You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 57



Fanny menangis terisak sendirian di kamar hotel yang ia tempati. Selama beberapa hari ini dia memilih tinggal di hotel. Menenangkan diri juga menghindari banyak orang.


Namun kemudian dia kembali berpikir. Siapa juga yang peduli padanya. Siapa juga yang harus ia hindari. Bahkan kakeknya sendiri atau entahlah siapa itu sama sekali tidak peduli padanya.


Dia sendiri bingung harus memposisikan dirinya sendiri sebagai apa. Apa benar dia bagian dari keluarga Hadiwinata. Atau memang benar kalau kehadirannya hanyalah sebuah kesalahan.


Fanny benar-benar kecewa dengan hidupnya sendiri. Namun pertemuan dengan kedua kakaknya kemarin sedikit memperbaiki suasana hatinya.


Kembali ke masa kemarin,


"Jangan menangis lagi" Hibur Nadya.


Sejenak Fanny menatap Nadya. Gadis itu jelas memiliki garis wajah sang ayah di wajahnya. Sedang Natasya memang kopi paste sang ibu. Lalu dia sendiri?


"Kenapa Kakak memanggilku Tania" Tanya Fanny ketika keduanya sudah duduk di sofa. Agak jauh dari bed tempat Natasya. Takut mengganggu tidur gadis itu.


"Ayah memberimu nama Tania" Jelas Nadya.


"Benarkah?" Tanya Fanny.


"He em. Ayah dulu selalu bercerita jika kami masih punya satu adik lagi. Namanya Tania. Tapi ayah bilang kalau tidak bisa membawanya bermain bersama kami. Jadi nanti kalau bertemu jangan sampai pangling. Ayah berpesan untuk selalu menjagamu. Jangan peduli dengan apa yang sudah terjadi ataupun omongan orang di luaran sana" Cerita Nadya.


Membuat Fanny terharu. Ayahnya ingat padanya.


"Ayah sangat menyayangi kita bertiga. Dia ingin kita juga melakukan hal yang sama" Ucap Nadya menatap Fanny.


"Tapi kemarin aku sudah begitu jahat pada Kakak" Sahut Fanny sendu.


"Itu wajar bagi seorang wanita ingin mempertahankan cintanya" Jawab Nadya.


"Cinta? Aku rasa ini hanyalah obsesi gilaku saja. Seperti apa yang Kak Kai katakan" Batin Fanny.


"Jadi mari lupakan masa lalu. Dan kita mulai hidup baru. Kita tunggu kak Tasya sembuh. Lalu kita bertiga bisa shopping bareng. Nyalon bareng. Nonton bareng. Pasti seru banget tu" Nadya terlihat antusias.


"Jadi kakak tidak membenciku" Tanya Fanny.


"Benci? Tentu saja tidak. Kami sangat menyayangimu" Jawab Nadya. Yang membuat Fanny begitu bahagia.


"Jadi mau ya kita nanti ngemall bertiga. Kata kakek black card kita sudah siap" Ucap Nadya antusias.


"Kakek?"


"Kakek Atmaja"


Membuat Fanny terbengong.


"Atmaja? Apa dia masih cukup berharga hingga tuan Atmaja pun masih memikirkannya" Batin Fanny.


Kembali ke hari ini,


"Sudah siap?" Tanya Kai.


Yang ditanya hanya mengangguk.


"Oke, mari kita mulai terapinya" Ucap Kai bersemangat. Natasya memutar matanya malas.


"Yang terapi siapa? Yang semangat 45 siapa?" Batin Natasya.


Pagi itu mereka berdua memulai sesi fisioterapi untuk Natasya. Karena Natasya, sekitar 3 minggu ini jadi kaum rebahan. Jadi terapi yang diberikan tidak terlalu berat. Hanya pelemasan otot-otot sendi. Dan sedikit latihan berjalan.


Dalam waktu satu jam. Natasya sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Tanpa perlu berpegangan pada besi pegangan di kiri kanannya.


"Bagus sekali Mbak. Kekuatan otot kaki Mbak masih bagus. Ayo mulai digerakkan kakinya untuk melangkah" Puji sang terapis.


Membuat senyum terkembang sempurna di bibir Natasya. Latihan berjalan pun berlangsung lancar. Hingga ketika mereka kembali ke kamar. Natasya sudah bisa sedikit-sedikit berjalan sendiri.


"Aku akan beri hadiah jika kamu sudah beneran bisa jalan" Ucap Kai.


"Aku mau jalan-jalan sendiri" Jawab Natasya.


"Ke mana?"


"Rahasia" Jawab Natasya.


Yeah, Natasya benar-benar ingin liburan kali ini. Tapi sendiri. Entah kenapa, dia sendiri tidak tahu.


Natasya baru selesai melakukan ritual mandinya. Ketika dia keluar dari kamar mandi dia begitu terkejut melihat seseorang yang sangat dia benci selama ini telah berada di kamarnya.


Raut wajah Natasya langsung berubah dingin. Jelas jika dia begitu membenci orang itu.


"Mau apa Anda kemari?" Tanya Natasya ketus.


"Kakek...Kakek ingin meminta maaf, Nak" Jawab orang itu yang tak lain adalah tuan Hadiwinata.


"Soal?" Tanya Natasya lagi. Sambil tangannya sudah bersedekap di depan dadanya.


Terserahlah orang mau menganggap tidak sopan. Dia tidak peduli.


"Semuanya. Kakek minta maaf telah menelantarkan kalian. Kakek minta maaf atas semua perbuatan Kakek. Kakek sangat menyesal" Ujar tuan Hadiwinata.


Ingin sekali Natasya mengamuk.


"Sekarang apa guna penyesalan Anda. Anda sudah menolak kehadiran saya dan Nadya 20 tahun lalu. Jadi saya bukan cucu Anda" Balas Natasya tegas.


"Tapi Nak, Kakek betul-betul menyesali perbuatan Kakek.Dan ingin memperbaiki kesalahan Kakek. Berikan Kakek kesempatan" Tuan Hadiwinata memohon.


"Sekarang saya tanya apa penyesalan Anda bisa mengembalikan ayah dan ibuku. Karena sikap Anda, ayah dan ibu lebih memilih pergi meninggalkan kami. Apa Anda tahu bagaimana rasanya hidup di luar sana. Tanpa rumah, tanpa makanan . Apa Anda tahu saya hampir kehilangan Nadya ketika dia sakit dan saya tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Apa Anda tahu itu?!!!" Teriak Natasya dan


sreeettttt, praaaang, pyaaaaaar,


Natasya melempar semua benda yang ada diatas nakasnya. Membuat semua berhamburan di lantai. Pecah berkeping-keping.


Bersamaan dengan itu Kai masuk dengan terburu-buru. Cukup terkejut melihat apa dan siapa yang berada di sana.


"Anna...." Bisik Kai.


"Padahal saya masih punya seorang Kakek yang tahu keberadaan saya. Tapi dia pura-pura tidak tahu!" Natasya terus berteriak.


Kai dengan cepat meraih tubuh Natasya yang sudah gemetaran menahan emosinya.


"Anda tahu perasaan saya. Rasanya seperti itu. Hancur berkeping-keping. Lalu bagaimana cara Anda untuk mengembalikan perasaan saya seperti semula" Ucap Natasya sambil menunjuk gelas dan semuanya yang telah dia banting dan hancur berkeping-keping di lantai.


"Nak..."


"Pergi!!! Aku tidak ingin melihatmu!! Aku membencimu!!!" Teriak Natasya.


Sedang Kai terus memeluk gadis itu. Menjauhkan gadis itu dari serpihan kaca yang mungkin bisa saja melukai kakinya. Karena Natasya belum memakai sandal kamarnya.


"Nak, maafkan Kakek. Kakek mohon" Pinta tuan Hadiwinata.


"Kek, sebaiknya Kakek pulang dulu. Kembalilah lain waktu. Biar dia lebih tenang" Lerai Kai.


Sedang Natasya sudah masuk ke dalam pelukan Kai dan terus menggumankan kata "pergi" dan "tidak ingin melihatmu lagi".


"Pergilah dulu Kek" Mohon Kai karena tuan Hadiwinata masih tidak bergeming dari tempatnya.


Akhirnya tuan Hadiwinata hanya bisa menarik nafasnya. Lalu perlahan keluar dari ruangan itu.


Meninggalkan Kai yang masih memeluk Natasya yang kini sudah menangis tersedu-sedu.


"Sudah, dia sudah pergi. Tenanglah" Ucap Kai menenangkan.


Sementara itu ternyata tuan Hadiwinata ternyata tidak langsung pulang. Dia duduk di taman rumah sakit itu. Melamun. Memikirkan semua makian Natasya yang ia tujukan untuk dirinya. Dia menghela nafasnya pelan.


"Bagaimana rasanya?" Tanya satu suara dengan nada mengejek.


Tuan Hadiwinata menoleh. Bisa dia lihat Surya Atmaja tengah berdiri di belakangnya. Namun perlahan pria tua itu ikut duduk di samping Wira Hadiwinata.


"Apa maksudmu?"


"Bagaimana rasanya ditolak oleh cucu sendiri" Tanya tuan Atmaja.


"Kau..." Tuan Hadiwinata ingin marah tapi diurungkannya.


"Seperti itulah rasanya" Balas tuan Atmaja.


"Maksudmu?"


"Seperti itulah rasa yang Natasya rasakan ketika kamu tidak mengakui dia dan Nadya sebagai cucumu 20 tahun lalu. Sakit bukan?"


Tuan Hadiwinata seperti kena hantam balok di kepalanya. Sesakit inikah rasa tidak diakui yang Natasya dulu rasakan dulu.


"Jadi jangan memaksanya dulu untuk menerimamu. Dia hanya sedang emosi. Dia akan memaafkanmu satu hari nanti. Kevin mendidik putrinya dengan baik. Bahkan ketika mereka baru berusia 4 tahun, ketika Kevin dan Celine pergi. Tapi kedua putrinya memiliki sifat yang begitu baik. Tidak bisakah kau melihat itu" Ucap tuan Atmaja.


"Aku tidak tahu harus apa?" Balas tuan Hadiwinata untuk pertama kalinya melepaskan sifat arogan dan sombong yang selalu melekat di dirinya.


"Akui saja kesalahanmu. Jangan mengacaukan kehidupan mereka lagi. Ingat karena perbuatanmu kau menyia-nyiakan 20 tahun kita hanya untuk menyesali perbuatan kita di masa lalu" Ucap tuan Atmaja lagi.


"Yah ini semua kesalahanku" Aku tuan Hadiwinata pada akhirnya.


"Coba kau tidak memaksakan keinginanmu. Kita sudah jadi besan sejak dulu. Kamu bisa memiliki menantu seorang putri dari wanita yang sangat kau cintai. Istriku. Savitri" Kenang tuan Hadiwinata.


Dan kalimat tuan Atmaja itu sukses membuat tuan Hadiwinata menangis. Setelah hampir 20 tahun dia tidak mengenal kata menangis. Hari ini dia meneteskan air matanya karena mendengar satu nama yang begitu berarti di relung hatinya yang paling dalam.


"Maafkan aku Vitri. Aku membuat putri dan cucumu menderita. Maafkan aku" Ucap tuan Hadiwinata di sela-sela air matanya.


"Semua sudah berlalu Wira. Dia sudah pergi dan tenang di sana" Hibur tuan Atmaja sambil menepuk-nepuk pundak sahabat lamanya itu.


***


Up lagi readersku tercintah,


Like like like


Vote vote vote


Kembang ma kopi jangan lupa ( mode malak mulu 😁😁)


Happy reading semua


Love you all 😘😘😘


***