You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 98



Kai dan Natasya saling pandang mendengar pintu kamar Kai diketuk.


"Ya, masuk" ucap Kai.


Begitu pintu kamar dibuka. Nadya langsung menghambur masuk.


"Dimana Mbakku?" tanya Nadya.


Kai menunjuk Natasya dengan dagunya. Dan gadis itu pun langsung melompat naik ke ranjang Kai. Membuat Kai langsung berdiri karena pantulan ranjang Kai.


"Kak...." teriak Nadya langsung memeluk Natasya. Natasya sedikit shock melihat adiknya ada di Shanghai.


"Kamu di sini?" tanya Natasya.


Nadya mengangguk.


"Kakak nggak apa-apa?" tanya Nadya berkaca-kaca.


"Tidak. Kakak nggak apa-apa. Cuma sedikit demam. Tapi sudah baikan. Justin yang mengobati" ucap Natasya.


Nadya langsung marah mendengar nama Justin.


"Baguslah kalau kakak baik-baik saja. Bisa-bisanya Justin ke sini tidak memberitahuku" kesal Nadya.


"Itu supaya kamu tidak cemas" kali ini Kai menjawab.


"Alah alasan" jawab Nadya ketus.


"Sudah bertemu Justin?" tanya Natasya.


"Sudah. Sudah habis aku hajar" jawab Nadya lagi.


"Kamu apain dia?" tanya Natasya.


"Pokoknya aku hajar. Sudah pergi ke sini nggak bilang-bilang. Balik langsung ikut nyusul aku tidur. Nyebelin" adu Nadya.


"Cuma tidur doang kan?" tanya Kai.


"Ya iyalah"


"Kalau cuma tidur doang ya nggak masalah. Kan nggak ada yang hilang. Nggak ada yang kurang" goda Kai.


"Aisshh kak Kai mah gitu" Nadya menunjukkan wajah cemberutnya.


Sedang Kai dan Natasya tersenyum simpul.


"Kalian menyebalkan!" umpat Nadya.


Kai dan Natasya mengulum senyum masing-masing.


Natasya beranjak turun dari ranjang.


"Kamar mandi" bisiknya.


"Mandi sekalian. Bajunya cari di walk in closet sebelah kanan kamar mandi. Kita turun makan habis ini" ucap Kai.


Natasya mengangguk lantas melesat masuk ke kamar mandi.


"Kakak sudah cerita soal dirimu yang sultan?" tanya Nadya.


"Belum"


"Ceritalah, nanti dia shock"


Kai mengangguk.


Lima belas menit kemudian, Natasya sudah selesai membersihkan diri. Dan berganti baju.


"Sudah selesai?" tanya Nadya.


Natasya mengangguk.


Kai sedikit terpukau dengan penampilan Natasya.


"Iihh kedip dong. Seminggu nggak ketemu saja kayak setahun nggak ketemu" ledek Nadya.


"Dasar adik durhakim" balas Kai.


"Berani mengatai aku durhakim. Lihat saja aku palak kakak baru tahu rasa" ancam Nadya.


"Malak Kakak? Mau malak apa kamu? Kakak tidak takut" balas Kai tidak mau kalah.


"Ahhh sudah. Kalian ini kalau bertemu tidak pernah akur" gerutu Natasya melihat tingkah Kai dan Nadya.


"Kak Kai yang mulai" ucap Nadya.


Kai kali ini hanya diam. Menekan tombol lift. Lalu masuk ke dalam begitu pintu terbuka.


"Pakai lift?" tanya Natasya.


"Holang kaya mah bebas" seloroh Nadya.


Natasya menatap Nadya, tidak paham maksud adiknya. Kai hanya terdiam enggan menanggapi ocehan Nadya.


Mereka tiba di lantai bawah. Natasya dan Nadya mengikuti langkah Kai. Tiba di sebuah ruang makan yang sangat mewah.


Di mana sudah banyak orang yang ada disana. Nadya melongo karena hanya beberapa orang saja yang ia kenal.


"Mari Tuan Muda, Nyonya Muda, Nona" sapa kepala pelayan.


Kai duduk di ujung meja makan. Menandakan kalau dia adalah kepala keluarga disana. Natasya duduk di samping kanan Kai. Disusul Nadya disebelahnya berikutnya ada Justin. Alex dan juga Evan.


Disebelah kiri Kai. Ada Steven. Seorang wanita cantik seusia Natasya. Disusul Luis yang malam itu kembali terpesona melihat penampilan Natasya.


"Oh **** kenapa dia malah semakin cantik saja" batin Luis.


"Baik mungkin kita akan mulai makan malamnya. Setelah itu mungkin kita bisa saling mengenalkan diri" ucap Kai. Memulai makan malamnya.


Chinese food. Tema makan malam mereka kali ini. Ada bebek peking yang terkenal. Ada dimsum. Steam ikan kerapu. Bahkan hot pot Sichuan juga ada. Dan masih banyak lagi yang lain.


Semua jelas menikmati makan malam mereka. Terlebih mereka semua kelaparan.


"Kak Lin baru pulang?" tanya Kai.


"Aku kebetulan ada operasi sebenarnya. Tapi aku minta teman untuk menggantikan. Aku begitu tidak enak hati padamu. Sejak kepulanganmu. Kita belum pernah bertemu. Terlebih hari ini kamu membawa calon istrimu, ada adikmu dan juga teman-temanmu. Sungguh keterlaluan jika aku tidak bisa ada disini menyambut kalian" ucap Lin Qian.


Dua orang langsung tersedak ketika Lin Qian menyebut calon istri. Steven menyeringai.


"Wah, wah ternyata banyak segi cinta disini" batin Steven.


Kai juga hanya mengulas senyum tipisnya.


"Aku tahu kakak sibuk. Tidak perlu sampai seperti itu" jawab Kai.


Makan malam itu berlangsung tenang. Selanjutnya mereka duduk di ruang keluarga. Sambil mengobrol ringan. Lin Qian, Natasya dan Nadya langsung akrab. Mereka mengobrol seru. Sambil tertawa sesekali.


Sedang para pria terlihat sedang mendiskusikan sesuatu.


"Masih belum terima?" bisik Evan.


Alex menggeleng.


"Kau sudah melamar Mandy. Tanggal pernikahan sudah diatur. Ingat itu" Evan memperingatkan.


"Aku benar-benar perlu waktu untuk melepaskannya Evan" ucap Alex pada akhirnya.


Seolah paham dengan isi pikiran Alex. Evan hanya menepuk pelan bahu Alex. Selanjutnya tatapan mata Alex beradu dengan Luis.


Sejenak dua pria itu saling mengunci tatapan. Hingga Steven menyenggol pelan bahu Luis. Membuat Luis mengalihkan pandangannya dari Alex.


"Ternyata di sini dia juga ada penggemar" batin Alex.


"Apa dia juga mencintai gadis keras kepala itu" batin Luis.


Mereka berbincang-bincang sampai malam. Membicarakan entah apa. Saling tertawa meski masih merasa canggung satu sama lain.


"Jadi ada yang aku lewatkan?" tanya Kai.


Ketiganya sudah berada di ruang kerja milik Kai. Yang dulu milik ayahnya. Tuan Andrew Liu.


Sedang yang lain sudah masuk ke kamar masing-masing.


"Ada kejutan besar untukmu" ucap Steven. Pria itu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.


Kai langsung membukanya. Seketika matanya membulat membaca isi dari map itu.


"Jadi dia juga yang menyebabkan ayah dan ibuku meninggal dua puluh tahun lalu" ucap Kai dengan amarah yang mulai menguasai dirinya.


"Ya, kami baru menemukan buktinya. Dan setelah diinterogasi oleh anggota marinirku dia akhirnya mengaku" jelas Steve.


"Hebat sekali dia. Berani bermain-main dengan kita" kali ini Luis ikut geram.


"Dan untuk kasusmu. Dia benar-benar tidak mengetahui kalau kau dan putrinya menjalin kasih. Itu diluar prediksinya. Dia pikir setelah menyerang orang tuamu. Membuatmu menghilang. Semua urusan selesai. Tapi di luar kendalinya. Putrinya jatuh cinta padamu. Membuatnya marah. Sehingga ingin melenyapkanmu juga. Namun sekali lagi semua di luar kendalinya. Dan Luna yang meninggal menggantikanmu" tambah Steven.


"Lalu dia berencana membalas dendam. Dengan mengadu domba kita" Luis mengambil kesimpulan.


"Bingo!" Steven menyahut.


"Naikkan kasusnya ke meja hijau secepatnya. Jerat dia dengan semua pasal yang bisa menjeratnya. Aku ingin melihatnya membusuk di penjara. Atau kalau mungkin hukuman matipun aku akan sangat menyukainya" ucap Kai dengan kilat kemarahan di matanya.


Membuat baik Steven maupun Luis bergidik ngeri melihatnya.


"Oh come on Bro. Calm down. Kita pasti menjeratnya. Kalau penjara masih bisa lolos. Kita bisa menghukumnya sendiri" ucap Steven santai.


"Tapi aku rasa akan sangat sulit untuk lepas dari jeratan hukuman. Bahkan Komandan Bei pun siap membantu jika pengadilan tidak bisa memberikan keputusan yang adil untuk kita" tambah Luis.


Ketiganya terdiam sejenak.


"Besok aku ingin membuka brankas utama. Jadi aku harap Paman kedua dan ketiga sudi datang untuk menjadi saksi" ucap Kai pada akhirnya.


"Tidak masalah. Mereka sudah menunggu ingin bertemu denganmu. Betul tidak Luis?" tanya Steven.


"Yeah. Mereka merindukan bocah tengil dan gembul ini" seloroh Luis.


Yang membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak.


"Oh ya ada satu masalah lagi" sela Steven.


Kai dan Luis menatap Steven.


"Soal perjodohanmu. Mereka mulai merecoki ayahku soal perjodohanmu" jelas Steven.


"Tenang saja. Aku bisa mengatasinya" jawab Kai tenang.


"Kau tahu calonnya memiliki hubungan kerabat dengan Klan Tan dan Wang. Kau harus mempersiapkan diri untuk menghadapi dua klan itu sekaligus jika menolak perjodohan ini" jelas Steven lagi.


"Aku tahu Bro. Kali ini aku tidak akan mengalah pada perjodohan apapun itu. Kalian tahu aku membuatnya koma dua hari gara-gara dia memintaku menikahi adik tirinya sendiri" ucap Kai penuh emosi.


"Yang benar?" tanya Luis.


"Kau tidak tahu berapa banyak hal yang sudah kami lalui untuk bisa bersama"


Sebaris kalimat yang pernah Natasya ucapan terngiang di telinga Luis.


"Inikah yang kau maksudkan. Kematian. Bahkan kau hampir mati untuk bisa bersamanya" batin Luis.


****