
Jason nampak tengah merapikan pakaiannya. Ini adalah hari pertamanya masuk ke perusahaan papanya. Cukup lama berkutat di walk in closet mewahnya.
Kredit google.com
Ia yang terbiasa tampil kasual. Jeans, kaos, jaket, sneaker. Kini harus sedikit berkutat dengan setelan resmi. Yang meskipun sudah ada di walk in closet. Namun jarang sekali ia pakai.
Hingga akhirnya pilihannya jatuh pada setelan berwarna hitam dengan dasi berwarna merah.
Kredit google.com
Dia cukup lama menatap dirinya didepan cermin. Bukan menatap penampilannya. Tapi lebih teringat pada sang kakak. Andai kakaknya masih ada.Tentu dia tidak akan bersusah payah menggantikan tempatnya.
Dia menghela nafasnya pelan. Lantas keluar dari kamarnya. Turun ke lantai bawah. Dimana papa dan mamanya menunggu untuk sarapan bersama.
Dan hari dua orang dengan kesibukan berbeda. Memulai harinya. Angela dengan latihan vokal dan koreonya. Sedang Jason dengan meeting dan tumpukan berkas yang harus ia pelajari dan tandatangani.
**
Jocelyn baru saja keluar dari ruangannya. Dengan emosi yang memuncak. Karena lagi-lagi Natasya mengabaikan pesannya. Dia baru saja mengumpat kesal. Ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Membuat rasa kesalnya hilang seketika.
Berganti dengan rasa bingung yang mendera.
"Bagaimana aku mengatakannya" Batin Jocelyn.
Jocelyn meraih map diatas mejanya. Lantas keluar lagi. Menuju ke taman rumah sakit di mana orang yang ingin ditemuinya sudah menunggu.
Natasya terlihat cantik dengan jeans, inner berwarna hitam dan outer berwarna broken white. Rambut panjangnya tergerai indah.
Kredit Pinterest.com
Wajahnya terlihat pucat namun masih cantik. Ia tersenyum ketika melihat Jocelyn datang. Berbeda dengan Jocelyn yang langsung memeluk gadis itu. Sedikit heran dengan tingkah Jocelyn.
"Ada apa?" Tanya Natasya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jocelyn.
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya sering pusing akhir-akhir ini. Dan juga ini...( menggulung lengan outernya memperlihatkan memar biru di lengannya)... aku pikir aku terlalu lelah akhir-akhir ini" Jelas Natasya.
Jocelyn kembali memeluk Natasya kali ini dia menangis.
"Ada apa Jo? Jangan membuatku takut" Tanya Natasya.
"Sya...hasil labmu sudah keluar. Dan hasilnya..."
"Hasilnya sama dengan Nadya kan? Aku bersih" Tanya Natasya sambil tersenyum
Sesaat Jocelyn terdiam. Baru dia sadari jika wajah Natasya sangatlah pucat.
"Ini...."
Jocelyn menyerahkan map yang dibawanya. Yang langsung dibuka oleh Natasya. Sederet tulisan yang tentu saja Natasya sama sekali tidak paham. Hingga menuju kesimpulan paling bawah.
"Ada indikasi kenaikan sel darah putih yang mengarah pada leukemia"
Seketika kertas itu terlepas dari gengganman Natasya. Air mata meluncur turun begitu saja. Dia langsung menatap Jocelyn. Yang sama berurai air mata dengannya.
"Dia datang padaku? Aku mewarisi penyakit ayahku?" Tanya Natasya terbata-bata.
Jocelyn mengangguk dan kembali memeluk tubuh sahabatnya itu. Sesaat keduanya hanya menangis bersama. Berbagai bayangan datang melintas di pikiran Natasya. Nadya, pekerjaannya, rencananya dan....Kai. Hal terakhir yang membuatnya begitu hidup akhir-akhir ini.
"Yang kamu rasakan adalah tanda-tanda umum dari penyakit ini" Beritahu Jocelyn.
"Aku harus bagaimana Jo? Ah tidak berapa banyak waktu yang ku punya?" Tanya Natasya.
"Berhenti dari pekerjaanmu. Dan mulailah melakukan perawatan. Semakin cepat kamu memulai perawatan semakin banyak waktu yang kamu punya" Jawab Jocelyn.
"Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu sebelum aku berhenti. Aku masih punya kontrak satu tahun. Jika aku keluar sekarang. Aku harus membayar penalti" Jelas Natasya.
"Berapapun dendanya akan aku bayar. Selesaikan pekerjaanmu dan ajukan pengunduran dirimu" Pinta Jocelyn tegas.
"Beri aku satu bulan"
"Itu terlalu lama"
"Tiga minggu"
Jocelyn terdiam.
"Dua minggu. Aku akan menyelesaikan semuanya dalam dua minggu. Lalu aku akan masuk rumah sakit untuk perawatan. Aku janji" Bujuk Natasya.
"Dua minggu tidak lebih. Jika tidak aku akan menyuruh bodyguard papaku untuk menyeretmu ke rumah sakit" Ancam Jocelyn.
"Aku akan memberitahu Nadya" Ucap Jo lagi.
"Tidak. Jangan beritahu dia. Jangan beritahu siapapun tentang hal ini. Aku mohon"
"Tapi Nadya perlu tahu"
"Dia sedang konsentrasi dengan skripsinya. Lima bulan lagi dia akan pulang. Jangan membuyarkan konsentrasinya" Bujuk Natasya lagi.
"Aku cukup sedih dengan berita ini. Tapi setidaknya dua adikku dipastikan lolos dari hal ini kan" Ucap Natasya menghibur diri.
"Ciih. Dengan keadaanmu yang seperti ini kamu masih sempat memikirkan anak nenek sihir itu. Hah!" Jocelyn membuang nafasnya kasar.
"Dokter Jocelyn, tentunya kamu sudah bersiap kan dengan kondisiku ini" Tanya Natasya menggoda Jocelyn.
"Dua minggu. Dua minggu lagi tidak lebih. Kita harus melakukan semuanya secepatnya" Ancam Jocelyn.
"Siap dokter!" Jawab Natasya sambil memberi hormat. Layaknya tentara pada atasannya.
"Menurutlah denganku. Kita pasti bisa melalui ini. Kamu pasti akan sembuh. Aku janji" Ucap Jocelyn menggenggam erat tangan Natasya.
"Terima kasih Jo. Sudah bersama kami selama ini" Sahut Natasya kembali berlinang air mata.
***
Ruang latihan MDC, hampir tengah malam,
Natasya masuk ke hall. Langkahnya terlihat sangat tidak bersemangat. Seolah akhir hidupnya sudah sampai.
"Kak, kenapa kakak kemari?" tanya Angela yang ternyata baru akan pulang.
Natasya menyusut air matanya cepat.
"Kamu baru mau pulang? Ini sudah malam. Berbahaya kalau kamu pulang sendiri" Cecar Natasya.
"He... he... aku dijemput Jason Kak jangan khawatir" Jawab Angela sambil nyengir.
Natasya hanya ber-ooo ria.
"Kakak mau apa? Mau main piano seperti biasa?" Tanya Angela.
Sedikit tahu jika kakak angkatnya itu suka memainkan piano apalagi kalau lagi galau.
Natasya mengangguk.
"Galau mikirin apa sih? Kerjaan? Santai saja Kak atau galau mikirin cinta?" Goda Angela.
"Aisshhh, anak kecil tahu apa?" Kilah Natasya.
"Issh, aku sudah gede tahu Kak" Bela Angela.
"Iya, iya cepetan balik sana. Sudah malam juga. Hati-hati di jalan" Seloroh Natasya ketika Angela mulai berlalu dari hadapannya. Lambaian tangan Angela menjadi jawaban atas semua ucapan Natasya.
Perlahan Natasya mulai mendekati grand piano yang ada di hall itu. Jari jemarinya mulai memainkan nada dari sebuah lagu yang sangat disukai ibunya dulu. Sebuah komposisi lagu akustik klasik yang berjudul Canon yang diciptakan oleh komposer bernama Pachelbel.
Dia dulu ketika masih kecil sangat suka jika ibunya memainkan lagu itu. Rasanya begitu menenangkan jiwa. Namun kali ini begitu jari Natasya mulai memainkan nada lagu itu. Air matanya justru mulai mengalir turun. Seolah alunan melodi lagu itu semakin memporak-porandakan jiwanya.
"Inikah ending dari hidupku Ibu?" Bisiknya.
Semakin lama jarinya menari di atas tuts piano. Semakin deras airmata yang mengalir di pipinya. Hingga sepasang tangan tiba-tiba ikut memainkan nada itu bersama dirinya.
Natasya tentu terkejut dengan hal itu. Tidak banyak yang tahu ataupun suka dengan musik klasik. Tapi Kai, jelas sangat tahu komposisi lagu ini.
"Aku kenal seseorang di masa lalu yang sangat menyukai lagu ini" Ucap Kai sambil terus memainkan tuts piano itu. Menggantikan Natasya yang malah melongo menatap Kai yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Pria yang kini menduduki puncak tertinggi di hatinya. Tapi sebentar lagi, apa dia mampu mempertahankan pria itu untuk tetap berada di sampingnya. Bagaimana jika keadaannya memburuk? Bagaimana...bagaimana jika dia seperti ....ayahnya.
Mengingat hal itu seketika air matanya meluncur semakin deras.
"Ibu, apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya lirih dalam hati.
Dia jelas tidak ingin membuat pria di hadapannya ini bersedih untuknya. Pria ini masih mempunyai jalan panjang dengan jutaan kesuksesan yang siap menanti dirinya. Bukan ikut terpuruk bersama dirinya.
"Apa ada masalah? Aku sering melihatmu menangis akhir-akhir ini?" Tanya Kai tiba-tiba. Saat dia sudah mengakhiri komposisi lagu itu tanpa Natasya sadari.
"Aku...aku..." Natasya jelas tidak tahu apa yang harus dia katakan.
Sedang Kai masih terus menatap dalam wajah kekasihnya itu. Dia pun sama dengan Natasya. Galau luar biasa. Kai jelas tidak ingin kehilangan Natasya. Gadis yang mampu menggetarkan hatinya, setelah sekian lama dia tidak pernah merasakan hal itu.
Gadis yang mampu membuat hatinya bimbang antara memenuhi janjinya dulu atau memilih gadis ini dalam hidupnya.
Sejenak keduanya saling menatap.
"Aku mencintaimu, Sya" Satu kalimat yang membuat hati Natasya bergetar hebat. Hingga tangis gadis itu tidak mampu dia bendung lagi.
"Aku juga mencintaimu, Kai" Satu balasan yang membuat Kai langsung merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Hingga tangis Natasya semakin kencang dalam pelukan Kai.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melepasmu? Aku tidak ingin dia menyakitimu. Bahkan melukaimu" Bisik Kai pelan dalam hatinya.
**
Up dikit readers, mati listrik dari tadi gak tahu hidupnya kapan. Baterai udah pada low semua, 😫😫😫
Thank's sudah mampir ya,
Happy reading everyone,
Love you all, 😘😘😘😘
****