101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 93



Beberapa jam kemudian tepatnya jam tiga sore, Damar mematikan laptop lalu menutupnya. Ia pun menghampiri Quin yang masih tampak tertidur di sofa.


Sambil berjongkok ia langsung mengelus perut buncitnya lalu mengecup bibir dan keningnya.


"Honey." Sambil mengelus pipi sang istri. "Honey." Untuk yang kedua kalinya ia memanggilnya. "Hei ... come on wake up," desis Damar sambil menatapnya.


Quin tak merespon melainkan hanya memiringkan kepalanya. Karena tak ingin memaksa, akhirnya ia kembali berdiri lalu menghampiri kaca ruangan.


Membakar rokok lalu menyesapnya sambil memperhatikan kota Osaka dari ruangan kantornya.


Damar tersenyum mengingat beberapa bulan yang lalu saat musim semi di kota itu. Saat ia masih menggunakan kursi roda, dengan nekatnya ia menyusul Quin saat itu.


"Honey ... bagiku, kamu adalah hadiah terindah," desis Damar dengan senyum yang kini terus terukir di wajahnya.


Ia kembali larut mengenang saat pertama kali bertemu Quin di taman kota. Tanpa memandang fisik dengan ramah gadis itu menyapanya.


Saat sedang asik dengan pikirannya, tiba-tiba saja ia merasakan sebuah pelukan hangat dari belakangnya.


Damar langsung menjatuhkan sisa rokoknya demi menghindari Quin dari terkena asap rokok.


"Sudah bangun?" Damar kemudian berbalik berhadapan dengan Quin.


"Hmm ... pulang yuk," ajak Quin sambil menyandarkan kepalanya ke dada bidang nan liat suaminya.


"Baiklah Honey," bisiknya. "Malam ini kita dinner bareng Al dan Rian ya," cetus Damar.


Boleh ... tapi di mana?"


"Abeno Harukas."


Seketika Quin langsung tersenyum mendengar nama tempat itu. Salah satu tempat favorit mereka berdua.


Bagaimana tidak, Abeno Harukas adalah salah satu bangunan tertinggi di Jepang. Seperti namanya, Haru yang berarti jauh, maka tak heran jika dari dek observasi setiap pengunjung dapat melihat seluruh kota Osaka dari ketinggian gedung itu.


Melihat istrinya terus tersenyum, Damar sudah bisa menebak jika Quin menyukai tempat itu. Setelah itu ia pun kembali mengajaknya pulang.


.


.


.


.


Setibanya di rumah, Damar membantunya membawa barang belanjaannya ke dapur.


"Honey ... sepertinya kita butuh ART," usul Damar sesaat setelah meletakkan barang belanjaan di atas meja.


Quin tampak berpikir lalu mengelus perutnya. Mengingat dua bulan lagi ia akan melahirkan akhirnya ia menyetujui usulan dari suaminya.


"Tapi aku ingin bibi Atik yang menjadi ART ku."


"Bi Atik?" Damar bingung karena tak mengenal sosok yang dimaksud.


"Bi Atik, bibi yang bekerja di rumah papa. Dia sudah aku anggap seperti mama juga. Soalnya bi Atik sudah lama bekerja di sama papa," jelas Quin.


Damar mengangguk setuju sambil membantu Quin menata belanjaannya ke dalam kulkas.


Setelah itu keduanya ke kamar untuk beristirahat.


Sementara itu, Adrian dan Al yang kini sudah berada di apartemen tampak sedang duduk bersantai di ruang tamu.


Keduanya tampak mengobrol dan sesekali tertawa lucu.


"Haaah ... aku benar-benar nggak nyangka jika Quin bisa khilaf juga. Khilafnya bukan main-main pula," kata Al sambil terkekeh.


Adrian hanya geleng-geleng kepala mendengar celotehan dari sahabatnya Quin itu.


"Khilaf tapi akhirnya berujung bahagia," sahut Adrian lalu melirik Al.


Al mengangguk, tak bisa ia pungkiri jika Damar memang sangat mencintai dan menyayangi Quin. Bahkan itu sudah terlihat sejak Quin menjadi asisten pribadinya.


Hening sejenak. Sebelum akhirnya ia memanggil Al dan menatapnya dengan wajah serius. Tentu saja gelagat tak biasa Adrian itu membuat Al sedikit gugup dan salah tingkah.


"Ada apa sih? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Al.


"Al ..." Adrian tampak ragu ingin mengatakan sesuatu.


"Apa sih?!"


"Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu. Maukah kamu menjadi pacarku?"


Sontak saja ungkapan tiba-tiba dari Adrian itu membuat Al kaget. Entah ia harus menjawab apa.


"Rian," lirih Al sambil menatapnya.


"Al, aku nggak bercanda aku serius padamu. Bahkan aku ingin melamarmu setelah nona Quin melahirkan," tegas Adrian.


"Maaf ... beri aku waktu untuk berpikir," balas Al.


Hening .... hingga beberapa menit kemudian ponsel Adrian bergetar.


"Tuan," desisnya sesaat setelah menatap layar ponselnya. Ia pun langsung menjawab panggilan itu.


Setelah menjawab panggilan dari Damar, ia kembali melirik Al lalu mengulas senyum.


"Bersiaplah ... sehabis magrib, tuan dan nona Quin akan mengajak kita makan malam di Abeno Harukas," pesan Adrian.


"Beneran?!" sahut Al dengan antusias.


"Hmm ... ya sudah, aku kembali ke apartemen tuan dulu. Nanti aku akan kemari menjemputmu."


Al mengangkat kedua jempolnya. Setelah itu Adrian meninggalkannya lalu ke unit Damar yang bersebelahan dengan unitnya yang saat ini di tempati Al.


*********


Malam harinya pukul tujuh malam, Damar dan Quin sudah tampak rapi dengan setelan jas dan gaun dengan warna senada iaitu hitam.


Sebelum berangkat Damar memeluk Quin sambil menangkup perut buncitnya yang kini terlihat jelas dengan gaun yang di kenalannya.


"Sempurna dan kamu kelihatan cantik banget," bisik Damar sambil menatap pantulan dirinya dan sang istri lewat kaca besar di ruang ganti itu.


"You too," balas Quin. "Sudah ah, yuk kita berangkat sekarang," ajaknya lalu menggandeng lengan suaminya.


Dengan hati-hati Damar merangkul pinggang sang istri menuruni anak tangga hingga berada di lantai bawah.


Sesaat setelah berada di dalam mobil dan memastikan Quin sudah memasang seat belt, barulah Damar mulai melajukan kendaraannya menuju ke tempat tujuan mereka.


Sementara di apartemen, setelah menunggu Al selama beberapa menit, akhirnya gadis itu keluar juga dari kamarnya.


"Rian, yuk. Aku sudah siap," tegur Al.


Adrian langsung mengarahkan pandangannya ke arah gadis itu. Ia tertegun menatap Al yang terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna blue sky.


"Yuk," ajak Adrian dengan seulas senyum.


Keduanya pun sama-sama meninggalkan apartemen itu menuju lift. Sesaat setelah lift yang mengantar keduanya berhenti di lantai dasar, Al dan Adrian segera melanjutkan langkahnya ke arah mobilnya yang terparkir.


Tepat di jam delapan lewat tiga puluh menit malam, kini mereka sudah tampak berada di gedung itu tepatnya di Sky Garden.


Pemandangan indah yang memperlihatkan kota Osaka dari atas ketinggian gedung berlantai 58 itu seketika membuat Quin dan Al tersenyum lepas.


"Quin ... Satu tahun yang lalu, apa kamu masih mengingatnya?" tanya Al.


Quin mengangguk lalu tersenyum. Setahun yang lalu mereka meyambut tahun baru di atas ketinggian gedung itu.


Damar dan Adrian hanya memperhatikan interaksi kedua sahabat itu yang tampak asik mengobrol.


"Rian, hanya bisa melihat Quin tersenyum bahagia seperti itu saja aku sangat bahagia," kata Damar.


Adrian mengangguk dan terus mengarahkan pandangannya ke arah kedua wanita itu.


"Rian, tempat ini recommended banget jika kamu ingin melamar Al," saran damar.


"Ide Tuan, boleh juga," balas Adrian lalu tersenyum.


Setelah pesanan makanan mereka di antar ke meja makan, Damar beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Quin dan Al.


"Honey ... Al," panggilnya seraya merangkul pinggangnya. "Yuk, kita makan dulu," cetusnya.


"Al, ayo. Mumpung suamiku yang traktir. Kapan lagi bisa ditraktir sama boss," kelakar Quin lalu terkekeh.


"Jika bisa aku sekalian ingin bungkus bawa pulang," balas Al. Ia langsung tertawa menatap Damar.


"Boleh ... asalkan kamu nggak malu saja," ledeknya.


Ketiganya kembali tertawa sambil menghampiri meja makan. Begitu ketiganya duduk, mereka mulai menyantap makanan itu dan sesekali melihat keindahan kota Osaka di malam hari sambil menghirup udara segar.


Setelah selesai menyantap makan malam, kini mereka kembali ke dek observasi untuk lanjut memandangi kota malam itu sambil mengobrol santai.


Kesempatan itu Quin manfaatkan sebelum sahabatnya itu kembali ke kota J bersama Adrian.


...----------------...