
Hari menjelang malam. Ketika Kai masuk ke ruang kerja Natasya. Dia rindu dengan gadis itu. Sejak hari itu, sejak hari di mana pernikahannya dengan Fanny diumumkan. Dan pertemuan tanpa sengaja mereka di mall kala itu. Kai tidak pernah lagi bertemu dengan Natasya.
Hati Kai sakit saat melihat bagaimana derasnya air mata gadis itu turun di pipinya. Dia menarik nafasnya pelan. Dia tidak peduli dengan apapun sekarang. Bahkan pernikahannya yang akan digelar akhir minggu depan pun tidak ia pedulikan.
Dia menolak sesi foto prewedding. Menolak fitting terakhir jas pengantinnya. Menolak semua yang berhubungan dengan pernikahannya dengan Fanny. Membuat semua orang menjadi marah. Tapi dia sama sekali tidak peduli. Akan lebih bagus jika dia didepak dari keluarga Hadiwinata, pikirnya.
Dia menghidupkan lampu di ruang kerja Natasya. Perlahan dia masuk. Dan duduk di kursi kerja yang biasa Natasya gunakan. Dia memejamkan matanya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Natasya yang masih tertinggal di sana.
Dua minggu tidak bertemu membuat Kai seperti orang gila. Bahkan sejak dia tidak berhasil mengejar Natasya, waktu dia bertemu di mall waktu itu. Membuat Kai bertambah gila. Kemana lagi dia harus mencari gadis itu.
Perlahan dia membuka matanya. Sedikit memicingkan matanya. Ketika dia melihat benda yang begitu dia kenal. Boneka teddy pink. Dia ingat terakhir kali Natasya memeluk erat boneka itu.
Perlahan diambilnya boneka itu dari rak disebelah kirinya.
"Apa kamu juga merindukan dia" Guman Kai pada boneka mungil itu.
Dipandanginya boneka itu. Hingga mata tajamnya menangkap sesuatu di balik pita yang terikat di leher boneka itu.
"Kalung?" Bisiknya lirih.
Perlahan di lihatnya kalung itu. Hingga kemudian dia menyadari sesuatu. Jantungnya berdebar semakin kencang.
Kalung berinisial AA itu. Dia sangat mengenalnya.
"Bawalah boneka ini. Anggap saja sebagai pengganti diriku waktu aku tidak ada. Dan kalung ini sebagai kenang-kenangan dariku. Aku akan mencarimu satu hari nanti" Ucap Kai kecil sambil melingkarkan kalung berinisial AA itu ke leher boneka teddy berwarna pink.
"Tidak mungkin jika Natasya adalah Anna" Guman Kai.
"Aku harus mencari tahu asal usul Natasya" Ucap Kai lagi.
Kai hanya tahu jika Natasya juga yatim piatu dan pernah tinggal di panti asuhan. Tapi tidak jelas di mana panti asuhan itu.
"Aku rasa ada orang yang memback-upnya Kak"
Ucapan Jason terngiang di kepalanya. Kai kembali mendudukkan dirinya di kursi kerja Natasya. Memeluk boneka mungil itu.
"Siapa yang paling dekat dengan Natasya saat ini" pikir Kai. Dia memejamkan matanya. Seolah memindai sesuatu. Hingga tiba-tiba satu nama terlintas di kepalanya. Kenapa dia begitu bodoh sampai tidak menyadari hal itu.
Kai setengah berlari. Menuju mobil Ferarrinya. Menghidupkan mesinnya lantas melajukan kuda jingkraknya menuju ke sebuah kawasan perkantoran di salah satu sudut ibukota.
"Halo selamat malam. Bisa saya bertemu dengan atasan Anda?" Ucap Kai melalui bluetooth headset-nya.
"...."
"Saya Kaizo Aditya"
"..."
Hening sejenak.
"Saya sedang menuju ke sana" Ucap Kai menutup sambungan teleponnya.
Sedang di sisi lain,
"Dia sedang menuju ke sini, Tuan" Ucap sang asisten.
"Baik, kau sambut saja dia. Kau tahu aku sudah lama menunggu hari ini tiba" Jawab pria itu.
Dan asisten itu perlahan mundur dari hadapannya.
"Halo Nak, dia sedang menuju kemari. Akhirnya dia menyadarinya"
"Jangan beritahukan keadaan Natasya Pa. Dia tidak ingin kak Kai tahu keadaannya"
"Baik jika itu yang Tasya inginkan"
"Setelah mendengar kebenarannya. Aku ingin tahu apa tindakanmu, Kai" Batin pria itu.
Tak berapa lama. Pintu dibuka. Dan masuklah asistennya diikuti Kai. Masih dengan memeluk boneka teddy pink milik Natasya.
"Selamat malam, tuan Marcellino Kusuma" Sapa Kai membuat tuan Marcellino Kusuma yang tak lain papa Jocelyn tersenyum.
"Selamat malam juga, Kaizo Aditya" Balas papa Jocelyn.
Dan setelah asistennya keluar, papa Jocelyn mempersilahkan Kai untuk duduk.
"Ada yang bisa Om bantu?" Tanya papa Jocelyn.
"Natasya Arianna" Ucap Kai. Matanya tajam menatap papa Jocelyn.
"Ada apa dengannya" Jawab papa Jocelyn santai.
"Aku ingin tahu semuanya tentang dia. Siapa dia sebenarnya? Aku ingin tahu" Ucap Kai.
Papa Jocelyn menarik nafasnya dalam.
"Baik akan aku ceritakan semuanya tentangnya" Jawab papa Jocelyn mulai serius.
Kai terdiam. Menanti papa Jocelyn memulai ceritanya.
"Natasya Arianna dan Nadya Arina adalah putri dari dari sahabatku Kevin Hadiwinata dan Celina Wulandari"
Dan Kai langsung membulatkan matanya.
"Ya, mereka cucu Wira Hadiwinata. Kakek angkatmu. Tapi karena pernikahan keduanya tidak disetujui kakek angkatmu. Membuat Wira Hadiwinata menolak mengakui kedua cucunya itu. Membuat keduanya berakhir di panti asuhan. Apalagi setelah itu kakek angkatmu memaksa Kevin untuk menikahi Sarah Amelia karena wanita itu hamil anak Kevin" Papa Jocelyn menjeda ceritanya.
Kai jelas terkejut mendengar fakta ini.
"Tapi bagaimana Bibi bisa hamil anaknya Om Kevin?" Tanya Kai heran.
"Kevin pernah bercerita kalau dia dijebak waktu itu. Dia dibuat mabuk. Dan tanpa sadar bercin** dengan Sarah" Jelas papa Jocelyn.
"Pantas saja waktu itu Fanny juga hampir melakukan hal yang sama padaku" Batin Kai.
"Mengetahui Kevin menikah dengan Sarah. Membuat Celina hancur. Dia ingin kembali ke keluarganya. Ingin membujuk sang ayah agar mau menerima kedua putrinya. Dia menitipkan kedua putrinya ke panti asuhan. Sebelum berencana menjemputnya kembali setelah mendapat persetujuan ayahnya. Namun semua itu tidak pernah terjadi. Karena Celina meninggal setelah tertabrak. Yang hingga kini penabraknya tidak pernah tertangkap" Papa Jocelyn kembali menjeda ceritanya.
"Mendengar kematian Celin. Kevin shock hebat. Keadaannya semakin buruk setiap hari. Hingga kami membawanya ke rumah sakit. Dari situlah kami tahu jika Kevin menderita leukemia. Dan dia menolak semua perawatan untuk menyembuhkan penyakitnya. Dia terlalu sedih dengan kematian Celina, hingga tidak ingat jika dia masih punya dua putri yang membutuhkannya. Dan seperti yang kita tahu Kevin akhirnya meninggal" Ucap papa Jocelyn sendu. Jelas dia begitu sedih dengan kematian sahabatnya.
Pun dengan Kai. Dia tidak menyangka jika kisah hidup Natasya sangat menyedihkan. Dia adalah cucu keluarga Hadiwinata yang tidak diakui. Dan kakek angkatnya malah memilih dirinya ketimbang mengakui cucu kandungnya.
"Lalu apakah Om tahu dimana panti asuhan Natasya dulu tinggal?" Tanya Kai. Hal ini yang sebenarnya dia ingin tahu.
"Dia dititipkan di panti asuhan Kasih Bunda"
Duaarrrr,
Kai shock, Natasya adalah Anna yang selama ini dia cari.
"Om tidak salah kan?" Tanya Kai lagi.
"Tentu saja tidak. Om yang selalu memantau keadaannya selama dia berada di sana"
Mata Kai berkaca-kaca.
"Aku menemukanmu, Anna. Aku menemukanmu" Batin Kai dengan mata berkaca-kaca.
"Om, apa tahu di mana dia sekarang?" tanya Kai.
"Dia tidak ingin bertemu denganmu"
"Apa dia baik-baik saja? Apa dia marah padaku? Aku sudah mengecewakan dia Om. Aku mengambil tempatnya di keluarga Hadiwinata. Aku banyak berbuat salah padanya. Tidak bisakah Om membujuknya untuk bertemu denganku"
Papa Jocelyn terdiam. Bisa dia lihat jika Kai sangat menyesal. Juga sangat bersedih.
"Kamu tahu bagaimana dia kan?"
Dan Kai mengangguk.
"Dia pasti sangat membenciku"
"Tidak. Dia tidak membencimu. Dia hanya tidak ingin kehadirannya membuatmu memutuskan membatalkan pernikahanmu dengan Fanny"
"Aku akan membatalkannya jika aku bisa. Biarkan aku bicara padanya Om. Aku ingin mendengar sendiri dari bibirnya apa yang dia inginkan. Apa yang dia mau"
"Om tidak bisa membantu Kai. Tapi Om rasa, dia tidak ingin kamu membatalkan pernikahanmu dengan Fanny. Satu hal yang pasti, dia tidak pernah membencimu. Tapi kakeknya, dia sangat membencinya"
Sejenak Kai terdiam. Dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui. Pikirannya masih sibuk mencerna semua cerita papa Jocelyn.
Hingga kemudian mata Kai menangkap sebuah bingkai gambar di atas meja kerja papa Jocelyn.
"Itu siapa Om?"
"Inilah foto keluarga Natasya yang terakhir sebelum tragedi itu terjadi"
Kai memperhatikan foto itu. Kevin dan dua orang gadis kecil yang ia duga Natasya dan Nadya. Dan seorang wanita yang kembali membuatnya terkejut.
"Ini ibunya Natasya?" Tanya Kai.
"Iya, kenapa?"
Kai langsung menatap papa Jocelyn tajam.
"Om bilang dia meninggal karena ditabrak. Dan penabraknya tidak pernah tertangkap sampai saat ini?" Tanya Kai.
"Iya kenapa?"
"Aku tahu Om siapa yang menabraknya" Ucap Kai.
Papa Jocelyn kini yang berganti menatap Kai tajam.
****
Up lagi readersku tercinta,🤗🤗🤗
Semua misteri sudah terungkap ya readers,
Thank's sudah mampir,
Jangan lupa di like dan ritual lainnya. Author tunggu lo,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
****