
Natasya yang bosan menonton drama dikamarnya. Memutuskan untuk berkeliling rumah Kai.
"Padahal wajahnya Xu Kai ganteng. Cool lagi. Keren pula tu leader dari pemain e-sport. Tapi bosen juga kalau melototin terus dari tadi" guman gadis itu.
Dia baru saja maraton menonton drama Cina yang berjudul Falling Into Your Smile. Tapi baru separuh jalan dia sudah mulai bosan. Padahal awalnya dia begitu menggebu-gebu ingin menonton drama yang dibintangi oleh aktor Xu Kai dan Cheng Xiao itu. Meski drama itu bukan drama baru tapi dia mendapat rekomendasi kalau drama itu sangat bagus.
Dan memang iya dramanya bagus. Tapi mungkin karena akhir-akhir ini dia menghabiskan waktunya dengan menonton drama jadi dia jadi cepat bosan.
Kemarin dia baru saja menonton You Are My Glory dengan Yang Yang dan Dilraba Dilmurat sebagai bintangnya. Kemudian lanjut dengan Love Scenery yang dibintangi oleh Lin Yi dan Xu Lu.
Pada akhirnya Natasya duduk di tepi sebuah kolam. Dia sengaja memasukkan kakinya ke dalam kolam. Bodo amat kalau tidak boleh.
"Ah, Nona Muda Anda di sini?" tanya sebuah suara.
Natasya menoleh ke sumber suara. Tampaklah seorang wanita yang cukup berumur. Namun masih terlihat segar di usianya yang tak lagi muda.
"Iya Bu. Anda siapa ya?" tanya Natasya balik.
"Saya Bibi Tang. Pengasuh Tuan Muda Eric waktu kecil" jawab Bibi Tang.
Natasya ber-ooo ria. Perlahan Natasya menarik kakinya dari dalam kolam. Mengikuti Bibi Tang untuk duduk di kursi yang memang disediakan di dekat kolam itu. Dengan bangunan seperti gazebo yang menaunginya.
"Bibi sehat?"
"Bibi sehat. Terima kasih"
Hening,
Sunyi,
"Saya sangat bahagia begitu mendengar tuan muda baik-baik saja. Apalagi ketika tahu dia sudah memiliki calon istri"
"Aaaa itu...."
"Sudah lama mengenal tuan muda?"
"Kami berteman waktu di panti. Dia tidak punya teman sama sepertiku. Mungkin karena bahasanya yang berantakan waktu itu. Jadi teman-teman di panti menganggap dia aneh"
"Kasihan sekali tuan muda"
"Ya keadaannya sama denganku. Sama-sama kehilangan orang tua"
"Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja"
"Aku harap juga begitu Bi. Dia sudah terlalu banyak menderita. Baik karena kehidupannya. Ataupun juga karenaku"
"Kenapa? Karena kamu kurang mempercayainya?" tanya Bibi Tang.
"Aku sering membuatnya pusing karena tingkahku" curhat Natasya.
"Maka dewasalah. Kamu suka lari dari masalah?"
Natasya mengangguk.
"Aku mengira dengan diam bisa menyelesaikan masalah. Tapi ternyata malah membuat semua semakin kacau" kenang Natasya.
"Kalau punya masalah jangan dipendam sendiri. Bicarakan dengannya. Dia akan mengerti. Akan selalu berada di dekatmu. Kau paham?"
Natasya mengangguk.
Keduanya lantas berbincang banyak hal. Sampai sore menjelang.
***
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya ayah Steven.
"Sangat yakin Paman" jawab Kai yakin.
Kai baru merekam suaranya sebagai bukti dari pembagian aset keluarga Liu. Dengan pengacara keluarga Liu dan dokter Su sebagai saksinya.
Kai membagi adil aset keluarga Liu kepada tiga ahli warisnya.
"Kamu yakin tidak ingin mengambil lebih?" tanya Steven.
"Kalau kalian mengizinkan aku hanya ingin mengambil dua puluh persen saja" ucap Kai kesal.
Awalnya Kai membagi masing-masing empat puluh persen untuk kedua pamannya. Sedang dirinya hanya ingin mengambil dua puluh persen saja.
Tapi kedua paman Kai menolak. Dengan dalih bahwa Kai sudah terlalu menderita hidup di luar sana. Sedang mereka bisa hidup enak. Mereka menginginkan Kai mengambil lebih banyak aset keluarga Liu.
Tapi Kai menolak. Dia beralasan akan terlalu banyak baginya. Dia sendiri punya dua perusahaan yang sudah cukup membuatnya pusing. Ditambah dengan aset Natasya dari dua keluarganya. Akan semakin membuatnya kelabakan kelak.
Hingga satu jalan keluar disepakati.
"Aku akan membaginya sama rata. Itu juga akan mengurangi pandangan kurang baik pada keluarga kita" ucap Kai pada akhirnya.
Semua saling pandang.
"Tapi Eric...."
"Tidak menerima bantahan Paman" ucap Kai tegas. Membuat kedua Pamannya diam seketika.
"Pantas saja Andrew begitu yakin pada Eric. Dia memiliki aura kepemimpinan Ayah" batin ayah Luis.
Sedang Luis dan Steven hanya mengulum senyumnya. Melihat ayah mereka takhluk di bawah perintah Kai.
"Kau yakin?" tanya Luis.
"Aku yakin. Ooh iya vila Utara aku berikan khusus untukmu. Tapi dengan catatan kami diberi akses penuh jika ingin menggunakannya" ujar Kai pada Luis.
Luis jelas melongo mendengar hal itu.
"Dan aku punya permintaan pada kalian semua" tambah Kai.
Semua terdiam menatap Kai.
"Rumah utama keluarga Liu akan menjadi milik kita bersama. Walau pada awalnya ayahku memberikannya padaku. Tapi aku ingin kalian juga merasa memilikinya. Dan lagi aku ingin kita semua tinggal disini. Rumah ini terlalu sepi untuk kutinggali sendiri" ucap Kai sendu.
Kembali semua orang saling pandang. Hening sesaat.
"Baiklah jika itu keinginanmu. Kami akan tinggal disini. Bukankah menyenangkan bisa bertengkar setiap hari. Han Wen?" tanya ayah Steven.
"Kau benar sekali, Rich" jawab Ayah Luis.
"Oke semuanya beres. Pengacara Hong kau sudah mencatat semua?" tanya Kai.
"Sudah Tuan Muda. Kami akan mengurus surat-suratnya. Sambil menunggu aset mana yang diinginkan oleh tuan Han Wen dan tuan Richard" jawab Pengacara Hong.
"Pengacara Hong bisakah kau memakai nama putraku saja. Sekalian. Aku sudah cukup tua untuk mengurus tiga puluh tiga persen aset ayahku. Biar Steven saja yang urus" sela ayah Steven.
"Kenapa? Aku sudah cukup pusing sekarang ayah" keluh Steven.
"Lalu siapa lagi yang akan mengurusnya" kekeh ayah Steven.
Membuat Steven mendengus kesal.
"Oh Han, Han bisa-bisa kita bisa menikmati weekend kita" lanjut Steven mengeluh pada Han, asistennya.
"Kau saja sudah pusing. Bagaimana dengan aku" sambung Kai.
Semua terkekeh.
"Bagaimana jika semua kita serahkan pada Luis. Dia nampaknya santai-santai saja" seloroh Kai.
Semua langsung menatap Luis. Yang memang terlihat santai.
"Apa?" sarkas Luis.
Semua tertawa terbahak-bahak.
**
Kai kembali ke kamarnya setelah dia mengambil makan malamnya bersama para pamannya. Sedang Natasya yang sekarang meminta kamar sendiri sedang melakukan video call dengan Jocelyn.
Dia diberitahu Nadya kalau Jocelyn besok akan menikah.
"Kau memang kejam padaku" umpat Jocelyn.
"Sorry, sorry. Ada urusan keluarga Kak Kai"
"Alah alasan. Pulang gih" rajuk Jocelyn.
"Kamu pikir aku di Jogya. Satu jam naik pesawat sampai. Ini Shanghai Non. Dua puluh satu jam"
Terdengar raungan tangis dari Jocelyn.
"Kamu lagi ngapain?" tiba-tiba terdengar suara dari belakang Natasya.
"Ha, ini si biang keroknya" maki Jocelyn.
"Eh ada Bu Dokter. Selamat ya kata Leo besok mau married. Siap-siap dihajar sama Edgard ya" goda Kai.
Jocelyn mencebik kesal.
"Eee bambanng bisa nggak kamu bawa Natasya besok buat hadir ke nikahan aku" pinta Jocelyn.
"Nggak bisa Jo. Biar aku pakai pesawat pribadi juga nggak bakalan sempat"
"Huwaaaaa" tangis Jocelyn meledak.
Membuat Natasya dan Kai terkekeh.
"Berapa nomer rekeningmu" tanya Kai.
"Ha?" Jocelyn melongo.
"Daripada aku disuruh bawa Anna pulang ke Jakarta sebelum hari pernikahan kamu. Mending aku transferin uang buat beli tiket kami sebagai kado. Bagaimana?" ucap Kai sambil menaik turunkan alisnya.
"Ide bagus. Tapi dobel" palak Jocelyn.
"Tidak masalah" jawab Kai santai.
"Yeeyy, bisa pergi ke Raja Ampat" teriak Jocelyn.
Membuat Natasya memutar matanya jengah.
****