101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 31



Angga kembali dibuat kesal karena Quin tidak menjawab panggilannya. Bahkan sudah puluhan kali ia menghubungi nomor itu namun sekalipun Quin tak menjawab.


Akhirnya ia mengiri DM singkat.


βœ‰οΈ: Jawab, atau aku berangkat sekarang juga ke Jepang.


Pesan bernada ancaman dari Angga seolah tak membuat Quin takut bahkan terlihat santai. Niat untuk ke rumah sang kakak terpaksa ia batalkan.


"Al, sepertinya kita tunda saja ke rumah kak Juna."


"Why!!"


"Sepertinya kita harus tinggalkan kota ini sekarang."


"What!!! Quin?!" pekik Al merasa kesal.


Sedangkan Adrian dan Damar ikut merasa heran.


"Sebenarnya ada apa Quin? Kok kamu tiba-tiba ingin tinggalkan kota ini? Padahal kita baru saja akan menikmati liburan bersama," tanya Damar.


"The reason is Angga. Sepertinya dia sudah tahu aku ada di sini dan bukan di KL."


Damar tersenyum penuh arti. Tentu saja itu ulahnya yang sudah meng-upload foto kebersamaan mereka di medsosnya.


"Lalu?" Damar menatapnya.


"Akan aku pikirkan rencana selanjutnya," cetus Quin lalu memesan tiket penerbangan sore untuk dua orang ke Singapura tanpa sepengetahuan Damar.


"Setelah di Singapura, pokoknya semua akses internet harus nonaktif. Aku hanya ingin bersenang-senang dengan Al tanpa ada yang menganggu termasuk kamu Mr. Brewok."


Quin membatin lalu mengajak mereka segera pulang ke apartemen.


Beberapa menit kemudian setelah berada di apartemen. Quin meminta izin pada Damar untuk beristirahat sejenak di apartemennya. Tanpa curiga sedikitpun Damar mengizinkannya.


"Damar, terima kasih sudah mengajakku dan Al jalan-jalan sekaligus traktirannya," ucap quin dengan seulas senyum.


"Sama-sama Quin," balas Damar.


"Baiklah aku dan Al pamit ya."


Damar hanya mengangguk dan membiarkan Quin dan Al berlalu meninggalkanya dan Adrian.


Sesaat setelah berada di luar ruangan menuju lift, Quin membuka suara.


"Al, kita harus tinggalkan tempat ini sekarang juga sebelum Angga benar-benar tiba."


"Yang benar Quin?!" tanya Al seolah tak percaya.


"Kamu tahu Angga kan. Dia nggak pernah main-main dengan ucapanya. Dia mengirim DM karena aku nggak menjawab panggilannya. Aku masih kesal Al. Aku sudah memesan tiket ke Singapura. Sekitar jam 16.00 kita berangkat."


"Apa kamu serius Quin?!"


"Menurutmu?"


Tinggg ....


Pintu lift terbuka dan keduanya langsung keluar dari kotak besi itu.


"Bagaimana dengan Damar?"


"Biarkan saja," jawab Quin dengan enteng lalu membuka pintu setelah menekan password.


"Baik lah, aku ikut saja."


"Al, Ayo kita siap-siap, ini sudah jam 14.00. Sebaiknya kita cari penginapan di sekitar bandara sebelum berangkat. Oh ya, jangan lupa matikan ponselmu. Kita berangkat diam-diam."


"Ok, siap Quin," ucap Al sambil memasukkan baju kotornya ke dalam plastik lalu merapikan kembali ke dalam koper. "Huh, sukurnya belum aku bongkar," desisnya.


Tiga puluh menit kemudian, keduanya sedang menunggu taksi untuk ke bandara. Tanpa berpamitan pada damar dan Adrian.


Beberapa menit kemudian taksi yang mereka tunggu akhirnya menjemput mereka berdua. Ketika berada di dalam taksi yang perlahan mulai meninggalkan gedung apartement, Quin dan Al tertawa lucu.


"Quin, kita seperti buronan saja," kelakar Al.


"Mau bagaimana lagi. Pokoknya kita nikmati liburan kita sepuasnya di negara singa itu, tanpa si Mr. Brewok, Adrian apalagi si pria bajingan itu," pungkas Quin lalu terkekeh.


Jauh dari kota Osaka, kembali lagi ke kota J. Angga benar-benar naik pitam setelah Quin mematikan ponselnya bahkan pesannya pun tak di balas.


Tak ingin berlama-lama, ia segera menghubungi Bram supaya memesan tiket ke Jepang dengan penerbangan siang ini.


"Denis, aku duluan," pamitnya lalu segera meninggalkan restoran itu menuju ke arah mobilnya diparkir. Tujuannya tentu saja ke apartemen untuk menyiapkan beberapa pasang pakaiannya dan paspor-nya.


"Quin ... tunggu aku di sana. Aku nggak akan membiarkan Damar dekat-dekat denganmu lagi," geramnya.


***********


Beberapa jam berlalu, ketika Quin dan Al sebentar lagi akan take off ke Singapura waktu Osaka Jepang. Angga baru saja menuju bandara kota J.


Ketika Angga akan tiba kota Osaka, otomatis dia sudah tidak menemukan Quin di apartemennya.


"Al, aku berharap kamu nggak seperti diriku," lirihnya.


"Kenapa?"


"Terlalu percaya pada pasangan dan pada akhirnya di khianati diam-diam. Itu sakit banget. Parahnya perempuan itu adalah anaknya si wanita pelakor laknat itu," geramnya sambil mengepalkan tangannya.


"Quin, aku yakin setelah ini, kamu pasti menemukan pria yang jauh lebih baik dari Angga."


"Aku belum mau menjalin hubungan serius lagi setelah ini Al. Aku ingin sendiri dan ingin fokus di bisnis. Sendiri itu lebih baik. Kita bebas tanpa memikirkan apapun selain diri kita sendiri," sahut Quin dengan hela nafas lalu memejamkan matanya.


"Benar juga," timpal Al.


Tak lama berselang pesawat yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan bandara dan mulai mengudara.


"Al, kita nikmati liburan kita berdua tanpa ada yang menggangu," kata Quin lalu terkekeh.


Mr. Brewok, maaf kita akan bertemu lagi di kota J. Nikmatilah liburanmu dengan Adrian di musim semi ini.


.


.


.


Malam harinya di kota J Pukul 19.00


Seperti yang sudah di rencanakan, di sebuah aula terlihat tamu-tamu penting yang tampak menghadiri HUT perusahaan Tuan Alatas.


Senyumnya dan sang istri tak sirna menghiasi wajah keduanya menyambut tamu-tamu penting mereka.


Namun tetap saja, rasa kecewa masih menghinggapi hati Nyonya Zahirah karena ketidak hadiran sang putra sulung.


Sedangkan Sofia, tampak tak bersemangat setelah tahu sang kakak dan Quin sama-sama tidak menghadiri acara itu.


Ia menghampiri sang papa yang tampak sedang berbicara dengan dokter Fahry.


"Pah, kenapa Papa nggak bilang jika kak Damar ke Jepang? Aku juga pengen ikut," ucapnya dengan bibir yang sudah maju dua senti.


"Mau bagaimana lagi, Sayang. Papa juga baru tahu jika kakakmu sudah berangkat kemarin," jelas sang papa lalu terkekeh.


Sofia menatap Fahry. "Kak Fahry, sendiri saja?" tanyanya.


"Seperti yang kamu lihat. Selalu sendiri. Tapi jika kamu mau menemani boleh juga," canda Fahry lalu meneguk jusnya.


"Ya sudah, kalian lanjut saja ngobrolnya, Papa ke mama dulu," pamit Tuan Alatas lalu meninggalkan keduanya.


Sepeninggal sang Papa, Sofia melirik sang dokter.


"Kak, apa nggak sebaiknya kak Fahry saja yang menangani kak Damar," celetuknya tiba-tiba.


"Kenapa," tanya Fahry merasa heran.


"Kakak kan spesialis."


"Tapi kan, ada Naira yang menjadi terapisnya. Sama saja Sofia. Sejauh ini Damar semakin banyak perkembangan. Aku perkirakan sekitar satu bulan kedepan dia akan bisa berjalan normal lagi," ungkap Fahry dengan seulas senyum.


"Syukurlah kak. Aku juga sudah nggak sabar ingin melihat kak Damar bisa berjalan lagi. Aku ingin lihat, bagaimana reaksi Kimberly setelah tahu kakakku bisa beraktifitas seperti biasa lagi." Sofia tersenyum sinis.


"Bukan kamu saja, aku juga. Aku sudah kangen ingin mengajaknya balapan lagi," sahut Fahry.


Keduanya sama-sama tersenyum membayangkan Damar seperti dulu lagi.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜