You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 68



Dan ternyata memang benar perkataan nek Lastri kalau Agus tidak mungkin datang ke warung hari itu.


"Dia nggak pernah bantuin Nenek apa?" Tanya Natasya ketika dia tengah membantu mencuci gelas.


Nek Lastri sedang merapikan dagangannya. Karena sebentar lagi mereka mau pulang. Sudah jam 6.30 malam. Bahkan teman-teman Nek Lastri sudah pulang dari tadi.


"Bantu sih nggak pernah tapi kalau datang sering. Untuk minta uang" Jawab Nek Lastri sendu.


Keduanya melanjutkan obrolan mereka sambil berjalan beriringan pulang ke rumah Nek Lastri. Yang berjarak 20 menit kalau berjalan.


"Keterlaluan! Kerja nggak mau bantuin nggak mau. Maunya apa sih. Keluyuran terus sama teman-teman yang nggak karuan itu" Omel Natasya.


"Ya mungkin semua salah Nenek. Kalau dulu Nenek nggak nyuruh bapaknya Agus buat jemput Nenek ke pasar mungkin bapaknya Agus masih hidup" Kenang Nek Lastri.


"La emang bapaknya Agus kenapa?" Tanya Natasya.


"Bapaknya Agus meninggal karena kecelakaan waktu mau jemput Nenek. Maka dari itu dia menyalahkan Nenek atas kematian bapaknya" Kenang Nek Lastri lagi.


"Ya bukannya itu takdir. Mana kita tahu kematian kapan datang pada kita" Timpal Natasya.


"Ya, dia masih nggak terima dengan kematian bapaknya. Apalagi setelah itu ibunya nikah lagi dan tidak mengurusi Agus" Jelas Nek Lastri.


"Sabar ya Nek" Hibur Natasya pada akhirnya.


"Wis nasibe simbah nduk" Ucap nek Lastri sedih.


(Sudah nasibe simbah, Nak)


Mereka sampai di rumah bersamaan dengan beberapa sepeda motor yang juga masuk ke halaman rumah nek Lastri. Seperti biasa menjemput Agus.


Ada sekitar 3 sepeda motor dengan pengendara yang saling berboncengan. Ada yang membawa pasangan juga, mungkin karena Natasya melihat dua orang perempuan yang ikut dengan mereka.


Natasya hanya melirik mereka sekilas. Tapi mereka begitu antusias begitu melihat Natasya.


"Wei sopo iku. Ayu tenan?" Tanya seorang teman Agus.


Begitu melihat Agus keluar dari dalam rumah.


(Wei, siapa itu? Cantik sekali)


Pertanyaan itu membuat dua perempuan yang ikut dalam rombongan itu mencebik kesal.


"Ayu apane? Luwih ayu aku yo" Sangkal salah satu perempuan itu.


(Cantik apanya? Cantikan juga aku)


"Wo yo jelas ayu Mbak e mau. Gus aku dikenalke yo. Sopo ngerti gelem dadi pacarku" Timpal yang lain.


(Wo ya jelas cantik Mbake tadi. Gus aku dikenalkan ya. Siapa tahu mau jadi pacar aku)


"Haaahh kalian ki berisik. Kae mau tamune simbahku. Nginep nang kene. Haiyo kae mau sing mbayar sejuta nginep nang kene" Jelas Agus.


(Kalian itu berisik. Dia itu tamune Nenekku.Menginap di sini. Ya dia yang membayar satu juta untuk menginap di sini)


Membuat teman-teman Agus ber-ooo ria.


"Wislah ayo berangkat. Selak mbengi iki" Ajak Agus.


(Sudahlah ayo berangkat. Nanti keburu malam)


"Gus aku mbonceng kowe yo" Pinta salah satu perempuan itu.


(Gus aku membonceng motormu ya)


"La kowe mau rak bareng Roni to. Yo kono bareng Roni meneh" Tolak Agus.


(Kamu tadi kan bareng Roni to. Ya sana bareng Roni lagi)


Jawaban Agus membuat gadis itu mencebik kesal. Sudah jadi rahasia umum jika gadis yang bernama Ika itu suka dengan Agus. Tapi Agus tidak menanggapi. Membuat Ika kesal.


Dan terjadi lagi malam itu Agus menolak berboncengan dengan Ika. Membuat Ika lagi-lagi harus menelan kekecewaannnya.


Sementara rombongan motor itu mulai pergi meninggalkan rumah Nek Lastri. Natasya sudah selesai membersihkan diri. Begitupun Nek Lastri yang sudah masuk ke kamarnya.


Pun dengan Natasya. Setelah mengunci pintu. Dia langsung merebahkan dirinya di kasur. Yang menurut Natasya cukup keras. Tapi apalah daya.Terima sajalah. Begitu pikir Natasya.


Begitulah beberapa hari kegiatan Natasya di tempat liburannya. Menemani dan membantu Nek Lastri berjualan. Dan selama itu pula Agus sama sekali tidak membantu Nek Lastri. Dia tiap hari pergi dengan gengk motornya itu. Tidak tahu juga pergi kemana.


Kehadiran Natasya di sana juga disukai banyak orang. Dia sering membantu ke sana kesini. Jika tempat nek Lastri sedang sepi.


Sekarang kalau sarapan Natasya tidak perlu membeli roti lagi. Dia sering diberi cilok atau batagor dagangan para penjual di sekitar tempat itu. Sebab tahunya dia itu cucunya Nek Lastri.


"Gratisan lagi?" Tanya Nek Lastri.


"Mau tak bayar dianya nggak mau Nek.Yo wis beneran. Aku bisa ngirit" Jawab Natasya sambil nyengir.


"Kamu tahu nggak. Kenapa mereka begitu sama kamu? Mereka itu naksir sama kamu" Jelas Nek Lastri.


"Masak sih Nek?" Jawab Natasya tidak percaya.


"Dibilangin kok nggak percaya. Nenek ini sudah tua. Sudah banyak pengalaman. Emang kamu disana nggak banyak yang naksir?" ucap Nek Lastri.


"Nggak tahu Nek. Tapi kalau yang terang-terangan ngomong suka ada satu" Jawab Natasya sambil menikmati siomay-nya.


"Yang sekarang jadi pacarmu itu. Yang fotonya ada di hpmu itu?" Tanya Nek Lastri.


"Bukan. Yang itu aku nggak suka. Yang jadi pacarku sekarang dulu teman masa kecilku" Jawab Natasya.


Tanpa mereka sadari. Pembicaraan mereka di dengar Agus. Yang entah mengapa hari itu ingin ke tempat Neneknya berjualan.


"Jadi bener to kalau dia sudah punya pacar. Seperti apa pacarnya" Gumam Agus.


"Eh mas Agus tumben rene. Rep jaluk duit simbah yo" Sindir Bu Surti yang terdengar jelas di telinga nek Lastri dan Natasya.


(Eh Mas Agus tumben ke sini. Mau minta uang ya sama Nenek)


Agus hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan Bu Surti. Lantas masuk ke warung neneknya.


"Ngopo? Duite sing sejuta wis entek?" Tanya Nek Lastri.


(Kenapa? Uangnya yang sejuta sudah habis)


Agus mendelik ke arah Neneknya. Dan hal itu sontak membuat Natasya mengeplak lengan Agus.


"Astaga sakit, *Y*u!" Agus meringis.


"Yu, Yu. Emang aku mbakyumu opo? Ra sopan mendelik karo wong tuwo koyo ngono kuwi!" Maki Natasya.


( Yu, Yu emang aku kakakmu?Tidak sopan melotot ke orang tua. Itu tidak sopan)


*Yu\= panggilan kakak perempuan dalam bahasa Jawa.


"Wa wis pinter ngomong Jowo to. Belajar ko ngendi" Tanya Agus.


(Wa sudah pinter bahasa Jawa to. Belajar dari mana?)


"Ada deh. Ngapain kamu ke sini? Mau malak simbah ya. Duit sewaku sudah habis?" Cerocos Natasya.


"Emangnya gak boleh kalau aku datang ke sini. Ini kan warung mbahku. Suka-suka akulah mau ngapain. Mau malak mbahku juga bukan urusanmu" Jawab Agus santai.


Membuat Natasya membulatkan matanya.


"Dasar! Nama Agus Satrio tapi kelakuan nol gedhe" Sindir Natasya.


"Kamu....!"


"Apa?! Apa?! Kamu pikir aku takut sama kamu?!" Tantang Natasya.


"Eh wis wis le berantem. Kae ono pembeli mengko ndak malah isin" Lerai nek Lastri.


(Eh sudah berantemnya. Itu ada pembeli nanti malu dilihat)


"Ngapunten mbah. Abise tu bikin emosi wae" Ucap Natasya sendu.


(Minta maaf Nek. Habisnya itu buat emosi saja Nek)


Selanjutnya entah mengapa hari itu Agus jadi betah berada di warung simbahnya.


"Woi, bantuin kalau nganggur!" Teriak Natasya.


"Busyet dah galak bener ni cewek" Celetuk Agus. Membuat Natasya mendelik ke Agus.


"Nggak sopan" Agus berkomentar melihat sikap Natasya.


"Apa? Kita kan seumuran. Jadi tidak ada kata tidak sopan diantara kita" Natasya tak mau kalah dari Agus.


"Ni anterin ke bapak-bapak yang di sono itu. GPL, gak pake lama!" Ucap Natasya sambil menyerahkan nampan itu kepada Agus.


Selanjutnya gadis itu terus bergerak membantu nek Lastri. Membuat kopi dan menyeduh pop mie.


Pemandangan hari itu sungguh membuat Nek Lastri terus mengembangkan senyumnya.


"Andai setiap hari bisa seperti ini. Hidupku pasti sangat bahagia" Bisik Nek Lastri dalam hati.


*****