You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 8



Sejak kejadian hari itu. Melihat Natasya yang dijemput "suaminya". Kai jadi sedikit merasa insecure. Menyadari kalau ia bisa saja menimbulkan masalah antara Natasya dan suaminya.


Hingga Kai memutuskan untuk sedikit menjauh dari Natasya. Mewakilkan semua urusan yang berhubungan dengan divisi penyiaran kepada Leo. Padahal Natasya pun sama. Mewakilkan semua urusannya kepada Lisa.


Alhasil yang makin dekat adalah Leo dan Lisa. Apalagi ketika keduanya menyadari jika mereka kuliah di universitas yang sama hanya beda jurusan. Membuat keduanya semakin deΔ·at.


Hari itu Kai terlihat tidak terlalu bersemangat. Ia semalan menginap di rumah utama keluarga Hadiwinata. Menuruti kemauan sang kakek untuk makan malam bersama. Yang seperti biasa hanya akan menjadi makan malam dengan suasana paling canggung yang pernah ada.


Semua orang di rumah itu tahu. Betapa tidak sukanya sang nyonya rumah pada Kai. Hingga membuat Kai lebih memilih sekolah asrama setelah masuk jenjang pendidikan SMP. Dan seterusnya. Jarang pulang ke rumah walaupun sedang liburan.


Walaupun semua orang menyukai Kai tapi ia lebih baik menghindar daripada membuat sang nyonya rumah alias ibu tirinya marah.


Dan seperti biasa. Di makan malam itu, Kai harus menerima tatapan tidak suka dari ibu tirinya. Yang membuat Kai, berkali-kali harus menghela nafasnya pelan. Ibu tirinya menganggap kalau Kai hanyalah benalu dirumah mereka.


Menumpang hidup mewah pada keluarga Hadiwinata. Anggapan yang kadang membuat Kai ingin sekali memutuskan hubungan dengan keluarga itu.


Namun hal itu urung dia lakukan. Mengingat jasa kakek Hadiwinata yang telah mengadopsinya dari panti asuhan. Memberinya kehidupan dan pendidikan yang layak. Hingga membuatnya jadi seperti sekarang ini.


"Jadi, apa kamu sudah menemukan investor untuk stasiun tv kita?" tanya Kakek.


Membuat yang ada di meja makan itu saling pandang.


"Ah belum Kek. Aku belum mendapatkan yang sesuai" Kilah Kai. Sejenak Kai bisa melihat tatapan tajam sang ibu tiri padanya.


"Mintalah bantuan pada ibumu jika kamu mengalami kesulitan. Dia lebih senior di bidang ini dibanding kamu" Ucap Kakek. Yang hampir membuat Bu Sarah menyemburkan makanannya.


"Ayah tidak serius kan dengan ucapan Ayah" Tanya Bu Sarah tidak percaya dengan ucapan sang ayah.


"Tentu saja aku serius. Bukankah kita satu keluarga harusnya saling tolong menolong" Ucap Kakek lagi. Membuat ibu Sarah membulatkan matanya.


"Keluarga? Dia hanyalah anak adopsi yang mencoba merebut semuanya dari Fanny. Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi" Batin ibu Sarah.


Melirik tajam ke arah Kai.


"Ah, Kakek, Kakak kenapa jadi membicarakan pekerjaan di meja makan. Tidak asyik" Rajuk Fanny. Membuat kakek terkekeh.


"Lihatlah Kai, adikmu begitu manja padamu. Kelak kamu harus menjaga Fanny selamanya" Ujar Kakek. Membuat senyum Fanny mengembang seketika.


"Bukankah ibu bilang. Jangan menaruh perasaan pada anak adopsi itu!" Teriak ibu Sarah pada Fanny.


"Bu, memangnya apa salah Kak Kai? Kenapa Ibu sangat membenci Kak Kai?" Tanya Fanny.


"Dia hanya ingin mengambil semua milikmu. Sudah jangan bicara lagi. Ibu tidak suka mendengar kamu membela dia" Tegas Ibu Sarah.


"Bu, bagaimana jika Fanny menyukai Kak Kai?" Tanya Fanny.


Duuaarrr, pertanyaan Fanny seperti sambaran petir di siang hari. Baik bagi Ibu Sarah maupun Kai yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Apa kamu bilang? Kamu menyukai anak adopsi itu? Apa kamu sudah gila?" Tanya Ibu Sarah tidak percaya pada perkataan putrinya.


"Kak Kai bukanlah kakak kandungku. Jadi apa salahnya jika Fanny jatuh cinta padanya. Bukankah Kak Kai sangat baik pada Fanny selama ini" Jelas Fanny.


"Tidak boleh. Kamu tidak boleh memiliki perasaan apapun pada anak adopsi itu. Apalagi perasaan suka. Dia hanya akan memanfaatkanmu" Bujuk Ibu Sarah.


"Tapi Bu, Fanny tidak bisa menyembunyikan perasaan Fanny lagi" Rengek Fanny.


"Tifanny Hadiwinata, ibu bilang tidak boleh ya tidak boleh. Bunuh perasaan sukamu pada anak adopsi itu. Ibu tidak mau mendengar lagi kamu mengatakan hal itu!" Perintah Ibu Sarah. Yang hanya membuat Fanny menangis pilu.


Kai menghela nafas mengingat kejadian semalam. Apalagi sang kakek dengan tegas menolak keinginan Fanny untuk pindah bidang pekerjaan.


"Sudah bagus, Kakek mengizinkan dia kuliah mengikuti keinginan hatinya. Tapi dia harus tetap berada di sana. Kalian berdua akan menjadi pewaris utama bagi Hadiwinata Group" Tegas Kakek Hadiwinata.


*


Kai kembali menghela nafasnya. Sangat sulit untuk mengubah keputusan seorang Wira Hadiwinata. Yang terkenal dingin dan arogan. Tak terkecuali dirinya ataupun Fanny.


Lamunan Kai buyar ketika Leo masuk ke ruangannya dengan tergesa-gesa. Dia ingat Leo baru saja mewakilinya untuk bertemu dengan divisi penyiaran.


"Ada apa? Apa ada yang serius?" Tanya Kai heran melihat ekspresi Leo.


"Iya ini serius. Sangat serius, Tuan" Ucap Leo sambil mengatur nafasnya. Dia memang berlari setelah mengantarkan Lisa kembali ke divisi penyiaran. Setelah mereka makan siang sebelumnya.


"Soal?" Tanya Kai mulai sibuk dengan berkas-berkasnya lagi.


"Soal status Bu Natasya" Jawab Leo cepat.


"Kenapa? Jadi benar yang waktu itu suaminya begitu" Tanya Kai sudah malas duluan.


"Tuan salah. Salah besar" Jawab Leo membuat Kai tidak sabar. Masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan daripada harus mendengar soal istri orang.


"Jangan bertele-tele Leo. Kamu tahu aku tidak suka" Ucap Kai.


"Maksudmu? Lantas yang waktu itu siapa?" Tanya Kai mulai kepo.


"Bu Natasya belum menikah. Pacar saja dia tidak punya. Yang waktu itu namanya Evan, pacarnya Hera, temannya Bu Natasya" Jelas Leo dalam satu tarikan nafas. Hal itu sontak membuat Kai terkejut.


"Lalu kenapa dia menyuruh semua orang memanggilnya ibu. Membuat orang salah paham saja" Ucap Kai.


"Nah itu dia maksud bu Natasya. Agar semua orang salah paham dan tidak mengejar-ngejar dirinya" Jelas Leo. Membuat Kai melongo.


"Ada juga gadis seperti itu. Tidak suka dikejar pria. Aneh bukan" Tanya Kai.


"Saya tidak tahu. Tapi hal itu bisa dimaklumi. Bagaimana jika semua orang tahu bahwa bu Natasya masih single, saya pastikan satu kantor akan berlomba-lomba mengejar dia. Termasuk Tuan" Ucap Leo yakin.


"Sembarangan kamu" Kesal Kai. Namun tak urung hal ini membuat hatinya lega. Belum dipastikan jika hatinya menyukai Natasya atau tidak. Tapi sejauh ini hanya gadis itu yang mampu membuat Kai memandangnya lebih dari sepuluh menit tanpa bosan.


"Nggak ngaku nih. Nanti menyesal lo kalau bu Natasya diambil pak Alex" Leo coba memprovokasi atasannya itu.


"Alex? Alex Kim dari MDC ( Music Developing Centre)" Tanya Kai.


"Iya. Lisa bilang sudah hampir setahun ini pak Alex mengejar Bu Natasya. Tapi belum berhasil. Bu Natasya masih kekeuh menolak pak Alex" Jelas Leo.


Kai hanya terdiam.


"So, mau bersaing secara sehat? Jarang-jarang lo ada yang seperti bu Natasya. Dia limited edition untuk seleranya Tuan" Kompor Leo.


Kai hanya terdiam, dia belum tahu pasti apa yang tengah ia rasakan pada Natasya. Tertarik jelas. Cinta entahlah. Siapa sih pria yang tidak tertarik pada gadis secantik Natasya.


*


Weekend tiba,


Honda Brio Natasya sudah terparkir cantik di sebuah pantai. Tempat ia sering menghabiskan waktu saat weekend atau dia sedang bosan.


Dan alasannya kali ini. Dia bosan. Berdiri memandang laut lepas akan membuatnya sedikit merasa terhibur. Sehingga lupa pada rasa bosannya.


Mengenakan setelan celana jeans dan kaos oblong putih dipadu outer berupa kemeja berwarna hitam. Membuatnya terlihat lebih tomboy. Tak lupa flatshoes yang mungkin sebentar lagi akan dilepasnya.


Natasya menarik nafasnya pelan. Biasanya pantai akan terlihat sepi. Tapi hari ini ada yang lain. Sebuah Mercedez Bens E Class nampak terparkir tidak jauh dari Honda Brio miliknya. Dan nampak dari kejauhan, seseorang yang tengah didorong menggunakan kursi roda. Melalui track khusus yang disediakan bagi para pengguna kursi roda.


Natasya tampak tidak terlalu peduli. Perlahan dia mulai melangkahkan kakinya. Memasuki area pantai. Mulai berjalan di pantai dengan airnya yang mulai membasahi kaki Natasya. Sungguh mengasyikkan.


Sesaat dia menghentikan langkahnya.


"Aku akan menemanimu setiap kali kau ingin pergi ke pantai"


"Bohong!" Umpat Natasya.


Sebuah mobil nampak mulai masuk ke area pantai. Sang pemilik mobil agak mengerutkan dahinya. Sebuah Mercedes Bens dan Honda Brio. Yang dia rasa dia mengenal pemiliknya.


Sejenak sudut matanya mencari si pemilik Honda Brio itu. Hingga mata tajamnya menangkap sosok yang tengah bermain ombak di pantai nun jauh didepan sana.


Ujung bibir pria itu tersenyum. Menemukan sosok yang beberapa waktu ini selalu memenuhi pikirannya. Terlebih setelah Leo memberitahu kebenaran tentang sosok gadis itu.


Ya, pria itu adalah Kai. Dia pikir dia ingin pergi ke suatu tempat yang bisa menenangkan pikirannya. Tidak dia sangka. Bukan hanya ketenangan yang dia dapat. Malah dia dapat bonus, mendapati gadis yang sering ia pikirkan berada juga di sana.


"Apa yang kau lakukan disini" Tanya Kai tiba-tiba. Membuat Natasya yang tengah melamun hampir terjengkang karena saking terkejutnya.


Beruntung Kai dengan sigap menangkap tangan Natasya mencegahnya terjatuh ke pasir pantai.


"Kamu? Datang seperti hantu. Buat aku terkejut saja" Maki Natasya tanpa takut.


Sedang Kai langsung tersenyum. Satu lagi yang membuat gadis ini berbeda. Dia tidak suka berpura-pura.


Tanpa mereka sadari. Kakek yang duduk di kursi roda memperhatikan tingkah Kai dan Natasya. Sekilas wajah Natasya mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang membuatnya mengalami penyesalan terbesar dalam hidupnya.


"Apakah itu kau Celine" Bisiknya lirih.


*


Up lagi readers,


Jangan lupa buat like, vote, gift and komemnya ya,


Terima kasih sudah mampir,


Happy reading, and salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘


****