
"Kamu ingin mengajakku ke mana?" tanya Damar dengan rasa penasaran.
"Ke suatu tempat yang bisa menenangkan pikiran. Hanya saja tempat itu jauh dari hiruk pikuk kota ini," jelas Quin sambil membayangkan villanya.
Damar menatapnya sambil menggenggam kedua tangannya lalu mengulas senyum.
"Baiklah," kata Damar menyetujui. "Just me and you?" tanya Damar.
"Hmm ..."
"Apa kamu nggak takut jika aku sampai khilaf?" tanya Damar lagi.
Quin menggeleng lalu menangkup wajah tampan pria itu. "I trust you. Jika kamu mau berbuat khilaf, sejak jauh hari kamu sudah melakukannya, saat aku mabuk dan nggak sadarkan diri," bisik Quin lalu memeluknya.
Damar tersenyum sembari mengelus punggung Quin dengan sayang.
"Jika itu sampai terjadi, apakah kamu akan meninggalkanku tanpa kabar? Marah atau membenciku?" cecar Damar sambil membenamkan wajahnya ke ceruk leher Quin.
"Jikapun sampai kamu khilaf, itu bukan salahmu sendiri melainkan salah kita berdua," bisik Quin lagi.
"Honestly ... i am a player, Quin. Aku nggak bisa menjamin jika aku bisa menahan hasratku terus menerus jika terus bersamamu. I addicted," aku Damar. "Makanya aku melampiaskan hasratku pada wanita bayaran."
Quin bergeming dalam dekapan Damar dan malah semakin mengeratkan pelukannya lalu menghirup dalam-dalam aroma maskulin pria itu.
"Damar."
"Hmm."
"Jika kontrak kita berakhir, aku pasti akan sangat merindukan momen-momen seperti ini," bisik Quin sekaligus perlahan melepas dekapannya.
Damar hanya mengulas senyum dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bahkan aku nggak ingin kontrak ini berakhir," batinnya.
"Ayo ... turunkan aku. Aku akan menyiapkan baju rumahan untukmu dulu. Sepertinya kita akan pulang larut malam," jelas Quin.
Damar menurut patuh kemudian menurunkan Quin dari meja pantry.
Keduanya kembali ke kamar lalu ke walk in closet. Quin memilih beberapa potong pakaian casual untuk Damar.
Setelah itu ia mengambil sehelai baju kaos Damar lalu memintanya mendekat. "Kemarilah."
Lagi-lagi Damar hanya menurut. Quin langsung memakaikan baju kaos itu lalu memintanya mengganti celananya.
"Biarkan seperti ini saja," kata Damar.
"Baiklah. Aku juga seperti ini saja tapi akan melapisi dengan jaket," balas Quin lalu terkekeh.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Quin pun mengajak Damar meninggalkan rumahnya.
Ketika keluar dari halaman parkir, mereka kembali berpapasan dengan mobil sang nyonya besar. Melihat mobil sang mama, Damar tersenyum puas.
"Haaah, sukur saja kita sudah meninggalkan rumah, jika nggak ... mama pasti akan menyalahkan dirimu lagi," kata Damar lalu melirik Quin.
Quin hanya bergeming namun merasa bersalah.
Saat dalam perjalanan, Quin meminta Damar untuk singgah ke salah satu supermarket karena ia ingin berbelanja.
Setelah beberapa menit, keduanya akhirnya mampir sebentar di salah satu supermarket. Bak pasangan suami istri, sambil berjalan Quin terus menggandeng lengan Damar. Sedangkan tangan satunya membawa keranjang.
"Damar, kita beli daging-dagingan, sayur dan beberapa snacks ya," cetus Quin.
"Terserah kamu saja, aku hanya ikut," balas Damar.
"Nanti sampai di sana, kita barbeque-an berdua saja," kata Quin. "Haaah rasanya aku kangen banget sama kak Juna," desis Quin.
"Apa kalian biasa barbeque-an berdua saja?" tanya Damar lalu memilih daging segar kemudian memasukkan ke dalam keranjang belanjaan.
"Berempat ... aku, kak Juna, kak Yura dan ponakanku Yumi," jawab Quin.
"Lalu papamu?"
"Dia nggak termasuk ... ah kamu merusak moodku saja," kesal Quin saat Damar menanyakan papanya.
Damar hanya bergeming lalu menatapnya yang sedang memilih sayuran dan beberapa biji jagung.
Selang beberapa menit kemudian, keduanya pun menuju ke meja kasir untuk membayar.
"Kamu yang bayar," kata Quin.
"As you want, Honey," balas Damar dengan senyum menggoda.
Quin tertawa lucu sambil menggelengkan kepalanya mendengar Damar memanggilnya honey.
Setelah selesai membayar barang belanjaannya, keduanya kembali ke mobil lalu melanjutkan perjalan setelah Quin memberi alamat Villanya.
Karena Damar sangat hafal dengan tempat yang sedang mereka tuju, dengan santainya ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Mr. ... ini tuh jalan umum bukan sirkuit. Kamu mau membahayakan pengendara lain?"
Damar terkekeh. "Biar kita cepat nyampe," kata Damar. "Kapan-kapan jika kamu mengajakku ke sana sebaiknya kita naik motor saja," cetus Damar.
"Biar apa?" sindir Quin. Ia tahu benar apa yang kini ada di otak pria tampan itu.
Damar hanya terkekeh mendengar sindiran Quin.
"Kapan lagi bisa mengajakmu naik motor. Sekali-kali nggak apa-apalah, Quin," kata Damar
Quin memutar bola matanya dengan malas.
Setelah kurang lebih sejam mengendara, akhirnya mereka pun tiba di villa itu.
"Apa kamu sudah menyewa villa ini dari jauh-jauh hari, Quin?" tanya Damar.
"Nggak, ini villaku," jawab Quin lalu turun dari mobil untuk membuka pintu pagar villa itu yang menjulang tinggi.
Setelah membuka pintu pagar, Quin memberinya isyarat untuk memajukan mobilnya. Selang beberapa menit kemudian, Quin memasukkan menekan password lalu membuka pintu.
Sedangkan Damar, ia terlihat sedang membawa barang belanjaan mereka ke dalam rumah lalu mengikuti Quin ke dapur.
Ia sekaligus membantu memasukkan semua barang belanjaan itu ke dalam kulkas kecuali snacks untuk cemilan mereka.
"Thanks, ya," ucap Quin lalu memberinya air minum.
"Sama-sama," balas Damar lalu meraih gelas dari tangan gadis itu.
Beberapa menit berlalu, kini keduanya duduk di ruang santai yang berhadapan langsung dengan taman di belakang villa untuk beristirahat sejenak.
**********
Sore harinya ...
Quin dan Damar tampak sibuk mengeluarkan alat panggangan ke luar taman. Keduanya tampak sibuk menyiapkan alat itu untuk memulai acara barbeque-an mereka berdua.
Setelah semuanya lengkap, mereka pun mulai memanggil daging, sosis dan dilanjut dengan membakar jagung.
Baik Damar dan Quin mereka tampak cukup menikmati quallity time mereka berdua.
"Damar, sebentar ya. Aku ambil wine-nya dulu," kata Quin lalu akan melanjutkan langkahnya namun terhenti karena Damar menegurnya.
"Quin, aku nggak ingin kamu minum terlalu banyak," peringat Damar.
"Nggak, hanya sebagai selingan saja," sahut Quin lalu mengulas senyum kemudian masuk ke dalam villa menuju mini bar-nya.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Quin kembali ke taman untuk membantu Damar sekaligus meletakkan wine dan gelas di atas meja.
Quin tersenyum menatap Damar yang terlihat cekatan.
"Ternyata kamu cekatan juga ya," kata Quin lalu menggigit jagung bakarnya.
"Kamu pikir aku nggak bisa ngapa-ngapain?" kesal Damar lalu mencubit hidung gadis itu.
"Damar!!!" protes Quin, setelah itu ia kembali melanjutkan makan jagungnya.
Selang beberapa menit kemudian, Damar pun duduk di sampingnya.
"Quin, aku nggak menyangka jika kamu punya villa sebagus ini? Yang sangat membuatku tertarik mini barnya. Looking so elegant," puji Damar.
"Honestly, Villa ini milik mamaku. Mama sengaja meninggalkan untukku dan kak Juna. Yang tahu villa ini hanya aku dan kak Juna plus kamu," aku Quin. "Kamu orang pertama yang aku bawa ke sini," sambung Quin.
"Berarti aku spesial dong," narsis Damar.
"Nggak juga ... waktu kamu masih duduk di kursi roda, aku memang pernah berjanji pada diriku akan mengajakmu jika kamu sudah sembuh. Dan sekarang aku sudah menunaikan janjiku," kata Quin dengan seulas senyum.
Damar meliriknya sekaligus merasa terharu.
"Quin, suasana villa ini benar-benar membuatku nyaman. Sepertinya mamamu sangat menyukai tanam-tanaman. Itu terlihat dengan banyaknya bunga dan pohon-pohon bonsai di villa ini," tebak Damar.
"Ya kamu benar," sahut Quin. "Oh ya, besok aku dan Al bersama kak Altaf akan ke Singapura. Aku sekalian izin. Kami akan berada di Singapura sekitar lima harian," jelas quin.
"Nggak apa-apa tapi jangan lupa hubungi aku nanti," kata Damar dan dijawab dengan anggukan kepala. "Ya sudah, yuk kita lanjut makan," tawar Damar.
Keduanya kembali melanjutkan makannya di selingi dengan candaan.
"Haaah ... akan semakin terasa berat jika kontrak ini berakhir. Rasanya aku nggak rela," gumam Damar
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ