
Natasya terkekeh dalam hati. Ketika mengikuti Nek Lastri masuk kedalam pasar. Dia yang sama sekali belum pernah belanja sekarang harus ikut Nek Lastri belanja di pasar. Pasar tradisional lagi. Bukan di supermarket. Seperti yang ia jumpai di ibukota.
Walaupun pasar itu terlihat bersih dan rapi tetap saja ini pengalaman pertama bagi Natasya.
All kredit google.com
Natasya benar-benar excited dengan dengan perjalanannya kali ini. Nek Lastri menuju salah satu kios yang menjual berbagai macam barang kelontong. Penjual itu sepertinya sudah kenal dengan Nek Lastri. Dilihat dari cara mereka berbicara.
"Kados biasane mbah?" Tanya pedagang itu.
(Seperti biasanya, Nek?)
"He e. Kopine karo pop mie ne ditambahi. Sesuk rak dino minggu to. Mbok menowo rame" Jawab Nek Lastri.
(Iya, kopi sama pop mie-nya ditambah. Besok kan hari Minggu. Siapa tahu ramai)
Sunggu Natasya tidak paham sama sekali dengan bahasa mereka. Masak iya dia harus googling sekarang agar paham apa yang mereka bicarakan.
Teringat googling Natasya baru sadar jika dia belum membeli sim card untuk ponselnya. Tak lama Nek Lastri selesai belanja. Dua kardus belanjaan Nek Lastri.
"Sini Nek saya bawain" Pinta Natasya. Membuat penjual kios itu sadar kalau Nek Lastri tidak sendiri.
"Haduh simbah ki duwe putu ayune ra jamak kok yo ra dikenalke aku to" Balas penjual itu.
(Aduh Nenek ini punya cucu cantik banget kok nggak dikenalin ke saya)
Natasya jelas melongo tidak paham sama sekali. Hingga Nek Lastri membisikkan apa yang baru saja dikatakan oleh pedagang itu. Natasya langsung mengembangkan senyumnya mendengar ucapan pedagang itu.
"Terima kasih sudah mengatakan saya cantik" Ucap Natasya pada pedagang itu.
"Wo la wong adoh to. Pantes ra dong diajak ngomong Jowo" Jawab pedagang itu.
(Wo la orang jauh to. Pantas tidak mengerti diajak bicara bahasa Jawa)
"Oh fix aku harus googling belajar bahasa Jawa" Batin Natasya.
"Sudah-sudah aku bali sek. Sesuk blonjo dene neh" Pamit nek Lastri.
(Sudah-sudah. Aku pulang dulu. Besok belanja ke sini lagi)
"He e mbah. Matur nuwun. Mbaknya salam kenal ya" Ucap pedagang itu centil.
(He e Nek. Terima kasih. Mbaknya salam kenal ya)
Natasya mengulum senyumnya mendengar ucapan pedagang itu.
"Dasar wong edan" Gerutu Nek Lastri.
(Dasar orang gila)
"Ini sudah Nek belanjanya" Tanya Natasya.
"Iyo nduk" Jawab Nek Lastri.
"Makan dulu Nek. Aku lapar. Dari tadi pagi belum makan"
"Iyo-iyo. Mau makan apa?" Tanya Nek Lastri.
"Apa saja Nek saya nggak pemilih kok. Asal jangan disuruh masak. Saya nggak bisa" Ucap Natasya sambil nyengir.
"Wuu, ayu-ayu kok ra iso masak"
(Cantik-cantik kok nggak bisa masak)
Natasya menggaruk-nggaruk kepalanya.
Kemudian keduanya makan di warung nasi rames yang ada di sekitar pasar itu. Dan keduanya kembali berdebat. Siapa yang akan membayar makanannya.
"Gantian wong tadi becaknya kamu yang bayar" Ucap Nek Lastri.
"Wis mbak nuruto karo wong tuwo" Akhirnya pedagang nasi rames itu menengahi.
(Sudah Mbak menurut saja sama orang tua"
Natasya bisa apa lagi. Setelah itu Natasya kembali masuk ke pasar. Membeli beberapa baju ganti dan pakaian dalam. Mengingat dia kabur tanpa membawa baju. Namun saat melihat pakaian dalam yang dijual dipasar itu. Natasya sedikit mengerutkan dahinya.
"Aku terbiasa pakai merek itu. Dan kulitku jenis yang sensitif. Masalah tidak ya jika aku pakai bahan seperti ini" Batin Natasya.
Seolah tahu dengan isi pikiran Natasya pedagang itu lantas bertanya. Karena dilihatnya juga jika Natasya bukan berasal dari kalangan biasa.
"Mbaknya biasa pake merk apa?" Tanya pedagang itu yang langsung memakai bahasa Indonesia.
"Emang merk ****** ada Bu?"
"Oh ada Mbak. Ini mbaknya bisa pilih dulu. Biasa pakai ukuran berapa?" Tanya pedagang sambil mengambil satu dus pakaian dalam yang Natasya maksud.
"Saya biasa pakai ukuran...." Natasya berbisik pada pedagang itu.
"Oh kayaknya ada deh Mbak"
Dan detik berikutnya Natasya sudah memilih 4 set pakaian dalam. Dan beberapa daster karena terlihat menarik. Beberapa celana pendek. Kaos dan sebuah kemeja yang menarik perhatiannya. Sementara Nek Lastri duduk sambil menunggu Natasya berbelanja.
Keduanya keluar dari pasar setelah Natasya membayar belanjaannya.
"Habis ini mau kemana nduk?" Tanya Nek Lastri.
"Mau cari hotel apa penginapan. Nenek tahu dimana?" Jawab Natasya.
"Kalau nduknya mau. Tidur di rumah Nenek mau. Ada satu kamar kosong dirumah Nenek" Tawar Nek Lastri.
"Beneran ada, sama boleh tidur di tempat Nenek" Jawab Natasya antusias.
"Mau banget Nek" Jawab Natasya membuat Nek Lastri tersenyum.
"Yo wis ayo bali. Golek bis dhisik"
(Ya sudah ayo pulang. Tapi cari bis dulu)
Natasya mengangguk. Lalu mengikuti Nek Lastri menunggu bus di tepi jalan. Setelah sebelumnya Natasya membeli handuk, peralatan mandi. Dan tak lupa sim card. Meskipun petugas counter itu harus bersusah payah memasang sim card itu ke ponsel Natasya.
Mereka mengatakan belum pernah melihat ponsel seperti Natasya punya.
"He he, ya iyalah itu kan hadiah dari Kai ketika aku bangun dari komaku. Made in Singapura limited edition pula tu" Batin Natasya.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah duduk di dalam bus. Yang akan mengantarkan mereka ke rumah Nek Lastri. Hampir setengah jam mereka menaiki bus itu. Hingga kemudian Nek Lastri mengajak Natasya turun.
Ketika turun. Seorang pemuda nampak sudah menunggu Nek Lastri. Dengan raut wajah marah yang jelas terlihat di wajahnya.
"Seko ngendi wae to. Ming blonjo kok suwe temen. Aku ki selak arep dolan karo kancaku. Malah kon ngenteni suwene ra umum" Gerutu pemuda itu.
(Darimana saja. Hanya belanja kok lama sekali. Aku ini mau pergi dengan temanku. Malah disuruh nunggu lama sekali)
Meski tidak paham bahasanya namun Natasya tahu kalau pemuda itu sedang memarahi Nek Lastri.
"Hei kalau ngomong sama orang tua yang sopan ya!" Salak Natasya.
Membuat pemuda itu sadar kalau neneknya itu tidak sendiri. Pemuda itu sedikit tertegun melihat Natasya.
"Busyet, ayu tenan cewek iki. Sopo yo kok iso bareng simbah" Batin pemuda itu.
(Busyet, cantik sekali wanita ini. Siapa ya kok bisa sama Nenek)
"Eh bukan urusanmu. Ini Nenekku. Kamu siapa?" Tanya pemuda itu yang ikut menggunakan bahasa Indonesia.
"Tentu saja jadi urusanku. Tidak sopan sama nenek sendiri" Jawab Natasya.
"Alah wis wis. Gus iki digawa balik kono. Aku tak mlaku karo nduk iki" Ucap nek Lastri sambil memberikan kardus belanjaannya kepada pemuda itu.
(Sudah-sudah. Gus ini dibawa pulang sana. Aku mau jalan sama gadis ini)
Mendengar hal itu pemuda itu mendengus kesal.
Disisi lain,
Kai masuk ke rumah keluarga Atmaja dengan langkah gontai. Dia pikir seharusnya hari ini jadi hari yang bahagia untuknya dan Natasya. Karena hari ini dia sebenarnya berencana untuk melamar Natasya. Tapi gadis itu malah memilih untuk kabur lagi darinya.
"Mana kakak?" Tanya Nadya heran melihat Kai pulang sendiri.
"Dia kabur lagi" Jawab Kai singkat.
Membuat Nadya dan tuan Atmaja terkejut.
"Kabur bagaimana maksudmu?" Tanya tuan Atmaja.
"Ini.." Ucap Kai sambil menyerahkan kertas yang dia temukan di mobil Natasya.
Tuan Atmaja dan Nadya membaca kertas itu. Ada raut khawatir di wajah mereka.
"Dia tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya tuan Atmaja.
"Menurut analisaku sih dia baik-baik saja. Hobi sekali dia main kabur-kaburan. Lihat saja besok kalau dia pulang akan aku seret langsung dia ke altar. Biar tidak bisa lari lagi. Bikin gemas saja" Gerutu Kai kesal.
Sedang Nadya dan tuan Atmaja langsung tersenyum mendengar ucapan Kai.
"Itu sih kebelet kawin namanya kak" Ledek Nadya.
"Aiihh bocah ini malah meledekku" Balas Kai kesal.
Tuan Atmaja dan Nadya tertawa mendengar keluhan Kai. Hal itu bersamaan dengan ponsel Kai yang berbunyi.
"Ya, Thomas" Jawab Kai.
"..."
"Seriuskah?"
"...."
"Oke-oke. Aku dan Leo akan terbang ke sana"
"...."
"Malam ini?"
"..."
"Oke aku akan menunggu Leo meenjemputku"
Kai menutup teleponnya.
"Ada masalah?" tanya tuan Atmaja.
"Iya ada sedikit masalah dengan perusahaan IT-ku. Aku akan terbang malam ini juga" Ucap Kai.
Nadya dan Tuan Atmaja mengangguk.
Tiiing,
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Kai membacanya. Lantas mengerutkan dahinya.
"Bisakah kakak melepas gelang yang ada di tangan kakak? Aku akan jelaskan ketika kakak sudah sampai di sini"
Bunyi pesan itu.
***