101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 86



Sebelum melanjutkan langkah kakinya menghampiri Quin dan Pak Pranata, Damar melirik Adrian sekilas lalu tersenyum.


"Rian, sepertinya keberuntungan berpihak padaku hari ini," bisik Damar.


Rian hanya dibuat bingung dengan ucapan mengambang dari boss-nya itu.


"Quin ..." sapanya dengan senyum manis dan penuh arti.


Damar menatap lalu menyapa pak Pranata kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Selamat siang, Om."


Damar mengulas senyum penuh percaya diri lalu mengedipkan sebelah matanya pada Quin. Seketika Quin merasa sedikit curiga dengan gelagat tak biasa dari pria tampan itu.


Apa lagi yang dia rencanakan? Kok perasaanku tiba-tiba jadi nggak enak begini ya?


Quin membatin dengan senyum yang dipaksakan.


"Well ... kebetulan banget Om ada di sini," kata Damar dengan kalimat mengambang dan membuat mereka yang ada di butik itu ikut merasa bingung.


Damar berjongkok di depan Quin dan pak Pranata lalu menatap keduanya bergantian. Sedetik kemudian ia menggenggam jemari Quin.


"Om ... honestly, sudah lama aku ingin bertemu dengan Om dan ingin mengatakan ini," kata Damar Masi sambil menggenggam kedua tangan Quin.


Pak Pranata lagi-lagi dibuat bingung dengan gelagat putra tuan Alatas itu. Ia tersenyum lalu menepuk bahunya.


"Mengatakan sesuatu?" tanya pak Pranata.


Damar hanya mengangguk sekaligus membuat hatinya berbunga-bunga.


"Om ... aku mencintai putri Om dan ingin menikahinya. Aku ingin Om memberi restu Om untuk kami berdua."


Ungkapan tulus dan penuh keyakinan itu, seketika membuat yang ada di ruangan itu terkejut termasuk pak Pranata. Keningnya mengerut menatap keduanya bergantian.


"Jangan gila kamu?" kata pak Pranata. "Quin sudah punya tunangan dan akan menikah tahun depan," sambungnya.


Damar mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Hubungan Quin dan Angga sudah lama berakhir, Om," jelas Damar.


"Apa?!" Pak Pranata terkejut mendengarnya lalu menatap sang putri penuh selidik. "Sayang ... apa itu benar?" tanya pak Pranata.


Quin hanya mengangguk pelan kemudian memeluk pak Pranata lalu menangis.


"Yang dikatakan Damar barusan benar, Pah," lirihnya. "Aku memilih memutuskan pertunanganku dengan Angga karena memergokinya beberapa kali berhubungan intim dengan wanita lain," lirih Quin lagi namun enggan menyebut jika Kinara lah wanita yang ia maksud.


Seketika hati pak Pranata terasa dicubit sekaligus mencelos. Perasaan bersalah langsung menyelimuti dirinya. Ia tak menyangka jika putrinya itu akan mengalami nasib yang sama seperti mama sekaligus istrinya.


"Maafkan papa," ucap pak Pranata sambil menangis karena merasa bersalah dan menyesal.


Dalam dekapan sang papa, Quin hanya mengangguk. Ingin marah pada sang papa pun percuma, karena semuanya sudah terjadi. Yang bisa ia lakukan hanyalah ikhlas.


Perlahan pak Pranata mengurai dekapannya pada sang putri lalu menatap Damar dengan wajah sendu penuh penyesalan. Ia menyentuh pundak pria itu.


Sebelum mengatakan sesuatu, pak Pranata menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembusnya pelan.


"Damar ..." sebut pak Pranata. "Apa kamu benar-benar mencintai putriku? Apa kamu benar-benar sudah siap menikahinya?" cecar pak Pranata. "Tolong jangan sakiti putriku. Jangan mengulangi kesalahan seperti yang om dan Angga lakukan," pesan pak Pranata sekaligus menasehati Damar. "Ketahuilah ... itu sangat menyakitkan. Karena kesalahan fatal itu, akhirnya membuat mamanya Quin sakit dan akhirnya meninggal," lirih pak Pranata disertai dengan derai air mata.


Damar terpekur lalu tertunduk mendengar ungkapan penyesalan pak Pranata.


"Nggak akan, Om. Selama ini aku dikelilingi oleh banyak wanita. Tapi hanya ada satu wanita yang benar-benar membuat hati dan dadaku berdebar, iaitu Quin Atalia Pranata, putri Om," tutur Damar sungguh-sungguh.


Lagi-lagi semua yang ada di ruangan itu, kembali terkejut dengan ungkapan Damar. Pria Casanova itu ternyata benar-benar mencintai Quin.


Sedangkan Quin hanya bungkam dan entah harus bagaimana. Padahal diam-diam ia sudah memesan tiket penerbangan ke Jepang besok.


Ia berencana akan kembali ke Jepang dan lanjut ke pulau Jeju, tempat di mana ia menetap sementara.


Oh Lord ... beri aku petunjuk. Quin membatin lalu tertunduk.


"So ... apa itu artinya saat ini kamu sedang melamar putri bungsu Pak Pranata?" tanya Al.


Damar menatap pak Pranata lalu mengulas senyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ckckckck ... nggak romantis banget sih kamu," decak Al seolah mengejek Damar lalu terbahak.


Mendengar ucapan Al, seketika tawa mereka memenuhi ruangan butik Quin. Damar kembali menatap pak Pranata seolah menanti jawaban dari pria paruh baya itu.


"Damar, om tidak masalah. Tapi semuanya tergantung dari Quin saja," kata pak Pranata.


"Aku akan memikirkan jawaban apa yang akan aku beri," sahut Quin dengan cepat.


Bukannya ia menolak, tapi saat ini benaknya memikirkan nyonya Zahirah yang otomatis sangat menentang hubungannya dan Damar.


Seolah tahu apa yang Quin pikiran, Damar hanya mengangguk dan berencana akan berbicara secara baik-baik saat pulang kerja nantinya.


.


.


.


Malam Harinya, apartemen Quin ...


Setelah selesai membersihkan diri dan menyantap makanan malam, Quin tampak berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.


Ia kembali teringat ucapan sang papa yang tampak begitu menyesali akan kesalahan yang ia lakukan beberapa tahun lalu.


Mungkin karena kelelahan juga karena hormon kehamilan yang membuatnya cepat lelah, Quin menghela nafasnya lalu kembali merubah posisinya menjadi duduk.


Ia pun membuka laci nakas lalu meraih tespek, foto USG janinnya dan tiket pesawat yang sudah di pesannya kemarin. Ia menatap dalam intens ketiga benda itu.


Air matanya langsung menetes, di sisi lain ia bahagia dan di satu sisi lain pula ia sedih.


"Lord ... aku sudah memutuskan akan meninggalkan kota ini besok. Aku nggak mau Damar dan mamanya bertengkar karena aku," desisnya. Setelah itu ia kembali meletakkan ketiga benda itu ke dalam laci nakas lalu merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.


Selang beberapa menit kemudian, ia malah tertidur dan lupa mendorong laci nakas yang ia buka tadi.


Beberapa jam berlalu ...


Damar yang baru saja tiba di apartemen Quin, tampak mengernyit karena ruangan itu sepi.


"Sepi banget? Biasanya tv-nya nyala, tapi tumben?" desisnya lalu meletakkan kantong plastik berisi buah di atas meja pantry.


Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Senyumnya langsung mengembang saat mendapati gadis itu tertidur pulas. Ia pun menghampirinya lalu duduk di sisi ranjang.


Menatap wajah dan seluruh tubuh Quin tanpa ada yang ia lewatkan. Mengelus pipinya yang terlihat semakin chubby lalu mendaratkan kecupan yang lama di keningnya.


"Gemas banget," bisiknya lalu mengelus cincin yang melingkar di jari manis gadis itu. Setelah itu Damar melepas jaketnya dan ingin ke balkon untuk merokok.


Namun ia menahan langkahnya dan mengerutkan keningnya saat mendapati laci nakas Quin terbuka. Saat akan mendorong laci itu, ia kembali mengurungkan niatnya saat mendapati benda yang membuat perhatiannya terusik.


"What is this?" desisnya dengan alis bertaut curiga. Ia pun meraih ketiga benda itu lalu menatap Quin yang masih tertidur pulas.


"Tespek? Foto USG? Tiket penerbangan ke Jepang?" sebutnya satu persatu dan kembali menatap Quin. "Apa ini?! Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku, Quin?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Damar kembali melanjutkan langkahnya ke balkon sambil membawa tespek dan foto USG itu. Damar bertanya-tanya, terakhir kali ia berhubungan intim hanya dengan Quin dan tidak menggunakan pengaman.


Sedangkan Quin, satu-satunya pria yang menidurinya adalah Damar.


"Apa itu artinya ...." Damar menggantung ucapanya dengan mata berkaca-kaca lalu menatap foto USG janin calon bayinya dengan perasaan bahagia. "Tiket itu? Apa Quin akan meninggalkan aku lagi?" tebak Damar dengan perasaan getir. "Nggak ... nggak ... ini nggak boleh terjadi," desisnya.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜