101 Days To Be Your Partner

101 Days To Be Your Partner
Bab 39



Sedetik pun Damar tidak ingin melewatkan pandangannya dari Quin. Sedari tadi pula senyumnya terus terukir di wajah tampannya.


Ketika Quin meliriknya, gadis itu terkekeh sembari menaikkan kedua alisnya lalu mengangkat bahunya seolah ingin tahu apa yang membuat pria gondrong dan brewok itu tersenyum.


Quin menangkup rahangnya lalu menatap lekat wajahnya kemudian menyentuh lesung pipi yang terbentuk di kedua pipinya namun tersamarkan dengan bulu-bulu tebal di wajahnya itu.


"Sesempurna apa wajahmu tanpa brewok dan kumis tebal ini?" bisik Quin tanpa mengalihkan tatapan matanya ke manik hitam Damar.


Tatapan, senyuman dan suara lembut yang baru saja terdengar, lagi-lagi membuatnya sedikit salah tingkah dan jantungnya kembali berdetak kencang.


Come on Quin. Jangan menatapku seperti ini. Aku bisa terpancing dan tidak akan bisa menahannya.


Quin semakin mendekatkan wajahnya, perlahan kedua tangannya turun ke kedua pundak pria brewok itu lalu memeluknya.


Oh ... Sh*it!!! Quin ... jangan membuatku baper seperti ini.


"Damar ..." bisiknya. "Jika suatu saat kamu memiliki kekasih dan akan menuju ke jenjang yang lebih serius, jangan pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaannya dan kesetiaannya."


"Why?"


"Percayalah ... itu sangat menyakitkan," pungkas Quin lalu mengurai dekapannya.


Damar menautkan alisnya menatap Quin yang kini mengarahkan pandangannya ke depan sambil melipat kedua tangannya di dada.


Hening sejenak ...


Keduanya terlonjak ketika suara seorang wanita yang begitu tak asing bagi Damar menegurnya.


"Damar!!"


Keduanya saling berpandangan. "Mama," lirihnya.


"Sedang apa kalian berdua di sini?" selidik Nyonya Zahirah.


"Menurut Mama?" ia balik bertanya.


Sang mama terdiam lalu menatap tajam pada Quin.


"Maaf Nyonya, saya hanya menemani putra Anda," jelas Quin. "Kami berdua hanya mengobrol seputar masalah pekerjaan saja kok, Nyonya. Beneran," lanjut Quin seraya membentuk V jarinya lalu cengengesan.


"Maaf, sepertinya saya harus meninggalkan kalian berdua. Saya sekalian pamit soalnya harus bertemu seseorang juga," izin Quin lalu sedikit menunduk kemudian meninggalkan ibu dan anak itu.


"Kasian banget yang bakal jadi menantunya nanti. Camer galak," gumamnya dalam hati sambil terkekeh.


Ia menuju kamarnya mengambil kunci mobil lalu mengenakan sepatu kets.


Sesaat setelah berada di lantai satu, ia berpapasan dengan Naira. Namun Quin hanya melewatinya begitu saja.


Ini lagi si ulet keket ... nyebelin banget!! Damar harus hati-hati dengan wanita seperti itu. Sepertinya calon-calon pelakor.


Quin membatin sambil melangkah menuju mobilnya. Bukannya langsung membuka pintu mobil, Quin malah mengelus motor besar yang ada di samping mobilnya dan Damar.


"Wooaahhh ... keren juga motornya," puji Quin menatap kagum motor besar Damar yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. "Sepertinya dia memang suka banget dengan dunia otomotif," desis Quin lalu membuka pintu mobilnya.


Sedetik kemudian, ia mulai melajukan kendaraannya menuju butiknya.


Sedangkan Damar merasa jengah dengan kehadiran sang mama yang secara tak sengaja telah mengganggu kebersamaannya dengan Quin.


"Damar ... Mama nggak suka kamu terlalu dekat dengan asisten pribadimu itu.


"Quin ... namanya Quin, Mah," sarkasnya. "Memangnya kenapa jika aku dekat dengannya, Mah? Lagian dia gadis yang baik," jelas Damar.


"Damar, mama hanya mengingatkan," balas Nyonya Zahirah. "Apalagi gadis itu tunangannya Angga. Lagian mama heran saja sama kamu, karena baru kali ini kamu menginginkan asisten pribadi," pungkas Nyonya Zahirah.


"Apa aku perlu menjawab?" tanya Damar.


"Damar!!" bentak Nyonya Zahirah.


Damar menghela nafasnya dengan kasar.


"Mah ... please, aku nggak ingin berdebat dengan Mama. Aku nggak mau Mama mencampuri urusan pribadiku," tegas Damar lalu meninggalkan sang mama yang terlihat geram.


"Sejak Quin menjadi asisten pribadinya, dia semakin berani melawanku," geram Nyonya Zahirah.


Tanpa pikir panjang ia segera menyalakan mesin motor lalu memainkan gasnya beberapa kali sebelum akhirnya ia memacu kuda besinya ke arah club' malam meskipun masih awal.


Setibanya ia di tempat itu ia malah bertemu dengan Angga dan Dennis.


"Angga, Denis ... apa kalian sudah lama?" tanyanya basa basi.


"Lumayanlah," jawab Dennis lalu menenggak minumannya.


Damar mengerutkan keningnya menatap Angga yang terlihat sedikit kacau lalu menepuk bahunya.


"Angga!! Apa kamu baik-baik saja?"


Angga menggeleng sambil menyesap rokoknya dalam-dalam.


Tak banyak yang mereka bicarakan di tempat itu hingga membuat Damar jenuh. Tak lama berselang, tampak Kinara dan teman-temannya memasuki club itu lalu mencari tempat duduk.


Damar tersenyum sinis tak kalah mendapati Naira termasuk diantara teman-teman Kinara.


"So ... mereka berteman?" gumamnya dalam hati.


Seketika ia teringat Quin. Sebenarnya ke mana gadis itu tadi? Padahal ia masih penasaran ingin tahu ke mana saja gadis itu menghilang selama tiga hari kemarin.


"Bro ... aku tinggal ya. Soalnya ada yang ingin aku urus," pamitnya lalu buru-buru keluar dari club' itu.


"Quin, ke mana dia?" desisnya lalu menghubungi gadis itu.


Quin yang saat ini berada di butiknya mengulas senyum saat menatap layar ponselnya.


"Ya hallo Mr. Brewok, ada apa? Apa sudah selesai mengobrol dengan mamamu," tanya Quin.


"Hmm ... kamu lagi dimana?" tanya Damar.


"Di butik," jawabnya lalu terkekeh. "Kenapa? Apa kamu ingin ke sini?"


"Apa boleh?" tanyanya balik.


"Sure, aku menunggumu," pungkasnya.


"Ok, baiklah," jawab Damar.


"Siap Mr. Brewok," ucap Quin.


Setelah memutuskan panggilan telfon, Damar kembali memacu motornya dan terlebih dulu mampir ke salah satu cafe dan memesan minuman favorit Quin sekaligus membeli makanan.


Selang beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan makanan dan minumannya pun di antar. Setelah membayar, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju butik Quin dengan hati yang berbunga-bunga.


Lima belas menit kemudian ...


Damar melangkah pelan menuju pintu butik. Senyumnya langsung mengembang saat mendapati Quin terlihat sedang menggambar dan tampak serius.


"Padahal ini sudah waktunya istirahat, dia malah bekerja. Sudah itu sendiri pula," gumamnya lalu menghampiri gadis itu.


"Quin," tegurnya dengan seulas senyum.


Quin menoleh lalu menatapnya sambil terkekeh.


"Kita seperti janjian saja," tuturnya.


Damar tersenyum mendengar ucapan Quin lalu meletakkan makanan dan dua cup es boba di meja sofa.


"Ini untukmu," kata Damar lalu menyodorkan cup es boba pada Quin.


"Thanks ya, Mr. Brewok. Kamu perhatian banget," ucapnya lalu meraih cup boba itu lalu menyedotnya. "So ... apa kamu mentraktirku?" celetuknya lalu berpindah duduk ke sofa.


"Ya ... begitulah," bisiknya lalu menatapnya. "Maaf ya Quin, soalnya tadi mama tiba-tiba datang," sesalnya.


"Nggak apa-apa. But honestly ... mamamu galak banget. Haaa ... kasian banget yang bakal jadi mantunya," celetuk Quin lalu terkekeh membayangkan Nyonya Zahirah.


"Abaikan saja. Sebenarnya mama, karakternya memang seperti itu, tapi percayalah dia wanita yang baik dan penyayang," jelas Damar.


...****************...