
Tangis Natasya semakin keras. Seiring dengan hujan yang semakin deras mengguyur bumi petang itu. Hatinya terasa sakit melepas kepergiaannya Kai beberapa saat yang lalu.
Air hujan dan air matanya menjadi satu. Kala punggung kokoh Kai semakin hilang dari pandangannya. Tersamarkan oleh derasnya hujan.
"Baiklah jika itu yang kamu mau. Kakak akan melakukannya untukmu. Hanya untukmu. Kakak hanya ingin kamu mengetahui satu hal. Bahwa kakak akan selalu mencintaimu. Sepanjang hidup kakak. Selamanya"
Ucap Kai lantas mengecup kening Natasya lama.Sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Natasya.
"Bukankah bagus hujan turun deras sekali. Hingga kepergiaanmu tersamarkan oleh derasnya hujan" Batin Natasya.
Dia masih menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat boneka teddy pink-nya.
"Ayo Sya, kita kembali" Pinta Hera.
Melihat Hera, tangis Natasya kembali semakin keras.
"Aku mencintainya Ra, aku mencintainya" Ucap Natasya pilu.
"Kenapa aku tidak bisa memintanya untuk tetap disisiku? Kenapa?" Teriaknya lagi. Natasya memukuli dadanya sendiri. Ingin menghilangkan sesak didadanya.
"Jika kau mencintainya kenapa kau memintanya menikah dengan Fanny. Dasar gadis bodoh!" Bentak Alex.
"Aku memang bodoh! Apa kamu baru tahu itu ha?" Natasya berteriak tidak kalah kencangnya.
"Alex...!" Hera memperingatkan.
Alex beranjak pergi.
"Jangan pergi! Jangan katakan apapun padanya!" Teriakan Natasya membuat Alex berbalik.
"Lalu kau ingin aku di sini, melihatmu menyesali keputusan gilamu itu. Itu yang kamu mau!" Suara Alex kembali meninggi. Dia begitu emosi menghadapi sikap Natasya yang dia anggap begitu bodoh.
"Alex...!" Hera kembali memperingatkan.
"Jangan pergi. Tetaplah disini. Jangan katakan apapun padanya. Aku mohon" Pinta Natasya lirih.
"Kau benar-benar bodoh" Umpat Alex.
"Anggap saja seperti itu" Jawab Natasya lirih.
Tanpa sadar adegan itu dilihat Kai dari dalam mobilnya.
"Kau bahkan membiarkan Alex tahu keberadaanmu. Tapi tidak denganku" Ucap Kai lirih. Memandang kecewa pemandangan di depannya. Lantas berlalu dari sana.
"Halo, asisten Sam. Aku membatalkan rencanaku. Dia tetap bersikeras ingin aku melakukan pernikahan gila ini"
"..."
"Maaf sudah merepotkanmu"
Kai menutup panggilan ponselnya.
**
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Alex panik. Begitu melihat Jocelyn keluar dari tirai dimana bed Natasya berada. Natasya sempat pingsan ketika tiba di kamar VIP-nya. Membuat semua orang panik.
Akhirnya Jocelyn memasang tirai di sekeliling bed Natasya. Karena para penunggu Natasya tidak mungkin menunggu di luar. Akan memancing kecurigaan orang-orang mengenai keberadaan Natasya di rumah sakit itu.
"Aku menyuruhmu mengawalnya. Bukan mengajaknya bertengkar" Marah Jocelyn memukul lengan Alex.
"Sakit Jo! Aku gemas melihat mereka berdua. Yang satu bodoh. Yang satu benar-benar bodoh, mau melakukan apapun yang dia minta" Ucap Alex menirukan gerakan meremas saking gemasnya.
"Hah, seperti kamu tidak pernah jatuh cinta saja!" Sindir Jocelyn.
Membuat Alex melongo.
"Jocelyn kamu bilang apa?" Tanya Alex setengah berteriak.
"Alex jangan berteriak! Biarkan dia tidur. Tensinya turun lagi" Bentak Jocelyn tertahan.
"Sorry" Ucap Alex santai. Lantas menuju lemari pendingin di sudut ruangan. Dimana makanan dan minuman selalu tersedia di sana. Jocelyn benar-benar membuat mereka seperti tinggal dirumah sendiri.
Mengambil satu kaleng soft drink. Lantas ikut duduk di sofa bersama Hera dan Jocelyn yang tengah menikmati makan malam mereka.
"Cucu sultan. Tentu saja perawatannya eksklusif" Guman Alex.
"Kenapa? Kamu minder setelah kamu tahu dia siapa?" Ejek Jocelyn.
"Ciiih minder? Aku masih sanggup memenuhi gaya hidup sultannya jika dia mau menikah denganku. Aku tidak kalah kaya dengan Kai" Ucap Alex sombong.
"Sayangnya dia tidak mau menikah denganmu" Ejek Hera.
"Sialan!" Umpat Alex membuat kedua gadis itu tertawa.
"Propertimu semua ada di Korea. Kau ingin pindah ke sana kalau tua nanti" Tanya Jocelyn.
"Itu properti keluarga. Punyaku pribadi ada di sini" Jelas Alex.
"Kenapa Kai tidak bawa kabur Natasya ke Singapura saja. Dia akan dapat perlindungan di sana. Kai kan dobel kewarganegaraan" Guman Alex lagi.
"Tasyanya yang gak mau. Mau apalagi dia?" Ucap Hera.
"Kalau aku, aku akan membawanya pergi dari sini. Melakukan perawatan di sana. Toh di sana juga tidak kalah dengan rumah sakitmu ini" Ucap Alex kesal.
"Itulah bedanya kamu dengan kak Kai. Kamu tukang paksa, pantas Tasya tidak mau sama kamu" Sindir Jocelyn.
"Jocelyn! Jangan ngomong sembarangan" Alex kembali berteriak.
"Alex jangan berteriak!" Protes Jocelyn.
***
Dua hari berlalu sejak pertemuan Kai dan Natasya. Kai masuk ke ruangan Alex. Membuat Mandy yang tengah berada di dalam ruang Alex langsung permisi keluar.
"Wah, bos besar datang berkunjung" Sindir Alex
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Kai. Tanpa peduli sindiran Alex.
"Menurutmu?" Alex balik bertanya.
"Alex...!" Kai menaikkan satu oktaf suaranya.
"Kau ini pebisnis hebat.Semua keputusan yang kau ambil begitu brilian, tapi urusan cinta nol besar" Kritik Alex.
"Alex..!" Kai memperingatkan.
"Dia baik. Tentu saja baik. Jangan khawatir.Banyak orang yang menjaganya" Jawab Alex.
Kai terdiam mendengar hal itu.
"Kenapa kau tidak membawanya pergi. Kabur dari kakekmu. Kau bisa menyembunyikannya di Singapura atau ke tempat temanmu itu. Si Prince itu" Ucap Alex.
"Aku tidak mau memaksanya" Jawab Kai.
"Aaahhh, susah ngomong sama kalian berdua. Sama-sama bodoh" Maki Alex.
Kai hanya terdiam mendengar makian Alex. Membuat Alex geram. Lantas meninggalakan Kai sendirian di ruangannya.
Saat Alex keluar didapatinya Mandy yang tengah berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Kau menguping?" Tuduh Alex.
"Ti..tidak Kak" jawab Mandy panik. Iya dia sedikit menguping pembicaraan Alex dan Kai. Dua pria yang menjadi idola kantor mereka.
"Ayo ikut aku!" Ucap Alex sambil menarik tangan Mandy.
"Eehh, Kak ini mau kemana?" Tanya Mandy.
"Makan, daripada harus meladeni orang bodoh itu. Mending aku makan" Seloroh Alex.
"Ha? Bodoh? Siapa yang dikatai bodoh oleh Kak Alex? Tidak mungkin GM Kai kan?" Batin Mandy.
Tapi terserahlah, begitulah pikir Mandy. Apalagi ketika Alex benar-benar mengajaknya makan. Di restoran favoritnya lagi. Membuat hati Mandy bahagia bukan kepalang. Alex masih ingat dengan makanan kesukaannya.
**
Natasya tengah berdiri di dermaga yang menjadi tempat kencan terakhir dirinya dan Kai. Meski dia harus berdebat dengan Jocelyn, karena Jocelyn sebetulnya tidak mengizinkannya untuk keluar.
Keadaan Natasya terus memburuk sejak pertemuannya dengan Kai hari itu. Psikiater yang memantaunya mengatakan emosi Natasya yang mempengaruhi keadaan gadis itu. Jadi dia meminta Joceyn untuk mengawasi emosi Natasya.
Dengan pertimbangan supaya mood Natasya membaik, akhirnya dia membiarkan gadis itu keluar.
"Aduh dok, aku bukan pawangnya. Kalau saja dia mau memberitahu pawangnya mungkin dia tidak akan menjadi kacau seperti ini" Umpat Jocelyn.
Yang akhirnya hanya bisa melepas kepergian gadis itu.
"Pa, kirim bodyguard untuknya. Keadaannya justru memburuk" Ucap Jocelyn melalui ponselnya.
Dan disinilah Natasya berdiri. Begitu marah pada dirinya sendiri.
Pluung,
Dia melempar cincin pemberian Alan ke tengah danau. Cincin yang diberikan Alan sebagai tanda persahabatan mereka. Meski Natasya bersikeras menolaknya. Tapi Alan memaksa.
"Terimalah, ini akan menuntunmu pada kebahagianmu. Percayalah. Kamu akan tetap bahagia meski tanpa aku" Ucap Alan kala itu.
"Kau bohong padaku Alan! Kau bohong! Kamu bilang aku akan tetap bahagia walau tanpamu. Tapi apa ha?!" Teriak Natasya.
"Kalau kau tahu aku tidak akan bahagia kenapa kau meninggalkan aku?! Kenapa kau tidak bawa saja aku pergi bersamamu?!" Natasya kembali berteriak.
Hening sejenak.
"Pergi bersamamu?" Ucap Natasya lirih.
"Yah, kenapa aku tidak pergi saja bersamamu. Tidak ada lagi yang kupunya di sini. Semua sudah pergi meninggalkanku. Kamu, kak Kai semua pergi" Guman Natasya.
Hingga seperti orang yang kerasukan dia berjalan ke ujung dermaga. Pikiran dan tatapanny kosong. Tidak mampu berpikir jernih. Suasana danau waktu itu cukup sepi. Tidak nampak seorangpun yang menyadari gelagat Natasya.
Natasya semakin dekat ke ujung dermaga. Satu langkah lagi, dia akan langsung tercebur ke danau itu.
Hingga satu tarikan tangan kokoh menarik pinggang Natasya. Membuat Natasya kembali terhuyung ke belakang. Menggagalkan niat Natasya ingin mengakhiri hidupnya.
"Apa yang kau lakukan, ha?!" Teriak suara itu tepat di telinga Natasya.
***
Up lagi readersku tercinta,
Thank's sudah mampir,
Jangan lupa dilike ya dan ritual lainnya. Author tunggu lo, 🤗🤗🤗
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘
*****