You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 82



Natasya mengerutkan dahinya ketika mendengar suara ketukan pintu. Dia pikir kenapa juga Kai harus mengetuk pintu. Namun tak urung dia pun bangkit dari duduknya. Mengingat pria itu sedang bad mood tadi pagi. Kalau salah lagi bisa ngamuk tu orang. Pikir Natasya.


Ceklek,


Ketika pintu dibuka. Bukan Kai yang berada di depan pintu. Tapi seorang pria asing berwajah oriental. Yang Natasya sama sekali tidak kenal. Dan di belakang pria itu. Ada dua orang dengan seragam hitam persis seragam bodyguard.


"Maaf Anda mencari siapa ya?" Tanya Natasya.


Sedang pria itu menatap tajam pada Natasya. Membuat Natasya sedikit takut.


"Still remember me?" Kata pria itu pada akhirnya.


(Masih ingat padaku?)


"No. Who are you" Jawab Natasya.


(Tidak. Siapa kamu?)


Pria itu tersenyum.


"Ikutlah denganku" Pinta pria itu.


Natasya terkejut karena pria di depannya bisa bicara bahasa Indonesia.


"Kamu siapa? Memintaku ikut denganmu" Tolak Natasya.


Bermaksud menutup pintu. Tapi dua pria di belakang pria itu. Langsung menahan pintu itu agar tidak tertutup.


Membuat Natasya memundurkan langkahnya. Perasaan Natasya semakin takut saja.


"Ikutlah dengan cara baik-baik. Jika tidak aku akan membawamu dengan paksa" Ancam pria itu.


Natasya dengan cepat berlari ke arah pintu. Namun pria itu dengan cepat pula mencekal tangan Natasya. Membuat gadis itu meringis.


"Kau melawan" Ucap pria itu.


Natasya terus meronta. Satu gigitan ia daratkan di tangan pria itu. Dan cekalannya terlepas. Natasya kembali memundurkan langkahnya. Dia tidak mungkin melarikan diri melalui pintu. Dua bodyguard itu berjaga di pintu.


"Kau memaksaku. Give it to me!" Pinta pria itu kepada bodyguardnya.


Sebuah saputangan kini berada ditangan pria itu. Dia semakin merangsek maju. Sedang Natasya semakin mundur ketakutan.


"Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Tanya Natasya panik.


"Ikut denganku" Pinta pria itu lagi.


"Tidak mau!" Natasya tegas menolak.


"Jadi jangan salahkan aku jika memaksamu" Kata pria itu semakin mendekat. Pria itu dengan cepat membekap hidung Natasya menggunakan saputangan. Gadis itu meronta. Tapi pria itu tak kalah kuat. Mengunci seluruh pergerakan tubuh Natasya. Membuat gadis itu sama sekali tidak punya celah untuk lari.


Dan dalam hitungan detik. Tubuh Natasya mulai lemas. Kesadarannya perlahan mulai menghilang.


"I'm sorry (Maaf)" Ucap pria itu di balik telinga Natasya. Sebelum akhirnya tubuh Natasya ambruk dalam pelukan pria yang tidak ia kenal.


Luis Liu membawa Natasya dalam gendongannya. Dengan cepat dia menghilang di pintu tangga darurat. Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Kai, Stev dan Han berlari menuju ke kamar Kai. Heran pintu tidak tertutup rapat. Mereka langsung masuk ke dalam.


"Anna, Anna dimana kamu?" Teriak Kai. Kali ini dia benar-benar panik.


"Bagaimana?" Ketiganya saling bertanya. Dan ketiganya kompak menggeleng.


"Oh ****!!" Umpat Kai.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Kai lagi.


Belum sempat Steven menjawab. Han memanggil dari balkon.


"Tuan..."


Kai dan Steven langsung berlari ke balkon.


"Ada apa?" Tanya Steven.


"Saya rasa tuan Luis membawa tunangan Anda" Info Han. Ketiganya melihat kebawah. Dimana dua mobil van berada. Kai bisa melihat seorang gadis memakai dres merah persis yang dipakai Natasya hari ini. Berada dalam gendongan seorang pria yang tidak Kai kenal.


Kai dengan cepat melesat keluar kamar. Berlari menuju lift. Secepat kilat membawanya meluncur ke bawah.


Kai benar-benar kehabisan nafas ketika sampai di parkiran belakang hotel. Tapi mobil van itu sudah tidak ada.


"Si**" umpatnya.


"Bagaimana?" Tanya Steven.


"Mereka membawanya pergi" Ucap Kai.


Keduanya terdiam. Sama-sama mengatur nafas mereka.


"Berikan aku foto tunanganmu. Kita harus memastikan dulu. Dia membawa tunanganmu atau bukan" Pinta Steven.


Kai dengan cepat meraih ponselnya. Mengirimkan foto Natasya. Steven langsung membulatkan mata begitu melihat foto Natasya.


"Ini betul foto tunanganmu" Tanya Steven tidak percaya.


"Betul kenapa?" Kai balik bertanya. Raut panik jelas terukir di wajahnya.


"Aku jelaskan nanti" Sahut Steven.


"Han, aku mengirimkan foto tunangan Kai. Lacaklah apa benar dia yang dibawa oleh Luis" Pinta Steven.


"Bisa jelaskan sekarang" Tuntut Kai.


"Siapa Luis? Kenapa dia menculik Anna?" Cecar Kai.


"Natasya Arianna Atmaja. Oh apa yang harus jelaskan pada mereka semua. Dia diculik begitu? Kakeknya bisa kena serangan jantung" Pikir Kai frustrasi.


Kai baru saja menemukan gadis itu empat hari yang lalu. Setelah hampir tiga minggu menghilang.Dan sekarang gadis itu menghilang lagi. Yang benar saja.


"Tenanglah dulu"


"Bagaimana aku bisa tenang...."


"Ya Han, bagaimana?"


"..."


"Kau yakin?"


"..."


"Baik kami akan menyusul" Sahut Steven.


"Bagaimana?" Tanya Kai.


"Luis membawa tunanganmu. Han bisa melacaknya dari CCTV airport"


"Lalu kemana dia membawanya" Kepo Kai.


Steven menarik nafasnya dalam.


"Pulang ke Shanghai"


Seketika Kai membulatkan matanya.


"Kau bercanda kan?"


Steven belum sempat menjawab. Ketika sebuah mobil menghampiri mereka.


"Masuklah. Kita harus segera menyusul mereka. Akan aku ceritakan semua di jalan" Kata Steven.


"Tuan, ponsel tunangan Anda" ucap Han sambil menyerahkan ponsel Natasya.


Kai menerimanya. Sejenak Kai membuka ponsel Natasya. Tidak apa-apa di sana.


Sementara itu,


"Biarkan dia di sini dulu sampai pesawat berada di ketinggian yang aman" Pinta Luis.


Meletakkan tubuh Natasya di kursi penumpang. Sedikit menurunkanya. Agar gadis itu merasa nyaman. Lantas memasangkan seatbelt pada tubuh Natasya.


Dan pesawat mulai mengudara begitu Luis memberi kode kalau dirinya sudah siap. Sejenak Luis menatap wajah Natasya.


"Benar-benar kebetulan yang luar biasa. Kau begitu mirip dengannya" Gumam Luis lirih.


Perlahan diusapnya lembut pipi Natasya. Perlahan jari Luis mulai menyusuri kening, mata, hidung dan berakhir di bibir mungil gadis itu. Entah kenapa Luis begitu tergoda dengan bibir mungil itu.


Ketika pesawat sudah mencapai ketinggian amannya. Luis memindahkan tubuh Natasya ke kamar yang ada di dalam pesawat itu. Agar gadis itu merasa nyaman. Mengingat mereka memerlukan waktu hampir dua puluh satu jam untuk sampai ke bandara internasional Pudong di Shanghai.


Kembali Luis menatap wajah cantik Natasya. Dan kali ini dia mencium bibir gadis itu. Cukup lama dia mencium bibir Natasya. Dia keluar dari kamarnya setelah melepaskan ciumannya pada gadis itu.


***


Kai jelas membulatkan matanya ketika Steven memulai ceritanya. Tentang siapa dirinya. Tentang siapa Steven. Tentang siapa Luis Liu yang saat ini tengah membawa Natasya. Bolehkah Kai mengatakan kalau adik sepupunya itu menculik tunangannya.


Dan tentang konflik keluarga Liu. Yang membuat Kai harus terdampar di sebuah panti asuhan di Jakarta dua puluh tahun yang lalu. Yang semua seperti sebuah surprise bagi Kai.


Keduanya sedang berada dalam pesawat yang membawa mereka ke Singapura. Tidak ada tiket langsung ke Shanghai waktu mereka sampai ke airport. Tiket tercepat ke Shanghai tersedia nanti malam. Mereka jelas tidak bisa menunggu hingga nanti malam. Rencananya dari Singapura mereka akan langsung mengambil penerbangan ke Shanghai.


"Lalu apa sebenarnya tujuan dia membawa Natasya? Bisakah aku lapor polisi dan melaporkan sepupuku sendiri" Tanya Kai sambil mengusap rambutnya frustrasi.


"Aku hanya menduga kalau dia ingin menggunakan Anna untuk menekanmu. Agar kau datang padanya dan menyerahkan kuncinya. Tapi...." Steven menggantung ucapannya.


"Tapi apa?" Tanya Kai cepat.


"Lihatlah ini" Pinta Steven sambil menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya.


"Anna?" Sahut Kai cepat.


"Dia bukan Anna. Namanya Luna. Dia kekasih Luis" Jelas Steven.


"Mirip sekali. Dia punya kekasih lalu kenapa dia membawa Anna?" Kepo Kai semakin bingung.


"Yang aku takutkan sekarang. Kalau Luis mulai terobsesi dengan Anna. Karena Luna meninggal tiga tahun lalu" Lanjut Steven.


"Oh my God. Apalagi ini?" Bisik Kai semakin pusing.


"Itu masih dugaanku saja. Jika dugaanku benar maka aku jamin Luis tidak akan menyakiti Anna" Ucap Steven sedikit menenangkan Kai.


Mereka turun di Changi International Airport. Dan sialnya lagi mereka harus menunggu satu jam lagi untuk bisa terbang ke Shanghai. Membuat Kai tidak habis-habisnya memaki.


"Hei, dia bisa membawa pesawat pribadinya. Kenapa kamu tidak bisa?" Protes Kai.


"Aku tidak membawanya ke sini Kai. Mungkin Luis sudah merencanakan ini sejak lama" Steven kembali harus membujuk Kai agar lebih tenang.


"Makanlah dulu. Jangan khawatir ada anak buahku di Shanghai yang sudah stand by. Dan juga beberapa mata-mata di rumah Luis. Kita akan tahu jika sesuatu terjadi pada Anna" Ucap Steven lagi.


Membuat Kai terpaksa mengikuti ucapan Steven.


"Aku harap kamu baik-baik saja, Anna" Batin Kai.


Mulai melahap makanan yang sudah disiapkan oleh Han, asisten Steven.


****