
Natasya langsung mendorong jauh tubuh Luis. Gadis itu nampak begitu marah. Karena dua kali ini pria itu menciumnya paksa.
"Berani kau menciumku lagi" Teriak Natasya.
Bagaimana bisa pria didepannya ini menciumnya lagi padahal dia tahu kalau dirinya adalah tunangan orang.
Sedang Luis hanya terdiam. Mendengar semua kemarahan Natasya. Sadar dia sudah membuat kesalahan. Tapi entahlah. Dia akhir-akhir ini sulit sekali untuk mengendalikan diri jika berada di dekat gadis itu.
Melihat Luis yang hanya terdiam. Bukannya meminta maaf. Membuat Natasya bertambah marah. Hingga detik berikutnya. Gadis itu merangsek maju.
Menendang dan memukul Luis tanpa ampun. Seketika Luis terkejut. Bagaimana tubuh langsing Natasya bisa menghasilkan pukulan dan tendangan yang lumayan keras.
Luis hanya diam. Menerima tendangan dan pukulan Natasya. Karena dia merasa kalau dirinya memang bersalah. Hingga ketika kekuatan tendangan dan pukulan Natasya mulai berkurang. Pria itu dengan cepat membawa tubuh Natasya ke atas ranjang.
Merebahkan paksa tubuh Natasya di sana. Lantas mengunci pergerakan tubuh gadis itu. Luis mengunci tubuh bagian bawah Natasya dengan menjepitnya menggunakan dua kakinya. Sedangkan tangan kekar Luis mengunci pergerakan tubuh bagian atas Natasya.
Membuat Natasya jelas tidak bisa memiliki celah untuk lari. Bergerakpun susah. Natasya kini berada dibawah kungkungan tubuh Luis.
"Lepas!" Pekik Natasya.
Ketakutan tiba-tiba menyerang Natasya. Takut kalau pria itu benar-benar melakukan hal lebih daripada sekedar ciuman seperti yang dikatakannya tadi.
Luis hanya terdiam. Mendengar teriakan dan usaha Natasya untuk melepaskan diri. Pria itu menatap dalam wajah Natasya.
"Aku rasa aku jatuh cinta padamu, Sya" Tiba-tiba sebuah kalimat yang terdengar konyol di telinga Natasya keluar dari bibir Luis.
Natasya melongo. Tidak percaya kalau kalimat sakral itu akan terucap dari bibir pria yang mulai dicap gila oleh Natasya.
Meski bukan pertama kali bagi Natasya mendengar seorang pria menyatakan perasaan mereka padanya. Tapi hal itu malah terdengar aneh ketika kalimat itu terlontar dari bibir Luis.
Bukan karena dia juga tertarik dengan Luis. Tapi entahlah. Hal itu malah membuat Natasya semakin meyakini pria yang tengah mengungkung dirinya ini benar-benar gila.
"Kau tahu kalau sudah tidak ada celah di hatiku untuk cinta lain. Karena aku hanya akan menerima cinta dari tunanganku seorang. Kau paham, Tuan" jawab Natasya. Dia menatap balik mata Luis tanpa takut sedikitpun.
"Kau belum mencobanya. Yakin sekali kalau kau tidak akan tergoda olehku" Goda Luis lagi.
"Kau pikir aku kelinci percobaan. Kau tidak tahu berapa banyak hal yang sudah kami lalui untuk bisa bersama. Perasaan kami terlalu berharga untuk bisa ditukar dengan apapun. Termasuk cinta darimu. Kau jangan bermimpi tuan" Natasya tegas menolak.
"Gadis ini benar-benar luar biasa. Dia berani menolakku. Benar-benar istimewa" Batin Luis.
"Kalau aku memaksa?" Tanya Luis lagi.
"Maka kau akan melihatku melawanmu sampai akhir" Tegas Natasya.
Kedua mata itu saling mengunci tatapan masing-masing. Yang mana Luis semakin terpesona pada Natasya. Sedang Natasya semakin meyakinkan diri kalau dia tidak akan pernah membagi hatinya dengan pria lain.
Kuncian itu terputus ketika ponsel Luis berbunyi. Membuat pria itu seketika melonggarkan kunciannya. Hal itu membuat Natasya lega.
Apalagi ketika detik berikutnya Luis mulai menjauh darinya. Ketika melihat nama si penelepon.
"Ya Profesor" Jawab Luis ketika sudah mencapai pintu kamar.
"Profesor? Dia bicara dengan profesor?" Gumam Natasya.
Lantas ikut melesat turun dari ranjangnya. Berusaha untuk mendengar lebih jelas.
"Haa bagus sekali. Kebetulan aku juga ada hal yang ingin aku bicarakan padamu" Kata Luis di balik pintu.
"Baik aku tunggu kedatanganmu malam ini" Balas Luis lagi.
Lantas berjalan menjauh dari kamar Natasya.
"Malam ini? Wah bikin kepo saja. Memangnya apa yang akan mereka bicarakan" Gumam Natasya sambil berjalan menuju balkon.
Mencoba membuka pintunya. Dan tidak terkunci. Waaaahhhhh, sebuah pemandangan yang mempesona langsung menyambut mata Natasya begitu dia membuka pintu balkon.
Dia sepertinya berada di sebuah villa. Dengan pemandangan hutan hijau yang begitu menyejukkan mata. Bahkan sebuah air terjun nampak terlihat dari tempat Natasya berdiri.
Kredit google.com
Kredit google.com
"Cantiik sekali" Gumam Natasya lagi.
Di sisi lain. Natasya melihat hamparan kolam renang yang terlihat mewah.
Kredit google.com
Sejenak Natasya melihat sekelilingnya.
Sepi,
Kenapa tidak ada penjaga sama sekali.
Bagaimana jika dia lari dari sini sekarang?
Beberapa pikiran berkeliaran di kepala Natasya. Hingga detik berikutnya. Gadis itu mulai memanjat pagar pembatas balkon. Tidak peduli dengan dirinya yang hanya memakai dres selutut.
Natasya susah payah menelan salivanya. Ketika dirinya sudah berada di luar pagar pembatas balkon. Hanya bertumpu pada dua tangannya yang berpegangan pada pagar pembatas.
Sedikit melirik ke bawah. Berharap rumput tebal dibawah sana bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya nanti. Dia baru saja akan melompat turun. Ketika suara baritone Luis terdengar begitu dekat di telinganya.
"Kau mau lari kemana, ha?" Luis bertanya.
Membuat Natasya terkejut. Nyaris melepaskan pegangannya pada pagar pembatas balkon. Untung tangan Luis dengan cepat meraih tubuh Natasya. Dengan sekali sentakan pria itu berhasil mengangkat tubuh Natasya. Membawanya kembali ke dalam balkon.
Natasya sedikit takut melihat amarah Luis yang terlihat di wajah pria itu. Tanpa banyak kata. Luis langsung meraih tangan Natasya. Menarik paksa gadis itu untuk masuk kembali ke dalam kamar. Luis menghentakkan cekalan tangannya. Membuat tubuh langsing Natasya sedikit terhuyung.
Gadis itu meringis pelan. Sedang Luis langsung menutup pintu balkon dan menguncinya.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku!" Desis Luis.
Natasya mundur. Mengantisipasi apapun yang akan Luis lakukan padanya. Luis merangsek maju. Terus mendekat ke arah Natasya. Dan Natasya terus melangkah mundur. Hingga kemudian dia rasakan kalau punggungnya sudah membentur tembok kamar.
Gadis itu bergerak ke kiri. Luis menahannya menggunakan tangan kananya. Natasya mencoba bergerak ke kanan. Kembali Luis menahan menggunakan tangan kirinya. Jadilah kini Natasya berada dalam kurungan tangan Luis.
Pria itu semakin mendekat. Mengikis jarak di antara mereka. Ketika Luis semakin dekat. Natasya reflek menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Membuat Luis tersenyum.
"Kenapa? Kau takut aku menciummu lagi" Cibir Luis.
Natasya mendelik mendengar perkataan Luis.
"Atau kau takut akan ketagihan jika aku menciummu lagi. Benar begitu?" Kali ini Luis sengaja menggoda gadis itu.
"Kau pikir aku wanita murahan yang bisa kau cium seenaknya" Balas Natasya pedas.
"Ck, ck, ck aku heran bagaimana sepupuku bisa tahan denganmu. Mulutmu begitu pedas. Tapi bibirmu manis sekali" Kembali Luis menggoda.
Dan satu tendangan Luis terima di tulang keringnya.
"Aarrgghhh" Ringis Luis.
"Jangan bicara yang tidak-tidak dihadapanku, tuan gila" Maki Natasya.
"Gila? Kau berani menyebutku gila? Oke kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh orang gila ini" Balas Luis semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Natasya.
Natasya kelabakan seketika.
"Kau tahu, aku begitu penasaran dengan tubuhmu ini. Tubuhmu pasti sek** sekali" Ucap Luis sensual di balik telinga Natasya.
"A..apa yang kau lakukan?" Tanya Natasya dengan nafasnya yang mulai tersengal.
Hembusan nafas Luis di telinganya membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Bahaya, pria di hadapannya sangat berbahaya. Dia bisa terkena jantung jika terus berdekatan dengan pria gila ini.
Luis menghirup dalam-dalam aroma tubuh Natasya. Bibir Luis begitu dekat dengan leher jenjang Natasya. Natasya bermaksud mendorong jauh tubuh Luis. Namun pria itu dengan sigap menahan tangan Natasya.
Dan kini posisi mereka begitu intim. Bahkan hidung keduanya saling menempel. Dengan hembusan nafas yang saling menerpa wajah masing-masing.
"Menjauhlah dariku!" Desis Natasya berusaha mencari celah untuk meloloskan diri dari posisi yang benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Tubuh bagian depan mereka sudah menempel sempurna satu sama lain. Natasya bisa merasakan dada bidang Luis yang menekan benda kenyal miliknya.
Pun dengan Luis. Posisi mereka benar-benar membuat jantung Luis berdebar kencang. Sesuatu di bawah sana mulai bergejolak. Membuat Luis mulai kehilangan kendali dirinya.
"Kenapa? Apa kau mulai tergoda denganku" Goda Luis.
"Cih..Aku? Tergoda denganmu? Yang benar saja" Balas Natasya dengan yakin.
Detik berikutnya raungan terdengar dari bibir Luis.
"Oh ******!!! Beraninya kau melakukan itu padaku!!" Teriak Luis.
*****