You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 92



"Wajahmu kenapa Lena?" Tanya profesor Huang begitu dia dan Alena duduk di kursi ruang tengah. Wajah Alena terlihat masam dan cemas. Beberapa kali dia melihat ke lantai dua. Dimana kamar Natasya berada.


"Ah tidak apa-apa Prof" Jawab Alena kelabakan.


Pikiran Alena tertuju kepada apa yang tengah dilakukan Tuan dan Nonanya.


"Kenapa kau tidak mengatakannya saja?" Tanya profesor Huang tiba-tiba.


"Soal?" Alena menjawab lirih.


"Perasaanmu pada Luis. Kau jelas menyukainya" Profesor Huang berucap tanpa basa basi.


"Ahh bagaimana Profesor Huang bisa bicara seperti itu. Aku mana mungkin menyukai tuan Luis" Alena berusaha menyangkal.


"Sudah jelas kelihatan masih menyangkal" Gerutu profesor Huang.


Alena terdiam. Dia memang menyukai bosnya. Tapi dia jelas tidak berani untuk mengatakannya. Dia sadar siapa dirinya. Seorang yatim piatu. Yang kebetulan bisa kuliah dengan beasiswa. Dan kebetulan bertemu Luis yang sedang membutuhkan seorang sekretaris.


Luis melihat Alena memiliki kemampuan lantas menerimanya bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Berdampingan dengan Chen, tangan kanan Luis. Seiring berjalannya waktu. Alena mulai menyukai Luis. Karena dia melihat Luis pria baik. Dan juga setia. Sejak kematian Luna sang kekasih. Alena belum pernah melihat Luis berkencan dengan gadis manapun.


Satu-satunya wanita yang membuat Luis kalang kabut adalah Natasya. Wanita yang ternyata adalah tunangan kakak sepupunya sendiri. Baru kali ini Luis terlihat begitu memperhatikan seorang wanita.


"Aku tidak menyukai tuan Luis, Profesor" Tegas Alena lagi.


"Tidak usah membohongiku. Aku tahu jelas perasaanmu. Kenapa kau tidak jujur saja pada Luis. Menyukai dalam diam lebih menyiksa bukan?" Kata Profesor Huang. Yang langsung menohok hati Alena.


"Ya rasanya begitu menyiksa. Dua tahun mencintai dalam diam. Sangat menyesakkan dada" Batin Alena.


"Boleh aku memberi saran?" Profesor Huang bertanya. Alena terdiam.


"Jujurlah pada Luis soal perasaanmu. Setidaknya itu akan mengurangi sesak di dadamu. Luis sebenarnya orang baik. Dia tidak memandang orang dari status dan juga latar belakang mereka. Asalkan dia baik. Luis tidak akan mempermasalahkannya" Saran profesor Huang.


"Lalu bagaimana dengan Nona Natasya? Tuan Luis terlihat mencintainya" Alena akhirnya mengungkapkan pemikirannya.


"Natasya? Jelas sekali Luis hanya terobsesi pada gadis itu. Karena kemiripannya dengan Luna. Natasya jelas-jelas mencintai tunangannya. Kau tidak lihat bagaimana usaha gadis itu untuk terus melarikan diri dari Luis. Benar-benar gadis yang luar biasa" Puji profesor Huang.


"Karena itulah tuan Luis juga menginginkannya" Tutur Alena.


"Luis tidak akan mendapatkannya kali ini. Kau belum mengenal Eric Liu. Dia tidak akan melepaskan tunangannya. Aku jamin itu. Dan Luis aku pastikan akan kalah dalam perebutan ini" Sahut Profesor Huang.


"Kenapa Profesor yakin sekali?" Tanya Alena heran.


"Kau lihat saja sebentar lagi" Ucap profesor Huang ambigu.


"Saranku. Jujurlah pada Luis. Dia membutuhkan wanita sepertimu. Yang tulus mencintainya" Saran profesor Huang.


"Satu lagi. Luis itu tipe yang susah sekali dekat dengan wanita. Tahu sendiri setelah Luna tidak ada yang bisa mendekati Luis. Tapi kamu. Dua tahun bisa menjadi sekretaris Luis. Tanpa Luis pernah protes sekalipun. Karena apa? Karena dia nyaman dengan keberadaanmu. Kalau tidak kau sudah lama dipecatnya" Tambah Profesor Huang.


Sedang Alena hanya bisa memainkan jemari tangannya. Bimbang akan pilihan apa yang akan dia ambil.


Sementara dikamar atas,


Luis baru saja selesai memakai pakaiannya kembali. Pun dengan Natasya. Luis sudah memakaikan lagi piyama gadis itu.


Setengah jam. Seperti yang profesor Huang sarankan. Luis mengusap wajahnya kasarnya. Teringat bagaimana dia hampir saja lepas kendali. Melihat tubuh polos Natasya yang hanya memakai pakaian dalam. Hingga mengekspose kemulusan tubuh gadis itu.


Luis kembali terbayang bagaimana susahnya dia menahan hasrat. Melihat bagaimana sek**nya tubuh Natasya. Berkali-kali hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah. Tubuh Luis dan tubuh Natasya yang saling menempel kala itu. Membuat pria itu benar-benar kehilangan akal warasnya.


Hingga pada akhirnya dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Perlahan dilahapnya bibir mungil milik Natasya. Luis bahkan langsung melum** bibir itu. Sedang tangannya mulai menjelajahi tiap inci tubuh Natasya. Bergerak dari bawah. Terus ke atas. Perlahan diusapnya leher jenjang Natasya.


Luis baru saja mulai menciumi leher putih nan mulus itu. Ketika satu igauan Natasya membuat Luis langsung menghentikan aksinya.


"Kak..Kak Kai..." Igau Natasya masih dengan mata terpejam.


Dan demi apapun hasrat Luis langsung menguap seketika. Seperti air kena panas. Sesaat Luis hanya terdiam menatap wajah Nàtasya.


"Bahkan saat matamu terpejam dan tidak sadarpun. Hanya si brengsek itu yang kau ingat" Maki Luis dalam hati.


Lamunan Luis langsung buyar ketika mendengar keributan di lantai bawah. Luis langsung keluar dari kamar setelah memastikan kalau panas Natasya sudah benar-benar turun.


Luis belum sampai ke lantai bawah. Ketika dia mendengar suara yang begitu ia kenal berbicara.


"Kami ingin menjemput Natasya. Ia ada di sini kan?" Tanya suara itu yang tak lain adalah Steven.


Luis tentu terkejut mendengar Steven ada di vila ini. Lebih mengejutkan lagi ketika tidak hanya Steven yang ada di ruang tamu lantai bawah. Bahkan Kai. Tunangan gadis yang sekarang bergelung manis di kamar atas juga hadir.


"Apa yang kalian lakukan di tempatku?" Ucap Luis. Dia begitu marah. Bagaimana bisa Steven dan Kai menemukan dirinya secepat ini. Profesor Huang dan Alena hanya bisa memandang pertemuan keluarga Liu itu dengan tatapan cemas. Bisa dipastikan jika akan ada perdebatan atau bahkan perkelahian antara keluarga Liu itu.


"Tempat ini masih aset milik keluarga Liu, Brother. Aku belum membaginya. Tapi jika kau sangat menyukai tempat ini. Mungkin aku bisa memberikannya padamu. Bolehkan Brother Stev" jawab Kai enteng.


"Sombong sekali kau. Kau pikir siapa dirimu bisa membagi aset klan Liu sesuai keinginanmu" Sarkas Luis.


Sungguh dia begitu benci melihat Kai berdiri di depannya. Meski ia akui Kai memiliki aura kepemimpinan dan wibawa yang begitu kuat.


"Pria inikah tunangan Nona Natasya?" Tanya Alena setengah berbisik pada Profesor Huang.


Dan pria paruh baya itu hanya mengangguk.


"Pantas saja Nona Natasya tidak bisa berpaling. Sekali lihat saja sudah terlihat kalau dia begitu hebat" Batin Alena.


"Anda benar-benar tidak salah pilih tuan besar Liu. Hari ini aku melihat sendiri. Kehebatan cucu yang kau pilih sendiri sebagai penerus klan Liu-mu. Auranya benar-benar mengagumkan" Batin profesor Huang.


"Percaya diri sekali kau. Seolah memang kaulah penerus yang dipilih kakek" Cibir Luis.


"Kalau memang bukan aku yang dipilih. Kenapa selama ini kalian berdua tidak ada yang bisa membuka brankas utama keluarga Liu. Untuk bisa mengambil surat wasiat Kakek" Tantang Kai.


Skak mat. Luis benar-benar mati kutu mendengar ucapan Kai.


"Sudahlah, pulanglah bersama kami. Setelah ini akan aku bukakan brankas utama. Tapi katakan dimana Anna sekarang" Tanya Kai.


"Dia tidak ada di sini" Jawab Luis menatap tajam Kai dan Steven.


"Sudahlah Luis. Katakan saja dimana dia. Atau dia sendiri yang akan naik untuk mencarinya" ucap Steven.


"Sudah kubilang dia tidak ada disini" Luis kekeuh dengan jawabannya tidak ingin memberitahukan keberadaan Natasya.


"Kau tidak ingin memberitahuku. Jangan salahkan aku jika aku memaksa masuk" Ucap Kai. Auranya terasa begitu dingin dengan mata memerah menahan amarah.


"Tahan dirimu Bro" Steven menepuk bahu Kai.


"Aku sedang berusaha" Jawab Kai setenang mungkin.


Padahal ia ingin sekali menghajar sepupunya itu.


"Han...." akhirnya hanya nama itu yang keluar dari bibir Kai.


****