101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 82



Karena tak ingin mengganggu, Quin memilih ke ruang tamu lalu menyandarkan kepalanya karena merasakan pusing.


"Apa Damar sering ke sini ya?" lirihnya sambil memejamkan matanya lalu berbaring di sofa.


Mungkin karena lelah disebabkan perjalanan udara yang cukup lama akhirnya ia tertidur.


Dua puluh menit kemudian, Damar membuka matanya lalu memijat keningnya dan sedikit meringis.


"Aku seperti mendengar Quin memanggilku tadi. Apa aku bermimpi?" lirihnya lalu mendudukkan dirinya.


Tak lama berselang ia kembali merasakan mual.


"Oh Lord ... ini sangat menyiksaku," gumamnya lalu berlari kecil ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya di wastafel.


Setelah memuntahkan semua isi perutnya, Damar kembali merasakan tubuhnya menjadi lemas. Ia pun mencuci mukanya sambil tertunduk lesu.


Dengan langkah gontai ia keluar dari kamar mandi lalu ingin melanjutkan langkahnya menuju pantry.


Seketika alisnya bertaut saat mencium aroma parfum yang menyeruak memenuhi ruang tamu.


"Quin," desisnya sambil menghirup aroma parfum gadis itu sambil memejamkan matanya. Ia belum menyadari jika Quin sedang tertidur di sofa.


Damar kembali melanjutkan langkahnya namun kembali terhenti saat ekor matanya terarah ke sofa ruang tamu.


"Apa aku sedang bermimpi?" gumamnya sambil melangkah menghampiri sofa. Matanya langsung berkaca-kaca menatap Quin yang sedang tertidur pulas di sofa.


"Quin," panggilnya seraya mengelus pipinya lalu mengecup bibirnya. "Quin, come on open your eyes," bisiknya sambil menepuk pipinya.


Tak lama berselang Quin membuka matanya dan langsung menatap Damar. Ia mengulas senyum lalu mengelus rahangnya. Setelah itu ia merubah posisinya menjadi duduk.


"Sudah bangun?" tanya Quin.


Bukannya menjawab Damar langsung mendekapnya erat sambil menangis.


"Ke mana saja kamu selama dua bulan ini? Bahkan ponselmu nggak pernah aktif. Apa kamu tahu betapa tersiksanya diriku menahan rindu?" kata Damar dengan suara bergetar.


Quin bergeming dan semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Damar. Pada kenyataannya ia juga sangat merindukan pria itu.


"Aku kan sudah bilang, aku akan menepi sejenak dari segala aktifitasku," bisik Quin lalu melonggarkan pelukannya.


"Quin, please jangan pergi lagi," lirih Damar lalu duduk di sampingnya.


Quin terkekeh lalu mencubit perutnya. "Tergantung," sahut Quin. "Apa kamu sakit? Kok wajahmu pucat dan lesu begini sih?" tanya Quin.


Damar menyandarkan kepalanya di sandaran sofa lalu memijat keningnya.


"Entahlah ... sudah dua bulan terakhir aku merasa aneh, setiap pagi aku selalu merasakan pusing, mual bahkan muntah-muntah. Itu sangat menyiksaku," jelas Damar.


"Apa kamu sudah ke dokter?"


"Hmm ... dokter hanya bilang mungkin asam lambungku kambuh," jelas Damar lagi. Ia melirik Quin lalu mencubit pipinya yang terlihat sedikit chubby. "Sepertinya kamu ada sedikit perubahan, kamu terlihat chubby," kata Damar.


"Nafsu makanku naik," sahutnya lalu terkekeh. Sedetik kemudian ia terdiam dan tampak berpikir lalu melirik Damar yang terus menatapnya.


Ia pun izin sebentar lalu segera ke kamarnya kemudian masuk ke kamar mandi. Quin menatap lekat pantulan dirinya di depan kaca sambil memegang sisi kiri kanan wastafel. Ia tampak berpikir.


Selama dua bulan terakhir ia tidak memperhatikan siklus menstruasinya karena hanya fokus berlibur dan tak menyadari jika selama dua bulan terakhir ia belum pernah kedatangan tamu bulanannya itu.


"Impossible!!" desisnya lalu memegang perut ratanya.


Setelah itu, ia segera keluar dari kamar mandi lalu meraih kunci mobilnya di laci nakas. Ia kemudian menghampiri Damar di ruang tamu.


"Damar, aku ke butik dulu ya," kata Quin lalu menyambar tasnya di atas meja kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan Damar.


"Nggak usah, kita bertemu di butik saja," sahut Quin lalu membuka pintu.


Tujuan sebenarnya bukanlah butik melainkan rumah sakit. Ia ingin berkonsultasi langsung dengan dokter kandungan.


*


*


*


Rumah sakit Kota J ...


Sesaat setelah memarkir mobilnya, Quin menarik nafasnya dalam-dalam karena merasa sedikit gugup.


Setelah itu, ia mempercepat langkahnya menuju bangsal dua ke ruangan praktek dokter Emelie spesialis kandungan.


Ia pun mengetuk pintu ruangan dokter Emelie lalu membukanya kemudian menyapanya.


"Selamat sore, Dok," sapa Quin lalu menghampirinya.


Dokter Emelie langsung mengulas senyum lalu memintanya duduk.


"Sore juga, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Emelie.


Quin hanya mengangguk lalu menjelaskan tentang kondisinya saat ini. Setelah mendengar penjelasan dari Quin, dokter Emelie hanya mengulas senyum.


"Couvade syndrom," kata dokter Emelie.


"Couvade syndrom? Maksudnya Dok? Aku sama sekali nggak mengerti?" akunya dengan bingung.


"Couvade Syndrome, atau biasa disebut dengan kehamilan simpatik. Hal ini biasa terjadi pada suami saat istrinya hamil, seperti yang terjadi pada suami Anda, Nyonya," jelas dokter Emelie dengan seulas senyum. "Kapan terakhir Anda menstruasi?" tanya dokter Emelie.


"Dua bulan yang lalu, Dok. Saya juga kurang ingat," jawab Quin apa adanya.


Dokter Emelie hanya manggut-manggut lalu memberikan sebuah tespek pada Quin. Ia memintanya untuk menggunakan alat itu hanya untuk memastikan.


Quin hanya mengangguk lalu meraih benda itu kemudian ke kamar mandi. Setelah menampung air seninya, ia pun mencelup benda itu lalu menunggu beberapa menit dengan harap-harap cemas.


Setelah itu, perlahan ia meraih benda itu lalu melihatnya. Seketika tubuhnya langsung lemes setelah dua garis merah terpampang jelas di benda itu.


Entah ia harus bahagia atau sedih. Dengan mata berkaca-kaca ia mengelus perutnya. Ia baru sadar jika yang membuat nafsu makannya naik karena ia sedang berbadan dua.


"Bagaimana bisa? Padahal aku dan Damar melakukannya hanya sekali," lirih Quin. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi lalu menghampiri dokter Emelie. "Saya positif, Dok," lirih Quin lalu memperlihatkan tespek itu.


"Selamat ya, Nyonya. Saya ikut bahagia," ucap dokter Emelie. "Jika dihitung sejak terakhir Anda menstruasi, usia kandungan Anda sudah berusia delapan minggu, Nyonya," jelas dokter Emelie lalu memberinya secarik kertas untuk menebus vitamin dan merekomendasikan susu hamil untuknya.


Setelah kurang lebih satu jam berkonsultasi dan menebus vitaminnya di apotik. Quin kembali melanjutkan perjalanannya menuju danau buatan.


"Oh God," lirih Quin lalu menengadahkan wajahnya sambil memejamkan matanya. Dua bulir bening turut menetes di ujung matanya.


Sedetik kemudian ia mengeluarkan foto USG dari dalam tasnya lalu menatap lekat foto janinnya yang masih sebesar biji kacang.


Kesalahan satu malam bersama Damar akhirnya membuat dirinya menanggung akibat dan konsekuensinya dari perbuatannya sendiri.


"Sayang ... nggak masalah jika kita akan hidup berdua saja," lirih Quin masih sambil menatap foto USG janinnya. "Ada uncle Juna, aunty Yura dan kakak Yumi. Mengenai daddy mu, kita tetap akan merahasiakan darinya," lirihnya lagi sambil membayangkan wajah Damar. "Damar ... maaf, jika aku menyembunyikan rahasia ini darimu."


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜