You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 88



Hari berganti. Dan pagi itu Kai dan Steven berencana akan menjemput Natasya. Atau membawanya paksa kalau perlu. Baru tadi pagi mereka mendapatkan posisi Natasya.


Setelah Kai memberikan kode dari cincin yang dipakai Natasya. Kai baru ingat kalau dia memasang GPS pada "The One". Sekaligus pria itu juga memasang DNA sistem pada cincin itu. Hingga cincin itu tidak akan bisa dilepas dari jari Natasya dengan cara apapun. Kecuali jika Kai yang melepasnya.


"Bagaimana bisa kau membuat ini? Kau benar-benar jenius Brother" Puji Steven.


"Thank you Brother" Balas Kai kalem.


"Berencana memasarkannya?" Tanya Steven.


"Tidak. Ini hanya untuk kalangan tertentu saja. Aku tidak berencana mengkomersilkannya. Saat ini hanya aku dan Lee Joon temanku yang memakai. Karena wanita kami sama-sama suka menghilang" Jelas Kai.


Steven melongo. Keduanya tengah menikmati sarapan mereka. Sambil menunggu Han menyiapkan semuanya.


"Perjalanan kali ini lumayan jauh. Setidaknya perlu lima jam untuk sampai ke vila Utara. Entah kenapa Luis membawa Anna ke sana. I still have no idea about this" Jelas Steven lantas menyesap kopinya.


"Yeah, setidaknya tidak akan seburuk Jogya-Singapura-Shanghai. Nggak lagi deh" Sahut Kai.


Steven terbahak mendengar keluhan sepupunya. Tubuh Kai benar-benar remuk redam setelah perjalanan maraton mereka kemarin.


"Kak Lin sudah berangkat?" Tanya Kai.


Kai memang belum bertemu kakak sepupunya yang satu itu.


"Dia ada operasi pagi ini. Tidak berani membangunkanmu. Biarlah nanti setelah kita menjemput Anna kita berkumpul bersama" Jawab Steven.


Kai mengangguk paham.


"Oh ya brother. Apa kau berpikir kalau ada yang sengaja mengadu domba keluarga kita" Kai bertanya tiba-tiba.


"Emm, aku juga berpikiran sama denganmu. Aku pikir orang itu menargetkan Luis agar dia melawan kita. Lalu ketika kita mulai terpecah dia yang akan mengambil keuntungannya" Steven mengungkap pendapatnya.


"Aku setuju. Jadi bagaimana kalau kita menyusun rencana. Aku rasa dia akan muncul kali. Instingku mengatakan demikian" Kata Kai.


"Aku sependapat denganmu. Aku akan menghubungi anak buahku. Meminta mereka bersiap di sana. Mari kita akhiri konflik keluarga kita. Aku sudah cukup kewalahan menghadapi tuduhan Luis setiap hari" Desah Steven frustrasi.


Keduanya kembali melanjutkan sarapan mereka. Hingga bunyi ponsel Kai mengalihkan perhatian mereka. Kai mengerutkan dahinya.


"Ada apa Leo menghubunginya" Pikir Kai.


"Ya halo Leo"


"Leo, Leo kepalamu. Bagaimana bisa kakak menyembunyikannya dariku. Bagaimana bisa kakak tidak memberitahuku kalau kakakku diculik" Suara teriakan dari ujung sana.


Membuat Kai langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Haduh bisa budeg ini kupingku" Gerutu Kai.


"Sorry Nad. Bukannya aku tidak mau memberitahumu. Aku hanya takut jika..."


"Aku tidak mau dengar penjelasan apapun. Coba kalau asistenmu ini tidak keceplosan bicara. Mana kita tahu kalau kalian ada di Shanghai" Cerocos Nadya.


"Bos, jangan percaya mereka. Mereka mengancam saya. Untuk memberitahu di mana pak Bos sekarang. Jadi saya terpaksa memberitahu mereka. Kalau tidak, Lisa mengancam akan menunda pernikahan kami. Ya saya nggak mau. Bisa gagal acara unboxing saya" Kilah Leo setengah berteriak.


"Aduh sakit sayang" Pekik Leo yang ternyata mendapat cubitan ekstra keras di perutnya.


Kai menarik nafasnya dalam. Sedikit terhibur mendengar celotehan Leo. Bisa dibayangkan kalau pria itu pasti sekarang berada dibawah ancaman para wanita di Jakarta sana.


"Nadya dengarkan aku. Kami sudah mendapatkan lokasi kakakmu diculik. Kami akan menjemputnya hari ini. Dan lagi satu dia bukan diculik. Tapi dibawa oleh kakak sepupuku" Jelas Kai.


"Sama saja bambaaaang. Dibawa pergi tanpa izin itu sama saja dengan penculikan. Sudah lapor polisi belum" Salak Nadya.


"Aduh jangan bawa-bawa nama bambanng kenapa? Nanti maknya nyariin" Canda Kai.


"Woi kakak ipar. Aku tidak sedang bercanda ya. Bawa pulang kakakku hari ini. Atau aku beritahu kakek" Ancam Nadya.


"Jangan beritahu kakek dulu. Mereka punya riwayat jantung. Kamu mau cepet dapat warisan?" Tanya Kai.


"Dasar cucu durhakim. Malah doain kakek cepet metong lagi" Omel Nadya.


"Bukan aku, tapi kamu yang durhakim. Kan kamu yang mau beritahu kakek kalau kakakmu dibawa pergi sepupuku" Sangkal Kai.


"Iiishhh kakak ini. Pinter sekali kalau sudah ngomong. Sudah bawa pulang kakakku secepatnya. Aku mau lanjut interogasi asistenmu ini. Oh ya Justin nggak ikutan kan" Tanya Nadya.


"Justin kan ada di Singapura. Leo jangan diapa-apain. Kasihan Lisa nanti tidak bisa dapat barang ori. Sudah nggak segelan" Seloroh Kai.


"Kamu bilang aku boneka Chucky?" Terdengar Lisa mengamuk.


"Alamak, salah ngomong" Suara Leo.


"Sudah aku tutup teleponnya dulu. Jangan lupa kabari aku jika ada apa-apa. Ingat ya bambaaanng" Nadya lalu menutup teleponnya.


"Enak saja memanggilku Bambang" Gerutu Kai.


"Siapa?" Kepo Steven.


"Adik Anna. Nadya" jawab Kai.


"Pagi. Boleh ikut sarapan. Aku lapar belum sempat makan"


"Ngapain kamu disini?" Tanya Kai.


***


"Jangan memandangku seperti itu. Kau membuatku takut Kai" Balas pria dihadapan Kai.


"Ciih, sekarang jelaskan kenapa kamu ikutan nyasar ke sini?" Tanya Kai pada Justin.


Ya ternyata Justin ikut menyusul mereka ke Shanghai.


"Hanya liburan sambil cari suasana baru. Betul kan kak Stev" Justin mencari dukungan.


"Aku tidak ikut campur lo" Steven menjawab, membuat Justin langsung memanyunkan bibirnya.


"Ah kalian tidak asyik" Gerutu Justin.


"Sekarang jelaskan. Nadya baru saja memarahiku karena aku tidak memberitahu soal kakaknya. Sekarang kamu di sini. Padahal aku bilang ke Nadya kalau kamu di Singapura" Kai memijat pelipisnya.


"Aku yang akan jelaskan ke Nadya. Kakak jangan khawatir" Justin menenangkan.


"Benar ya jangan bawa-bawa namaku kalau kalian bertengkar gara-gara ini" Kai memastikan.


"Siap Kakak. Jadi kapan kita berangkat?" Tanya Justin.


"Sebentar lagi. Han sedang menyiapkan semuanya" Sahut Steven.


"Sebenarnya apa ada hal yang menarik di vila Utara?" Tanya Kai.


"Sebenarnya tidak ada. Hanya ada laboratorium di sana. Karena yang aku tahu Luis sangat suka dengan hal-hal berbau penelitian. Yah semacam itulah. Jadi wajar kalau dia suka disana. Tapi membawa Anna ke sana untuk apa?" Ucapan Steven membuat semua orang ikut berpikir.


****


Natasya terbangun ketika sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamarnya melalui gorden.


"Anda sudah bangun Nona?" Tanya suara seorang wanita.


"Astaga kamu mengagetkanku" Natasya memegangi dadanya yang tiba-tiba berdetak seperti orang habis lari maraton.


"Maaf Nona jika mengagetkan Anda" Suara itu menjawab lagi.


"Kamu siapa ya?" Tanya Natasya senang karena akhirnya bertemu orang lain selain pria gila itu.


"Nama saya Alena. Saya sekretaris tuan Luis" Jawab wanita yang mengaku bernama Alena itu.


"Wah sekretarisnya saja cantik banget. Masak pria gila itu tidak tertarik" Batin Natasya.


"Saya diperintahkan tuan Luis untuk menemani Nona" Alena memberitahu Natasya.


"Baik kalau begitu. Aku mandi dulu"


"Baik Nona, saya tunggu di bawah di meja makan" Sahut Alena lagi.


Alena langsung keluar dari kamar Natasya. Sedang Natasya langsung melesat masuk ke kamar mandi. Menyelesaikan ritual mandinya. Dan berharap bisa segera mendapatkan sarapannya. Karena dia sangat lapar.


Mengingat dia semalam tidak mengambil makan malamnya. Karena terlalu takut dengan Luis. Dia akhirnya mengunci dirinya di kamar mandi sampai tengah malam. Dia baru keluar dari kamar mandi dan pindah ke ranjangnya.


*****