
Jocelyn tampak berjalan terburu-buru. Ketika satu suara menghentikan langkahnya.
"Lyn, dokter Jocelyn" Panggil suara itu.
"Ya?" Jo menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya menghadap pada seorang pria berpakaian sama dengannya. Jas dokter, sneli. Pria tinggi berwajah tampan. Perpaduan lokal dan internasional alias bule. Tapi tidak terlalu bule banget soalnya masih kental lokalnya.
"Kamu mau ke mana?" Tanya pria itu, mensejajarkan langkahnya dengan Jocelyn.
"Ah dokter Edgard, aku ingin ke tempat Profesor Herini. Hasil lab yang aku minta sudah keluar" Jawabnya.
"Panggil saja aku Edgard. Tes tentang pasien istimewamukah" Tanya pria bernama Edgard itu.
"He em" Jawab Jo singkat. Dia terlalu penasaran dengan hasil tes lab Natasya tahun ini. Jika dia lolos maka besar kemungkinan rantai genetik itu akan terputus di masa ini.
"By the way. Terima kasih sudah mengajakku ke lamaran kakakmu. Walau hanya pasangan abal-abal" Ucap Edgard.
"Ah itu. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku melakukannya padamu" Balas Jocelyn. Merasa bersalah telah memanfaatkan pria disampingnya itu.
"Tidak masalah. Aku tidak merasa keberatan dengan hal itu. Tapi asal kamu tahu, aku ingin sekali mewujudkan perkataan orang-orang itu" Sahut Edgard sambil menatap dalam wajah Jocelyn.
"Perkataan, perkataan yang mana?" Jo jelas bingung. Ingatannya melayangkan pada acara lamaran sang kakak weekend kemarin.
"Wah, ini adiknya cantik dan pacarnya juga ganteng. Serasi. Semoga cepat menyusul kakaknya ya" Ucap beberapa orang yang langsung disahuti iya oleh banyak orang disana.
"Oh itu. Ed, kamu tahu kan aku masih harus..."
"Aku tahu. Aku akan menunggu hingga kamu bersedia menjalaninya denganku. Saat ini setidaknya berilah aku kesempatan untuk dekat denganmu" Potong Edgard cepat.
"Kamu tahu Ed, menungguku akan membosankan" Ucap Jocelyn lagi.
"Kamu pikir berapa lama aku sudah menunggumu. Dan bagiku itu tidak membosankan sama sekali. Karena apa? Karena kamu tidak pernah membiarkan pria lain mendekatimu selain aku" Sahut Edgard.
Edgard tahu benar. Jocelyn tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Entah kenapa. Tapi begitu Edgard mendekati Jocelyn. Gadis itu tidak menolak sama sekali. Apa ini sebuah tanda untuk dirinya. Egard sendiri tidak tahu.
"Ayo aku temani masuk. Aku juga penasaran dengan hasil lab pasien istimewamu itu" Ajak Edgard sambil mendorong pelan bahu Jocelyn masuk ke ruang lab.
"Prof, dokter Jocelyn sudah datang" Lapor seorang perawat pada seorang dokter dengan penampilan khas seorang profesor. Hanya saja karena kali ini profesornya wanita jadi tidak terlalu menyeramkan. Justru dia malah terlihat ramah sekali.
"Kamu datang Jo. Ah ada dokter Edgard juga" Sapa wanita itu.
"Bagaimana hasilnya Prof" Tanya Jocelyn tidak sabaran.
"Sepertinya kita harus bertindak cepat kali ini, Jo" Jawab wanita itu membuat Jocelyn lemas seketika.
"Jadi hasil tesnya?" Tanya Jocelyn.
Bukannya menjawab, Profesor Herini malah menyerahkan selembar kertas
"Seperti yang kamu lihat, ada indikasi peningkatan jumlah sel darah putih yang cukup signifikan. Yang mengarah kepada indikasi adanya leukimia" Jelas Profesor Herini singkat.
"Kita harus segera membawanya melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena jika ini karena faktor genetik dia akan mewarisi jenis yang sama dengan yang ayahnya derita. Walaupun faktor genetik hanya ada sekitar lima sampai sepuluh persen yang mengalaminya. Leukemia Mieloid Akut (AML)" Ucap Profesor Herini.
"Itu jenis yang cepat memburuk" Timpal dokter Edgard.
"Karena itu bawa dia secepatnya ke sini. Kita harus segera melakukan tes darah, tes sumsum tulang, pencitraan dan kalau perlu kita harus melakukan terapi radioaktif untuk mempersiapkan tranplantasi sumsum tulang belakang ( stem cell)" Ucap Profesor Herini lagi.
*Sumber hellosehat.com
Jocelyn hanya bisa diam. Tidak mampu berkata-kata. Cukup shock dengan hasil labnya.
"Bukankah kita sudah mempersiapkan kemungkinan terburuknya dokter Jocelyn" Tanya Profesor Herini.
"Ah iya. Aku akan meminta dokter Justin untuk segera mengirim sample sumsum tulang belakang milik adiknya. Beberapa waktu lalu dia mengambilnya sebagai usaha untuk berjaga-jaga. Karena Nadya adiknya lolos. Dia bersih" Ucap Jocelyn setelah bisa menguasai dirinya.
"Itu bagus. Kita akan segera memulai persiapannya" Sahut Profesor Herini.
"Oh ya Prof, status pasien naik menjadi VIP" Info Jocelyn tiba-tiba.
Membuat Edgard mengerutkan dahinya.
"Apa karena berhubungan dengan ini?" Tanya profesor Herini. Menyerahkan amplop coklat kepada Jocelyn.
Jocelyn menerimanya. Lantas membukanya. Dan dia sama sekali tidak terkejut dengan hasilnya. Jocelyn dan keluarganya sejak awal sudah tahu siapa Natasya dan siapa orang tuanya.
"Ini perintah dari tuan Atmaja langsung. Bahkan sebelum dia tahu siapa pasien saya sebenarnya. Tapi sekarang mungkin akan berbeda, karena yang kita tangani adalah salah satu orang penting di keluarga Atmaja. Natasya Ariana adalah cucu tuan Surya Atmaja" Ucap Jocelyn membuat Edgard terkejut.
Namun tidak dengan profesor Herini.
"Bawa dia kemari secepatnya Jo. Kita harus bergerak cepat. Hubungi divisimu, onkologi dan hematologi dan kemungkinan kita juga memerlukan divisi bedah dalam kasus ini" Pinta profesor Herini melirik ke arah Edgard.
"Siap Profesor" Jawab Edgard. Karena kebetulan dokter Edgard adalah kepala divisi bedah.
"Dokter Edgard, Profesor bisakah kita merahasiakan tentang status Natasya yang cucu tuan Atmaja. Saya khawatir akan ada beberapa orang yang akan memanfaatkan situasi ini. Mengingat cucu tuan Atmaja tidak pernah terekspos selama ini. Cukup kita tahu jika statusnya adalah VIP" Pinta Jocelyn.
Baik Edgard maupun Profesor Herini mengangguk.
"Jo bisa kita bicara sebentar" Ucap Edgard. Setelah keduanya keluar dari ruang Profesor Herini.
"Ya?"
"Setelah semua ini usai berjanjilah untuk memberikan jawaban atas perasaanku padamu" Pinta Edgard.
"Tapi Ed..."
"Kita pasti bisa melewati ini. Dia akan sembuh. Semua sudah kamu persiapkan dengan matang. Kita tinggal mengeksekusinya" Ujar Edgard.
"Aku tidak bisa berjanji, Ed"
"Aku tidak akan memaksamu Jo" Balas Edgard sambil menggenggam tangan Jocelyn. Membuat jantung Jo seakan bermaraton ria. Wajah Jocelyn langsung bersemu merah.
"Jocelyn Valencia Kusuma aku akan menunggumu" Ucap Edgard menatap dalam kedua bola mata Jocelyn.
Jocelyn benar-benar shock dengan hasil lab Natasya. Dugaannya meleset. Dia pikir karena fisik Natasya tidak menunjukkan gejala umum penyakit ini. Dia pikir Natasya akan lolos sama seperti Nadya.
Dia berulang kali menghubungi ponsel Natasya tapi tidak diangkat. Hingga entah panggilan yang keberapa. Panggilannya tersambung. Namun ia kembali harus kecewa. Karena Lisa yang mengangkat panggilannya. Mengatakan kalau Natasya sangat sibuk akhir-akhir ini.
Setelah gagal menghubungi Natasya. Jocelyn langsung menghubungi asisten Sam.
"Ya, dokter Jo. Ada kabar terbaru apa?" Tanya asisten Sam.
"Hasil tes DNA sudah keluar. Sesuai dugaan Anda. Dia cucu sah tuan Atmaja" Info Jocelyn walau dia sudah tahu sejak awal.
"Bagus kalau begitu. Ini akan jadi kabar yang membuat tuan Atmaja senang. Dia pasti akan lebih bersemangat untuk sembuh" Jawab asisten Sam.
"Tapi ada kabar buruk juga asisten Sam" Ucap Jocelyn lagi.
"Maksudnya" Tanya asisten Sam.
"Ada kemungkinan cucu tuan Atmaja, mewarisi penyakit tuan Kevin Hadiwinata" ucap Jocelyn.
"Leukemia?" Tanya asisten Sam.
"Ya. Kami sedang mengupayakan yang kami bisa. Membawanya masuk ke rumah sakit dengan segera. Melakukan upaya pencegahan dan penyembuhan jika hal itu diperlukan" Jelas Jocelyn.
"Lakukan dengan baik dokter Jo. Tapi sementara ini saya tidak akan memberitahukannya kepada tuan Atmaja. Saya takut hal ini akan mempengaruhi kondisi psikisnya" Ucap asisten Sam.
"Baik asisten Sam" Jawab Jocelyn.
Jocelyn jelas jadi orang yang paling sibuk, ketika hasil lab Natasya keluar dengan hasil seperti itu. Dia nyaris berteriak di ruang kerja papanya. Ketika dia datang menemui papanya.
"Bukankah untuk hal ini kamu belajar onkologi dan hematologi sekaligus" Hibur sang papa.
"Tapi Pa. Semua tidak seperti yang Jo bayangkan. Menerima hasil labnya saja Jo sudah down. Bagaimana aku harus menanganinya langsung. Kali ini Jo benar-benar tidak tahu harus bagaimana?" Ucap Jo hampir menangis.
"Ini kemungkinan terburuk yang kita punya Jo. Percayalah kita pasti bisa melewatinya kali ini. Kita datang dengan persiapan yang matang kali ini. Bahkan sumsum tulang belakang Nadya sudah on the way kemari. Situasi kali ini jelas berbeda dengan yang papa hadapi hampir 20 tahun yang lalu" Hibur papa Jo.
"Benarkah?" Tanya Jo.
"He em. Waktu itu selain kami terlambat mengetahuinya. Om Kevin jelas menolak melakukan stem cell. Walaupun kami belum mendapatkan kandidat yang tepat. Dia sudah terlalu down dengan kematian tante Celine. Dan juga kehilangan dua putri mereka" Jelas papa Jo.
"Faktor psikologi juga penting dalam hal seperti ini Jo. Semua akan sia-sia jika mental pasien sudah down duluan. Karena itu usahakan Tasya memiliki support dari orang-orang terdekatnya. Itu akan sangat membantu Tasya agar dia bisa melewati ini semua" Tambah papa Jo.
Jocelyn mengangguk paham.
Jocelyn teringat beberapa waktu lalu tuan Atmaja meminta bertemu dengannya secara pribadi.
Flashback on
"Putri Marcellino Kusuma benar-benar tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga pintar" Puji tuan Atmaja kala melihat Jocelyn untuk pertama kali.
"Anda terlalu memuji saya tuan Atmaja" Balas Jocelyn tersipu.
"Kamu bisa memanggilku kakek. Sama sepertinya" Ucap tuan Atmaja.
"Anda sudah tahu?" tanya Jo.
"Aku sangat bersyukur bisa menemukannya sebelum aku menutup mata. Membuatku memiliki kesempatan untuk menebus kesalahanku kepada mereka. Kamu tahu dia persis seperti ibunya" Kenang tuan Atmaja berkaca-kaca.
"Kakek benar. Wajah dan sifatnya persis tante Celine. Dia terlalu baik kadangkala" Tambah Jo.
Tuan Atmaja mengangguk.
"Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku. Asistenku mungkin sudah menemuimu?" Tanya tuan Atmaja.
Jocelyn mengangguk.
"Lakukan yang dia minta. Meski aku yakin kalau dia cucuku. Aku memerlukan itu untuk mengesahkan surat wasiatku. Dan lagi aku sudah mengubah kepemilikan rumah sakit ini atas namanya. Jadi dia bosnya sekarang" Ucap tuan Atmaja sambil terkekeh.
Jocelyn mengangguk.
"Jagalah dia selama aku pergi. Aku tahu dia berteman baik denganmu selama ini" Pinta tuan Atmaja.
"Kek, kenapa Kakek tidak menemui dia dan mengatakan yang sebenarnya sebelum Kakek pergi?" Tanya Jocelyn.
"Kakek terlalu malu untuk bertemu dengannya dan mengakui kalau kakek adalah Kakeknya. Kakek takut dia akan menolakku dan membenciku" Jawab tuan Atmaja kembali berkaca-kaca.
"Kek, apa Kakek tahu dia sangat merindukan sebuah keluarga. Bertahun-tahun dia hidup sendiri. Dia sangat membenci mereka. Tapi tidak dengan Kakek" jelas Jo.
"Kakek akan menemuinya setelah Kakek kembali dari Tiongkok. Setelah Kakek benar-benar dinyatakan sembuh. Kakek tidak ingin membuatnya khawatir" Jawab tuan Atmaja.
"Semoga Kakek cepat kembali. Dan benar-benar kembali sehat" Doa Jocelyn. Jo tahu tujuan tuan Atmaja pergi ke Tiongkok.
"Terima kasih. Terima kasih sudah menjaga cucu Kakek selama Kakek tidak tahu keberadaan mereka selama ini" Ucap tuan Atmaja sambil menggenggam erat tangan Jocelyn.
"Sama-sama Kek. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk membalas budi tante Celine dan Om Kevin" Jawab Jocelyn.
Flashback off
Jocelyn menarik nafasnya panjang. Dia pikir pertempuran yang sebenarnya akan segera dimulai.
**
Up lagi readers,
Onkologi, cabang ilmu kedokteran yang mendalami tentang penyakit kanker.
Hematologi, cabang ilmu kedokteran yang mendalami tentang berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan darah.
*sumber hellosehat.com
Thank's sudah mampir readers,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘
***