
Angga yang masih berada di taman kota, kembali mendaratkan bokongnya di bangku lalu menatap cup es boba pemberian Quin.
"Sejak dulu dia sangat menyukai minuman ini. Bahkan saat pertama kali bertemu dengannya di taman ini, justru minuman inilah yang menjadi awal perkenalan kami," gumamnya.
"Kenapa aku begitu bodohnya terjebak dengan Kinara?!"
Ucapan Quin tadi seketika kembali terngiang-ngiang di telinganya. Angga meraih rokoknya dari saku celana. Setelah membakar rokoknya ia menyesapnya dalam-dalam lalu menghembusnya dengan kasar.
"Quin ... apa kita benar-benar sudah tidak bisa kembali bersama? Jika kamu menolak, maka aku akan menggunakan cara terakhir menurut caraku sendiri," gumamnya lalu kembali menyesap rokoknya.
Setelah puas berada di taman kota itu, akhirnya ia beranjak juga dari bangku taman lalu mempercepat langkahnya menuju ke arah mobilnya.
Tujuannya saat ini adalah ke butik Quin untuk memilih salah satu jas formal untuk acara malam ini.
.
.
QA Boutique ...
Saat Quin tiba di butiknya, ia mendesah kasar saat mendapati mobil sang papa dan Kinar terlihat terparkir di antara mobil Al dan Damar.
"Jangan bilang, si Fitrot ja*lang itu juga ada di dalam," gerutunya dengan perasaan dongkol.
Ia pun turun dari mobilnya lalu melangkah kecil ke arah pintu butik. Ia menyeringai ketika mendapati Al, Damar dan Kinara sedang mengobrol.
Tampak jelas jika Kinara seperti sedang mencari perhatian dari calon penerus Alatas Corp itu.
"Ayo kita lihat ekspresinya seperti apa nanti," gumam Quin dengan ide gilanya. Ia pun menghampiri ketiganya.
"Honeyyyy ... sudah lama menunggu?" tanyanya dengan manja lalu memeluk Damar kemudian mendaratkan kecupan di bibirnya.
Sontak saja ulahnya itu membuat Al dan Kinara melongo, menatapnya.
"Damn!!! Quin ... ada apa denganmu hari ini?" batin Damar namun sekaligus bersorak ria dalam hatinya mendapat perlakuan spesial dari gadis itu.
"Nggak juga," bisiknya lalu menghirup aroma parfum Quin di ceruk lehernya. "Jangan membuatku semakin baper dengan tingkah manja mu ini," lanjutnya berbisik.
"Jangan baper ... ini hanya akting untuk membuat wanita murahan di depanmu itu kesal," balas Quin lalu terkekeh.
Setelah itu, ia pun melonggarkan dekapannya lalu berbalik menatap Kinar dan Al bergantian.
"Ada apa?" tanyanya dengan santai sambil menaikkan alisnya.
"Sial!!! Apa benar, Quin dan Damar menjalin hubungan serius?!! Kenapa sih, Quin selalu saja lebih cepat satu langkah dariku!!!" umpatnya dalam hati.
"Woahhh ... Quin, Damar ..." Al tidak melanjutkan ucapannya melainkan menyeringai penuh arti. Ia pun berbisik ke telinga Quin. "Aku nggak bisa membayangkan jika Damar benar-benar menjamah mu, Quin."
"Cih ... apaan sih kamu. Sepertinya kamu sudah mulai berfantasi liar membayangkan ...." Quin melipat bibirnya sekaligus menggantung ucapanya sambil menaik turunkan alisnya menatap Al.
"Apaan sih Quin," protes Al yang mengerti dengan maksud sahabatnya itu.
Sedetik kemudian ia malah tertawa mengingat pembicaraan mesum sahabatnya itu ketika di apartemen.
Setelah puas tertawa, ia kembali ke mode serius.
"Oh ya, apa kamu kemari bareng dengan mamamu dan papa?" tanya Quin.
"Nggak, mereka lebih dulu ke sini," jawab Kinar.
Quin hanya mengangguk lalu menatap Al. Aku sudah siapkan pakaian seperti yang mereka inginkan mungkin mereka lagi fitting baju saja di galery," jelas Al.
"Baiklah. So ... aku nggak perlu repot lagi. Oh ya, Kinar, apa kamu juga sudah mendapat gaun yang kamu inginkan?" tanya Quin dengan santai.
"Ya, Jihan sudah mengemasnya ke dalam paper bag," jawabnya dengan canggung.
"Ok ..." sahut Quin lalu menggandeng lengan Damar kemudian berlalu meninggalkanya dan Al, menuju anak tangga.
Sesaat setelah berada di lantai dua, pak Pranata dan bu Fitri baru saja akan turun ke bawah.
Melihat Quin menggandeng Damar, baik pak Pranata maupun bu Fitri tampak terkejut.
"Ada apa?!" sahutnya dengan nada ketus.
"Papa ingin bicara sebentar denganmu," kata papa.
"Ya sudah, bicara saja," jawabnya lagi dengan nada ketus. Entah mengapa ia masih saja sakit hati pada papanya itu.
Sedangkan bu Fitri terlihat getir saat Quin menatap tajam padanya. Ia pun tak berani menegur putri sambungnya itu yang ujung-ujungnya akan berakhir dengan kata makian tanpa pamit dari bibir tipis gadis itu.
"Papa ingin bicara empat mata denganmu," kata papa.
"Jika nggak terlalu penting ngomongnya di sini saja," tolaknya secara halus.
Pak Pranata hanya bisa menghela nafasnya dengan perasaan kecewa. Merasa percuma jika memaksa putrinya itu, pak pranata memilih pamit.
"Ya sudah, papa pulang dulu," pamit papa lalu mengajak bu Fitri melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
Sepeninggal papa dan bu Fitri, Damar meliriknya.
Ingin menegur pun ia tak berani karena takut kembali memancing emosi Quin.
Tak lama berselang, Jihan dan Gisha menyapanya.
"Quin, Tuan," sapa Jihan.
"Jihan, Gisha, pulanglah. Maaf, karena kalian sedikit direpotkan," sesal Quin.
"Nggak apa-apa, hari ini butik memang lumayan rame. Bahkan sejak pagi," jelas Gisha.
Quin hanya mengangguk. "Ya sudah kami ke dalam dulu," ucapnya lalu mengajak Damar ke galery.
Sesaat setelah berada di galeri butik, Quin ke salah satu koleksi khusus jas formal. Ia pun memilih jas berwarna silver untuk Damar.
Setelah itu ia menghampiri Damar yang sejak tadi terus memperhatikannya.
"Jangan memandangku seperti itu," tegurnya sambil terkekeh. "Ini untukmu." Quin menyerahkan setelan jas itu pada Damar.
"Thanks ya, Quin. Oh ya, nanti aku transfer uangnya ke rekeningmu," cetusnya.
"Ok ..." sahut Quin. "Pulanglah, aku akan menyusulmu nanti. Soalnya aku dan Al harus berada di sini sebentar lagi," pinta Quin.
"Baiklah, aku akan menunggumu," balas Damar. "Ingat kamu sudah berjanji tadi siang," peringatnya.
"Iya, aku ingat," sahutnya. Setelah itu, Damar berlalu meninggalkanya sendiri di galery butik.
Saat menuruni anak tangga, Damar berpapasan dengan Angga.
"Angga," tegurnya dengan seulas senyum. Namun yang ditegur hanya menatap tak suka padanya.
Karena tak mau ambil pusing, Damar kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Angga yang masih berdiri di tempat.
Setelah itu Angga kembali menapaki anak tangga hingga langkahnya terhenti di galery butik. Ia bergeming di tempat dan hanya memperhatikan Quin yang terlihat sedang memilih beberapa potong gaun.
Ia pun menghela nafasnya sebelum akhirnya memutuskan menyapanya.
"Quin ... bisa bantu aku?"
Quin yang sedang sibuk memilih gaun, menghentikan aktifitasnya sejenak lalu mengarahkan pandangannya ke arah Angga.
"Tentu saja," sahut Quin. "Kamu ingin setelan yang seperti apa dan warna apa?" tanyanya. Kali ini ia bertanya pada Angga sebagai konsumennya.
Angga pun menghampirinya. "Aku ingin kamu yang memilihkan warna yang cocok untukku," pintanya.
"Baiklah," sahut Quin lalu memilah beberapa warna jas yang cocok untuk Angga. "Aku ada tiga pilihan warna untukmu, hitam, navy dan maroon."
Angga menatap ketiga setelan itu dengan seksama dan memutuskan memilih jas berwarna navy.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ