101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 6



Sore harinya, Damar kembali meminta Adrian untuk mengantarnya ke taman kota.


"Tuan, apa Anda yakin Nona Quin, akan ke taman ini lagi?" tanya Adrian.


"Instingku mengatakan seperti itu," jawabnya santai.


"Baik lah, saya akan menunggu Anda di mobil saja," kata Adrian.


Damar hanya mengangguk lalu mengulas senyum.


Seperti perkiraan Damar, Quin yang baru saja keluar dari mobilnya menghampiri mamang penjual es boba langganannya.


Setelah menunggu beberapa menit, pesanan es bobanya pun siap.


"Terima kasih ya, Mang," ucap Quin lalu membayar esnya.


Ia pun melangkah pelan ke arah taman itu. Namun ia mengerutkan keningnya saat menatap Damar.


"Itu kan pria yang sama kemarin?" batin Quin dengan seulas senyum lalu menghampiri Damar.


"Maaf ... sendiri saja?" sapa Quin dengan ramah.


Damar mengulas senyum lalu mengangguk.


"Apa kamu sering ke taman ini?" tanya Quin lalu duduk di bangku taman.


"Nggak juga. Ini adalah yang kedua kali," aku Damar.


"Pantasan saja, aku baru melihatmu," kata Quin. "Soalnya setiap hari, sepulang kerja aku pasti mampir di taman ini," lanjutnya. "Oh ya, ini untuk kamu." Quin menyodorkan cup es boba coklat kepada Damar.


Lagi-lagi Damar tersenyum lalu meraih cup es boba itu.


"Thanks ya. Untuk kedua kalinya kamu mentraktir ku," kata Damar.


"Sama-sama ... nggak apa-apa soalnya kamu bukan yang pertama," kata Quin dengan seulas senyum.


"Jika bukan aku yang pertama lalu siapa?"


"Banyak, soalnya setiap aku ke taman ini aku memang sering membeli dua cup lalu memberikannya secara random dengan orang yang pertama aku temui," aku Quin lalu menyedot esnya.


"Waaah ... berarti kemarin dan hari ini aku beruntung dong, soalnya aku orang pertama yang kamu temui," kata Damar lalu menatap Quin.


"Yaaa ... begitu lah," jawab Quin lalu terkekeh.


"Kenalin ... aku Damar." Ia mengulurkan tangannya.


"Quin." Ia pun menyambut uluran tangan Damar lalu menjabatnya sembari tersenyum.


Setelahnya Quin kembali menyedot es kesukaannya itu. Tak lama berselang, ponselnya bergetar namun Quin hanya membiarkannya saja.


Karena tak kunjung dijawab, akhirnya Damar menegurnya.


"Kok nggak di jawab," tegur Damar.


Quin hanya berdecak. "Ck ... nggak penting biarkan saja. Nanti berhenti sendiri," sahutnya cuek.


"Jawab saja," usul Damar.


"Nggak, jika perlu aku ingin segera lepas darinya. Pria yang terlihat setia namun berbalut dengan penuh kepalsuan," lirih Quin dengan senyum miris. "Semua pria sama saja, belum lagi yang gemar gonta ganti pasangan hanya untuk memuaskan hasrat semata. Menjijikkan dan aku benci dengan sebuah pengkhianatan," geram Quin.


Dengan susah payah Damar menelan salivanya mendengar ucapan menohok Quin, lalu melirik gadis itu.


Mati lah aku ... ternyata kata-katanya tajam juga setajam silet.


Quin terdiam sejenak lalu melirik Damar yang sedang menatapnya. "Maaf ... aku lupa jika kamu juga seorang pria," ucap Quin. "Semoga kamu bukan termasuk pria-pria brengsek itu," imbuh Quin.


"Jika dia tahu yang sebenarnya, seperti apa aku dulunya, tamat lah riwayatmu Damar," batin Damar.


Keduanya kembali terdiam dan larut dengan pikirannya masing-masing. Sebelum akhirnya Quin membuka suara.


"Damar."


"Ya."


"Apa kamu mau menjadi temanku?"


"Apa kamu nggak malu mau berteman dengan pria jelek dan lumpuh sepertiku?" Damar balik bertanya.


Quin menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum. "Nggak, ngapain malu. Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan."


"Bagaimana jika kita jadi partner saja," tawar Damar penuh arti.


"Partner? Partner dalam artian apa dulu?" selidik Quin.


"Jadi lah partnerku selama 101 hari untuk mengurusku dan segala kebutuhan ku," tawar Damar dengan senyum penuh arti.


"Bagaimana?" tanya Damar.


"Ok ... jika hanya menjadi partnermu hanya 101 hari saja, bagiku nggak masalah. Tapi jangan salahkan aku jika kamu jatuh cinta padaku," tegas Quin lalu terkekeh.


"Aku tidak yakin ... jika itu terjadi maka kamu harus bertanggungjawab," balas Damar.


Quin hanya terkekeh tanpa tahu niat tersembunyi Damar.


"Karena kamu setuju, itu artinya selama 101 hari kamu harus tinggal bersamaku di kediamanku," jelas Damar.


"What!! Kamu nggak akan macam-macam kan, sama aku!"


Damar terkekeh. "Mana mungkin aku bisa macam-macam padamu, sedangkan berdiri saja aku nggak mampu. Semuanya harus di bantu," terang Damar.


"Maaf ... aku lupa," kata Quin. "Tapi kamu nggak akan melarangku bekerja kan?"


"Nggak, yang penting kamu mengurusku dulu sebelum berangkat kerja," jelas Damar. "Deal?"


"Deal," sahut Quin lalu kembali menjabat tangan Damar.


"Berikan alamatmu, besok asistenku yang akan datang menjemputmu," pinta Damar.


"Apartemen xxx di Jalan Indah lantai 12," jelas Quin. "Apa aku akan di bayar? Secara ... itu kan, sama saja aku seperti asisten pribadimu," papar Quin lalu terkekeh.


"Whatever you want i will give," imbuhnya.


"Really?"


"Hmm ... dan aku sekalian minta nomor ponselmu," pinta Damar lagi.


"Kemarikan ponselmu biar aku yang save," pinta Quin.


Damar tersenyum lalu memberikan ponselnya kepada Quin.


Setelah selesai menyimpan nomor ponselnya, Quin kembali menyerahkan benda pipih tersebut.


"Nama kontaknya ..."


"Asisten pribadi," sahut Quin cepat lalu terkekeh.


Lagi-lagi senyum penuh arti terbit dari bibir pria brewok itu.


"Ya sudah ... ini hampir gelap, ayo," ajak Quin.


"Mau aku bantu dorong kursi rodanya," tawar Quin.


"Nggak usah, aku bisa sendiri cukup dengan menggerakkan tuasnya saja," kata Damar.


Keduanya pun berjalan saling berdampingan.


"Oh ya, kamu harus semangat untuk kembali bisa berjalan lagi," celetuk Quin. "Jangan pernah pesimis untuk berusaha bangkit lagi dari keterpurukan. Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya." Quin menyemangati Damar.


"I will try it," lirih Damar.


Saat keduanya sampai di parkiran, Adrian langsung menghampiri keduanya.


"Tuan, Nona ..."


"Quin ...".sahut Quin dengan seulas senyum.


"Ah iya ... Nona Quin. Terima kasih."


"Nggak apa-apa. Damar ... aku duluan ya. Semangat ya," ucap Quin lalu mengangkat kedua tangannya menyimbolkan semangat. "Aku dan asistenmu adalah orang yang selalu menyemangatimu untuk kembali pulih dan bisa berjalan lagi," ucap Quin lagi penuh semangat.


"Thanks, Quin," balas Damar merasa terharu.


Setelah itu, Quin melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobilnya.


Sepeninggal Quin. Adrian langsung mencecar sang big boss.


"Wah, Tuan, apa sih yang Anda bicarakan tadi? Saya sampai penasaran, di tambah lagi Anda sejak tadi terus tersenyum dengan Nona Quin. Apa Anda lupa jika dia itu tunangan pak Angga?"


"Nggak usah kepo." Damar mengulas senyum. Jodoh kita mana ada yang pernah tahu Adrian, jangankan tunangan, suami istri aja bisa berpisah apalagi hanya tunangan," kata Damar dengan santai.


Adrian tampak bingung. Setelah itu, ia membantu Damar masuk ke dalam mobil dan memasukkan kursi rodanya ke bagasi.


Saat Adrian mulai mengendari mobil, Damar kembali menatap cup es boba yang di berikan Quin tadi.


Sepertinya dia sangat menyukai minuman ini. Aku heran sama Angga, kenapa gadis sebaik Quin tega ia selingkuhi? Angga ... jangan salahkan aku jika Quin jatuh ke pelukanku.


Lagi-lagi sudut bibirnya membentuk lengkungan.


...***************...