setelah itu ia mulai melajukan kendaraannya itu menuju kantornya.
Jauh dari kota J di negeri ginseng, tampak Quin kini sedang berada di dalam pesawat. Sebentar lagi, pesawat yang ditumpanginya akan segera take off menuju kota J.
Tepat pukul 10.15, pesawat itu mulai mengudara.
Meninggalkan Quin yang kini sedang dalam perjalanan udara menuju kota J, di butik gadis itu Al, Jihan dan Gisha tampak sembringah setelah Quin mengirim email jika ia sedang dalam perjalanan menuju kota J.
Namun tetap saja ia ingin karyawannya itu tetap diam dan merahasiakan kedatangannya.
Saking antusiasnya, mereka tak menyadari jika Naira dan Kinar sedang memperhatikan ketiganya.
"Al ... ada apa sih? Kok senang banget?" selidik Kinar.
Al, Jihan dan Gisha langsung mengarahkan pandangannya ke Kinar dan Naira, lalu memutar bola matanya dengan malas.
"Al, mau ngapain sih!! Si buaya betina itu kemari?" bisik Gisha lalu terkekeh.
"Entah, mungkin mau mencari gaun kali," jawab Al ikut terkekeh. Ia lalu menutup laptopnya kemudian menatap kedua wanita itu.
"Kepo loe," ketus Al tak bersahabat. "Lagian ada urusan apa kalian ke sini pagi-pagi? Kurang kerjaan banget," sambung Al.
Kinar dan Naira begitu geram mendengar ucapan ketus dari sahabat Quin itu.
"Kita ke sini mau membeli gaun," kata Naira dengan perasaan dongkol.
"Ya sudah, naik saja ke lantai dua," sinis Jihan menatap Naira.
Sedangkan Kinar terus menatap tak suka pada Gisha. Ia merasa cemburu karena gadis itu terlihat mulai dekat dengan Angga.
"Apa kalian akan di situ terus menatap kami bertiga? Jika kalian memang niat ingin membeli gaun, ke lantai dua saja. Tapi jika tidak, silakan tinggalkan butik ini. Kalian merusak pemandangan saja," sindir Gisha sekaligus mengusir keduanya secara halus.
Lagi-lagi ucapan frontal yang keluar tanpa permisi dari bibir Gisha membuat Kinar dan Naira semakin geram.
"Kamu?!!!" sentak keduanya serentak. Karena tak tahan akhirnya Naira dan Kinar meninggalkan butik itu dengan perasaan dongkol.
Sepeninggal keduanya, Al, Jihan dan Gisha langsung terbahak seolah merasa puas mengusir kedua buaya betina itu dari butik Quin.
"Rasain!! Emang enak di kerjain," gerutu Jihan sambil terbahak.
*
*
*
Sore harinya pukul 15.30 waktu kota J ...
Setelah menempuh perjalanan lebih dari tujuh jam, akhirnya Quin tiba juga di kota J. Setelah membayar ongkos taksi, ia pun segera mempercepat langkahnya menuju lift untuk mengantarnya ke unit apartemennya yang berada di lantai dua belas.
"God ... rasanya aku ingin segera merebahkan tubuhku di atas ranjang empukku," gumamnya.
Tak berselang lama, akhirnya pintu lift terbuka. Ia mengulas senyum lalu melangkah keluar kemudian mempercepat langkahnya menuju pintu unitnya.
Setelah menekan password dan pintu terbuka, ia pun memasuki apartemennya yang sudah dua bulan ia tinggalkan. Ia langsung meletakkan tas kerja dan tas tangannya di atas meja sofa lalu menuju kamar.
Namun seketika alisnya saling bertaut ketika mendapati pintu kamarnya tak tertutup.
"Apa Al sedang tidur di kamar ya?" desisnya bertanya sambil melangkah kecil menuju kamar itu.
Ketika ia berada di ambang pintu, langkahnya langsung terhenti ketika mendapati Damar sedang tertidur pulas di atas ranjangnya dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek rumahan.
"Damar," lirihnya lalu perlahan menghampirinya kemudian duduk di sisi ranjang. Jauh dalam sudut hatinya ia sangat merindukan pria itu.
Perlahan tangannya terangkat lalu mengelus rahang tegasnya. Namun Quin sedikit merasa iba karena pria itu terlihat pucat.
"Apa kamu sedang sakIt? Kenapa wajahmu pucat begini dan terlihat lesu?" batin Quin.
"Damar," bisik Quin masih sambil mengelus rahangnya. Damar hanya menggerakkan kepalanya dan mengira jika ia sedang bermimpi.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ