You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 39



Tuan Marcellino Kusuma masih berada di ruang kerjanya. Kai sudah undur diri beberapa saat yang lalu. Tuan Kusuma menarik nafasnya panjang. Sambil memandangi pemandangan malam ibukota dari jendela ruang kerjanya. Dia masih teringat pembicaraannya dengan Kai barusan.



Kredit google.com


"Kenapa dia ingin sekali aku menikahi Fanny? Apa dia tidak memikirkan perasaanku?" Tanya Kai bingung.


"Dia hanya bertindak mengikuti nalurinya sebagai seorang kakak yang ingin adiknya bahagia"


"Dengan mengorbankan perasaanku? Dia egois kalau begitu" Ucap Kai kesal.


"Sekarang tempatkan dirimu di tempatnya. Apa yang akan kau lakukan seandainya kau berada ditempatnya? Tanya papa Jocelyn.


Kai terdiam.


"Bagaimana? Aku yakin kau akan mengambil keputusan yang sama. Mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan adiknya sekaligus menerima kebencian darimu karena kau pasti akan menganggapnya egois seperti katamu"


Kai kembali terdiam. Mencerna kata-kata Jocelyn.


"Dia menanggung beban yang sangat berat di pundaknya. Tidakkah kau tahu perjuangannya menghidupi adiknya. Memang kami selalu memberi bantuan kepadanya. Tapi dia jarang menerimanya. Kau tahu usahanya melindungi adiknya dan dirinya sendiri dari ancaman Sarah. Hingga kami terpaksa menutup identitasnya. Dan mengirim Nadya ke Singapura. Semua itu untuk mengecoh Sarah. Dia masih mencari keduanya dan ingin melenyapkan keduanya"


Papa Jocelyn menjeda ceritanya. Sementara Kai pun hanya bisa terdiam.


"Jangan lagi menambah bebannya. Dengan mengatakan dia egois. Dia hanya ingin menjadi kakak yang baik. Dan memenuhi permintaan ayahnya untuk selalu menjaga adik-adiknya. Termasuk Fanny"


"Padahal Fanny hanya adik tirinya. Bahkan dia berulangkali ingin menyakiti kakaknya sendiri" Maki Kai.


"Fanny hanya korban dari ibunya. Ibunya salah mendidik Fanny. Sehingga Fanny menjadi seperti ini. Bahkan kehadirannya hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan ibunya. Bukankah keadaannya juga tidak terlalu jauh denganmu. Bisa jadi malah lebih parah Fanny beban mentalnya"


"Ketiga cucu Hadiwinata hanyalah korban dari keegoisan Wira Hadiwinata dan Sarah Amelia" Tutur papa Jocelyn.


Kai terdiam. Matanya berkaca-kaca.


"Jadi aku harus bagaimana Om. Aku tidak sanggup melepasnya"


"Apa kau sangat mencintainya?"


Kai menarik nafasnya.


"Aku begitu mencintainya. Apalagi dia adalah gadis yang selama ini aku cari. Dia adalah Anna-ku. Aku ingin menepati janjiku 20 tahun lalu. Aku ingin selalu melindunginya dan hanya mencintainya selama hidupku. Hanya dirinya" Ucap Kai dengan mata berkaca-kaca.


Papa Jocelyn terdiam mendengar ucapan Kai.


"Bantu aku bicara dengannya Om. Aku hanya ingin mendengar langsung dari bibirnya. Apa yang dia inginkan. Aku akan menurutinya" Pinta Kai.


"Om tidak janji. Tapi Om akan mencoba" Ujar papa Jocelyn.


"Halo nak, bisa mengatur pertemuan mereka?"


"..."


"Biarkan mereka menyelesaikan kesalahpahaman ini"


"..."


"Pastikan keadaan Natasya stabil sebelum mempertemukan mereka"


Papa menutup panggilan teleponnya. Kembali dia menarik nafasnya.


"Andai kau tahu siapa ibu Natasya Kai. Mungkin kau akan punya sedikit kekuatan untuk melawan kakekmu" Guman papa Jocelyn.


Tapi dia tidak bisa memberitahukan siapa ibu Natasya sebenarnya. Tuan Atmaja melarangnya.


"Aku tidak ingin Wira melakukan hal yang sama kepada mereka"


Ucap tuan Atmaja sebelum dia terbang ke Tiongkok.


"Tapi sepertinya tuan Wira akan melakukannya lagi, Kek" Bisik papa Jocelyn.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" *B*atin papa Jocelyn.


**


Alex kembali menyelinap ke lantai 10 dimana kamar VIP Natasya berada. Kali ini dia harus tahu kenapa Natasya berada di sini. Dia baru saja akan menyelinap masuk. Ketika Jocelyn mengetahui aksinya.


"Alex! Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Jocelyn.


Bukannya takut. Alex malah merasa kebetulan sekali bertemu Jocelyn di sini.


"Ahhh, kebetulan malah bertemu denganmu. Kau ingat kamu berhutang satu penjelasan padaku?" Ucap Alex sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Penjelasan soal apa?" Jocelyn pura-pura tidak ingat.


"Jangan menguji kesabaranku Jo" Ucap Alex setengah mengancam.


Glek!


Jocelyn menelan ludahnya kasar.


"Apa aku sudah tidak bisa menghindar lagi" Batin Jocelyn.


"Jelaskan sekarang Jocelyn Kusuma. Atau aku akan membuat keributan di sini. Atau aku langsung menerjang masuk!" Ancam Alex.


Jocelyn masih terdiam.


"Jocelyn Valencia Kusuma!" Alex hampir berteriak.


Jika saja Jocelyn tidak langsung membekap mulut Alex. Walau Jocelyn harus bersusah payah melakukan hal itu. Dengan tingginya yang hanya sebatas dada Alex. Dia harus berjinjit saat membekap mulut Alex.


"Jangan berteriak! Ikutlah denganku" ucap Jocelyn sambil berlalu dari hadapan Alex. Dengan Alex terpaksa mengikutinya.


"Setidaknya dia bukan Kak Kai atau Nadya" Batin Jocelyn.


Mereka masuk ke ruang kerja Jocelyn. Di sana dia menerima selembar kertas. Alex langsung membacanya.



Kredit google.com


"Apa ini?" Guman Alex. Bola matanya menyipit membaca baris demi baris kalimat di kertas itu. Hingga dia berguman di akhir kalimatnya.


"Positif Leukemia stadium 2"


"Apa ini Jo?" Tanya Alex bingung.


"Seperti yang kamu baca. Dia sakit leukemia stadium 2" Jawab berkaca-kaca.


Alex jelas terkejut dengan perkataan Jocelyn.


"Apa aku terlihat sedang bercanda Alex?" Balas Jo lagi. Membuat Alex menatap dalam dua bola mata Jocelyn. Berusaha mencari kebohongan di sana. Tapi nihil. Dia menemukan kejujuran di sana.


"Tapi bagaimana mungkin? Dia terlihat baik-baik saja" Sahut Alex masih tidak percaya.


"Kenyataannya seperti itu Alex" Jawab Jocelyn.


"Lalu keadaan dia bagaimana sekarang?" Tanya Alex.


"Sementara ini bagus. Kami sedang mempersiapkan stem cell (transplantasi sumsum tulang belakang) untuknya" Jelas Jocelyn.


Alex terdiam.


"Bisa aku melihatnya?" Tanya Alex lagi.


"Entahlah. Dia ingin menyembunyikan keadaannya kepada semua orang. Terutama kak Kai dan Nadya" Ucap Jocelyn sendu.


"Jadi dia tidak tahu. Pantas saja, dia seperti orang gila akhir-akhir ini" Ujar Alex.


"Untuk kak Kai dia benar-benar tidak ingin dia tahu. Takut akan membuatnya membatalkan pernikahannya dengan Fanny. Dan lagi Natasya tidak ingin kak Kai ikut terpuruk dengan keadaannya"


Alex terdiam.


"Dia benar-benar mencintai Kai" Batin Alex.


"Jadi bisakan aku bertemu atau setidaknya melihatnya. Aku bukan Kai. Jadi aku tidak diblack list. Atau...." Tutur Alex nyengir.


"Atau apa?" Tanya Jocelyn galak.


"Aku akan membuat keributan jika kau tidak mengizinkan aku masuk" Ancam Alex.


"Aissh, kau benar-benar keras kepala Alex. Untung kak Kai tidak sepertimu" Gerutu Jocelyn.


Kini mereka telah berjalan kembali menuju kamar Natasya.


"Dia kemari?"


"He e kemarin"


"Sempat bertemu?"


"Kan seperti katamu dia diblack list" Jawab Jocelyn.


Mereka baru saja keluar dari lift ketika seorang perawat terlihat berlari ke arahnya.


"Oh kebetulan dokter Jo datang. Aku baru mau menghubungi dokter" Ucap perawat itu panik.


"Ada apa?" tanya Jocelyn.


"Itu...itu dia pingsan, Dok"


Dan detik berikutnya baik Jocelyn maupun Alex langsung melesat masuk ke kamar Natasya. Dan mendapati tubuh Natasya tergeletak di lantai dekat bednya.


"Sya...Sya..." Panggil Jocelyn panik.


Dengan sigap. Alex langsung mengangkat tubuh Natasya. Membaringkannya kembali ke atas bednya.


Kemudian dia mundur menjauh. Membiarkan Jocelyn dan yang lainnya memeriksa keadaan Natasya.


Alex menatap sekelilingnya. Kamar VIP Natasya terlihat mewah dan nyaman. Dia kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di dekat pintu. Karena tidak ada yang mengusirnya keluar.


"Panggilkan dokter Erna dari divisi Umum. Kita akan melakukan check up lengkap lagi" Perintah Jocelyn.


Dan sedetik kemudian perawat-perawat itu membubarkan diri. Setelah menerima tugas masing-masing dari Jocelyn.


"Ada yang serius?" Tanya Alex saat Jocelyn ikut duduk bersamanya.


"Kau seharusnya keluar saat kami melakukan pemeriksaan pada pasien" Gerutu Jocelyn.


"Kenapa? Aku tidak mengganggu. Dan juga aku tidak melihat saat kau memeriksanya" Bela Alex.


Jocelyn menatap kesal pada Alex. Menghadapi Alex lebih sulit ketimbang menghadapi Kai.


"Jadi ada yang serius?" Tanya Alex lagi.


"Keadaannya memburuk akhir-akhir ini. Itu karena dia menderita leukemia yang sama dengan yang ayahnya derita. Tipe yang agresif dan cepat memburuk. Karena itulah kami sedang mempersiapkan tranplantasinya secepat mungkin. Sebelum keadaannya bertambah parah" Jelas Jocelyn.


Sejenak Alex terdiam mencerna kata-kata Jocelyn.


"Apa dia bisa sembuh?" Tanya Alex.


"Harusnya bisa. Kami sudah mengantisipasi keadaan ini lama. Tapi semua tergantung dia. Sedang keadaannya sering tidak stabil akhir-akhir ini" Balas Jocelyn sendu.


"Dia perlu kak Kai" Ucap Jocelyn lagi.


"Aku akan membawanya kemari" Sahut Alex sambil berdiri.


Namun dengan cepat Jocelyn mencekal tangannya.


"Dia akan datang sendiri jika dia tahu keadaan Natasya. Masalahnya Natasya yang tidak mau dia datang kemari" Ucap Jocelyn.


"Apa dia ingin bunuh diri?" Timpal Alex marah.


"Aku sudah berulangkali membujuknya. Tapi dia tetap menolak untuk memberitahu kak Kai" Jelas Jocelyn.


Keduanya diam sejenak.


Hingga satu suara mengejutkan mereka.


"Alex? Kamu di sini?" Tanya Natasya yang ternyata sudah sadar dari pingsannya.


Alex dan Jocelyn hanya bisa saling pandang.


****


Up lagi readeraku tercinta,


Thank's sudah mampir,


Jangan lupa dilike dan ritual lainnya ya readersku tercinta, author tunggu lo,


Happy reading everyone,


Love you all 😘😘😘


***