
Setelah membayar tiket masuk. Mobil Kai mulai memasuki area pantai Goa Cemara. Setelah mendapat tempat parkir dan membayar parkirnya. Keduanya mulai memasuki pantai.
Dan semua itu yang membayar Natasya.
"Besok kalau ke sini bawa ekstra cash. Kartumu nggak laku di sini" Cebik Natasya.
"Iya-iya. Nanti kita mampir ATM ngambil uang" Ucap Kai sambil nyengir.
"Emang kamu punya ATM?" Tanya Natasya.
Kai membuka dompetnya. Memeriksanya dan "zonk" dia tidak memiliki ATM di dompetnya. Yang ada kartu silver, platinum, gold, black card dan sederet kartu lainnya.
"Kartu doang. Duitnya nggak ada" Ledek Natasya.
"Eh itu duit semua tahu" Elak Kai.
Natasya menekuk wajahnya.
"Ya sudah aku transfer saja ke rekeningmu. Nanti diambil lewat ATM kamu" Sahut Kai.
Membuat Natasya mengembangkan senyumnya.
"Yey, dapat duit" Soraknya girang.
"Kayak orang kekurangan duit saja" Balas Kai kesal.
Kalau biasanya pantai identik dengan hawanya yang panas. Tapi tidak dengan pantai Goa Cemara. Sesuai dengan namanya. Pantai ini memiliki pohon cemara yang banyak. Saking banyaknya hingga membentuk rimbunan hingga tampak seperti gua ketika kita berada di bawah tumbuhan itu.
Suasananya begitu sejuk.
"Adem, nggak kayak di Jakarta. Panas" Komen Natasya.
"Dulu ada beberapa spot di sini. Yang persis seperti yang ada di film Harry Potter. Hutannya itu lo" Tambah Natasya.
Kai hanya diam. Mendengar ucapan Natasya. Sesekali tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Tadi Inuyasha. Ini Harry Potter. Kemarin drama cina. Hadeeeeh kamu ini" Keluh Kai.
"Kenapa? Bagus tahu" Natasya memberi alasan.
"Terserahlah. Asal jangan suruh aku jadi Xu Feng aja" Pinta Kai.
"Nggaklah. Kamu sudah jadi Xu Feng dengan caramu" Jawab Natasya sambil memeluk tubuh Kai.
Mereka menikmati suasana di hutan cemara itu.
All kredit google.com
Mereka menyusuri rimbunnya pohon cemara yang tumbuh di sepanjang jalan. Sebelum sampai ke pantainya. Sesekali mereka mengambil gambar dengan ponsel masing-masing.
Berjalan sambil bergandengan tangan. Menautkan jari-jari mereka. Kadang saling melempar senyum satu sama lain.
Hingga mereka akhirnya sampai ke area pantainya. Di sana sudah banyak pengunjung yang lain. Mereka terlihat begitu menikmati bermain air di pantai itu.
All kredit google.com
"Whoaa cantik sekali" Ucap Natasya.
Kai hanya ikut tersenyum.
"Aku seharusnya tahu kemana kamu melarikan diri" Kai berucap ambigu.
"Ya?" Natasya bingung.
Keduanya kini berjalan di pinggir pantai. Menenteng alas kaki mereka. Membiarkan ombak pantai sesekali membasahi kaki keduanya. Satu tangan Kai memeluk pinggang Natasya.
"Pantai adalah tempat dimana kamu bisa merasakan rumah. Betul?" Tanya Kai.
Natasya menarik nafasnya.
"Itu dulu" Jawab Natasya.
"Ya?" Ganti Kai yang bingung.
"Pantai memang membuatku nyaman. Mengingat ayah dan ibu dulu sering membawaku dan Nadia ke pantai. Tapi sekarang berbeda. Hampir tiga minggu ini aku tidak lagi merasakan kenyamanan meski aku dekat dengan pantai" Jawab Natasya.
Namun Kai hanya diam.
"Ada yang kurang meski aku sudah dekat pantai. Aku pikir aku sudah menemukan rumahku yang sebenarnya" Lanjut Natasya.
"Dimana?" Tanya Kai pada akhirnya.
"Di hatimu" Jawab Natasya singkat.
Jawaban yang sama sekali tidak Kai duga. Namun langsung membuat senyum terukir sempurna di wajah tampan Kai.
"Dalam tiga bulan ini. Aku benar-benar merasa memerlukan dirimu. Aku rasanya ingin menyerah ketika Jo mengatakan kalau aku kena leukemia. Apalagi ketika kamu dijodohkan dengan Fanny. Aku merasa tidak berdaya tidak memiliki kamu disampingku. Tapi aku tidak mungkin menyakiti Fanny. Dia adikku"
"Hingga satu ancaman Alex membuatku bangkit. Dia bilang akan menyeretmu kepadaku kalau aku menyerah"
"Seharusnya kamu biarkan saja Alex melakukannya. Aku merasa sangat bodoh ketika aku tidak bisa menyadari kalau kamu menyembunyikan sesuatu dariku" Sesal Kai.
"Aku tidak ingin kamu terpuruk bersamaku"
"Lalu kamu memilih untuk menghadapinya sendiri?"
Natasya mengangguk.
"Dasar gadis bodoh" Ledek Kai.
Natasya mendengus kesal.
"Kamu tahu dengan dukungan dari kakekmu aku bisa melawan kakekmu yang satu itu. Tapi kamu sendiri yang memintaku untuk menikahi adikmu itu" Kenang Kai.
Keduanya terdiam.
"Kamu tahu Jo berkata, aku yang sudah menyebabkan kamu koma. Dan dia dengan santai mengatakan memberiku waktu dua hari untuk membangunkanmu. Dia pasti gila waktu itu" Kembali Kai mengenang bagaimana Jo hampir mencekiknya waktu itu.
"Jocelyn teman terbaik yang pernah aku miliki" Gumam Natasya.
"Dia benar-benar hancur ketika kamu dinyatakan koma" Bisik Kai.
"Dia bahkan hampir dua tahun menggantung perasaan Edgard hanya demi kamu. Dia ingin memastikan kamu benar-benar aman dari penyakit warisan papamu itu" Lanjut Kai.
Natasya menarik nafasnya pelan. Dia menghentikan langkahnya. Membuat Kai ikut berhenti.
"Hidupku berubah dalam tiga bulan ini. Aku yang tiga bulan lalu tidak memiliki siapa-siapa. Kini aku memiliki keluarga. Dulu aku hampir menyerah untuk tetap menunggumu. Tapi tanpa aku sadari kamu sudah berada didekatku. Terima kasih" Ucap Natasya menatap dalam kedua bola mata milik Kai.
Membuat pria itu tersenyum.
"Kenapa sekarang kamu jadi banyak bicara, hmmm" Ucap Kai meraih tubuh Natasya dalam pelukannya.
Natasya terkekeh.
"Apa iya?" Tanya Natasya.
"Anna yang aku tahu tiga bulan lalu begitu dingin. Irit bicara dan juga judes...."
Ucapan Kai terpotong karena Natasya mencubit punggung Kai sebagai tanda protes atas semua perkataan Kai.
"Aku belum selesai ngomong. Tapi sangat cantiiiik. Aku merasa jatuh cinta padamu. Membuatku merasa kepulanganku ke Jakarta kali ini tidak sia-sia. Apalagi ketika aku tahu tahu kamu adalah Anna. Aku bahagia sekali waktu itu" Tambah Kai
Dan kini giliran Natasya yang tersenyum lebar.
"Walaupun ngakunya sudah nikah. Taktik apa itu coba? Membuatku pusing, masa iya aku harus merebutmu dari suamimu. Tidak kusangka suami abal-abalmu itu Evan. Hampir aku menghajarnya waktu itu"
Natasya tertawa mengingat ide konyolnya itu.
"Tapi sudahlah. Semua sudah berlalu. Sekarang dan seterusnya jangan pernah lari dariku tiap kali ada masalah. Kita hadapi sama-sama. Katakan saja semuanya padaku. Oke?" Tanya Kai dan Natasya mengangguk.
Keduanya melanjutkan berjalan-jalan di pantai itu sampai merasa lelah. Lalu memutuskan duduk sebentar di pinggir pantai itu. Menikmati suasana pantai yang mulai merayap sore.
Kai menenggak air mineralnya sampai habis ketika mereka telah menghabiskan makanannya. Mereka memutuskan makan di restoran seafood yang ada di sekitar pantai itu.
"Sudah?" Tanya Kai.
Natasya manyun. Kembali ia yang membayar. Mesin debet-nya rusak jadi Kai tidak bisa menggunakan kartunya.
Kai tersenyum. Melihat wajah kesal Natasya.
"Berapa maumu? Tulis sendiri" Ucap Kai menyerahkan ponselnya.
"Apanya?" Tanya Natasya tidak paham.
"Nanti diambil pakai ATM kamu" Jawab Kai membuat Natasya paham. Dia dengan girang mengetikkan nominal yang dia inginkan.
"Aku mau jadi cewek matre" Natasya berucap senang sambil mengetik di ponsel Kai.
"Matremu berapa? Aku penasaran" Tanya Kai santai.
"Ini... habis gajimu sebulan" Ucap Natasya sambil menyeringai puas.
Kai yang menerima kembali ponselnya. Hanya tersenyum simpul.
"Ini? Hanya segini? Ini untungku satu hari Anna di satu tempat bisnisku" Ledek Kai.
Natasya melotot. Lantas memanyunkan bibirnya. Dia pikir dia sudah banyak merampok pria dihadapannya itu. Ternyata dia salah. Kai semakin meledek Natasya.
"Aku tambahkan nol-nya dua lagi" Ucap Kai santai. Dan "tiiiing" bunyi notifikasi masuk ke ponsel Natasya.
"Kak....ini banyak sekali. Aku malah jadi takut dituduh merampok kamu" Kata Natasya tidak percaya.
"Anggap saja nyicil uang mahar" Jawab Kai santai.
"Haa..." Natasya melongo mendengar ucapan Kai.
*****
Up lagi readers,
Edisi jalan-jalan ke Jogja sebelum badai menghadang,
Thank's sudah mampir,
Love you all 😘😘😘
****