101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 27



Ketika Quin membuka matanya, ia mengerutkan keningnya, merasa jika seseorang sedang memeluknya. Bahkan helaan nafasnya begitu terasa di puncak kepalanya.


Perlahan ia mendongak. Matanya membulat lalu mengomel dalam hatinya. "Ck ... benar-benar ya si Mr. Brewok ini, di suruh tidur di kamar sebelah malah tidur di sini."


Dengan gerakan perlahan ia memindahkan tangan besar Damar lalu menjauh. Quin meraih ponsel milik Damar yang tergeletak di meja nakas untuk melihat jam.


"What!!! Sudah Jam 01.30!! Duuuuh ... mudah-mudahan Al belum terbangun," desisnya lalu kembali meletakkan benda pipih itu di meja nakas.


Sebelum turun dari ranjang, ia menatap sejenak wajah Damar sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudah gondrong, brewok, pemaksa pula," desisnya lalu kembali memperbaiki selimut pria itu. "Maaf, aku kembali ke apartemen ku dulu ya. Besok aku ke sini lagi."


Sebelum meninggalkan kamar itu, Quin terlebih dulu menyalakan lampu tidur lalu mematikan lampu kamar. Setelah itu, ia segera mempercepat langkahnya meninggalkan unit apartemen Damar.


Ketika berada di dalam lift, Quin sempat berpikir, jika papanya Damar mempunyai perusahaan, itu artinya Damar dan keluarganya termasuk orang yang cukup berpengaruh. Tapi ia juga heran kenapa Damar memilih bekerja di perusahaan lain ketimbang bekerja di perusahaan papanya sendiri.


Sungguh aneh memang. Itulah yang menjadi pertanyaan di benak pikiran Quin. Tapi karena dia tipikal gadis yang malas ambil pusing ia kembali ke mode acuh tak acuh.


Yang sedang ia pikirkan sekarang adalah ingin cepat-cepat lepas dari Angga dan ia bebas menjalani hari-harinya tanpa ada yang perlu ia pikirkan lagi kecuali pekerjaannya.


Tingggg ....


Pintu lift terbuka sekaligus membuyarkan lamunannya dan semua yang ada di dalam benaknya.


Hanya beberapa langkah ia kini berada di ambang pintu unitnya.


Tiiit ... tiiiit ...tiiiit...


Quin memencet tombol password lalu membuka pintu.


"Mudah-mudahan Al masih tidur," gumamnya lalu melangkah pelan menuju kamar dan menghela nafasnya. "Syukurlah dia masih tidur," bisiknya lalu ikut merebahkan dirinya di samping Al dan kembali melanjutkan tidurnya.


**********


Keesokkan harinya ....


Quin dan Al terlihat sedang menikmati coklat hangat di pantry sambil mengobrol.


"Al."


"Hmm."


"Damar juga sedang berlibur di sini. Tahu nggak, apartemennya satu gedung dengan kita tepatnya di lantai sembilan," jelas Quin.


"Lalu?"


"Dia memintaku selama seminggu ke depan ikut tinggal bersamanya di unitnya. Ngeselin tahu nggak?"


"Ya sudah, ikutin saja maunya," balas Al dengan santainya. "Lagian kalian kan terikat kontrak. Jadi lebih sering kalian bersama maka semakin cepat kontrakmu berakhir," sambung Al lalu terkekeh.


Quin berdecak kesal mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Nggak apa-apa lah, Quin. Selama kita di sini biarin saja dia yang menanggung segala keperluan kita, termasuk jika kita pergi ke lokasi wisata. Kita manfaatin saja majikan mu itu. Hitung-hitung hemat uang."


"Pppppffffff .... huahahaha ...."


Tawa Quin langsung pecah mendengar ide gila sahabatnya.


"Boleh juga, ide kamu Al. Oh ya, aku ke atas dulu ya. Jika kamu jenuh, naik saja ke lantai sembilan unit nomor 4," pesan Quin lalu meninggalkan Al.


"Ok."


*******


Sesaat setelah berada di ambang pintu unit apartemen Damar, Quin kembali memencet tombol tanpa jeda.


Sengaja ia lakukan itu untuk mengerjai Damar. Sementara Damar yang sedang berada di kamar hanya mampu menggelengkan kepalanya.


Bukannya menghampiri pintu ia malah langsung menghubungi gadis itu sambil tertawa gemas.


Hanya di deringan pertama, Quin langsung menjawab panggilan dari Damar.


"Mr. Brewok, kamu nggak dengar ya aku sedang memencet bel pintu.'


"Hmm ..." jawab Quin singkat lalu memutuskan panggilan telepon.


Setelah menekan password, ia melangkah masuk ke dalam ruangan lalu meletakkan ponselnya di meja lesehan dan menuju kamar Damar.


"Morning ..." sapa Quin dengan senyum manis.


"Morning too Quin," jawab Damar yang sedang duduk di sisi ranjang.


Quin menghampirinya kemudian ikut duduk di sampingnya.


"Maaf ... semalam aku kembali ke apartemenku tanpa pamit. Soalnya kamu tertidur nyenyak," ucap Quin dengan nada lembut.


Damar tersenyum. "Nggak apa-apa Quin," balasnya.


"Ayo, aku bantu," tawar Quin lalu berdiri dan meminta Damar memegang pundaknya. "Oh ya, bagaimana dengan terapi yang kamu jalani, apa ada perubahan?" tanya Quin.


"Ya, tapi aku langsung ke dokter Fahry seperti saranmu," aku Damar. "Quin."


"Hmm ..." Quin menatapnya lalu mengulas senyum. "Ada apa," bisiknya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Damar menatap lekat wajah Quin.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Tentang hubunganmu dan Angga. Apa kalian ada masalah?" tanya Damar menyelidik.


Quin terdiam sejenak lalu menunduk. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Awalnya hubungan kami tidak ada masalah dan baik-baik saja. Aku juga nggak tahu sejak kapan Angga dan Kinara backstreet dariku, hingga akhirnya, tepat di hari ulang tahun Angga, tanpa sengaja aku memergoki keduanya sedang making love di apartemen Angga," jelas Quin dengan suara tercekat.


"Lalu?"


"Aku memilih meninggalkan keduanya. Itu lah sebabnya aku nggak hadir di pesta ulang tahunnya. Saat ini, aku hanya mengikuti permainan mereka berdua. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memergokinya lagi dan akan memutuskan pertunanganku dengannya."


Quin kembali menatap Damar dan masih menahan tubuh besar pria itu.


"Damar, maaf ... aku turut melibatkan mu dalam masalah ini. Aku sudah memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, termasuk jika Angga menolak. Itu lah sebabnya aku menerima kontrak ini dan akan mengakui dirimu sebagai calon suamiku," aku Quin.


"Quin," lirih Damar.


"Tapi kamu tenang saja, aku mengakui itu tapi hanya bohongan, supaya Angga nggak akan menggangguku lagi. Aku juga nggak ingin kita terikat. Karena kamu bebas memilih wanita yang kamu cintai," pungkas Quin.


"Dan wanita itu adalah kamu. Aku nggak masalah jika kamu benar-benar mau mengakui ku sebagai calon suami masa depanmu," batin Damar.


"Lalu setelah itu, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu nggak ingin mencari pengganti Angga?" selidik Damar.


Quin menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum.


"Aku ingin bebas dan ingin menikmati kesendirian ku bersama teman-temanku. Sendiri lebih baik, jadi aku ingin menikmatinya saja," aku Quin.


Damar hanya bergeming mendengar ungkapan Quin.


Kamar itu kembali kening sejenak sebelum suara Adrian membuyarkan keheningan itu.


"Tu ...."


Quin dan Damar langsung menoleh.


"Ah ... Pak ... Quin," sapanya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana tidak, Damar langsung melotot tajam saat Adrian hampir saja keceplosan.


"Adrian, kebetulan kamu sudah datang, jadi tolong bantu Damar masuk ke kamar mandi. Aku ke pantry dulu. Kalian ingin aku buatkan apa?"


"Kopi saja," jawab Damar dan Adrian bergantian.


Setelah Adrian memapah Damar, Quin langsung bergegas ke pantry.


...****************...


Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author pemula seperti saya. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜