101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 18



Tanpa pikir panjang, Angga langsung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan kerjanya bercampur emosi dan marah.


Perasaan cemburu, galau, getir dan kalut seketika menyelimuti dirinya. Di tambah lagi ucapan Dennis beberapa hari yang lalu kini kembali terngiang-ngiang di telinganya.


"Sebaiknya kamu harus hati-hati. Jika Quin terus-terusan menolak ajakanmu, fix ... pasti dia lagi dekat dengan pria lain."


"Apa ini alasannya Quin menunda pernikahan kami?! Apa dia sengaja mengulur waktu demi Damar?" Pertanyaan itu terus merasuki otaknya


"Aakhh!! Sial!! Aku nggak mau kehilangan Quin. Apalagi jika dia tahu aku dan Kinara ada affair. Alasan itu pasti akan dia jadikan alasan." Sejenak Angga terdiam.


Ting ....


Pintu lift terbuka dan ia buru-buru keluar dari kotak besi itu menuju ke tempat kendaraannya di parkiran.


Hanya Quin yang bisa membuat ia sampai uring-uringan seperti itu. Ia kembali di buat kesal karena harus melewati drama macet beberapa kali.


"What the hell!!" kesalnya lalu terus memencet klakson mobilnya dengan tidak sabaran. ulahnya itu seketika membuat pengendara lain auto kesal dan geram.


Meninggalkan Angga yang sedang kesal justru sebaliknya bagi Damar, Adrian dan Quin. Ke-tiganya kini tampak mengobrol santai.


"Quin, jika kamu mau, aku bisa mengusulkan perusahaan di tempatku bekerja menjalin kerjasama dengan mu," usul Damar.


"Nama perusahaannya?" tanya Quin.


"Alatas Corp."


"Apa? Yang benar saja, Damar?!"


"Serius, aku beneran," sahut Damar dengan seulas senyum menatap gemas wajah terkejut Quin.


"Wait ... wait ... Alatas Corp? Pasti kalian berdua sangat mengenal CEO-nya yang terkenal player, suka hura-hura dan gila balapan itu kan? By the way ... sudah tiga tahun ini dia nggak ada kabar. Apa kalian tahu di mana boss kalian itu?" cecar Quin.


Mendengar sederet pertanyaan frontal yang terucap di bibir Quin seketika Damar dan Adrian saling berpandangan. Dengan susah payah Damar menelan salivanya.


"Apa kamu tahu atau mengingat namanya dan wajahnya seperti apa?" selidik Adrian.


"Quin menggelengkan kepalanya. "Boro-boro tahu wajahnya, namanya saja aku pun nggak tahu. Lagian nih ya, aku juga nggak tertarik dengan pria sepertinya, menjijikan. Sebagai pria kalian pasti tahu seorang player itu seperti apa. Meskipun belum tentu dia tertarik padaku ha.ha.ha ...." Tawa Quin langsung pecah setelah selesai berucap.


"Habislah aku jika Quin tahu aku lah orang yang dia maksud. Sebaiknya aku harus hati-hati saat menghadiri HUT perusahaan papa."


Damar membatin dengan perasaan kalut. "Quin, besok-besok jika ingin ke perusahaan tempatku bekerja hubungi aku dulu ya," pesannya.


Syukur lah, dia nggak jadi ke perusahaan tadi. Bisa ketahuan aku.


"Siap!! Makanya tadi, sebelum ke perusahaan itu, aku ingin menghubungimu dulu, tapi ponselku nggak ada. So ... aku cancel," imbuh Quin.


Tak lama berselang, Al, Gisha, dan Jihan muncul lalu menatap mereka penuh selidik.


"Quin, sebaiknya kami pamit kembali ke kantor," kata Damar.


"Biar aku bantu," tawar Quin lalu tersenyum. "Atau mau sekalian aku tuntun sampai ke mobilmu?"


Tentu saja Damar dengan senang hati mengiyakan tawaran Quin. Ia mengangguk setuju.


"Quin!" Al menatap curiga padanya. Namun Quin hanya cengengesan.


"Buseet ... menang banyak si boss," batin Adrian


Sambil menuntun Damar, lagi-lagi Quin terus mengajaknya ngobrol dan bercanda. Alhasil caranya itu cukup ampuh memperlancar langkahnya hingga sampai di dekat pintu mobilnya.


"Thanks ya, Quin," ucapnya dengan seulas senyum lalu membuka pintu mobil.


"Sama-sama." Quin kemudian membantunya masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Damar sudah duduk dengan posisi yang aman, ia pun berjongkok lalu berkata, "Sebagai asisten pribadi yang baik aku juga harus sigap. Aku nggak mau gajiku dipotong."


Quin tertawa begitupun dengan Damar.


"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Oh ya, mungkin aku akan pulang sedikit telat, soalnya aku harus menghadiri anniversary pernikahan mamanya Angga malam ini," izin Quin.


"Baik lah, tapi pulangnya jangan kemalaman," pesan Damar.


Lagi-lagi dari balik kaca galery butik, Kinara tak menyia-nyiakan kesempatan merekam aktivitas Quin dan Damar yang tampak begitu intim lalu mengirim ke aplikasi WhatsApp Angga.


Mobil Damar yang baru saja meninggalkan area butik, sempat berpapasan dengan mobil Angga yang baru akan memasuki area itu.


Ia sempat berhenti sejenak lalu meraih ponselnya kemudian membuka pesan video yang dikirim oleh Kinara. Lagi-lagi darahnya langsung mendidih.


Kesal ...


Marah ...


Cemburu ...


Semuanya bercampur menjadi satu. Wajahnya memerah menahan marah, rahangnya mengetat dan tangannya terkepal.


Sebelum kembali melajukan kendaraannya ke butik Quin, Angga menarik nafasnya dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.


Setelahnya ia pun kembali melajukan kendaraannya yang sudah tidak jauh dari butik sang tunangan.


Baru saja Quin akan melangkah, suara klakson mobil Angga membuatnya menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Angga?!" Ia pun menghampiri mobil tunangannya itu lalu tersenyum saat sang empunya kendaraan membuka pintu mobilnya.


Tanpa curiga apapun, Quin langsung memeluknya.


Perasaannya yang tadi begitu marah dan emosi langsung buyar seketika dengan pelukan hangat Quin di sertai sikap manjanya. Namun tetap saja perasaan cemburu pada Damar seolah membuatnya merasa tersaingi.


"Sayang, aku menjemputmu makan siang," bisiknya.


Quin mengurai sedikit pelukannya lalu sedikit mendongak. "Tapi aku sudah makan siang tadi," jujurnya.


"Temani aku ... please," mohon Angga.


"Baik lah, kita sekalian Carikan mama kado ya," pintanya.


Angga mengangguk setuju. Pikirnya Quin akan menolak lagi ajakannya, namun ia salah.


"Sebentar ya aku ambil tas dulu," izinnya.


Beberapa detik kemudian, quin kembali menghampiri Angga yang terlihat sedang menunggunya sambil bersandar di pintu mobilnya.


"Sayang ... yuk ..." ajak Quin.


Tak ingin berlama-lama, Angga membuka pintu mobilnya lalu duduk di kursi kemudi. Setelah memastikan Quin memasang seat belt, ia pun mulai mengendarai kendaraannya ke salah satu restoran Jepang.


Tahu jika Quin sangat menyukai makanan negara asal mamanya itu, ia pun membawanya ke restoran favorit sang tunangan.


"Waaah ... kalau restorannya di sini, auto nggak bisa nolak," kata Quin.


Angga mengulas senyum lalu mengajaknya masuk.


"Sayang .. ayo," ajak Angga seraya menggenggam tangan Quin. "Kita ambil privat room ya," cetus Angga.


"Boleh. Oh ya, sayang. Setelah ini antar aku ke toko perhiasan ya," pesannya.


"OK ... as you wan't sayang," bisik Angga.


Setelah berada di privat room. Angga melirik Quin.


"Sayang, saat dalam perjalanan menuju butikmu, aku menghubungi mu, tapi kamu nggak menjawab, ada apa?" selidik Angga.


Ponselku ketinggalan di apartemen," bohongnya. "Kalau nggak percaya periksa saja tasku," tantangnya.


Angga tersenyum. "Percaya kok," jawab Angga lalu memeluknya seolah tak ingin melepasnya.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya,☺️πŸ₯° beri jempol like, komen, vote dan gift jika berkenan. Dukungan dari kalian sangatlah berharga bagiku.πŸ™πŸ˜˜πŸ₯° Thanks readers.