
Natasya langsung melompat turun dari kasurnya. Mencari pakaian, handuk dan peralatan mandi yang sempat dia beli tadi. Sejenak melihat ke arah tumpukan plastik yang berisi barang yang dia beli di pasar tadi. Berantakan itulah kesannya.
Tapi nantilah aku mau mandi dulu. Pikir Natasya. Tubuhnya sudah terasa lengket dan gerah. Perlahan dia membuka pintu yang ia kunci dari dalam.
Sepi, kemana semua orang? Pikir Natasya.
"Nek, Nek Lastri" Natasya mencoba memanggil nek Lastri.
Tidak ada jawaban.
Lalu mencoba mencari-cari kamar mandi yang nek Lastri bilang ada di belakang. Dan taraaaa, akhirnya dia menemukannya. Walau agak sedikit shock dengan keadaannya.
"Oh oke, lupakan acara berendam di bath up atau jaccuzi dan juga mandi di bawah shower. Mari kita mandi menggunakan gayung" Ucap Natasya memulai ritual mandi yang tidak biasa.
Dan mungkin ia harus membiasakannya mulai sekarang. Salah dia sendiri memilih kabur dan menerima ajakan Nek Lastri untuk tinggal di rumahnya.
Kalau dia memilih tinggal di hotel. Pasti dia akan nyaman. Tapi resikonya Kai dan yang lainnya akan lebih cepat menemukan dirinya. Belum lagi jika dia sampai menggunakan kartu saktinya. Bisa dijamin dia akan gagal menenangkan diri.
Menenangkan diri? Sebenarya dia ini sedang menenangkan diri dari masalah apa sih. Semua masalahnya sudah selesai. Dia dan Nadya pada akhirnya sudah menemukan keluarganya. Bu Sarah, si nenek sihir julukan yang diberikan Alex, akan mendekam di penjara paling tidak untuk 15 tahun ke depan.
Hidupnya sudah berubah 180 derajat menjadi cucu sultan. Materi, jelas dia tidak kekurangan. Jadi kalau disebut menenangkan diri. Liburan Natasya kali ini jelas tidak tepat.
Bagaimana dengan melarikan diri? Tapi dari apa? Kai? Kekasih hatinya? Teman kecil yang sudah ia cari selama 20 tahun ini. Dia rasa tidak.
Atau melarikan diri dari Alex? Semua permasalahannya dengan Alex dia rasa sudah selesai.
Lalu? Yang dilakukan Natasya ini apa? Wislah bilang saja liburan. Wong selama ini dia belum pernah merasakan yang namanya liburan. Tapi kenapa juga harus sembunyi-sembunyi. Tidak ingin orang tahu kemana dia liburan.
Aahh bomatlah! Bodo amat! Batin Natasya pada akhirnya sambil menyelesaikan ritual mandi luar biasanya. Tanpa bath up, tanpa shower.
Keluar dari kamar mandi dia dikejutkan oleh suara Agus.
"Hei anak kota baru mandi kamu? Hari gini baru bangun tidur" Celoteh Agus.
"Astaga! Agus jangan bikin jantungan dong. Bisa metong aku" Jawab Natasya tak kalah keras.
"Wiiih, bisa marah juga to" Ledek Agus.
"Apa sih?" Salak Natasya kesal.
Agus terkekeh melihat wajah kesal Natasya.
"Soyo nesu malah soyo ayu" Batin Agus.
(Semakin marah malah semakin cantik)
Natasya masuk ke kamarnya. Menyisir rambutnya. Lalu mulai menata baju di lemari yang ada di dalam kamarnya. Melirik ponselnya. Ahh, siapa juga yang akan menghubunginya. Orang tidak ada yang tahu nomornya.
Dia kembali keluar kamar. Kembali dikejutkan oleh suara Agus.
"Mau bakso?" Tanya Agus tiba-tiba.
Kembali hal itu membuat Natasya terkejut.
"Bisa nggak sih, nggak bikin aku jantungan. Lama-lama aku perlu konsul ini ke dokter jantung" Maki Natasya.
Agus kembali terkekeh.
"Wong kok kagetan"
(Orang kok gampang terkejut)
"Apa tu artinya?" Tanya Natasya.
Agus mengedikkan bahunya.
"Jadi mau nggak nih baksonya?" Tanya Agus lagi.
"Yo maulah. Lapar aku" Jawab Natasya. Memang dia sudah lapar.
"Nenek mana?" Tanya Natasya ketika keduanya sudah mulai menikmati bakso mereka. Setelah Natasya pergi ke dapur mencari mangkok, sendok dan garpu.
"Masih jualan di pantai" Jawab Agus.
"Nenek jualan di pantai? Kamu kok ya keterlaluan to. Nenek tu sudah tua. Sudah waktunya istirahat. Bukannya disuruh kerja. Yang kerja tu seharusnya kamu" Natasya mengomel panjang kali lebar.
"Jangan ikut campur. Bukan urusanmu kali" Jawab Agus ketus.
"Dibilangin malah ngeyel " Maki Natasya.
"Biasa pulang jam berapa? Pulangnya gimana? Tempatnya jauh atau tidak?" Cecar Natasya.
"He, itu mulut kalau nanya dah kaya gerbong kereta api nggak ada remnya"
"Tinggal dijawab apa susahnya sih?"
"Dasar anak kota sakgeleme dhewe (seenaknya sendiri)" Balas Agus.
"In Indonesia please" Kali ini Natasya membalas Agus.
(Tolong dalam bahasa Indonesia)
(Aiiissshhh apa lagi itu)
Natasya tertawa melihat ekspresi Agus yang sama tidak paham dengannya saat Agus berbicara menggunakan bahasa Jawa.
Nek Lastri pulang ketika waktu menunjukan hampir jam delapan malam.
Natasya yang menunggu di depan rumah pun tersenyum melihat nenek itu pulang.
"Nenek kok baru pulang?" Tanya Natasya.
"Kebetulan tadi agak ramai. Banyak yang datang" Jawab Nek Lastri.
"Capek? Mau dibuatkan teh?" Tawar Natasya.
"Memangnya bisa bikin teh?" Ledek nek Lastri.
"Nggak, Nek" jawab Natasya sambil nyengir.
"Gitu kok nawarin. Terus kalau nanti kamu nikah terus suamimu minta dibikinin teh. Gimana?" Tanya nek Lastri.
Natasya terdiam.
"Ya paling-paling aku nyuruh bik Sumi buat bikinin teh" Batin Natasya.
"Perempuan itu harus bisa semuanya. Ya masak, ya dandan, ya melayani suami dikasur. Pokoke semuanyalah"
"Ha melayani di kasur?" Batin Natasya.
Lantas, terbayangkanlah adegan plus 21 antara dirinya dan Kai. Membuat Natasya langsung bergidik ngeri.
"Ampun ni otak malah travelling ke mana-mana gara-gara dengar kata kasur aja" Rutuk Natasya pada dirinya sendiri.
Terakhir kali lihat abs-nya Kai saja, bikin badan panas dingin. Apalagi harus bercin** dengan pria itu. Natasya menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran kotor dari otaknya.
"Sudah makan?" Tanya Nek Lastri.
"Sudah nek tadi Agus belikan Anna bakso" Jawab Natasya.
"Tumben baik tu anak" Heran Nek Lastri.
Ketika mereka berdua masuk ke rumah. Dilihatnya Agus yang keluar dari kamarnya. Bersiap untuk keluar. Karena tak lama terdengar suara motor yang masuk ke halaman rumah Nek Lastri.
Agus hanya melewati Nek Lastri dan Natasya tanpa berkata apapun. Langsung keluar rumah menghidupkan mesin motornya lalu ikut pergi bersama teman-temannya.
Nek Lastri terlihat menarik nafasnya dalam.
"Dia mau kemana Nek malam-malam begini?" Tanya Natasya.
"Biasalah pergi dengan teman-temannya. Pulang pagi atau bahkan tidak pulang" Jawab nek Lastri sendu.
"Sabar ya nek" Hibur Natasya.
"Sudahlah. Pergilah tidur. Besok pagi mau ikut Nenek pergi ke pantai" Ajak nek Lastri.
"Pantai? Mau, mau Anna mau ke pantai" Jawab Anna antusias.
"Kalau begitu cepatlah tidur. Besok bangun pagi. Nenek mau membersihkan diri" Ucap Nek Lastri.
Terlihat kesedihan di wajah tuanya. Tidak bisa dia bayangkan jika tiap hari Nek Lastri harus menghadapi sikap Agus yang sangat tidak menyenangkan.
Natasya menarik nafasnya pelan. Lantas masuk ke dalam kamarnya.
Di sisi lain,
"Aku pikir masalahnya akan lebih serius dari ini" Ucap Kai dingin.
"Maaf tuan. Saya benar-benar tidak menyangka jika ini adalah ulah orang dalam kita sendiri" Jawab Thomas melirik Leo
"Tapi aku akui, jika kali ini dia nyaris sempurna menutupi aksinya. Lain kali lebih berhati-hatilah" Pesan Kai.
"Baik Tuan" Jawab Thomas patuh.
"Tuan, tuan Justin dan tuan Steven sudah menunggu" Info Leo.
"Baik"
Dan ketiganya kemudian masuk ke dalam ruang kerja Kai.
"Malam Bro, tumben pengen bertemu. Ada yang penting?" Tanya Kai begitu melihat Justin. Sedikit mengangguk pada Steven.
"Aahh tidak juga. Ini masalah gelangmu. Bisakah kak Kai meminjamkannya pada tuan Steven. Ada yang menarik dengan gelangmu. Dan tuan Steven ingin menyelidikinya" Pinta Justin to the poin.
Sedang Steven memandang wajah Kai tidak berkedip. Seolah tengah memindai keseluruhan wajah Kai.
"Kau benar-benar mirip dengan kedua orang tuamu" Batin Steven.
***