You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 64



Natasya terkesima begitu mereka tiba di depan sebuah rumah yang nek Lastri sebut sebagai rumahnya. Rumah sederhana ala-ala rumah jaman dulu. Tapi sangat cantik di mata Natasya.



Kredit google.com


"Ini rumahe Nenek. Mungkin gak seapik omahmu" Ucap nek Lastri.


(Ini rumahnya Nenek. Mungkin tidak sebagus rumahmu)


"Ini cantik. Bagus" Jawab Natasya.


"Rumahku yang sekarang saja aku tidak tahu seperti apa" Batin Natasya.


Keduanya melangkah masuk. Pemuda yang tadi menjemput nek Lastri heran. Ternyata dia sudah lebih dulu sampai di rumah. Kenapa Natasya ikut pulang ke rumahnya.


"Ngapain kamu ikut ke sini?" Tanya pemuda itu.


"Dia mau tinggal disini Gus. Biar dia tinggal di kamar kosong itu" Ucap nek Lastri.


"Tapi nggak gratis lo. Enak saja mau numpang tidur gratis" Jawab pemuda itu kesal.


"Siapa bilang aku tinggal gratis. Aku bayar sewanya. Berapa?" Tantang Natasya.


"Satu juta seminggu" Jawab pemuda itu cepat. Dia pikir gadis itu pasti tidak akan mau membayar sewa semahal itu.


"Oh sebentar" Jawab Natasya.


Lantas mengeluarkan dompet dari ranselnya. Menghitung uang lalu memberikan kepada nek Lastri.


"Ini Nek sewaku seminggu ke depan" ucap Natasya sambil menyerahkan uang itu kepada Nek Lastri.


"Lah ini tu apa to. Gus mbokyo jangan keterlaluan. Mbak ini sudah nolongin simbah. Biarkan dia tidur disini gak usah bayar-bayar segala" Ucap Nek Lastri menolak uang sewa dari Natasya.


"Ya nggak bisa gitu Mbah (Nenek) mana ada yang gratis di dunia ini" Salak pemuda itu.


"Kamu ini memang mata duitan. Kerja nggak mau kerjanya cuma dolan (main) gak karuan genahe ( jelasnya)" Omel nek Lastri.


"Kalau Simbah nggak mau. Sini duitnya buat aku saja. Bisa buat main" Ucap pemuda itu sambil merebut uang itu dari tangan Natasya.


"Heh, dasar bocah tidak tahu aturan" Maki Nek Lastri.


Pemuda itu hanya berlalu sambil mengibas-ngibaskan uang yang dia ambil dari Natasya. Tanpa memperdulikan omelan nek Lastri.


"Dasar bocah edan (gila)" Umpat nek Lastri.


Tak berapa lama terdengar suara sepeda motor dari depan rumah itu. Disusul beberapa suara yang kembali berbicara dengan bahasa Jawa yang sungguh Natasya tidak paham sama sekali.


"Dia itu cucu Nenek. Namanya Agus. Orang tuanya sudah meninggal sejak kecil. Hanya dia satu-satunya keluarga Nenek" Ucap Nek Lastri sendu.


"Jangan sedih Nek" Hibur Natasya.


"Maafkan atas ketidaksopanan Agus. Dia susah sekali dinasihati. Sudah 24 tahun tapi kerjanya cuma main-main saja. Tidak mau bekerja" Keluh nek Lastri.


Entah kenapa juga Nek Lastri bisa curhat ke Natasya soal perasaannya. Nek Lastri merasa nyaman dengan kehadiran gadis itu.


"Yang sabar ya Nek" Kembali Natasya mencoba menghibur Natasya.


Nek Lastri lantas menyeka air mata yang turun di pipinya.


"Ayo tak tunjukin kamarmu" Ucap nek Lastri sambil menuntun Natasya menuju ke sebuah kamar. Dibukanya pintu kamar itu. Lantas nek Lastri masuk diikuti Natasya. Nek Lastri membuka jendela kamar sederhana itu.


Dan sebuah pemandangan yang menakjubkan langsung menyambut mata Natasya.


"Wa laut. Rumah nenek dekat laut rupanya" Teriak Natasya kegirangan.


"Kamu suka laut?" Tanya nek Lastri.


Natasya mengangguk antusias. Dari jendela kamar itu. Natasya bisa melihat ombak yang berkejaran meski jaraknya lumayan jauh. Tapi masih bisa dilihat dengan jelas. Bagaimana ombak itu bergulung-gulung berkejaran di pantai.


"Sudah kamu istirahat dulu. Atau mau mandi dulu. Kamar mandinya ada di belakang" Ucap nek Lastri lantas keluar dari kamar Natasya.


Meninggalkan Natasya yang langsung mengambil ponselnya lalu mengambil beberapa foto.


"Cantik sekali" Guman seseorang yang tidak sengaja melihat Natasya dari pintu kamar itu.


"Dia siapa Mbah? Kok tiba-tiba bisa sama Simbah" Tanya orang itu yang tak lain adalah Agus.


"Tadi ketemu di depan stasiun. Katanya ke sini mau liburan. Tadinya mau cari hotel. Tapi tak suruh tidur di sini saja. Buat ngisi kamar bapakmu yang sudah lama kosong. Itung-itung biar ada yang nempatin. Malah kamu minta sewa ke dia" Omel nek Lastri.


"Itu kan wajar Mbah. Kan sudah aku bilang nggak ada yang gratis di dunia ini" Balas Agus.


"Kamu nggak jadi main" Tanya nek Lastri curiga.


"Nggak jadi. Hari ini aku mau dirumah saja" Sahut Agus sambil memainkan ponselnya.


"Jangan bilang kamu kesengsem (suka) sama Anna" Tebak nek Lastri.


"Oh, namanya Anna to" Ucap Agus antusias mendengar nama Natasya.


"Jangan ngimpi (bermimpi) ketinggian. Gadis cantik seperti Anna mana mungkin belum ada yang punya. Setidaknya dia pasti sudah punya pacar" Ucap nek Lastri.


"Ye, siapa tahu dia mau sama aku mbah. Secara kan aku juga ngganteng gak kalah sama bintang sinetron di tivi-tivi itu" Balas Agus sombong.


"Ngganteng kalau kamu mau kerja. Kamu nggak lihat apa kalau Anna itu orang kaya. Sadar Gus sadar" Ucap nek Lastri.


Ucapn Nek Lastri membuat Agus terdiam. Sekali lihat saja jelas. Jika Natasya bukanlah orang dari kalangan biasa-biasa saja. Sekilas melihat dompetnya saja isinya terlihat sangat tebal. Belum lagi deretan kartu yang sepintas Agus lihat saat Natasya membuka dompetnya.


Apalagi saat Natasya menggunakan ponselnya. Jelas sekali jika itu bukan ponsel murah. Ponsel Natasya memang terlihat mewah dan mahal. Tidak semua orang bisa memiliki ponsel seperti itu.


***


Kai turun dari kamarnya di lantai 3 di kediaman Atmaja. Sejenak meraih pergelangan tangan kirinya. Teringat dia sudah melepas gelang itu dari tangannya. Entah kenapa dia menurut saja saat Justin menyuruhnya melepas gelang itu.


"Sudah mau pergi kak" Tanya Nadya yang juga baru turun dari kamarnya.


"He e" Jawab Kai singkat.


"Ada yang ingin dipesan dari sana?" Tanya Kai tiba-tiba.


Nadya menggeleng.


"Besok saja jika aku kepengen sesuatu. Lagian bulan depan aku wisuda. Jadi pasti aku ke sana. Kak Tasya sudah pulang belum ya bulan depan" Ucap Nadya sendu.


"Pasti sudah pulang. Aku memberinya waktu dua minggu. Jika dua minggu dia tidak pulang. Kakak akan mencarinya. Dan memaksanya pulang" Sahut Kai membuat senyum Nadya terukir jelas di wajahnya.


Tiiing, satu pesan masuk ke ponsel Kai.


"Aku pergi dulu. Jaga Kakek selama aku tidak ada" Pesan Kai.


"Siap Bos. Titip salam buat Justin ya" Ucap Nadya.


"Alaaah salam apanya. Orang tiap saat video call-an kok buat apa kirim salam segala" Jawab Kai sambil memanyunkan bibirnya.


Dan ucapan Kai sukses membuat Nadya terpingkal-pingkal. Kai memutar matanya malas melihat tingkah laku adiknya itu.


"Sudah-sudah aku pergi. Leo sudah menunggu" Pamit Kai.


"Have a safe flight" Teriak Nadya.


Dan Kai hanya melambaikan tangannya sebagai jawaban. Nadya memperhatikan Kai yang mulai berjalan ke pintu depan.


Pria itu terlihat santai mengenakan kaos putih yang dipadu dengan jaket dan celana jeans.



Kredit google.com


Hari menjelang malam ketika Kai mulai masuk ke pesawatnya. Terbang menuju Singapura. Mengurusi bisnisnya. Dan juga dia penasaran dengan Justin soal gelangnya.


"Oke Baby. Nikmati pelarianmu selagi aku mengurusi bisnisku. Setelah itu jangan harap aku akan melepaskanmu" Ucap Kai sambil menyeringai.


Membuat seseorang di tempat lain langsung terbangun dari tidurnya. Dengan jantung berdebar. Meraih ponselnya. Dan sedikit terkejut ketika melihat jam sudah jam 6 sore.


"Alamak aku ketiduran" Ucap Natasya gelagapan.


***