You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 86



"Ini? Gadis yang akan kau jadikan ibu pengganti bagi anakmu dan Luna?" Profesor Huang bertanya tidak percaya.


Luis Liu yang ditanya hanya diam. Entah kenapa dia jadi ragu.


"Kau ragu?" Tanya Profesor Huang lagi.


Luis menggeleng.


"Kau sudah menyelidiki gadis ini? Dia bukan saudara kembar Luna kan?"


"Bukan. Dia jelas putri dari Kevin Hadiwinata dan Celina Wulandari Atmaja. Tidak ada hubungan sama sekali dengan keluarga Wang" Jelas Luis.


"Aku harus memeriksanya terlebih dahulu. Apalagi rekam medisnya menyatakan kalau dia baru saja menjalani prosedur stem cell. Seharusnya dia masih dalam observasi penuh dari pihak rumah sakit" Profesor Huang berkata.


Pria itu perlahan mendekat ke arah bed. Dimana tubuh Natasya terbaring disana.


"Kau membiusnya?" Tanya Profesor Huang.


"Aku terpaksa melakukannya. Kau tidak tahu dia benar-benar membuatku pusing. Dia bahkan membuat kekacauan di airport" Kesal Luis.


"Wah bagus sekali. Baru kali ini kau mengeluh ketika menghadapi seorang wanita" Cibir pria paruh baya itu.


Luis mendesah kesal.


"Dia terluka?" Heran Profesor Huang.


"Luka lamanya terbuka kembali. Anak buahku tidak sengaja mencekal dia terlalu keras" Jelas Luis.


"Aku tetap harus melakukan pemeriksaan penuh pada gadis ini"


"Terserah padamu. Tapi lakukan cepat. Sebelum dia merebutnya kembali"


"Memang siapa gadis ini?"


"Dia tunangan kakak sepupuku. Eric Liu"


"Apa? Apa kau sudah gila? Dia tunangan Eric Liu. Tunggu kau bilang Eric Liu. Dia sudah kembali"


"Ya ya. Dia kembali"


"Apa kau sedang bercanda? Tunggu.... apa kau sengaja melakukan ini. Untuk membalas dendam pada mereka?" Tanya Profesor Huang sedikit terkejut.


Luis terdiam.


"Luis. Tuan Andrew tidak ada hubungannya dengan kematian Luna. Tuan Andrew bahkan meninggal jauh sebelum Luna dan kamu menjalin hubungan" Profesor Huang mencoba menyadarkan Luis.


"Tapi bukti yang kudapat mengarah pada mereka. Mereka sengaja melenyapkan Luna untuk menghancurkanku. Dan sekarang aku akan membalasnya. Bagaimana jika tunangannya mengandung anakku. Bisa kau bayangkan reaksi Eric" Seringai Luis.


"Luis, Eric dan gadis ini jelas tidak ada hubungannya dengan kematian Luna. Kau salah sasaran jika ingin balas dendam" Profesor Huang memperingatkan.


"Lakukan saja apa yang aku suruh. Jika kau menolak aku tidak segan untuk menghabisi keluargamu" Ancam Luis.


"Kau bercanda Luis" Profesor Huang bertanya tidak percaya.


"Aku tidak bercanda Profesor. Lakukan saja perintahku!" Tegas Luis.


Sejenak Profesor Luis terdiam. Lantas dia kembali memeriksa tubuh Natasya. Dia sedikit menurunkan lengan baju Natasya. Membuat Luis menahannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Luis.


"Kau lihat ini. Bukankah ini kissmark" Profesor Huang menunjukkan tanda merah kebiruan dibahu Natasya. Bekas gigitan Kai ketika pria itu kesal karena Natasya memakai baju model sabrina.


Luis ikut melihatnya.


"Kau yang membuatnya?"


Luis menggeleng.


"Jika kau yang bukan membuatnya. Ada kemungkinan jika mereka baru saja bercin**"


"Tidak, aku yakin kalau dia masih virgin" Sangkal Luis.


"Dari mana kau tahu kalau gadis ini masih belum tersentuh? Apa kau sudah melakukannya?"


"Bicara apa kau ini. Aku bahkan belum menyentuhnya" Tegas Luis.


"Kau jelas belum menyentuhnya. Kalau begitu aku harus memeriksa apakah dia sedang hamil atau tidak. Prosedur ibu pengganti tidak akan bisa dilakukan jika calon ibu penggantinya sedang hamil" jelas Profesor Huang.


"Hamil? Ada kemungkinan gadis ini hamil anak Eric?" Batin Luis.


"Gugurkan saja jika dia hamil anak Eric" Perintah Luis membuat Profesor Huang menghentikan aktivitasnya akan mengambil sample darah Natasya.


"Kau jangan bercanda. Itu namanya pembunuhan" Cegah pria paruh baya itu.


"Janin itu belum ada 48 jam. Masih berupa sel. Bahkan belum membentuk janin" Jelas Luis.


"Lakukan saja sesuai prosedur" Kembali Luis menegaskan perintahnya.


"Jangan coba-coba untuk melawan atau menolak. Atau menyalahi prosedur atau keluargamu akan jadi taruhannya" Kembali Luis menegaskan.


Membuat Profesor Huang susah payah menelan salivanya. Dia sendiri bimbang apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi jelas gadis ini tidak bersalah. Tapi di sisi lain keluarganya jadi taruhan.


Profesor Huang pikir dia telah salah menerima pekerjaan dari Luis. Hingga ketika dia sudah selesai mengambil sample darah Natasya. Dia belum memutuskan tindakan apa yang harus dia ambil.


Dia hanya bisa menatap kepergian Luis dengan perasaan campur aduk. Sejenak dia memperhatikan cara Luis menggendong Natasya. Sungguh pria itu benar-benar melakukannya dengan lembut.


"Apakah Luis menyukai tunangan Eric?" *B*atin Profesor Huang.


Melihat punggung lebar Luis mulai menghilang di balik pintu laboratoriumnya. Profesor Huang mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya frustrasi.


Dia memijit pelan pelipisnya. Dia benar-benar merasa dilema.


***


Kai masuk ke dalam kamarnya. Setelah berpesan pada kepala pelayan kalau dia akan melakukan semuanya sendiri. Tidak perlu dilayangi.


Dan kepala pelayan itu mengangguk paham. Kai langsung melesat masuk ke kamar mandi. Merendam tubuhnya sejenak. Lantas mengguyurnya dibawah aliran shower. Dia sedikit mencari-cari di mana baju gantinya. Hingga dia menemukan walk in closetnya.


Memilih baju yang nyaman untuknya. Kemudian meraih ponselnya. Dia tidak ada pilihan selain memberi tahu Leo. Dan juga Thomas. Dua orang kepercayaannya.


Dan reaksi Leo sesuai dugaan Kai. Terkejut jelas. Bingung tidak usah ditanya. Hingga pada akhirnya Leo mengusulkan agar dirinya menyusul ke Shanghai. Dan ide itu jelas ditolak Kai.


Akan mencurigakan jika Leo ikut menyusul ke sana. Selain itu urusan di Shanghai belum tahu kapan akan selesai. Hingga dia memerlukan Leo dan Thomas untuk mengambil alih urusan perusahaan sampai dia kembali.


Kai juga berpesan jangan memberitahu siapapun jika Natasya diculik. Walau entah dia merasa ragu kalau Leo akan mampu menjaga rahasia itu. Mengingat dia begitu ember dengan calon istrnya, Lisa.


Dan jika Lisa sudah tahu. Bisa dipastikan semua orang akan tahu. Kai mengakhiri panggilannya ketika ketukan pintu terdengar. Han terlihat ketika pintu terbuka. Dia menyerahkan laptop yang tadi memang Kai pesan.


Dia harus tetap bekerja walaupun sebenarnya akan sulit sekali. Fokusnya terbagi dengan Natasya yang berada di tangan Luis. Yang dia sendiri tidak tahu berada dimana.


Sementara itu,


Natasya terbangun di sebuah kamar yang begitu mewah. Dia kembali menepuk-nepuk kepalanya. Pusiing.


"Jangan lakukan itu. Kau bisa terluka" Luis yang sudah berdiri di pintu. Menyandarkan tubuhnya didaun pintu.


Pria itu terlihat begitu berbeda dengan baju rumahan. Terlihat santai. Sedikit mengurangi kesan serius diwajahnya.


"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Natasya bertanya.


"Kau membiusku lagi" Tambah gadis itu.


"Siapa suruh kau membuatku jengkel. Dan lagi ini adalah rumahku. Jadi aku bisa berada dimana saja yang aku suka" jawab Luis.


"Siapa juga yang tidak marah. Kau menculikku" Ketus Natasya.


"Dan bisa dikatakan aku penculik terbaik yang pernah ada. Aku memperlakukanmu dengan baik. Aku memberimu makan. Aku bahkan tidak mengikat dan menyumpal mulut pedasmu itu. Jadi kau masih bisa memaki dan mengumpatku sesuka hatimu" Tutur Luis panjang lebar sambil berjalan ke arah ranjang tempat Natasya berada.


"Hei kau pantas mendapatkannya tuan. Menculik tunangan orang lalu mengurungnya. Kau kriminal" Balas Natasya.


"Ahh lihat mulut pedasmu mulai bicara. Apa lebih baik jika aku menyumpal mulutmu itu agar berhenti memakiku" Luis berujar.


"Coba saja" Tantang Natasya.


Dan Luis menyeringai.


"Kau tahu. Mulut pedasmu jenis yang tidak bisa dihentikan dengan cara biasa" Luis mencondongkan badannya ke arah Natasya.


Namun gadis itu tidak takut.


"Benarkah?" Tantang Natasya kembali.


"Jangan mengujiku, Sya! Kau tahu aku juga bisa melakukan apa yang tunanganmu lakukan padamu" Luis berkata penuh intimidasi.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kalian semalam baru saja bercin**. Aku juga bisa melakukannya padamu" Luis berkata dengan seringai mengerikan di wajahnya.


Entah mengapa Luis begitu marah ketika mengingat perkataan Profesor Huang kalau ada kemungkinan Natasya dan Kai baru saja bercin**.


"Haaaa bercin**. Kami tidak melakukan apapun semalam. Hanya...


Detik berikutnya Luis sudah membungkam bibir Natasya dengan bibirnya. Menautkannya begitu sempurna. Membuat Natasya membulatkan matanya saking terkejutnya.


***