
"Bagaimana tuan Lu?" tanya tuan Atmaja.
".."
"Ah bagus sekali"
"..."
"Benarkah?"
"...."
"Ikuti saja prosesnya. Hubungi aku jika ada yang penting terjadi. Yang terpenting kedua cucuku baik-baik saja"
"..."
"Terima kasih atas bantuannya tuan Lu. Sampaikan salamku untuk Komandan Bei"
Tuut, bunyi sambungan telepon terputus.
"Semua baik-baik saja Tuan?"
"Semua baik-baik saja. Seperti perkiraanku. Kai atau Eric akan menyelesaikan semua masalahmya dengan baik" ucap tuan Atmaja.
Asisten tuan Atmaja yang bernama Sam mengangguk setuju. Percaya pada kemampuan Kai dalam menyelesaikan masalah.
***
Malam semakin larut. Hampir pukul sebelas malam ketika Kai memasuki kamarnya. Mendapati Natasya yang sudah bergelung manis di atas ranjangnya.
Kai hanya tersenyum. Lantas masuk ke kamar mandi. Mengganti bajunya dengan piyama tidur. Eh salah hanya celananya saja yang dipakai. Atasannya dia buang entah kemana. Seperti biasa para pria suka tidur shirtless termasuk Kai.
Biasa pamer sixpack aka abs aka roti sobek mereka. Perlahan Kai ke atas ranjangnya. Menatap sejenak wajah Natasya yang nampak tertidur. Namun ketika mendekatkan wajahnya ke wajah Natasya. Gadis itu dengan cepat membuka matanya.
"Mau apa?" tany Natasya ketus.
"Belum tidur?" tanya Kai balik.
"Sudah tapi ngilir (terbangun tiba-tiba). Mau apa?" tanya Natasya karena Kai sama sekali tidak menjauhkan wajahnya.
"Minta bekal untuk tidur" ucap Kai.
Lantas dengan cepat melahap bibir Natasya membuat gadis itu langsung mendorong dada Kai menjauh. Tapi dasar Kai. Bukannya menjauh. Pria itu hanya melepaskan ciumannya. Lalu masuk ke ceruk leher Natasya. Membenamkan wajahnya di sana.
"Mari menikah besok. Aku bisa gila jika begini terus" rengek Kai.
Natasya mengulum senyumnya.
"Kalau begitu aku akan tidur dengan Nadya saja" ucap Natasya.
Lantas berusaha mendorong kembali tubuh Kai.
"Jangan. Dia tidur dengan Justin"
"Whaatt! Bagaimana bisa kau biarkan Nadya tidur dengan Justin?" Natasya kesal dengan Kai.
"Justin janji tidak akan menyentuh Nadya" ucap Kai.
"Dia bisa hilang kendali Kak" Natasya beralasan.
Kai terdiam.
"Minggir. Aku akan memisahkan mereka. Aku tidur dengan Nadya. Kamu tidur dengan Justin"
"Idiiih ogah. Kayak rumah ini kekurangan kamar saja" tolak Kai.
"Pokoknya Nadya tidak boleh tidur dengan Justin" Natasya bersikeras.
Kai terkekeh.
"Kenapa tertawa.
"Kamu menggemaskan kalau marah" goda Kai.
"Tidak lucu! Minggir!"
"Mau kemana?"
"Ke kamar Nadya"
Kai kembali terkekeh.
"Tenanglah. Nadya dan Justin tidur di kamar terpisah.Justin di kamar sayap kanan. Sedang Nadya di kamar sayap kiri. Perlu setengah jam untuk pergi ke kamar masing-masing. Lagipula rumah ini penuh CCTV. Aku tidak akan membiarkan mereka tidur bersama sebelum menikah" jelas Kai.
"Beneran?" tanya Natasya tidak percaya.
Kai mengangguk.
Natasya menarik nafasnya lega.
"Aku tahu kecemasanmu"
"Kau curang. Kau melakukan itu pada Nadya dan Justin. Tapi kau sendiri. Apa ini. Menahanku disini" kesal Natasya.
"Aku tentu saja beda. Aku kan pemilik rumah. Aku bebas melakukan apapun yang aku mau" narsis Kai.
"Menyebalkan. Selalu begitu, seenaknya sendiri" gerutu Natasya.
"Kenapa? Lagipula kita sebentar lagi kan menikah. Jadi boleh dong aku minta DP?" goda Kai. Yang kini berada tepat di atas tubuh Natasya.
"Kamu pikir beli mobil. Pakai DP" galak Natasya.
"Minggir Kak. Berat" protes Natasya. Melihat gelagat Kai semakin tidak beres.
Sedang Kai malah menatap dalam wajah Natasya yang tepat berada di bawah kungkungannya.
"Kau tahu aku begitu penasaran. Bagaimana kau mende*** nik*** dibawah kungkunganku"
Mata Natasya membulat tidak percaya mendengar ucapan Kai.
"Iiiihhh mesuuuuummm" teriak Natasya menggelegar di kamar Kai.
Kai tersenyum. Lantas menautkan bibirnya sempurna di bibir Natasya. Membuat Natasya mengedip-ngedipkan matanya, shock. Namun detik berikutnya ia pun tak urung menikmati ciuman Kai. Ciuman yang selalu bisa membuatnya hilang kendali. Keduanya menikmati ciuman itu untuk beberapa waktu.
"Aku tidak akan mengambilnya sebelum waktunya tiba" ucap Kai sesaat setelah melepas ciuman mereka yang mulai memanas.
Natasya tersenyum. Dia tahu Kai selalu bisa menjaga dirinya.
"Aku percaya padamu. Jadi mau mendongeng kenapa kau jadi punya istana sebesar ini. Lalu kenapa si tuan gila itu bisa jadi sepupumu. Lalu kenapa dia menculikku. Jauh-jauh membawaku ke sini" tanya Natasya.
Ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Kai tersenyum.Lalu mengubah posisinya. Pria itu perlahan merebahkan tubuhnya disamping Natasya. Lantas menarik tubuh Natasya masuk dalam pelukannya.
"Mau mendengar kisahnya?" tanya Kai.
Natasya mengangguk antusias. Kai tersenyum. Semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Natasya.Begitupun Natasya. Gadis itu melingkarkan tangannya ke tubuh kekar Kai.
Dan Kai pun mulai menceritakan semuanya. Bagaimana ayah ibunya meninggal. Bagaimana dia bisa sampai ada di panti asuhan. Tentang Luna. Semuanya dia ceritakan tanpa ada yang dia tutupi.
"Kasihan sekali si tuan gila itu" komentar Natasya diakhir cerita Kai.
"Kalau kasihan kenapa kau terus memanggil Luis tuan gila?"
"Lah memang dia gila. Hanya karena aku mirip dengan Luna. Dia ingin aku mengandung anaknya. Gila kan namanya" sungut Natasya.
"Tapi kalau aku berada di posisi Luis. Bisa jadi aku akan melakukan hal yang sama" ucap Kai nampak berpikir.
Natasya menarik nafasnya. Dia pikir kisah Kai lebih rumit darinya.
"Oh ya satu lagi. Aku juga sudah dijodohkan rupanya" ucap Kai enteng.
"Lagi? Susahnya punya cowok cakep plus tajir" keluh Natasya. Kai tertawa mendengar keluhan Natasya.
"Lalu apa yang akan Kakak lakukan?"
"Apalagi? Aku tolaklah" jawab Kai.
"Kakak tidak penasaran dengan calonnya?"
"Tidak. Memang kamu mau aku melihatnya?"
"Tidak boleh. Kakak milikku seorang" ucap Natasya posesif. Semakin mengeratkan pelukannya.
Kai kembali tersenyum melihat sikap posesif Natasya.
"Walau mungkin agak sedikit sulit untuk menolaknya kali ini. Tapi percayalah. Aku akan menyelesaikannya" ucap Kai.
"Aku percaya padamu Kak" jawab Natasya.
Keduanya terdiam.
"Jadi dalam beberapa hari ini aku akan sibuk. Jangan protes ya"
Natasya menggelengkan kepalanya.
"Selesaikan masalahnya. Lalu kita menikah" ucap Natasya setengah terpejam.
Sedang Kai langsung sumringah mendengar ucapan Natasya.
"Aku akan cepat menyelesaikannya"
"Hmmmm"
Natasya hanya berguman tidak jelas. Karena dia sudah mulai masuk ke alam mimpinya. Begitupun Kai.
***
Pagi menjelang. Rumah besar itu mendadak ramai karena penghuninya mulai menjalankan rutinitasnya masing-masing.
Nadya dan yang lainnya akhirnya memutuskan pulang. Setelah mengetahui kalau Natasya baik-baik saja. Lagipula pekerjaan mereka tidak bisa ditinggalkan lama-lama. Pun karena Evan dan Alex akan menikah sebentar lagi. Jadi mereka harus mempersiapkan pernikahan mereka.
Kepulangan mereka diantar Natasya sampai ke bandara.
Setelah mengantar Nadya dan yang lainnya plus Justin, Natasya meminta supir keluarga Liu untuk mengantarkannya ke makan Luna. Dia ingin mengunjungi makam itu. Dia mendengar dari Lin Qian. Kalau Luis membangun makam Luna dengan cantik.
Natasya sedikit menikmati pemandangan kota Shanghai.Selagi mobil yang ia tumpangi mulai mendaki ke arah perbukitan.
Kai tidak ikut mengantar. Dia begitu sibuk menyelesaikan semua urusan mengenai Liu Corporation. Terlebih siang nanti. Ada pertemuan dengan keluarga besar Liu. Bisa dipastikan kalau dia akan sibuk seharian ini.
"Silahkan Nona. Kita sudah sampai" ucap supir yang mengantar Natasya.
"Ini betul tempatnya Pak?" tanya Natasya heran.
"Iya Nona. Makam Nona Luna ada di atas" jelas supir itu lagi.
Natasya meraih buket bunga Lily yang ia bawa. Entah kenapa ia memilih bunga lily untuk dibawa ke makam Luna.
Karena begitu ia turun dari mobil. Dia disambut pemandangan hamparan bunga Lily sejauh mata memandang.
"Cantik sekali" gumannya pelan.
****