
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kakakmu" Tanya kakek Atmaja.
Saat ini dihadapannya duduk Nadya dan Leo. Keduanya menunduk. Bingung harus menjawab apa. Dibelakang mereka ada Alex dan Evan.
Mereka sejatinya sedang berdiskusi tentang rencana mereka untuk menyusul ke Shanghai. Nadya jelas begitu khawatir pada kakaknya. Meski Kai sudah berjanji akan membawa kakaknya pulang dengan selamat.
"Oleh-oleh dari Jogya sudah tiba empat hari yang lalu. Lalu kenapa kedua kakakmu belum juga kembali" Kakek Atmaja bertanya lagi.
"Ehhhmm itu Kek. Mereka meneruskan liburan mereka ke Shanghai" Jawab Nadya pada akhirnya.
"Shanghai? Liburan?" Kakek Atmaja mulai curiga.
"Iya, kakak kan sudah lama ingin liburan. Jadi kak Kai mengajaknya liburan ke Shanghai. Kakek kan tahu kak Natasya akhir-akhir ini lagi tergila-gila sama drama Cina. Jadi kak Kai membawa kakak liburan ke sana" Jelas Nadya.
Kakek Atmaja terdiam. Menatap tajam pada empat orang yang ada dihadapannya.
"Kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kakek kan?" Kakek Atmaja bertanya lagi.
"Tidak Kek"
"Tidak Tuan"
Jawab keempat orang itu bersamaan.
Kembali tuan Atmaja memandang keempat orang itu. Lantas dia berdiri lalu melangkah keluar dari ruangan Nadya. Membuat keempat orang didalam sana langsung menarik nafasnya lega.
"Astaga ini lebih seram daripada ketemu camer waktu itu" Ucap Evan langsung mendudukkan dirinya di kursi sebelah Nadya.
"Betul, betul, betul bahkan lebih seram daripada pak Bos yang lagi marah" Tambah Leo sambil mengelap keringat di dahinya dengan tisu dari atas meja Nadya.
"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Alex.
"Aku tetap mau pergi. Feelingku mengatakan kalau Justin juga ada di sana" Putus Nadya.
"Kalian bisa pergi tapi aku tidak bisa" Sahut Leo.
"Kenapa?" Heran Nadya.
"Kalau kita semua pergi. Asistenmu akan kelabakan menghandle semua pekerjaanmu. Belum lagi aku harus ikut menghandle cabang pak Bos yang ada di sini. Thomas yang akan bergabung" Jelas Leo.
"Iya juga ya. Lalu Thomas siapa yang menggantikan?" Tanya Evan.
"Thomas punya asisten sendiri. Lagipula dia hanya handle dua perusahaan di sana. Meski banyak cabang tapi cuma dua macam perusahaan. Tidak seperti di sini. Banyak macamnya. Sudah seperti pasar. Macam-macam ada" Sahut Leo setengah mengeluh.
Yang lain hanya terdiam. Mereka tahu banyaknya hal yang harus diurus Leo.
"Jadi kapan kita berangkat?" Tanya Alex.
"Malam ini. Pesawat akan transit di Changi sekalian Thomas naik dari sana" Leo menjawab lagi.
"Oke kita bertemu di airport malam ini jam enam" Balas Evan.
Semua mengangguk.
Sementara di mobil tuan Atmaja. Pria itu nampak tengah menghubungi seseorang.
"Halo tuan Lu lama tidak menghubungiku"
"..."
"Aku meminta tolong padamu. Bisa kau cari keberadaan dua cucuku"
"..."
"Mereka ada di Shanghai. Natasya Arianna Atmaja dan Kaizo Aditya"
"..."
"Baik. Kutunggu kabar baik darimu"
"Kalian pikir bisa menyembunyikannya dariku" Batin tuan Atmaja.
***
Begitu nama asisten Han disebut. Semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka kepada asisten Steven itu.
Sedang yang ditatap dengan santainya mengeluarkan ponselnya. Menguliknya sebentar. Sedang Steven dan Kai menatap Luis tajam.
"Lantai dua. Kamar di sebelah kiri tangga ini" Ucap Han.
Kai langsung melesat naik. Sedang Luis jelas dengan segera bergerak menghalangi Kai.
"Kau tidak bisa seenaknya di sini" Ancam Luis.
"Kenapa? Aku juga punya hak atas vila ini" Balas Kai.
"Eric Liu! Kau benar-benar keterlaluan!" Teriak Luis.
"Kalian!" Kali ini Kai yang berteriak.
Sorot matanya tak lepas dari mata Luis.
Detik berikutnya, dua orang anak buah Steven sudah mencekal tubuh Luis. Menyingkirkannya dari jalan Kai. Luis jelas berteriak meronta. Tapi tidak ada satupun dari anak buahnya yang berani menolong tuannya. Pasalnya setiap dari anak buah Luis masing-masing sudah ditodong dengan pistol dikepala mereka. Membuat mereka tidak mampu berbuat apa-apa.
"Lepaskan aku! Brengsek! Kalian berani kurang ajar padaku!" Umpat Luis.
Sedang Kai sudah melesat naik ke lantai dua. Langsung menuju kamar yang dimaksud Han. Begitu dia masuk. Dilihatnya wanita yang hampir seminggu ini membuatnya gila terbaring di atas sebuah ranjang. Natasya tampak tertidur pulas. Tidak menyadari kehadiran Kai.
"Anna...Anna..ini aku. Aku datang menjemputmu" Ucapnya sambil mengecup lembut kening gadis itu.
Betapa terkejutnya Kai ketika bibirnya menyentuh kening Natasya.
"Panas? Anna apa kau sakit? Anna.. jawab aku" Kai panik. Namun Natasya tetap terdiam.
Sedetik kemudian Kai langsung keluar kamar lagi.
Justin langsung melesat naik diikuti Steven dibelakangnya.
Sedang Profesor Huang dan Alena saling memandang cemas.
"Dia sudah marah" Batin dua orang itu bersamaan.
"Ada apa?" Tanya Justin.
"Aku rasa dia demam" Jawab Kai cepat.
Justin dengan cepat memeriksa Natasya.
"Kau benar dia demam" Sahut Justin.
"Brengsek! Apa yang sudah dia lakukan sampai Anna demam" Umpat Kai.
Kali ini dia benar-benar marah. Dia kembali keluar kamar. Menuruni anak tangga dengan cepat. Dan satu pukulan langsung ia layangkan ke wajah Luis.
"Buuuughghh"
"Aaarrgghhh"
Bunyi punggung tangan Kai yang menghantam rahang kokoh Luis terdengar begitu menyakitkan. Bersamaan dengan ringisan Luis berusaha menahan rasa perih dan panas sekaligus.
"Apa yang kau lakukan padanya, ha?!!" Teriak Kai.
Luis hanya diam. Sebab memang dialah yang bersalah dalam hal ini. Membuat Natasya nekat menceburkan diri ke air terjun.
"Jawab pertanyaanku brengsek!" Desak Kai lagi.
Kai sudah bersiap menyerang lagi. Ketika Alena dengan cepat berteriak.
"Nona terjatuh di air terjun!"
Kai sontak memandang Alena. Sedang Alena langsung menunduk takut. Takut memandang wajah marah Kai.
"Kau lalai menjaganya?" Tanya Kai pada Alena.
"Jangan melibatkan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan ini" Balas Luis cepat.
Dia tidak mungkin melibatkan Alena dalam hal ini. Cukup tahu watak Kai yang akan langsung menghukum siapapun yang bersalah. Tidak peduli pria atau wanita.
"Haaa, ada cinta disini" Cibir Kai.
Luis dan Alena saling menatap.
"Jangan sembarangan. Memang dia tidak bersalah dalam hal ini" Bentak Luis.
"Hei kalian berhentilah berkelahi" Teriak Steven dari lantai dua.
"Bagaimana Anna?" Tanya Kai.
"Masih bisa diatasi. Justin sedang mengompresnya. Katanya akan lebih jika ada infus di sini" Ujar Steven santai.
"Aku ada" Sahut profesor Huang.
"Bisa tolong diambilkan Dokter" Pinta Steven sambil mengedipkan mata.
"Tunggu ....kalian bersekongkol?" Tuduh Luis melihat kedipan mata Steven ke Profesor Huang.
"Bersekongkol apa?" Tanya Steven balik.
"Bagaimana bisa kalian menemukan kami? Kalau bukan dia yang memberitahukan lokasinya" Tuduh Luis.
"Astaga Luis. Jangan suka menuduh orang sembarangan. Kamu sudah terlalu banyak menuduh orang yang tidak bersalah" Kembali Steven berkilah.
"Lalu bagaimana kalian menemukan kami" Luis benar-benar penasaran.
Dia pikir tidak akan ada orang yang tahu dia membawa Natasya ke sini.
"Oh come Brother. Kau tidak tahu siapa lawanmu kali ini" Tutur Steven lagi.
Disaat yang lain bersitegang. Justin dengan telaten mengompres Natasya.
"Hei, cepatlah bangun. Kalau tidak Nadya bisa membunuhku" Ucap Justin sambil meletakkan handuk basah di kening Natasya.
"Ini infusnya, Dokter" Profesor Huang sambil menyerahkan sebotol infus.
"Tiangnya tidak ada, Dok"
Mereka melihat sekeliling. Menemukan gantungan jaket di sudut ruang. Profesor Huang langsung mengambilnya. Menggantung infus di sana. Sedang Justin dengan cepat langsung memasangnya.
"Untung ada kit-nya sekalian" Ujar Justin lega.
Mereka saling menatap.
Hingga tiba-tiba suara tembakan terdengar. Membuat keduanya waspada. Justin sudah menarik pistol dari pinggangnya. Membuat Profesor Huang mendelik terkejut.
"Kau bisa menembak" Tanyanya shock.
"Aku bahkan punya lisensi untuk menembak" Jawab Justin santai. Dia menatap waspada ke arah pintu.
Terdengar suara langkah mendekat.
Braaakkk dan Ceklek,
Pintu terbuka dan tertutup sekaligus. Menampilkan wajah panik Alena.
"Apa yang terjadi?" Tanya Justin.
Sedang Alena sudah terlihat pucat dengan nafas tersengal-sengal.
*****