
Keesokan harinya. Mau tidak mau Natasya harus keluar dari kamarnya. Hari ini Lisa, Leo, Nadya, Mandy, dan Alex akan kembali ke Indonesia beserta kedua kakek mereka. Bahkan Angela dan Jason malah sudah pulang langsung setelah pesta pernikahan Kai dan Natasya.
Semua mata menatap ke arahnya sambil mengulum senyum masing-masing. Untung saja Kai bisa menahan diri untuk tidak menghujani leher Natasya dengan kissmark. Hingga dia bisa berpakaian seperti biasanya.
Mereka semua berpelukan sebelum masuk ke mobil yang akan mengantar mereka ke Pudong International Airport. Karena mereka akan kembali dengan pesawat pribadi Luis.
"Jangan khawatir dua minggu lagi kami akan pulang. Setelah semua urusanku di sini selesai" ucap Kai pada Leo.
Dia tahu Leo mulai kewalahan menghandle pekerjaannya. Dan lagi ada beberapa proyek yang mengharuskan dirinya sendiri yang menghandlenya.
"Bener ya Bos. Masak pengantin baru rasa kawinan perak" seloroh Leo.
Membuat yang lain tertawa terpingkal-pingkal.
"Iya-iya"
"Yessss! Dua minggu lagi Yang" ucap Leo pada Lisa sang istri. Membuat wajah Lisa memerah seketika.
Dan iring-iringan mobil itu perlahan berlalu, keluar dari rumah keluarga Liu.
"Jadi hari ini mau ngapain?" tanya Kai.
"Jalan-jalan yuk. Kayak mereka kemarin. Ngabisin duit mas bojo" seloroh Natasya.
"Ke Nanjing Street oke. Kayak Malioboro tapi barangnya branded" usul Jocelyn. Yang memang masih bisa stay sampai minggu depan.
"Kalian?"
"Kami mau ke Yu Garden sama Shanghai World Financial Centre" jawab Edgard.
"Mau nginap di Ritz Carlton juga?" tanya Kai.
Karena di Shanghai World Finacial Centre merupakan rumah dari salah satu jaringan hotel terbesar di dunia, Ritz Carlton.
"Tidak tau deh nanti" jawab Edgard.
"Malamnya kalian bisa ke The Bund. Cantik abis" Jocelyn merekomendasikan.
Keduanya lantas berpisah jalan.
"Kirain mau balik ngamar lagi" gerutu Kai.
"Kakak biarkan aku istirahat hari ini. Nggak puas apa bikin aku remuk. Nggak bisa jalan" gantian Natasya yang menggerutu.
"Nggak akan pernah puas kalau sama kamu" jawab Kai membuat sang istri memanyunkan bibirnya.
Kai terkekeh.
***
Suasana masih lumayan pagi. Tapi suasana di Nanjing Street sudah ramai.
Kredit google.com
Nanjing Street atau Nanjing Road. Merupakan salah satu jalanan yang paling sibuk di Shanghai. Kita bisa menemukan berbagai macam barang yang bisa kita beli sini.
Seperti kata Jocelyn. Nanjing Road hampir seperti Malioboro-nya Shanghai. Bedanya di sini kita juga bisa menemukan barang branded dan juga barang kelas menengah ke bawah.
"Sudah selesai belanjanya" tanya Kai.
Sebenarnya dia ingin melihat seberapa parah sang istri kala berbelanja. Dia pikir Natasya akan kalap seperti banyak wanita yang langsung ijo melihat barang branded di depan mata.
Nyatanya setelah hampir setengah hari berjalan di seputaran Nanjing Street. Natasya hanya membeli sepasang sepatu. Dan beberapa helai baju.
"Katanya mau ngabisin duit mas bojo" ledek Kai.
"La itu" jawab Natasya sambil menunjuk dua paperbag yang dibawa Kai.
Saat ini mereka tengah beristirahat sambil menikmati street food di Nanjing Street.
"Alah aku pikir sampai harus menelepon Thomas supaya dia mengirim mobil untuk mengambil barang belanjaanmu"
"Ha... ha...aku bukan tipe shoppingholic"
"Betul ya istilahnya itu. Tukang belanja"
"Tidak tahu asal jeplak aja"
Kai menepuk pelan jidatnya.
"Jauh-jauh ke Shanghai kok ya jeplaknya keluar"
Natasya terkekeh.
"Nanjing Street cantik kalau malam" guman Natasya.
Kredit google.com
Mereka sejenak menikmati suasana malam Nanjing Street. Semua tampak meriah dengan lampu-lampu yang menghiasi setiap sudut jalan di Nanjing Street.
Setelah puas menikmati malam di Nanjing Street.
Mereka melanjutkan touring mereka ke The Bund. Sebuah kawasan dermaga yang disulap menjadi sebuah kawasan wisata. Dari The Bund kita juga bisa menikmati keindahan Sungai Huangpu yang legendaris. Natasya kembali membulatkan matanya menyaksikan indahnya pemandangan malam hari di The Bund.
Kredit google.com
"Cantiknya" guman Natasya tiada henti.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Kai hanya tersenyum melihat tingkah sang istri. Pemandangan malam The Bund memang menakjubkan.
"Di Jakarta ada tidak ya yang seperti ini?" tanya Natasya.
"Entahlah. Mungkin paling dekat Ancol kalau malam hari"
"Kalau suka. Kita bisa ke sini kapanpun kamu mau" ucap Kai sambil menatap wajah Natasya.
"Dua puluh satu jam cuma buat lihat The Bund. Yang bener aja Kak"
"Aku tiga bulan sekali harus ke sini buat cek Liu Corp. Itu syarat yang Thomas ajukan agar dia mau menjadi wakilku di Liu Corp. Kalau tidak dia pilih kembali ke Singapura" jelas Kai.
Natasya ber-ooo ria.
Mereka terdiam sambil menikmati pemandangan mengagumkan di hadapan mereka.
Mereka benar-benar menikmati waktu berdua mereka. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua di luar urusan kantor.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kai.
"Fanny..." jawab Nàtasya lirih setelah beberapa saat terdiam.
Mendengar jawaban itu, perlahan Kai memeluk tubuh Natasya. Ini adalah pertama kali nama Fanny muncul di antara mereka setelah sekian lama tidak pernah dibahas.
"Bagaimanapun dia juga anak ayah. Adikku" ucap Natasya lagi.
Kai terdiam.
"Kakak masih marah padanya?"
"Entahlah" jawab Kai ambigu.
Natasya menarik nafasnya pelan.
"Jangan khawatir padanya. Dia pasti baik-baik saja" ucap Kai pada akhirnya.
"Kakak tahu di mana dia? Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik-baik. Bukannya kamu tahu dia di Surabaya. Aku masih mengawasinya. Jangan khawatir"
Perkataan Kai membuat Natasya merasa lega. Setidaknya mereka tidak kehilangan jejak Fanny. Sejenak Kai semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri. Perlahan memejamkan matanya.
POV Kai,
"Bisa aku minta tolong padamu"
"Apa?"
"Bisakah kau terbang ke Surabaya. Mengawasi seseorang untukku"
"Siapa?"
"Adikku"
"Kenapa dia kabur ke sana?"
"Dia jatuh cinta padaku"
"Whatt!!!!"
"Dia bukan adik kandungku"
"Kalau begitu bagaimana jika aku jatuh cinta padanya?"
"Itu terserah padanya. Asal kau tidak macam-macam adanya!"
"Siap Bos"
POV Kai End
Kai dan Natasya masih menikmati pemandangan The Bund dari salah satu restoran yang ada di kawasan itu. Di ketinggian dua puluh lantai pemandangan The Bund semakin memanjakan mata.
"Kamu tahu aku sudah lama menantikan hari ini. Menikmati waktu berdua. Menggenggam tanganmu. Memelukmu" ucap Kai.
Natasya mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Kai.
"Aku tidak pernah berpikir kalau hal ini bisa menjadi nyata. Aku pikir aku benar-benar akan kehilanganmu saat itu" lanjut Kai.
"Aku bahkan tidak pernah berpikir kalau aku akan hidup sampai hari ini" jawab Natasya sambil terkekeh.
Kai ikut terkekeh mendengar ucapan sang istri.
"Berjanjilah mulai saat ini. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Lari dariku. Aku bisa gila jika kamu melakukannya lagi. Aku tidak tahu harus mencarimu ke mana lagi. Ini saja kita sudah terdampar sampai ke Shanghai" ucap Kai.
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku janji" jawab Natasya pada akhirnya.
Perlahan Kai mendekat ke arah istrinya. Dipeluknya tubuh Natasya. Perlahan sebuah ciuman lembut mendarat di bibir sang istri.
Kredit google.com
"Kamu tahu Kak. Betapa beruntungnya aku memilikimu. Sejak hari pertama kita bertemu dua puluh tahun lalu. Hingga hari ini. Ketika aku benar-benar bisa memelukmu. Memiliki cintamu adalah sebuah keajaiban untukku. Karena itu aku akan selalu menjadikanmu satu-satunya untukku. You'll always be the one"
"I love you Kaizo Aditya"
"Apa kamu tahu tahu. Aku begitu lama menantikan moment ini. Tidak masalah jika aku harus menunggu seumur hidupku untuk saat seperti ini. Melewati begitu banyak hal untuk bisa bersamamu. Membuktikan kalau kamu memang benar-benar, satu-satunya untukku. Dan akan menjadi satu-satunya untukku. Tidak peduli apa yang akan terjadi di masa depan. Cause you'll always be the one"
"Aku mencintaimu Anna"
Kredit google.com
***END****
Halo readers, untuk Kai dan Natasya end di sini ya. Semoga kalian suka dengan ceritanya. Cerita cinta dari Jakarta lanjut ke Jogya ending di Shanghai.
Terima kasih sudah support dan baca ceritaku. Sampai jumpa di karya aku selanjutnya.
See you later,
Bye bye muach 😘😘😘
*****