
Kai dan Steven akhirnya tiba di Shanghai Hongqiao International Airport. Sebuah bandara yang cukup besar di Shanghai. Utamanya melayani rute domestik. Namun tak jarang melayani beberapa rute internasional. Termasuk pesawat yang Kai dan Steven naiki.
Kredit google.com
"Apakah mereka juga turun di sini?" Tanya Kai.
"Ah tidak. Mereka turun di Pudong. Bandara yang satu lagi. Perluasan dari bandara ini" Balas Steven.
"Ayo. Kita pulang dulu. Istirahat. Tidakkah kau ingin melihat rumah masa kecilmu? Jangan khawatir. Luis tidak akan bertindak macam-macam pada tunanganmu. Melihat bagaimana tingkah tunanganmu" Hibur Steven.
Kai akhirnya hanya mengiyakan saja. Tubuhnya jelas sangat letih sekali. Ingin sekali berbaring di ranjang yang nyaman. Hampir dua puluh dua jam mereka berada di pesawat.
Keduanya masuk ke dalam mobi yang sudah Han siapkan.
"Aku heran kau berumur empar tahun ketika kau dibawa lari oleh pengasuhmu. Tapi kau sama sekali tidak ingat?" Tanya Steven.
"Itulah yang aku heran. Aku bahkan tidak ingat wajah ayah dan ibuku" Balas Kai sendu.
"Paman Andrew dan Bibi Alicia meninggal dua minggu sebelum penyerangan itu terjadi. Dan pengasuhmu kala itu membawamu kabur keluar dari Shanghai" Jelas Steven sendu.
"Sudah tahu pelakunya?" Tanya Kai.
"Sudah. Kami sudah menangkapnya. Sudah memenjarakannya. Tapi menurutku mereka hanyalah kambing hitam. Pelaku yang sebenarnya belum tertangkap" Jawab Steven.
"Yeah, insting mantan marinir pastilah berbeda" Puji Kai lagi.
"Kau ini sedang meledekku atau memujiku?" Jawab Steven kesal.
"Dua-duanya. Bisa-bisanya mantan marinir turun ke bisnis Fashion. Nyambung dari mana coba" Tutur Kai.
"Haah, kau tahu kan kalau aku terpaksa. Jika saja bedebah itu tidak membunuh kakakku. Aku mungkin masih asyik dengan karir tentaraku" Kenang Steven.
"Kau sudah menemukan pelakunya?" Kepo Kai.
"Sudah. Paman dari sebelah ibuku. Dia tidak terima mengapa perusahaan Fashion itu jatuh ke tangan kakakku. Pamanku itu bersikeras kalau itu adalah milik keluarga. Padahal itu adalah milik ibuku pribadi" Geram Steven.
"Lagi-lagi rebutan harta. Tidak bisakah mereka puas dengan apa yang sudah mereka miliki saat ini" Tanya Kai.
"Oooh, semua yang berhubungan dengan harta. Pasti akan membuat orang silau untuk memilikinya lebih dari orang lain. Apalagi kalau kau sudah melihat apa yang dilimpahkan kepadamu. Aku yakin banyak orang akan berlomba-lomba merebutnya darimu" Jawab Steven.
"Sebenarnya seberapa besar aset keluarga Liu ini" Kai kepo pada akhirnya.
"Well, klan Liu salah satu keluarga yang menguasai hampir tiga puluh persen dari keseluruhan bisnis yang ada di negara ini. Sebanding dengan klan Tan dan Wang. Bisnis kita mencakup ekspor impor, real estate dan property, perhotelan, perbankan, rumah sakit, mall dan aku mulai masuk ke Fashion, garmen dan clothing" Jelas Steven.
"Wow, jadi boleh kubilang kalau aku sama sultannya dengan tunanganku" canda Kai.
"Kau jauh diatasnya. Ditambah dengan bisnis IT dan sahammu. Aku kira sebentar lagi kau akan jadi buruan para wanita dan pembunuh bayaran di luar sana" Kembali Steven bercanda.
"Kalau begitu sembunyikan identitasku. Aku tidak takut pembunuh bayaran. Aku lebih takut dengan para wanita itu. Bisa-bisa Anna kabur lagi dariku" Sahut Kai.
"Hei kau tidak bisa begitu. Kita harus melakukan presscon untuk mengklarifikasi semua. Bahwa pewaris klan Liu yang sebenarnya sudah muncul" Jslas Steven.
"Aku tidak tertarik menjadi penerus klan Liu, Brother" Kai berucap mantap.
"Apa maksudmu?" Steven heran.
"Setelah Anna aku dapatkan. Aku akan kembali ke Jakarta. Aku hanya ingin hidup tenang. Aku rasa bisnisku sendiri sudah cukup untuk menghidupiku dan keluargaku kelak. Ditambah Anna memiliki lima puluh persen aset Atmaja Group dan tiga puluh persen aset HD Group. Aku akan cukup kerepotan menghandle semua itu" Jelas Kai.
"Tapi Kai...." Ucapan Steven terpotong ketika mobil mereka mulai memasuki kawasan sebuah rumah mewah dengan nuansa Cina dan Jepang.
"Rumahku?" Tanya Kai.
"Yah, rumah utama keluarga Liu. Aku rasa rumah ini pun masuk kedalam propertymu" Jelas Steven.
Kredit google.com
"Ini terlalu besar untukku. Aku rasa penthouse-ku di Singapura sudah cukup untukku" Balas Kai.
Membuat Steven memutar matanya malas.
"Kau terlalu sederhana untuk ukuran miliarder muda" Jawab Steven.
"Kuterima sanjunganmu, Brother" Sahut Kai. Kembali membuat Steven mendengus kesal.
Kedua pria itu memasuki rumah besar itu. Kedatangan mereka disambut barisan pelayan. Yang terlihat begitu bersuka cita. Mendengar pewaris utama keluarga Liu sudah kembali.
"Selamat datang kembali tuan muda Liu" Ucap para pelayan itu serempak.
Membuat Kai melongo. Sedang Steven mengulum senyum.
"Kau menyiapkan ini semua?" Tanya Kai.
"Tidak. Aku hanya memberitahu kepala pelayan kalau tuan muda akan pulang" Sahut Steven santai.
"Itu sama saja" Omel Kai.
Dan barisan pelayan itu akhirnya bubar. Dengan beberapa dari mereka terus berbisik menatap kagum pada tuan muda mereka.
Kai mulai berkeliling di ruang utama rumah itu. Ada banyak figura foto di ruangan itu. Foto keluarga besar Liu. Hingga dia sampai didepan sebuah figura dengan foto sepasang suami istri dengan seorang anak kecil duduk di tengah kedua pasangan suami istri itu.
"Ayah...Ibu..." Bisik Kai. Perlahan matanya berkaca-kaca memandang foto di depannya.
Steven menepuk pelan bahu Kai. Dia tahu perasaan Kai.
"Aku benar-benar tidak bisa mengingat mereka" Kenang Kai sedih.
"It's okay. Setidaknya sekarang kau tahu mereka. Dan mereka mungkin bahagia melihat putra mereka baik-baik saja" Hibur Steven.
"Ah aku harap begitu" Balas Kai menghapus air mata yang keluar dari matanya.
Sejenak keduanya terdiam. Hingga satu suara mengagetkan mereka.
"Tuan Muda Liu, andakah itu?" Tanya seorang wanita paruh baya.
"Bibi Tang...." Lirih Kai setelah sejenak terdiam.
"Ah Anda mengingatku? Syukurlah Anda baik-baik saja. Anda tahu hampir dua puluh tahun ini saya selalu mencemaskan keadaan Anda Tuan Muda" Ucal wanita yang dipanggil Bibi Tang oleh Kai.
Wanita itu tampak sesenggukan, menangis tersedu-sedu.
"Terima kasih Bibi sudah menyelamatkanku waktu itu" Kata Kai lantas memeluk bibi Tang. Membuat wanita itu terkejut. Tidak menyangka akan mendapat perlakuan yang begitu hangat dari pria yang diasuhnya sejak kecil.
"Sudah tugas bibi. Memastikan keselamatanmu. Mari biar bibi lihat. Bagaimana tuan Muda Eric bibi Tang" Perlahan Kai melerai pelukan.
Sejenak Bibi Tang memperhatikan keseluruhan penampilan Kai. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Lihatlah betapa tampannya Anda sekarang Tuan Muda. Anda begitu mirip dengan wajah ayah dan ibu Anda. Mata Anda adalah milik Nyonya Alicia yang lain milik Tuan Andrew.Sungguh perpaduan yang sempurna. Pasti banyak gadis yang tergila-gila pada Anda" Kekeh Bibi Tang sambil tertawa.
Kai pun ikut tertawa.
"Benarkah aku mirip dengan ayah dan ibuku?"
Bibi Tang mengangguk.
Mereka kini telah duduk di ruang keluarga. Teh dan berbagai macam hidangan sudah tersedia.
"Apa Anda merasa kesepian di panti itu. Saya sangat bersalah harus meninggalkan Anda di sana. Tapi saya tidak punya pilihan" Sesal Bibi Tang.
Kai menggenggam jemari bibi Tang.
"Tidak Bi. Aku tidak merasa kesepian di sana. Ada seorang gadis kecil yang selalu menemaniku di sana" Balas Kai.
"Benarkah? Kalau begitu Bibi harus berterima kasih padanya. Bisakah Bibi bertemu dengan gadis itu" Tanya bibi Tang penuh harap.
"Sayangnya Bibi harus menunggu sebentar lagi. Karena Luis tengah membawa gadis itu" Kali ini Steven yang menjawab.
"Tuan Muda Luis membawanya?" Bibi Tang gemetaran.
"Iya Bi. Tapi sebentar lagi kami akan menjemputnya. Jadi Bibi bisa bertemu dengannya" Jawab Kai.
"Kalau begitu cepat temukan dia. Jangan biarkan dia berlama-lama berada di tangan tuan Muda Luis" Balas Bibi Tang ketakutan.
Sejenak kedua pria itu memperhatikan ekspresi ketakutan Bibi Tang.
"Akan berbahaya bagi gadis itu" Tambah bibi Tang.
Kedua pria itu saling pandang.
***
Bonus Visual
Kredit Instagaram.com
Visual Kai yang kecapekan kelamaan naik pesawat. Tetep tampan kok bang ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Kredit Pinterest
Om Steven si mantan marinir mah bawaannya serius mulu,
So enjoy the visual. Jangan lupa ritualnya
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
****