
"Apa maksudmu dengan cucuku diculik oleh sepupu tunangannya" tanya tuan Atmaja melalui ponselnya.
Dua jam setelah dia menghubungi seseorang yang yang dia panggil tuan Lu. Pria itu menghubungi tuan Atmaja kembali.
"..."
"Penyelidikanmu valid?" tanya tuan Atmaja.
"..."
"Baik terima kasih. Aku akan menghubungi komandan Bei untuk meminta bantuan" ucap tuan Atmaja.
"...."
"Benarkah?"
"..."
" Baik aku tunggu kabar baik darimu" ucap tuan Atmaja menutup panggilannya.
Dia membalikkan kursi kerjanya. Dimana asistennya langsung menyerahkan sebuah berkas.
"Ini valid?" tanya tuan Atmaja.
"Ini kiriman dari tuan Lu" jawab asisten tuan Atmaja.
Perlahan tuan Atmaja mulai membaca berkas itu.
"Eric Liu. Ternyata feelingku soal siapa kau ternyata benar" guman tuan Atmaja.
"Apa kita perlu menghubungi komandan Bei untuk membantu tuan Kai eh maksud saya tuan muda Eric" tanya asisten tuan Atmaja.
"Tidak perlu. Sepupunya sudah membawa satu kompi pasukan marinir. Aku rasa itu cukup untuk saat ini"
"Marinir?"
"Steven Liu mantan anggota angkatan darat. Dengan pangkat terakhir seorang kapten"
Asisten tuan Atmaja manggut-manggut tanda mengerti.
"Kai akan melindungi cucuku itu jelas. Sekarang fokuskan pada perlindungan Nadya dan yang lainnya. Akan sangat berbahaya jika mereka memasuki Shanghai tanpa pengawalan. Karena aku yakin mereka tidak memberitahu tahu Kai, kalau mereka akan menyusul ke Shanghai" perintah tuan Atmaja.
"Saya akan memerintahkan untuk memberikan pengawal bayangan pada Nona Nadya dan yang lainnya" ucap asisten tuan Atmaja.
"Bagus. Pastikan mereka aman selama berada di sana"
"Baik, Tuan"
"Ternyata kau adalah cucu tuan besar Liu yang diberitakan hilang hampir dua puluh tahun lalu. Pantas saja wajahmu mengingatkanku pada putramu Andrew" guman tuan Atmaja.
***
Kai langsung melesat keluar dari dalam vila. Begitu mendapat laporan kalau anak buah tuan Wang berhasil mengetahui keberadaan lift di rumah itu.
Bisa dipastikan kalau anak buah tuan Wang pasti menunggu di depan lift. Dan benar saja. Ketika Kai sampai. Alena dan Natasya sudah berada dalam cekalan anak buah Tuan Wang. Sedang Justin dan profesor Huang masih berkelahi melawan beberapa anak buah tuan Wang.
"Lepaskan tanganmu darinya brengsek!" umpat Kai langsung melesatkan tembakan. Namun yang terkena tembakan justru pria yang mencekal Alena. Karena posisinya yang memang di depan Natasya. Alena langsung menjerit melihat pria yang tadi mencekalnya ambruk bersimbah darah.
Pun dengan Natasya. Dia langsung menutup mulutnya. Saking shock-nya melihat pemandangan di depannya.
Bunyi tembakan masih saja terdengar. Baik dari dalam maupun luar vila. Tim Delta baru saja tiba. Dengan begitu sudah bisa dipastikan kalau semua ini akan segera berakhir.
"Lepaskan dia!" teriak Kai.
Pria yang mencekal Natasya menggeleng. Pria itu justru meraih pistolnya. Lantas meletakkannya di pelipis Natasya. Membuat Natasya langsung memejamkan matanya.
Kai langsung dejavu dengan kejadian dimana dia diancam dengan keadaan yang sama agar dia mau menikahi Fanny.
Kai menyeringai.
"Kali ini berbeda. Aku tidak akan menyerah begitu saja" batin Kai.
"Aku bilang lepaskan dia!" perintah Kai.
"Kak....." ucap Natasya lirih namun Kai masih bisa mendengarnya.
Justin dan Profesor Huang langsung mendekat ke arah Kai ketika keduanya berhasil melumpuhkan lawan-lawan mereka. Sedang Alena hanya mampu terduduk tidak jauh dari tempat itu. Dia terlihat begitu lelah dan juga takut.
"Biarkan aku pergi" tawar anak buah tuan Wang.
Luis dan Steven tampak berlari mendekat. Luis mendekati Alena. Begitu melihat tuannya, Alena langsung menangis histeris. Membuat Luis dengan segera merengkuh gadis itu dalam pelukannya.
"Tenanglah. Semua sudah selesai" ujar Luis menenangkan Alena.
"Sudah beres" tanya Kai tanpa mengalihkan fokusnya dari Natasya.
"Tim Delta sudah meringkusnya. Hei kau masih mau seperti itu? Tuanmu sudah tertangkap" teriak Steven.
Namun hal itu malah membuat pria yang mencekal Natasya, mulai menarik pelatuk pistolnya. Natasya langsung memejamkan matanya lagi. Apalagi ketika ujung pistol itu semakin ditekan dalam kepelipisnya.
"Aiisshhh kau yang memaksaku" teriak Kai. Dan "doorrrr"
"Anna..." satu suara yang terdengar begitu dekat ditelinganya.
Perlahan Natasya membuka matanya. Detik berikutnya gadis itu langsung memeluk tubuh pria yang memanggil namanya itu.
"Aku takut sekali Kak. Kenapa kau lama sekali menjemputku" keluh Natasya.
Kai tersenyum mendengar gerutuan Natasya.
"Aihh biasanya tidak ingin dicari kalau kabur" ucap Kai menanggapi gerutuan sang kekasih.
"Itu kan kalau aku pergi sendiri. Ini kan tuan gila itu menculikku. Membiusku dua kali" keluh Natasya.
"Tuan gila?" tanya Kai.
Melirik ke arah Luis yang mulai memapah Alena masuk ke vila.
"Orang gila. Dia benar-benar gila" umpat Natasya.
Perlahan Natasya mengikuti langkah Kai masuk ke dalam vila.
"Hei aku dengar itu. Dasar keras kepala. Siapa suruh kau begitu menjengkelkan" Luis mengumpat balik Natasya.
"Kau yang gila" balas Natasya.
"Kau...."
Sedang yang lain hanya mendengar perdebatan kedua orang itu.
"Kak pusiingg..." keluh Natasya pada akhirnya.
Hingga pada akhirnya Kai menggendong Natasya masuk ke vila. Di mana nampak tuan Wang yang meraung-raung minta dilepaskan. Dia dicekal orang dua orang anggota tim delta.
"Bawa dia kantor polisi. Komandan Bei yang akan mengurusnya" perintah Steven.
"Semua bukti sudah aku kirim ke kantor komandan Bei" tambah Steven.
"Kenapa tidak dari dulu kau lakukan hal ini" tanya Kai. Mulai berjalan naik ke lantai dua.
"Aku perlu mengumpulkan bukti-bukti dulu. Ditambah "dia" yang terus merecoki penyelidikanku" jawab Steven kalem. Sambil melirik ke arah Luis yang juga tengah memapah Alena naik ke lantai dua.
"Sorry, mana aku tahu dia memanipulasi semua buktinya. Hingga penyelidikanku selalu mengarah padamu" jelas Luis.
"Ya sudah, semua sudah selesai. Kita istirahat dulu di sini malam ini. Besok kita kembali ke rumah utama. Akan aku bukakan brankas di rumah utama" ucap Kai pada akhirnya.
Semua mengangguk.
"Justin bisa kau periksa lagi keadaannya. Sepertinya dia masih demam" pinta Kai pada Justin yang langsung diangguki oleh pria itu.
Sekilas terdengar suara Luis yang meminta Alena untuk istirahat di kamarnya.
"Istirahat di kamarku saja. Semua kamar akan penuh malam ini" ucap Luis lembut.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kai.
"Sudah lebih baik. Untung aku masih bisa menemukan infusnya. Dokter itu meninggalkannya begitu saja. Ketika kami lari masuk ke lift" ucap Justin sambil membetulkan infus Natasya.
"Biarkan dia istirahat dulu. Jangan mengganggunya dulu" ucap Justin mengkode Kai.
" Kau pikir aku akan melakukan apa padanya" jawab Kai sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya siapa tahu seminggu tidak bertemu membuatmu menggebu-gebu" ledek Justin.
"Kau ingat aku dirimu. Main cium tidak pandang tempat" Kai meledek balik Justin.
"Aahhh itu....alah bukannya kita sama saja. Selalu tidak bisa menahan diri jika berada di dekat mereka" ucap Justin pada akhirnya.
"Iya juga sih" jawab Kai sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sudahlah aku mau turun. Cari makan, lapar" ujar Justin lantas keluar dari kamar Natasya.
"Panggil aku jika makanan sudah siap" teriak Kai.
Sedang Justin hanya mengkode "oke" dengan tangannya. Sebelum menghilang di balik pintu.
Perlahan Kai naik ke atas ranjang. Menatap wajah Natasya yang masih terlihat pucat. Diusapnya lembut pipi gadis itu. Gadis itu nampak begitu pulas menikmati tidurnya.
"Aku sangat merindukanmu Ann" bisik Kai lirih.
Lantas perlahan dikecupnya kening Natasya, lalu turun ke hidung mancung gadis itu. Lantas berakhir di bibir mungil Natasya. Lama diciumnya bibir gadis itu. Sedikit ******* ia berikan.
Hingga kemudian Kai melepaskan pagutannya. Lantas merengkuh tubuh Natasya masuk ke dalam pelukannya.
"Semua sudah berakhir Ann, setelah ini tidak akan ada lagi yang memisahkan kita" bisik Kai lagi.
Lantas ikut memejamkan mata. Mulai mengambil istirahatnya walau hanya sejenak.
*****