
"Kenapa dia?" Tanya Natasya begitu Nadya keluar dari ruangan itu.
"Dia menangkap basah Justin sedang begituan dengan seorang perempuan" Jelas Kai.
"Mereka salah paham?" Tanya Natasya.
"Apalagi. Nadya minta putus tapi Justin menolak"
"Sudah diselidiki kebenarannya?"
"Justin dijebak"
"Lalu kamu percaya dengan cerita Justin"
Kai menatap tajam Natasya.
"Kami para pria tahu, mana yang kami benar-benar menginginkan s*** atau kami yang sedang dijebak. Mungkin terlihat sama di mata wanita tapi itu dua situasi yang berbeda"
"Benarkah?"
"Mau tahu bedanya?" tantang Kai.
Natasya menaikkan alisnya.
"Jika kami benar-benar menginginkannya kami akan menyerang secara agresif sejak awal. Tapi jika kami dijebak hal itu tidak akan terjadi. Kami biasanya tidak akan merespon diawal. Walau kadang bagi yang diberi obat tetap akan merespon juga pada akhirnya. Tapi itu karena pengaruh obat" Jelas Kai.
"Pengalaman sekali. Pernah mengalami ya?" Selidik Natasya.
"Pernah. Adikmu sendiri yang hampir memperk***ku karena aku mabuk" Sahut Kai enteng.
"Wah, sudah tidak tong tong lagi dong" Canda Natasya.
"Aku bilang hampir Anna. Aku masih bisa menahan diriku bila bersama wanita lain. Tapi tidak saat aku bersamamu" Ucap Kai.
"Ya?"
"Aku selalu kehilangan kendali diriku saat bersamamu" Bisik Kai lirih. Sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Natasya.
"Eh ini maksudnya apa ya...mmppphhh...
Detik berikutnya Kai telah mencium lembut bibir Natasya. Membuat wanita itu gelagapan seketika. Melu***nya sedikit, menikmati kelembutan bibir Natasya. Hingga beberapa waktu keduanya masih terhanyut dalam ciuman hangat mereka.
"Akan ku terima hukumanku nanti, Kek" Ucap Kai ke arah kamera CCTV disudut ruangan.
Membuat seseorang di ujung sana mengulum senyumnya.
"Kakek? Kakek siapa?Jangan bilang dia. Aku tidak mau bertemu dengannya" Ucap Natasya kesal.
"Bukan, ini kakek sebelah ibumu" Jelas Kai.
Natasya terkejut.
"Aku masih memiliki keluarga?" Tanya Natasya lagi.
Kai mengangguk.
"Dia baru menemukanmu akhir-akhir ini. Jadi jangan marah padanya. Lihatlah disana" Kai menunjuk CCTV yang tadi dia lihat.
"Kakekmu mengawasimu terus. Dia baru saja sembuh dari kanker prostatnya setelah berobat ke Tiongkok. Jadi dia belum bisa ke sini menemuimu"
"Benarkah ada kakek disana?" Natasya berkaca-kaca melihat ke kamera CCTV itu. Pun dengan orang yang berada diujung sana.
"Iya nak, ini kakek" Ucap orang itu.
Satu hal yang membuat orang itu terharu adalah bahwa cucu sulungnya sama sekali tidak membencinya. Membuat dia merasa bersyukur sekali.
**
Bu Sarah nampak begitu marah di depan pengacaranya. Bagaimana bisa keinginannya untuk mengajukan penangguhan penahanan terhadap dirinya tidak disetujui oleh pihak kepolisian.
"Kalian bisanya apa sih?" Teriak bu Sarah.
"Maaf Bu, sepertinya ibu ditahan bukan hanya sebagai saksi tapi langsung sebagai tersangka. Karena itulah permohonan penangguhan penahanan kita ditolak" Ucap pak Benny selaku pengacara keluarga Hadiwinata.
"Sial! Lalu bagaimana dengan ayah mertuaku? Apa dia mau menjadi penjaminku agar aku bisa mendapat tahanan kota atau apapun itu asal aku tidak tidur dipenjara malam ini?" Tanya Bu Sarah.
"Anda tidak akan mendapat apa-apa Nyonya" Satu suara yang membuat dua orang itu langsung mencari sumber suara.
Keduanya langsung membulatkan matanya. Begitu melihat siapa yang berbicara.
"Pal Siregar...." Guman lirih pak Benny.
"BAP Anda sudah lengkap Nyonya dan akan segera naik ke pengadilan. Status Anda adalah tersangka sekarang" Sahut pak Siregar dingin.
"Saya tidak melakukan hal itu. Itu semua hanya rekayasa" Teriak Bu Sarah.
"Kau...Kau...bagaimana bisa?" Tanya Bu Sarah tidak percaya.
"Bibi memang mengancam saya 20 tahun lalu. Tapi peristiwa itu tidak pernah saya lupakan sampai sekarang" Balas suara itu yang tak lain adalah Kai.
"Kesaksiannya tidak sah dia masih anak-anak waktu itu. Belum bisa dianggap sebagai saksi" Bantah bu Sarah.
"Sayangnya pihak kepolisian menganggap sah kesaksian tuan Kaizo Aditya yang waktu itu masih berusia 8 tahun" Pak Siregar yang menjawab.
"Anda tahu Bibi. Aku bahkan masih ingat nomor plat mobil Bibi. Aku masih ingat baju apa yang Bibi pakai waktu itu. Aku ingat kata-kata Bibi saat mengancamku. Aku bahkan masih ingat bagaimana tante Celine menyuruhku pergi agar Bibi tidak menyakitiku. Aku masih ingat itu semua, Bi!" Kai hampir berteriak jika pak Siregar tidak menenangkannya.
Bu Sarah langsung tercekat.
"Bibi tahu pertama kali saya bertemu Bibi. Saya ingin berteriak pembunuh tapi saya tidak bisa. Entah kenapa. Karena itu saya memilih lari ke Singapura daripada harus melihat Bibi setiap hari. Melihat Bibi mengingatkan saya pada tante Celine. Betapa lemahnya saya waktu itu" Sesal Kai.
"Karena itukah kamu melakukan ini pada Fanny. Membalas dendam padaku melalui Fanny. Dasar anak tidak tahu diri" Maki bu Sarah.
"Saya tidak pernah ada niat ingin membalas dendam pada Bibi. Untuk apa? Saya baru tahu jika yang Bibi tabrak adalah ibu Natasya belakangan ini. Tapi jika Bibi menganggap ini balas dendam itu terserah Bibi" Sahut Kai.
Tanpa mereka sadari. Seorang gadis menangis pilu mendengar semua percakapan mereka semua. Fanny tidak menduga jika mamanyalah yang menyebabkan ibu kakak tirinya meninggal.
Sulit sekali dia menerima semua ini. Hatinya semakin kecewa pada mamanya. Hingga akhirnya Fanny dengan lantai gontai meninggalkan tempat itu. Mengurungkan niatnya untuk menemui mamanya.
Disisi lain,
Tuan Hadiwinata tampak mengeratkan rahangnya. Sebuah amplop tebal berwarna coklat nampak terbuka di atas meja kerjanya. Beberapa foto dan beberapa kertas nampak menyembul dari dalam amplop tersebut.
"Istri tuan Kevin adalah Celine Wulandari Atmaja putri tunggal dari tuan Surya Atmaja dan Savitri Atmaja. Mereka berdua memiliki dua orang putri. Natasya Arianna dan Nadya Arina. Keduanya kini menyandang nama Atmaja di belakang nama mereka.
Laporan sang asisten benar-benar membuat tuan Hadiwinata shock luar biasa.
"Dia putrimu" Gumannya lirih.
Ingatannya melayang ke berpuluh-puluh tahun silam. Dimana dia yang sedang patah hati dipaksa menikah dengan ayahnya. Dia patah hati karena wanita yang dicintainya mencintai sahabatnya sendiri. Keduanya bahkan sudah menikah dan sedang menanti kelahiran buah hati mereka.
Waktu itu tuan Hadiwinata muda sedang ada meeting dengan klien. Disebuah restoran. Ketika dia akan kembali ke kantor dia melihat Savitri muda yang turun dari mobil tuan Atmaja muda. Bisa dia lihat rona bahagia diwajah pasangan itu. Namun rupanya tuan Atmaja muda hanya mengantar Savitri muda karena ia kembali naik ke mobilnya. Dan mobil itu kembali meluncur keluar dari restoran.
Tuan Hadiwinata muda lantas mengikuti langkah Savitri menuju lantai dua restoran itu. Dia pikir Savitri ingin bertemu siapa. Namun kemudian dia ingat jika ini adalah restoran favorit Savitri.
Perlahan dia mendekati tempat wanita itu duduk.
"Vitri..." panggil tuan Hadiwinata muda kala itu.
"Eh mas Wira" jawab Savitri kala itu.
"Sendirian? Kirana mana?" tanya Savitri lagi. Karena yang diajak bicara hanya diam saja tidak menjawab.
"Vitri tidak adakah kesempatan untukku lagi?" Tanya Wira muda.
Savitri hanya tersenyum.
"Mas benar-benar mencintaiku?" Tanya Savitri balik.
Wira muda tentu langsung mengangguk.
Kembali Savitri muda tersenyum.
"Mas, mungkin saja kita tidak berjodoh di kehidupan ini. Tapi siapa tahu nanti anak atau cucu kita yang berjodoh. Menyambung rasa cinta yang kamu miliki untukku" Jawab Savitri lagi.
Kembali ke masa sekarang,
Tuan Hadiwinata menangis mengingat ucapan Savitri di masa lalu. Sejumput penyesalan terbit dihatinya. Mengingat dia dulu memang tidak menyelidiki siapa istri putranya. Dia terlanjur marah karena Kevin memilih menikah tanpa persetujuannya. Dan menolak perjodohan yang sudah dia siapkan bersama Sarah Amelia. Mamanya Fanny.
Sekarang hanya tinggal penyesalan yang tersisa. Penyesalan yang tidak akan mengembalikan semuanya. Ia kehilangan putranya dan juga cucu dari wanita yang sangat ia cintai di masa lalu. Savitri.
***
Up lagi readersku tercintah,
Jangan kasih kendor ya buat like like like
Juga vote vote vote
Kembang ma kopi jangan ketinggalan
Malak terus pokoke
Happy reading semua,
Love you all 😘😘😘
***