
Pagi harinya ....
Quin merasa seperti memeluk seseorang bahkan merasakan kulitnya bersentuhan langsung dan terasa hangat. Ia juga merasa heran karena merasakan tubuhnya seperti ingin remuk dan kepalanya terasa begitu berat.
"Ssssttt ... kepalaku sakit banget," lirihnya. "Badanku kok, seperti habis dihantam," lirihnya lagi lalu perlahan membuka matanya.
Keningnya langsung mengerut saat merasakan hembusan nafas seseorang begitu terasa di puncak kepalanya lalu perlahan mendongak.
Ia belum menyadari jika saat ini ia dalam keadaan polos dalam satu selimut yang sama dengan Damar. Namun sedetik kemudian ia merasa perasaannya seolah tidak enak.
"Damar?" desisnya lalu mengelus rahang tegasnya.
Ketika ia ingin merubah posisinya, Quin bergeming sejenak lalu menatap tubuh Damar lalu dirinya. Quin membeku dengan mata membulat sempurna.
Tak lama berselang tangan besar Damar
mengelus kepalanya.
"Quin ... ssssttt," desis Damar lalu sedikit meringis karena merasakan kepalanya juga berat.
Keduanya sama-sama bergeming ketika mata keduanya saling bertemu. Melihat Quin dengan mata berkaca-kaca, ia langsung membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Forgive me, Quin. Aku sudah melakukan kesalahan besar," sesal Damar. Apalagi ketika mendapati jejak tanda kepemilikannya menghiasi tubuh gadis itu.
Quin tak bisa menjawab melainkan hanya mampu menangis menyesali semua yang telah terjadi dengan dirinya dan Damar.
Hening sejenak sebelum akhirnya keheningan itu pecah karena bel pintu berbunyi. Damar semakin mengeratkan dekapannya pada Quin, lalu membenamkan dagunya di puncak kepalanya.
Ia sudah bisa memastikan jika itu pasti sang mama. Bel pintu terus berbunyi selama beberapa menit sebelum akhirnya berhenti.
Tak lama berhentinya bunyi bel pintu, gantian ponselnya yang bergetar. Namun sang empunya benda pipih enggan menjawab, hingga benda itu juga berhenti bergetar.
"Kenapa?" lirih Quin dengan suara tercekat.
"Itu pasti mama," sahut Damar. "Aku tahu mama ke sini karena ia ingin memastikan kamu sudah meninggalkanku," bisik Damar dengan mata berkaca-kaca.
Dan benar saja tebakan Damar. Sang mama yang masih berada di depan pintu rumahnya terlihat begitu kesal dan geram.
"Damar!!" Anak itu benar-benar ya," kesal nyonya Zahirah yang saat ini di temani oleh bi Yuni.
Sejak kemarin, ia sudah merencanakan akan meminta bi Yuni kembali bekerja di rumah Damar. Maka itulah pagi ini ia ke rumah sang putra karena ingin membahasnya.
Namun ia harus menelan kekecewaan karena sejak tadi ia menekan bel pintu dan menghubungi sang putra, pintu tidak dibuka bahkan panggilan telfon darinya tidak di jawab.
Dengan perasaan kesal ia kembali mengajak bi Yuni meninggalkan rumah itu.
Sedangkan Damar dan Quin yang berada di kamar, hanya bisa diam seribu bahasa. Keduanya larut dengan masing-masing.
"Quin ... please forgive me," ucapnya pelan. "Ini semua salahku karena nggak bisa menahan hasratku padamu," akunya.
Quin hanya bisa bergeming dan menangis, dalam dekapan Damar. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya lalu mengisyaratkan Damar untuk melonggarkan dekapannya.
"Nggak ada yang perlu di salahkan, semuanya sudah terjadi. Kita sama-sama salah. Andai saja aku mendengar mu, semua ini nggak akan terjadi," lirih Quin lalu memijat kepalanya.
"Aku akan bertanggung jawab Quin," tegas Damar lalu merubah posisinya menjadi duduk kemudian bersandar di sandaran kepala ranjangnya.
"Aku nggak mau berkomitmen, soalnya aku ingin bebas menikmati kesendirianku Damar. Percayalah nggak akan terjadi apa-apa padaku," sahut Quin dengan penuh keyakinan. "Lagian kita melakukannya hanya sekali dan dalam keadaan nggak sadar," sambungnya.
"Tapi Quin ..." ucapan Damar terpotong saat Quin melanjutkan kalimatnya.
"Believe me." Quin menatapnya lekat.
Jauh dalam sudut hatinya, sebenarnya ia merasakan kekhawatiran jika sampai dirinya hamil. Bukan tidak mungkin terjadi, apalagi Damar sama sekali tidak mengenakan pengaman.
Selama sebulan terakhir Damar sudah tidak pernah meniduri wanita lagi. Dan baru terjadi lagi ketika dengan Quin. Itupun m ia dalam keadaan setengah sadar sedangkan Quin dalam keadaan mabuk berat.
Damar merasa sangat kecewa mendengar jawaban Quin sekaligus penolakan dari gadis itu. Namun dalam hatinya tetap bertekad akan meluluhkan hatinya.
"Berjanjilah padaku, Quin. Jika kamu mengandung anakku jangan meng ..." Ucapannya Damar terputus.
"Nggak ... aku akan tetap melahirkannya, menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang," ucap Quin sekaligus memotong kalimat Damar.
Quin perlahan mendudukkan dirinya lalu memeluk Damar dengan perasaan bercampur aduk.
"Quin, percayalah padaku," ucap Damar dengan suara tercekat. "Aku nggak peduli jika meski mamaku membencimu. Karena aku yang menginginkan dirimu bukan mamaku," sambung Damar lalu menangis.
Quin hanya bergeming mendengar ucapan Damar. Ia cukup tahu dan sudah hafal karakter pria itu.
Setelah itu Damar mengurai pelukannya lalu menutup tubuh Quin dengan selimut. Ia pun berbalik lalu memungut boxernya lalu kembali memakainya.
"Wait here," bisik Damar lalu mengecup keningnya. Ia melangkah ke walk in closet untuk mengambil kimono untuk Quin.
Sepeninggal Damar, Quin tampak termenung lalu. Benaknya kini memikirkan nyonya Zahirah. Wanita cantik paruh baya itu selalu saja berdebat dengan putranya hanya karena dirinya.
Otomatis bibit-bibit cinta itu sedikit mulai tumbuh dalam hatinya. Namun ketika mengingat mamanya Damar sangat membencinya, Quin selalu menepis perasaannya itu.
Lamunannya membuyar ketika Damar memakaikan kimono ke tubuhnya. Quin menatapnya lalu tersenyum tipis.
"Thanks Damar, aku ke kamarku dulu," lirihnya setelah kimono itu telah membalut sempurna tubuhnya.
Ketika ia ingin beranjak dari ranjang, seketika ia meringis dan merintih. Merasakan sakit di area intimnya.
Mendengar suara rintihan dan ringisannya, seketika membuat Damar khawatir lalu menggenggam tangannya karena merasa bersalah.
"Damaaar ... ini sakit banget," keluhnya lalu membenamkan wajahnya ke dada Damar
"Maaf ..." bisik Damar lalu membenamkan dagunya di puncak kepala Quin. "Biar aku menggendongmu sampai ke kamar mandi," tawar Damar.
Namun Quin menggelengkan kepalanya sekaligus menolak. Setelah itu, ia pun perlahan berdiri lalu melangkah kecil sambil tertatih meninggalkan kamar itu.
Satu jam berlalu ...
Kini Quin sudah tampak rapi dan terlihat memasukkan baju terakhir ke dalam kopernya. Setelah itu ia merapikan peralatan kerjanya lalu memasukkan ke dalam tas khusus.
Begitu selesai ia beristirahat sejenak di sisi ranjang sambil meneliti setiap sudut ruangan itu.
Tak lama berselang, pintu kamarnya dibuka.
"Quin," sapa Damar seraya menghampirinya dengan mata yang terlihat sembab.
Setelah mendaratkan bokongnya di samping Quin, ia langsung memeluknya lalu mengecup keningnya.
"Hari ini terasa begitu berat bagiku," bisik Damar sembari mengelus pipi Quin dengan sayang.
Quin mengulas senyum tipis lalu menangkup wajahnya, mengelus kedua matanya yang masih terlihat sembab dan merah.
"Please ... no tears," lirih Quin. Damar memegang kedua tangan Quin yang menempel di wajahnya dengan perasaan sedih.
Setelah itu ia menurunkan tangannya lalu menggenggamnya erat sebelum akhirnya ia lepas.
"Quin, aku punya sesuatu untukmu. Semalam aku nggak sempat memberikannya padamu karena kita terlanjur mabuk," jelas Damar lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.
Sebelum membuka kotak kecil itu, ia menatap lekat wajah Quin lalu mendekapnya dan kembali berbisik, "Aku ingin kamu mengenakan cincin ini, berjanjilah jangan melepasnya."
Setelah itu perlahan Damar melonggarkan dekapannya lalu membuka kotak cincin itu. Sebuah cincin permata zamrud yang sudah ia pesan jauh-jauh hari untuk Quin.
Setelah memasangkan cincin itu, Damar mengelus jari manis Quin. "Please ... berjanjilah kamu nggak akan melepasnya," pinta Damar dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Quin.
Tak lama berselang suara klakson mobil dari arah halaman parkir menyapa gendang telinga keduanya.
"Ayo, itu pasti Adrian dan Al," jelasnya.
Sejam yang lalu ia menghubungi Adrian dan Al supaya menjemputnya dan Quin. Selang beberapa menit, Adrian dan Al pun menghampiri keduanya.
"Quin, Damar," sapa Al.
"Tuan, Quin, biar saya bantu bawa kopernya," kata Rian. Sedangkan Al membawa tas kerja sahabatnya itu.
Keempatnya pun mulai meninggalkan kamar itu menuju mobil Adrian. Sesaat setelah mereka berada di dalam mobil Al melirik Quin.
"Al, aku percayakan butik padamu, jika ada kendala langsung hubungi aku," kata Quin.
"Baiklah, tapi aku mohon kamu jangan lama-lama. Nggak ada kamu nggak rame," sahut Al.
Damar dan Adrian hanya menjadi pendengar kedua sahabat itu. Namun entah mengapa Damar merasa jika Quin akan meninggalkan kota J dalam jangka waktu yang lama.
Setelah kurang lebih satu jam mengendara, akhirnya mereka tiba juga di bandara.
"Al koperku bawa ke apartemen saja," perintahnya.
"Baiklah, ini tas kerjamu," sahut Al lalu memberikan tas kerja sahabatnya. "Damar, aku dan Rian menunggu di mobil saja," kata Al sekaligus memberi waktu keduanya untuk berbicara.
Sepeninggal Al, Damar langsung memeluk Quin dengan perasaan sedih seolah tak ingin melepasnya.
"Damar, kamu ingat kan nasehat ku?" bisik Quin sembari mengelus punggungnya dan di jawab dengan anggukan. "Aku lebih suka Damar yang sekarang," bisiknya lagi. "Mau tahu kenapa? Karena kamu sudah banyak berubah. Tetaplah seperti ini hingga seterusnya," pungkas Quin lalu perlahan mengurai dekapan erat Damar.
Tak lama berselang terdengar pengumuman jika pesawat yang akan ditumpangi oleh Quin akan segera berangkat.
Perasaan Damar semakin berat melepasnya. Sebelum Quin berlalu meninggalkannya, ia mengecup lama keningnya lalu memeluknya sejenak.
"Aku mencintaimu Quin. Aku akan tetap menunggu jawaban darimu," bisiknya lalu melepasnya.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ