You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 103



Kai baru saja mematikan laptopnya ketika didengarnya tawa cekikikan Natasya. Pria itu masih berada di kamar Natasya. Sepertinya enggan kembali ke kamarnya.


Perlahan didekatinya Natasya yang tengah menonton drama seperti biasanya. Sejenak Kai terdiam. Natasya menonton drama sambil tengkurap. Memakai piyama. Tapi cukup menunjukkan betapa sempurnanya tubuh bagian belakang gadis itu.


"Nonton apa sih?" bisik Kai dibelakang telinga Natasya.


Membuat gadis itu terkejut. Reflek memalingkan wajahnya. Yang hasilnya membuat dirinya mencium pipi Kai.


"Iisssh Kakak ini ngagetin aja" umpat Natasya.


Sedang yang diumpat malah tersenyum. Merebahkan tubuhnya disamping Natasya dengan posisi tengkurap. Setengah memeluk tubuh gadis itu.


"Kak....." rengek Natasya.


Merasa terganggu dengan posisi Kai seperti itu.


"Kenapa?" tanya Kai.


"Risih...." bisik Natasya.


Kai menarik sudut bibirnya.


"Mudah sekali menggodamu" bisik Kai lagi.


"Jangan mulai deh" larang Natasya.


"Kenapa?" pria itu malah menatap Natasya dengan posisi kepalanya disangga satu tangannya.


"Au aaahhh. Balik sana ke kamar Kakak" usir Natasya.


Lama-lama dia bisa hilang kendali jika meladeni keusilan tunangannya.


"Ogah. Aku mau tidur disini" ucap Kai.


"Yah sama saja dong eike minta kamar sendiri. Kalau Kak Kai tetep tidur di sini" omel Natasya.


"Terserah akulah, ini kan rumahku" narsis Kai.


"Iya-iya aku cuma numpang di sini" ucap Natasya kesal.


Mata gadis itu tak lepas dari laptopnya. Membuat Kai penasaran.


"Iisss nonton apa sih? Sampai aku dicuekin" ucap Kai lantas ikut menonton drama di laptop Natasya.


"Kayak itu aja suka. Masih gantengan aku kali" kesal Kai.


Natasya hanya diam. Tidak menanggapi kekesalan Kai. Merasa diabaikan Kai langsung menutup laptop Natasya. Menyingkirkannya dari hadapan Natasya.


"Kak apaan sih? Aku belum selesai nonton" protes Natasya.


"Tidak ada lagi nonton drama!" tegas Kai.


Membuat Natasya langsung memanyunkan bibirnya. Detik berikutnya Kai melepas kaosnya. Lalu merengkuh tubuh Natasya ke dalam pelukannya.


"Tidurlah....."


"Masih mau nonton...."


"Tidak boleh!"


"Menyebalkan"


****


Pagi berganti. Hari itu sebenarnya Kai tidak ada jadwal apa-apa. Hanya saja semalam Thomas baru saja sampai dari Singapura. Meleset jauh dari jadwal semula. Karena Thomas harus menyelesaikan semua pekerjaannya. Sebelum dihandle oleh Ronny. Asistennya.


"Jadi...kamu mau aku stay di sini. Menjadi wakilmu di Liu Corp. Begitu?" tanya Thomas.


"Bukankah kamu sudah lama ingin tinggal di sini?" Kai balik bertanya.


"Iya sih. Tapi Liu Corp terlalu besar untukku. Apalagi asetmu tiga puluh persen lebih" keluh Thomas.


"Sepupuku akan membantumu. Ada Han dan juga Chen yang akan membantumu juga" bujuk Kai.


Thomas menarik nafasnya dalam.


"Profitku setiap tahun tiga puluh persen akan masuk ke rekeningmu. Bagaimana?" tawar Kai lagi.


Thomas langsung membulatkan matanya.


"Yang benar?" tanya Thomas tidak percaya.


Kai mengangguk.


"Jangan salahkan aku jika dalam sepuluh tahun ke depan aku sama kayanya denganmu" narsis Thomas.


"Aku tunggu hari itu" tantang Kai.


"Jadi apa schedule apa hari ini?"


"Free. Aku masih menunggu berkas pengalihan nama yang harus aku tanda tangani. Pangacara Hong masih mengurusnya"


Thomas manggut-manggut.


"Kau tidak ingin stay di sini? Di sini rumahmu. Keluargamu ada di sini" tanya Thomas.


"Aku tidak bisa meninggalkan Jakarta"


Kai mengangguk.


"Jangan khawatir aku akan sering-sering menengokmu di sini. Kau tinggal saja di sini. Ada belasan kamar. Kamu bisa pilih mau kamar yang mana. Kau sudah seperti saudara bagiku" ucap Kai.


"Thank's Bro" ucap Thomas.


Mereka masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing ketika pintu diketuk.


"Ya.."


"Maaf Tuan Muda. Tuan Wu dan putrinya ingin bertemu" ucap kepala pelayan.


"Suruh mereka masuk" ucap Kai dingin.


Thomas langsung berdiri dan menempatkan dirinya di samping Kai.


Tak lama seorang pria paruh baya dan seorang gadis cantik masuk ke ruang kerja Kai. Begitu masuk, gadis itu langsung menatap penuh kekaguman kepada Kai.


"Tuan Wu apa kabar? Silahkan duduk" ucap Kai basa basi. Sambil berjabat tangan.


"Aahh kabar baik Tuan Muda" ucap tuan Wu.


"Baguslah kalau begitu" ucap Kai dingin.


"Aa dan ini aku perkenalkan putriku yang paling cantik. Namanya Janice Wu. Dia cantik bukan?" ucap tuan Wu penuh percaya diri.


"Cantik? Di Singapura banyak yang jauh lebih cantik" batin Thomas tersenyum smirk.


"Halo Kak. Namaku Janice. Senang bertemu denganmu" sapa Janice Wu dengan nada selembut mungkin.


Bermaksud mengulurkan tangan untuk mengajak berjabat tangan. Namun Kai tidak menanggapinya.


"Jadi apa maksud kedatangan tuan kemari?" tanya Kai.


Raut wajah tuan Wu berubah serius.


"Apa maksud Tuan Muda Eric menolak perjodohan dengan putri kami? Bukankah itu adalah hal yang sudah disepakati sejak lama" ucap tuan Wu tanpa basa basi.


"Yang menyepakati perjodohan itu adalah pihak Anda. Itu hanya kesepakatan sepihak. Lagipula saya berhak untuk menolak perjodohan ini" jawab Kai.


"Tapi bukankah dulu pihak Anda juga setuju dengan perjodohan ini?" kekeuh tuan Wu.


"Saya tidak tahu Anda membuat kesepakatan dengan siapa dari pihak kami. Yang jelas saya menolak perjodohan ini" jawab Kai tegas.


Sedang Janice Wu benar-benar tidak bisa berhenti menatap wajah tampan Kai.


"Kalau tahu dia begini tampan. Uuhh aku tidak akan mau dengan yang lain" batin Janice Wu. Bertekad kalau Kai haruslah jadi miliknya.


"Menjijikkan sekali. Seperti kucing melihat ikan saja. Lihat saja air liurnya hampir menetes menatap wajah bos Kai" batin Thomas mengulum senyumnya.


"Apa Anda tahu resikonya jika menolak perjodohan ini?" tanya tuan Wu.


"Saya merasa tidak memiliki resiko apapun dengan menolak perjodohan ini" lagi-lagi Kai menjawab dingin.


"Keluarga Liu tidak akan menang melawan klan Tan dan Wang. Jika kau bersikeras menolak perjodohan ini" ancam tuan Wu.


"Benarkah? Memangnya apa yang bisa mereka lakukan untuk melawanku?" tantang Kai.


"Sial. Anak muda ini benar-benar tidak takut dengan ancamanku" kesal tuan Wu.


Kai hanya menatap tajam pada tuan Wu. Sama sekali tidak tertarik untuk melihat Janice Wu yang sejak tadi berusaha menarik perhatian Kai.


"Murahan sekali trik yang kalian gunakan. Kalian pikir bosku akan tergoda dengan putrimu itu. Ciiih percaya diri sekali. Belum tahu seperti apa tunangan bos Kai" batin Thomas.


"Tuan Wu sekali lagi saya tegaskan kalau saya menolak perjodohan dengan putri Anda. Karena saya tidak mencintai putri Anda. Jadi sudah jelas bukan? Kalau tidak ada hal lainnya silahkan Anda keluar dari sini. Saya cukup sibuk hari ini" usir Kai.


Tuan Wu jelas marah.


"Dengar Tuan Muda Liu saya tidak terima dipermalukan seperti ini. Lihat saja saya akan membuat kamu menikah dengan putriku" ucap tuan Wu emosi.


"Baik akan aku tunggu bagaimana caramu membuatku menikahi putrimu" ucap Kai sambil memiringkan wajahnya menatap wajah Janice.


Yang langsung membuat wajah Janice memerah. Saking senangnya akhirnya ditatap oleh Kai.


"Kita lihat saja Tuan Muda Liu" ucap tuan Wu lantas menarik tangan putrinya keluar dari ruangan Kai.


"Perang lagi bos" ucap Thomas setelah kedua orang itu berlalu dari hadapan mereka.


"Yeah perang kecil. Dia berani mengancamku untuk menikahi putrinya. Jangan mimpi!" jawab Kai.


"Lalu tindakan kita?"


"Kau tahu klan Tan dan Wang mempunyai kerjasama dengan kita kan. Gunakan itu untuk mencegah mereka mendukung Wu Yi Tian"


"Klan Tan dan Wang hampir enam puluh persen memakai software kita. Jika kita mengancam mereka habislah mereka"


"Bingo"


"Karena itu bos tidak takut dengan ancaman Wu itu"


"Absolutly not. Wu Yi Tian tidak ada apa-apanya tanpa dukungan dari klan Tan dan Wang" tambah Kai.


Baik Kai maupun Thomas tersenyum smirk hampir bersamaan. Pasangan bos dan asisten itu memang terlihat menyeramkan jika sudah menunjukkan sisi devil mereka.


*****