
Kai menatap frustrasi gadis yang tengah tertidur pulas di ranjang king size-nya. Kai bermaksud mengantar pulang Natasya namun di tengah jalan gadis itu malah tertidur. Hingga dia memutuskan membawa Natasya pulang ke apartemennya yang lebih dekat.
Setelah menghubungi Hera tentunya. Dan Hera langsung bersorak gembira, begitu Kai menghubunginya. Jika Natasya menginap ditempatnya.
Hera dan Evan sedang berada dirumah yang Hera tempati bersama Natasya.
"Tasya gak pulang" Ucap Hera senang.
"Berduaan sama pacarnya?" Tanya Evan.
Hera mengangguk.
"Biarkan saja. Toh baru kali ini Tasya bisa membuka hatinya kembali. Hebat Kai bisa meluluhkan hati Tasya yang kayak batu habis ditinggal Alan" Puji Evan.
"Padahal Tasya tu nggak cinta lo sama Alan. Dia cuma merasa bersalah atas kematian Alan" Jelas Hera membuat Evan terkejut.
"Wahh, jadi Kai cinta pertama Tasya dong" Ujar Evan.
"Bisa dibilang begitu. Setelah Adit, teman masa kecil yang dia cari sampai sekarang tapi belum ketemu" Jelas Hera lagi.
"Hemmmm. Jadi bisa dong kita berduaan sampai pagi" Goda Evan.
"Enak saja. Pol mentok jam 11 gak ada ekstension lagi" Tegas Hera.
"Yaelah Beb, Tasya boleh kenapa kita nggak?" Keluh Evan.
"Tasya beda. Bagus kalau Kai bisa hamilin Tasya biar langsung dinikahin. Nungguin jalur biasa kelamaan" Seloroh Hera.
"Astaga Beb, doa kamu kok gitu banget sih sama Tasya. Lagian sebelum Kai bisa hamilin Tasya, ada juga Kai yang babak belur dihajar Tasya" Ucap Evan.
"Habisnya aku gedeg banget deh sama Tasya. Susah amat buat suruh nikah"
"Kayak kamu enggak saja" Goda Evan.
"Aku kan sudah ada kamu, yank. Kapan saja bisa langsung nikah" Manja Hera.
Yang membuat Evan langsung menautkan bibirnya ke bibir Hera yang disambut baik oleh Hera. Sesaat keduanya saling berciuman panas. Dengan tangan Evan menekan tengkuk Hera membuat ciuman mereka semakin dalam.
"Kalau gitu, kita nikah besok yuk" Goda Evan.
"Iihh, Evandrio Ananta kan sudah aku bilang setelah Tasya merit baru kita merit" ucap Hera.
"Aduh itu kapan?" Ucap Evan.
Hera hanya mengedikkan bahunya.
"Astaga, sabar ya Evan ya, sabar" ucap Evan kembali. Yang langsung mendapat timpukan bantal sofa dari Hera.
"Evan kamu mesum!!!" Teriak Hera.
"Mesum dari mananya" Hindar Evan.
***
Kembali ke Kai. Bagaimana dia tidak frustrasi. Dia baru saja melepas outer Natasya. Dia pikir gadis itu memakai kaos sebagai inner-nya. Ternyata setelah dia menyingkirkan outer-nya, gadis itu hanya memakai tank top yang langsung mengekspos tubuh bagian atas gadis itu.
"Oh ****!! Umpat Kai pelan.
Sekian lama dia tidak pernah merasa terusik dengan pemandangan seperti itu. Tapi sekalinya melihat tubuh Natasya hanya terbalut tank top dengan tali bra berwarna hitam yang terlihat dibahunya. Membuat Kai sedikit tergoda.
"Oh God, aku bisa gila hanya dengan melihatnya saja" Ucapnya lagi.
Sedang yang dijadikan obyek fantasi Kai malah bergelung semakin manis. Membuat Kai semakin gemas ingin menerkam gadis itu sekarang juga.
Dia berkali-kali menelan salivanya dengan susah payah. Mengatur nafasnya berulang kali. Guna menetralisir detak jantungnya agar kembali berdetak normal. Mengendalikan diri agar dirinya tidak semakin menggila.
Perlahan dia duduk disamping ranjang. Setelah dia rasa bisa mengendalikan dirinya.
Perlahan disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah sembab kekasihnya itu. Dia sering melihat Natasya terlihat sedih saat ada di rooftop akhir-akhir ini. Hal yang sama yang juga ia rasakan. Dia bimbang keputusan apa yang harus ia ambil.
"Apa yang membuatmu sedih, Sya? Apa kamu juga bisa merasakan kebimbangan yang aku rasakan?" Guman Kai.
Harta bukan masalah bagi Kai. Tapi jika pada akhirnya Kakek mengancam akan melukai Natasya. Pilihan apa yang dia punya, selain menuruti permintaan sang Kakek. Tapi dia juga tidak rela, jika harus kehilangan cinta yang baru saja dia rasakan.
"Oh God, apa yang harus lakukan" Bisik Kai. Sejenak dia mengalihkan perhatiannya pada wajah cantik kekasihnya.
Perlahan diciumnya bibir Natasya. Lembut dan penuh cinta.
"Aku begitu mencintaimu. Sanggupkah aku melepasmu begitu saja" Batin Kai.
Perlahan ciuman itu semakin lama semakin panas. Apalagi ketika Natasya seolah merespon setiap ciuman yang Kai berikan. Hingga pria itu seolah hampir kehilangan kendalinya.
Hingga satu umpatan keluar dari bibir Kai.
"Oh ****!"
Gadis ini benar-benar berbahaya. Pikir Kai. Hanya gadis ini yang mampu membuat Kai hampir kehilangan kendali dirinya. Terlambat sedikit saja, bisa Kai pastikan kalau Natasya akan habis di bawah kungkungannya.
Ternyata dugaan Kai salah. Dia pikir dengan mandi air dingin akan bisa menghilangkan keinginannya untuk menerkam gadis yang tengah tertidur pulas di ranjangnya.
Bukannya hilang, fantasinya malah semakin liar. Bagaimana dia bisa menelusuri tiap jengkal tubuh Natasya yang pastinya belum pernah disentuh oleh siapapun.
"Aaaahhhhh" Kai berteriak frustrasi di dalam bilik kaca showernya. Yang mengembun menampilkan siluet tubuh sempurnanya.
Kai menjambak kasar rambutnya sendiri.
Sementara itu diwaktu yang sama, tempat berbeda. Kembali Mandy memasuki apartemen Alex yang memang sejak awal dia tahu kode masuknya.
Alex hanya melirik tanpa minat ke arah Mandy. Yang perlahan berjalan mendekat ke arahnya.
"Jangan memintaku bertanggungjawab atas kejadian malam itu. Kita melakukannya suka sama suka. Tidak ada paksaan di dalamnya" Ucap Alex sarkasme. Berusaha menutupi rasa bersalahnya.
"Aku tidak akan memintanya Alex. Aku rela menyerahkannya untukmu. Walaupun aku tahu kamu hanya menjadikanku sebagai pelarianmu saja waktu itu" Jawab Mandy lantas ikut duduk disamping Alex. Mengambil gelas. Ikut menuangkan wine ke dalam gelas itu lantas meminumnya.
Katakanlah Mandy bodoh. Mencintai pria dihadapannya lebih dari tujuh tahun sejak mereka bertemu sembilan tahun yang lalu. Dia sama sekali tidak pernah berpaling dari Alex walau pria itu sama sekali tidak melihat ketulusannya.
Bahkan kenyataan bahwa Alex secara terang-terangan mengejar Natasya pun tidak membuat Mandy berpaling dari Alex.
Dia tahu betul Natasya sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Alex.
"Dia hanya penasaran denganku. Karena aku, tidak tertarik sama sekali dengannya. Aku bukan tipe penurut yang menuruti semua perintahnya. Jadi dia berpikir akan bagus jika dia bisa menakhlukanku. Lama-lama dia menganggap itu cinta. Padahal bukan"
Sebait kalimat yang pernah Natasya sampaikan. Membuat Mandy semakin yakin untuk tidak mengalihkan perasaannya pada Alex.
"Kamu hanya perlu menunggunya sedikit lagi. Aku tahu tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencintai seseorang dalam diam. Apalagi orang itu sama sekali tidak merespon perasaanmu. Itu pasti sangat berat. Tapi bersabarlah sebentar, aku jamin dia akan berada di sisimu. Setelah dia tahu hanya kamu yang dia butuhkan dalam hidupnya"
Satu lagi nasihat panjang dari Natasya yang membuat Mandy mampu bertahan sampai sekarang. Tapi entahlah. Sekarang perasaan Mandy mulai goyah. Dia pikir kesabarannya ada batasnya juga. Apalagi setelah malam itu Alex malah semakin dingin kepadanya.
Dan yang membuatnya semakin bimbang, kontraknya dengan managemen HD TV akan habis dalam waktu dekat ini. Sedang pihak stasiun TV sama sekali belum menghubunginya ataupun managernya soal kontrak mereka.
Sedang di luaran sana. Puluhan PH ( Production House), managemen artis dan banyak stasiun TV mulai ingin mengontrak dirinya. Event konser perayaan 10 tahun debutnya di dunia tarik suara adalah agenda terakhir yang harus ia penuhi sebelum kontraknya berakhir dengan HD TV. Setelah itu mungkin dia akan memilih menjalin kontrak dengan pihak lain. Jika pihak stasiun TV tidak lagi memperpanjang kontraknya.
"Aku hanya ingin mengatakan konserku yang selanjutnya akan menjadi konserku yang terakhir di sini. Belum ada pembicaraan soal pembaharuan kontrak atau apapun itu. Jadi kemungkinan aku akan pergi setelah konser itu berakhir" Ucap Mandy sambil meneguk habis wine-nya. Lantas melangkah pergi meninggalkan Alex yang terdiam mendengar ucapan Mandy.
"Pergi? Kenapa mendengar Mandy akan pergi hatinya merasa ada yang hilang" Batin Alex.
Sekilas menatap Mandy yang menghilang di balik pintu apartemen-nya.
"Berbaliklah dan lihatlah. Ada seseorang yang begitu tulus mencintaimu. Menunggumu. Jangan sampai kamu menyesal setelah kehilangan dia. Wanita seperti dia tidak akan kamu temui lagi di dunia ini"
Kembali ucapan Natasya terngiang di telinganya.
"Kontrak itu hanyalah alasanku untuk pergi menjauh darimu. Berusaha melupakanmu. Dan menghapus rasa cintaku untukmu Alex. Sya, sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi bertahan. Bukan karenamu. Tapi aku lelah dengan diriku sendiri. Aku lelah menunggunya" Batin Mandy.
Mulai menjauh dari apartemen Alex. Mandy menyusut air mata yang keluar dari mata indahnya. Berjalan menuju mobilnya. Menghidupkan mesinnya lantas memacunya meninggalkan apartemen Alex. Tanpa dia lihat bahwa Alex berlari setengah mati mengejar mobilnya.
"Mandy berhenti!! Jangan pergi!!!" Teriak Alex tanpa sempat Mandy dengar.
***
Natasya menggeliat pelan dalam tidurnya. Merasa ada yang aneh dengan guling yang dipeluknya. Sesaat mencoba membuka matanya. Namun susah sekali. Dia masih mengantuk sekali.
Tapi sesuatu yang dia peluk jelas berbeda dengan guling yang ia biasa peluk. Yang ini sangat hangat dan nyaman. Terlebih ada aroma khas yang sangat ia kenal.
"Eh, tidak mungkin kan dia memeluk Kai dalam tidurnya?"
Lantas perlahan dia mencoba membuka matanya. Dan "alamaaaak" hatinya menjerit kaget. Namun bibirnya tak bersuara. Ini beneran yang dia peluk Kai? Matanya semakin membulat ketika sadar Kai shirtless alias tanpa atasan. Dan dirinya hanya mengenakan tank top-nya.
"Ommo" apa yang sudah terjadi dia sama sekali tidak sadar. Perlahan dia mulai menggerakkan tubuhnya menjauh dari atas tubuh Kai. Ya, posisinya berbaring tepat diatas dada bidang pria itu. Dengan wajahnya semula berada tepat berada dibawah dagu pria itu. Hingga seolah-olah dia tengah mencium leher pria itu.
Namun siapa sangka ternyata tangan Kai memeluk erat pinggang Natasya. Membuat pria itu segera sadar dengan pergerakan yang dibuat Natasya.
"Jangan bergerak. Atau kamu akan membangunkan yang dibawah sana" Suara serak Kai membuat Natasya menghentikan gerakannya.
"Yang dibawah sana? Maksudnya miliknya?" Batin Natasya setengah melirik ke bawah sana. Yang masih tertutup selimut abu-abu tebal.
"Mati aku!" Umpatnya pelan. Sedikit memejamkan matanya. Menahan gerak tubuhnya.
***
Up lagi readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all, 😘😘😘
****