
Natasya tentu terkejut ketika Kai membawa sebuket bunga dan sebuah kotak beludru berwarna merah di kedua belah tangannya.
Sementara sebuah lagu mulai mengalun dari belakang sana. Kai tersenyum menatap wajah Natasya.
Kredit Instagram.com
"Jadi Natasya Arianna Atmaja maukah kamu menikah denganku. Menemaniku menghabiskan sisa umur kita bersama. Berjanji untuk tidak pernah lari dan pergi meninggalkanku. Apapun keadaannya" Pinta Kai.
Mendengar hal itu Natasya langsung menutup mulutnya sendiri. Tidak percaya jika pria di hadapannya ini tengah melamarnya. Rasa terkejut dan bahagia menjadi satu. Membuat lidah Natasya terasa kelu saat ingin menjawab lamaran Kai.
Jangan kau tolak dan buatku hancur
ku tak akan mengulang tuk meminta
satu keyakinan hatiku ini
akulah yang terbaik untukmu
Sayup-sayup lagu Yovie dan Nuno masih mengalun dari belakang sana.
"So what's your answer? Will you marry me Anna?"
Tanya Kai lagi. Mata Natasya langsung berkaca-kaca. Beberapa saat gadis itu terdiam. Hingga satu jawaban keluar dari bibir mungil gadis itu.
"Yes, I will marry you Kaizo Aditya"
Jawaban Natasya langsung membuat Kai mengembangkan senyumnya. Hatinya benar-benar bahagia hari itu.
Perlahan diraihnya jemari Natasya dan menyematkan sebuah cincin yang sangat Natasya kenal.
"The One" Bisik gadis itu.
Menatap cincin berlian pink di jari manis kanannya.
"Jangan pernah melepasnya lagi" Pinta Kai. Dan Natasya langsung mengangguk. Detik berikutnya Kai telah melabuhkan bibirnya di bibir mungil Natasya. Menciumnya penuh cinta. Dalam dan lembut.
Dengan latar sunset di Candi Ratu Boko membuat lamaran Kai terasa begitu indah bagi Natasya. Seolah keindahan sunset Ratu Boko turut menjadi saksi betapa indahnya kisah cinta antara Kai dan Natasya. Kisah cinta yang berawal sejak 20 tahun lalu.
****
"Tuan kita sudah menemukannya" Lapor seorang staf pada atasannya.
"Di mana?" Tanya pria itu singkat.
"Yogyakarta. Indonesia" Balas staf itu lagi.
"Persiapkan semuanya. Kita jemput dia. Gunakan pesawat pribadi. Kita langsung kembali begitu mendapatkannya" Perintah orang itu.
"Baik tuan" Jawab staf itu.
"I'm coming, Baby"
Seringai pria itu. Di tangannya sebuah ponsel dengan gambar seorang gadis cantik tengah tersenyum terpampang di sana.
****
"Stev, hasil tes DNA-nya sudah keluar" ucap dokter Su melalui ponselnya.
"...."
"Baik aku tunggu"
Satu jam kemudian,
"So...." Tanya Stev penasaran.
"Sesuai dugaanmu. Dia sepupumu yang hilang, Eric Liu" Jawab dokter Su.
Wajah Steven Liu langsung berbinar senang. Pencariannya selama hampir sepuluh tahun ini. Akhirnya membuahkan hasil.
"Tapi bagaimana bisa dia terdampar di sana?" Tanya Steven Liu.
Dokter Su mengedikkan bahunya.
"Bukankah pengasuh dari Eric kecil sudah berada di tanganmu?"
"Benar. Tapi dia masih terlalu shock untuk bisa ditanyai. Si brengsek itu benar-benar keterlaluan menyiksa bibi Tang" Maki Steven.
"Lalu rencanamu apa?" Tanya dokter Su.
"Memberitahunya secepatnya. Aku akan ke Jakarta setelah ini. Dia harus segera tahu siapa dirinya. Agar dia bisa menyelesaikan semua kemelut di keluarga kami" Ucap Steven.
"Aku selalu mendukungmu. Yeah aku rasa kamu harus membawa dia kembali secepatnya. Karena aku harus kembali memastikan kalau teoriku soal gelang itu benar adanya" Tutur dokter Su.
"Maksud dokter?" Tanya Steven terlihat serius.
"Aku pikir inisial AA digelang itu adalah sebuah kunci. Kunci itu berupa chip yang dipadukan dengan DNA sistem" Ucap dokter Su.
"Apa itu Dok aku tidak mengerti" Tanya Steven.
"Kalau begitu bawa saja dia padaku. Sebelum Luis menemukannya lebih dulu" Dokter Su memperingatkan.
Steven mengangguk paham.
****
Nek Lastri tentu sedih dengan kepulangan Natasya. Mengingat kehadiran gadis itu benar-benar mengubah hidupnya. Agus yang dulu begitu dingin padanya. Kini mulai bersikap hangat. Bahkan kini pemuda itu sudah berniat ingin bekerja. Membuka usaha bengkel bersama teman-temannya.
Tapi Nek Lastri juga tidak bisa mencegah kepulangan gadis itu. Hampir tiga minggu lebih gadis itu pergi dari rumahnya. Tentu keluarganya sangat merindukannya. Terlebih Kai sang tunangan bahkan sudah menjemputnya.
Jadi tidak ada alasan bagi Nek Lastri untuk menahan gadis itu dirumahnya. Walau dia pasti akan sangat kehilangan dan merindukan sosok gadis ceria dan galak itu.
Hari ini Kai dan Natasya memutuskan untuk menemani Nek Lastri berjualan di pantai. Kai sedang berdiskusi dengan Agus dan teman-temannya. Proposal mereka juga sudah ada di tangan Kai dan pria itu saat ini tengah memeriksanya.
Sedang Natasya sedang keliling berpamitan pada pedagang disekitar tempat itu. Mereka selama tiga minggu ini sudah menjadi teman bagi Natasya.
Banyak dari mereka terkejut karena besok gadis itu akan kembali ke Jakarta. Lebih mengejutkan lagi ketika mereka tahu jika tunangan Natasya sendiri yang menjemput gadis itu.
Bahkan pantai itu seketika dipenuhi teriakan para ibu-ibu yang berjualan di sekitar Nek Lastri. Begitu melihat betapa tampannya Kai, tunangan Natasya.
"Pantas saja anakku dilirik saja enggak. La wong yang punya nggantenge ra umum (tampan sekali). Wis koyo bintang film wae" Seloroh Bu Surti yang diangguki oleh yang lain.
Kai hanya mengusap tengkuknya mendengar pujian orang-orang itu. Salah tingkah. Sedang Natasya hanya bisa mengulum senyumnya. Melihat wajah Kai yang merona malu. Mendengar pujian yang tidak ada habisnya.
"Habis sudah wajah tampanku" Gerutu Kai.
"La kenapa?" Tanya Natasya.
"Habis dipuji ma emak-emak itu" Keluh Kai.
Dia kini sedang melihat proposal yang dibuat oleh Agus dan teman-temannya. Sesekali para emak-emak itu menggoda Kai ketika mereka melintas. Membuat Kai sedikit risih.
Natasya terkekeh mendengar keluhan Kai.
"Minum ini dulu. Biar adem" Kata Natasya sambil meletakkan segela kopi.
Kai mengerutkan dahinya.
"Itu bersih Kak. Aku mencucinya sesuai dengan standar kebersihanmu" Canda Natasya.
Kai tersenyum. Membuatnya bertambah tampan. Bahkan ketika Natasya menatapnya dari samping.
Kredit Instagram.com
"Benar-benar tampan" Batin Natasya.
Cukup lama Natasya menatap dalam wajah Kai.
"Kenapa? Baru sadar jika aku ini sangat tampan" Ucap Kai narsis.
Dan satu keplakan mendarat di lengan Kai.
"Sakit Annn" Keluh pria itu.
"Lagian narsis benar" Omel Natasya.
"Bukan narsis Ann. Tapi kenyataan" jawab pria itu sambil memiringkan kepalanya dan mengedipkan sebelah matanya.
"Aiiiihhh kenapa dengan Kakak ini" Kembali Natasya mengomel melihat tingkah Kai.
"Aku rasa aku akan betah menggoda dan mendengar omelannya seumur hidupku" Batin Kai sambil menatap Natasya yang membantu Nek Lastri melayani pembeli.
Walaupun sebenarnya Kai tidak suka melihat tatapan memuja para pria yang menjadi pembeli di warung Nek Lastri. Tatapan yang kadang membuat Kai begitu ingin mengajak gadis itu pulang dan mengurungnya di kamarnya saja.
Namun untuk hari ini Kai akan sedikit menahan diri. Karena nanti malam, mereka akan tidur di kamar yang sama. Dan mungkin di ranjang yang sama.
Kai tersenyum membayangkan nanti malam. Hingga kemudian dia dengan riang kembali memeriksa proposal Agus dan teman-temannya.
"Ada masalah?" Tanya Natasya kembali duduk di samping Kai.
"Tidak juga. Hanya saja aku sedang menyuruh Agus untuk nego soal ruko yang ada di depan sana. Aku melihat kemarin jika ruko itu disewakan" Jawab Kai.
"Yang penting tempatnya harus strategis. Lagipula di kawasan bengkel masih jarang" Tambah Natasya.
"Itu benar. Ini benar-benar peluang untuk mereka" Kai menambahkan lagi.
Keduanya lantas mulai memeriksa proposal Agus berdua. Menambah dan mengurangi di poin yang dirasa perlu.
"Aah bukahkah aku punya relasi yang menyuplai suku cadang mobil dan motor. Akan kuhubungi dia siapa tahu dia punya cabang di sini" Ucap Kai tiba-tiba.
"Nah itu sudah dapat pemasok suku cadangnya"
"Aku belum menghubunginya, Ann"
Gadis itu hanya nyengir. Dan detik berikutnya sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Natasya. Membuat gadis itu mendelik.
"Ora sopan Ann karo calon bojo" Ucap Kai.
(Itu tindakan yang tidak sopan Ann kepada calon suami)
Natasya tambah melongo. Sejak kapan Kai bisa bahasa Jawa. Sedang Kai terkekeh melihat reaksi Natasya.
****