
Sementara dalam perjalanan Quin melirik Adrian yang tampak fokus menyetir.
"Adrian ..."
"Ya, Nona Quin," sahutnya.
"Jika aku disuruh masak, gimana dong? Soalnya aku nggak bisa masak. Bisanya hanya tinggal makan saja," kelakar Quin lalu terkekeh.
Adrian ikut terkekeh mendengar ungkapan Quin.
"Masalah masak memasak, nggak usah khawatir. Lagian ada bi Yuni yang akan memasak untuk kalian," jelas Adrian lalu melirik Quin.
Seketika Quin menjentikkan jarinya.
"Aku punya ide," ucap Quin tiba-tiba lalu tersenyum.
Adrian mengerutkan keningnya. "Apa?" tanya Adrian.
"Bagaimana jika kita carikan dia jodoh," usul Quin lalu terkekeh.
Adrian hanya tersenyum lalu geleng-geleng kepala tak mengindahkan ucapan gadis itu.
Tak lama berselang keduanya pun tiba di kediaman Damar.
"Adrian ... apa Damar hanya tinggal sendirian?" tanya Quin.
"Nggak ... sama bi Yuni. Sejak dulu dia memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Tapi jangan khawatir, orang tuanya biasa datang kemari, begitupun dengan adik beliau," jelas Adrian.
"Ck ... Adrian, bisa nggak ... bicaranya biasa saja. Nggak usah formal begitu," protes Quin.
"Saya ...."
"Stop ... panggil Quin saja dan bicaranya biasa saja, ok?" potong Quin.
"Baik lah. Tapi bagaimana jika Tuan Damar protes."
"Dia nggak akan protes," sahut Quin dengan santai.
Dari balik tirai, Damar terus memperhatikan gelagat keduanya yang tampak akrab.
"Sepertinya Quin tidak memandang status seseorang, bahkan dia cepat sekali akrab dengan Adrian," gumam Damar.
Saat Quin dan Adrian berada di ambang pintu, bi Yuni menghampiri keduanya. Namun tatapan tidak suka dan tak bersahabat dari bi Yuni membuat Quin merasa heran.
Sepertinya aku harus waspada dengan wanita peyot ini. Dari tatapannya saja dia nggak menyukaiku. Sepertinya dia cocok berteman dengan si Fitrot pelakor itu. Huh menyebalkan.
Tak lama berselang, Damar menghampirinya lalu menyapanya.
"Welcome to my simple house Quin," ucapnya dengan seulas senyum.
"Ini bukan lagi simple house tapi seperti sebuah villa mewah," sahut Quin.
Damar mengulas senyum. "Adrian, bawa koper Quin ke kamar. Tepatnya di sebelah kamarku," perintahnya.
"Baik, Tuan."
"Bi, tolong siapkan makan siang ya. Aku ingin mengajak Quin ke rooftop dulu," kata Damar.
"Baik, Nak Damar," sahut bi Yuni lalu menatap tak suka pada Quin.
Sesaat setelah berada di rooftop, Quin langsung mengulas senyum.
"Damar ..."
"Hmm ..."
"Bagus banget viewnya dari atas sini. Sepertinya rooftop ini bagus banget buat ngumpul-ngumpul bareng teman, bikin party, ultah or anniversary," celetuk Quin sambil bersandar di kaca penyekat dengan menatap Damar yang terus menatap kagum padanya.
Dengan susah payah Damar menelan salivanya.
Tempat ini memang sering aku jadikan tempat party dengan teman-temanku. Tapi itu dulu.
"Quin ... apa kamu biasa ke bar?" tanya Damar.
"Ya, hanya untuk menghibur diri. Apalagi jika mengharuskan aku bertemu klien yang bawel di tempat itu," aku Quin lalu menghampiri Damar.
Damar terus menatapnya.
"Mau coba berdiri?" saran Quin sambil berjongkok menatap Damar.
Damar mengulas senyum menatapnya balik.
"Boleh ..." sahutnya.
Quin membantunya berdiri walau sedikit kesulitan.
"Ayo ... kamu pasti bisa," ucap Quin menyemangatinya. "Berpegang lah di pundak ku," pinta Quin lalu menahan pinggangnya.
Quin mencoba mengajaknya melangkah mendekati kaca penyekat.
"Yeah ... you did it," bisik Quin dengan seulas senyum. "Come on, berpegang lah sebentar, aku akan mendorong kursi rodamu ke sini."
Damar hanya mengangguk.
Wah ... jika setiap hari Quin melatihku seperti ini, aku yakin, aku pasti cepat pulih.
Setelah Quin menghampirinya, ia pun kembali duduk di kursi rodanya.
"Thanks ya, Quin."
Quin mengulas senyum sambil mengangguk.
"Oh ya, jika kamu mau ... aku akan mengenalkanmu dengan dokter Fahry. Dia biasa menangani pasien sepertimu," saran Quin.
"Maksudmu dokter Fahry .... dokter spesialis terbaik di kota ini?" tanya Damar.
"Iya. Dia salah satu klien ku sekaligus teman kakak ku," jelas Quin.
"Nggak usah. Aku juga berteman dengannya," kata Damar lalu terkekeh.
"Kalau begitu, kamu harus semangat untuk kembali bisa berjalan," ucap Quin.
Tanpa dokter Fahry pun aku akan segera pulih jika kamu yang jadi terapis ku.
Damar senyum-senyum sendiri.
"Damar, nggak apa-apa kan, jika aku menggunakan rooftop ini untuk bekerja?"
"As you wan't," sahut Damar cepat.
"Thanks ..." ucap Quin.
Dari kejauhan, bi Yuni memperhatikan keduanya. Ia semakin tidak menyukai kehadiran Quin.
"Aku nggak akan membiarkan, Nak Damar jatuh cinta pada gadis itu. Sebaiknya aku akan mengusulkan Nyoya dan Tuan untuk menyuruh Naira tinggal di sini sekaligus menjadi terapis untuk Nak Damar," gumamnya lalu kembali ke lantai dasar.
.
.
.
Kantor Angga ...
Setelah selesai meeting, ia kembali ke ruangannya. Namun ia seolah tak suka saat mendapati Kinara dengan santainya sedang duduk di sofa dengan pakaian minim bahan.
"Sedang apa kamu di sini? Apa kamu nggak kerja hari ini?" tanya Angga lalu mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Kerja ... aku baru selesai pemotretan tadi. Nggak ada salahnya kan, aku ke sini. Lagian tempat kita hanya berjarak tiga lantai saja," jelas Kinara.
Angga membakar rokoknya lalu menghisap benda itu dalam-dalam lalu menghembusnya kasar.
"Kinara, tolong jaga sikap kamu jika kita masih di kantor. Aku nggak mau mendengar gosip tentang kita," kesal Angga.
Kinara menghampirinya lalu duduk di pangkuannya.
"Kenapa? Apa kamu takut ketahuan Quin?" tanya Kinara. "Kita sudah terlanjur jauh Angga," bisik Kinara lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Angga.
"Kinar!! Stop it!!" Kesal Angga lalu segera melepas kedua tangan Kinara. "Please ... this is office, so ... leave me now!!" bentaknya dengan kesal.
Kinara langsung berdiri sambil menghentakkan kakinya.
"Apa kamu masih ingin di sini, huh!!" kesalnya. "Aku mau ke butik Quin," ucapnya lalu berlalu meninggalkan Kinara.
"Damn!!! Selalunya Quin! Aku semakin benci anak itu!" kesalnya lalu mengepalkan kedua tangannya.
Akhirnya, dengan terpaksa ia ikut meninggalkan ruangan itu.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, Angga kembali menghubungi Quin. Di panggilan yang ke-tiga baru lah ia menjawab.
"Ya hallo ..." jawab Quin sambil memutar bola matanya malas.
"Sayang, aku sekarang menuju butik. Aku jemput ya," kata Angga.
"Aku nggak lagi di butik. Ada apa?" tanya Quin.
"Sayang, aku ingin mengajakmu makan siang," jelas Angga.
"Tapi aku sudah makan siang tadi. Apa kamu ingin aku gendut?" kelakarnya lalu terkekeh. "Besok saja ya," cetus Quin.
"Baik lah," jawab Angga dengan nada kecewa lalu memutuskan panggilan telfon.
"Kenapa aku merasa Quin seperti menghindariku? Sikapnya sedikit berubah sejak kemarin bahkan terkesan dingin," gumam Angga dengan perasaan gusar.
"Bagaimana jika dia benar-benar membatalkan pernikahan kami?"
...----------------...