You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 32



Hari berganti, dan hari ini Natasya mulai melakukan pemeriksaan awal. Mengenai indikasi leukemia yang mungkin dia derita.


Hera dan Evan sudah pulang untuk kembali bekerja. Hera sempat bersikeras akan berhenti bekerja. Untuk menemani Natasya selama dirumah sakit.


Tentu saja hal itu ditentang Natasya.


"Jalani hidup kalian seperti biasa. Temani aku jika kalian ada waktu luang"


"Tapi Sya, kamu akan sendirian di sini"


"Siapa bilang. Akan ada banyak orang di sini. Lagian ada banyak tes yang harus aku lalui. Akan ada banyak dokter dan perawat di sini. Jangan khawatirkan aku. Jangan membuatku semakin bersalah dengan keadaanku" ucap Natasya pada akhirnya.


Dan akhirnya baik Hera dan Evan mengurungkan niatnya untuk berhenti bekerja.


"Memangnya tabungan mereka sudah setinggi gunung apa.Sok-sok an mau berhenti kerja. Dipikirnya aku sanggup apa menghidupi mereka kalau mereka berhenti bekerja. Ini saja hutangku sudah menumpuk" omel Natasya.


Membuat seorang perawat yang tengah mengambil sample darahnya tersenyum.


"Jangan marah-marah mbak. Nanti tensi naik lo" ingatkan perawat itu.


"Sorry mbak"


Tak lama Jocelyn masuk.


"Sudah siap?" tanyanya pada perawat itu.


"Sudah Dok. Dua sample darah siap dikirim ke lab Profesor Herini" lapor perawat itu.


"Terima kasih" ucap Jocelyn.


"Satu sample darahmu untuk pengecekan umum. Seperti kadar gula, kolesterol dan yang lainnya. Sebagai data pendukung dalam pemberian terapi obat jika diperlukan" Jocelyn mulai menjelaskan.


"Satu lagi untuk tes hitung darah lengkap ( complete blood account). Ini penting untuk mengetahui berapa jumlah darah putih di tubuhmu. Ini yang akan menentukan kondisi penyakitmu yang sesungguhnya. Ditambah besok kamu harus menjalani tes sumsum tulang belakang (Bone Narrow Puncture) dan tes pencitraan. Dan kalau perlu kamu akan menjalani terapi radioaktif jika kamu harus melakukan stem cell" tambah Jocelyn.*


*Sumber hellosehat.com


"Terserah Jo. Aku follow pengaturanmu" ucap Natasya pasrah.


"Dan kalau kamu ikut pengaturanku. Jangan banyak pikiran. Itu yang penting" ucap Jocelyn lagi.


"Iya-iya Bu" ucap Natasya.


"Aku pergi dulu. Lakukan apapun yang kamu mau. Kamu bisa keluar jika kamu mau. Asal beritahu aku atau perawat yang bertugas. Ada baju bukan pasien di lemarimu" pesan Jocelyn.


"Iya-iya bu Dokter" jawab Natasya.


Dan karena Natasya belum bosan di kamarnya. Dia akhirnya membuka ponselnya. Yang nomornya sudah dia ganti. Dia tidak ingin orang-orang yang tidak dia inginkan mengetahui keadaannya. Terutama Kai dan Nadya.


Kai...Natasya menarik nafasnya pelan mengingat nama itu. Dia adalah kak Aditnya. Orang yang sudah lama dicarinya. Ternyata dia begitu dekat dua bulan ini. Hidup memang lucu terkadang.


Sesaat ingatannya kembali ke hari di mana kak Adit-nya diadopsi. Dan Natasya seketika membulatkan matanya. Dia ingat betul wajah laki-laki yang mengadopsi kak Adit-nya. Dan laki-laki itu adalah kakeknya sendiri.


"Ah bodohnya aku. Sejak awal harusnya aku tahu kalau kak Adit-nya menjadi cucu keluarga Hadiwinata" guman Natasya.


Dan Natasya kembali merutuki kebodohannya karena benar-benar tidak tahu pemilik dari HD GROUP yang sudah jelas adalah singkatan dari Hadiwinata Group.


"Bodoh..bodoh...bodoh" umpatnya pada dirinya sendiri.


Dia melirik ke kanan dan kirinya. Mencari sesuatu yang biasa ada bersamanya.


"Teddy pink-ku di mana? Perasaan aku kemarin membawanya. Apa tidak aku bawa ya. Lalu dia tertinggal di mana?" guman Natasya lagi.


Kalau dia menghubungi Lisa. Pasti dia akan bertanya dimana dia. Dan dia belum menyiapkan kebohongan untuk hal itu.


Meninggalkan Natasya yang sedang memulai perawatannya. Kai semakin uring-uringan tidak jelas. Setiap hari ada saja hal yang membuatnya marah.


Ditambah lagi tekanan dari kakeknya agar bersikap baik pada Fanny. Dan yang membuat Kai semakin marah adalah pernikahan dirinya dan Fanny akan dilaksanakan dalΓ m tiga minggu lagi.


"Leo!! Bunuh aku sekarang juga!!" teriaknya pada Leo saking frustrasinya.


"Bos jangan gampang banget minta mati. Di luar sana banyak yang berjuang buat hidup" ucap Leo.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku bisa gila jika menikah dengan Fanny" teriak Kai.


"Bos kan kemarin ketemu Hera. Bagaimana hasilnya?" tanya Leo.


"Dia bilang Tasya lagi liburan"


"Ke mana?"


"Dia bilang rahasia"


"Bos tidak curiga dia sedang berbohong" ucap Leo membuat Kai berpikir.


Ya, Hera adalah satu-satunya teman dekat Natasya. Jika Hera tahu berita tentangnya. Sudah pasti Hera akan melindungi Natasya. Menyembunyikan gadis itu. Atau merahasiakan di mana gadis itu berada. Naluri alami seorang teman.


Tak lama setelah Leo keluar dari ruangannya. Fanny masuk. Kai menghela nafasnya dalam. Hanya melirik Fanny sekilas.


"Kak..." panggil Fanny manja. Membuat Kai memutar malas matanya.


Kai sebenarnya tidak benci dengan Fanny.Hanya saja sikapnya yang kekanak-kanakan benar-benar membuatnya muak. Berapa kali Kai menolaknya tapi gadis itu tetap tak bergeming. Selalu datang lagi dan datang lagi. Gadis itu terlihat sangat bahagia dengan rencana pernikahan ini.


"Kak.." panggil Fanny lagi.


"Ada apa?" jawab Kai dingin.


"Hari ini ada pengukuran untuk baju pengantin kita. Kita harus datang ke butik siang nanti" ucap Fanny. Berharap Kai memberi perhatian pada pernikahan mereka.


"Aku tidak tertarik. Pakai saja ukuran standar. Tubuhku tubuh model. Pasti ukurannya sama dengan ukuran para model pada umumny" ucap Kai tidak peduli.


"Tapi kak..." Fanny ingin membantah tapi Kai sudah memotong ucapannya.


"Kau yang ingin sekali menikah kan? Jadi siapkan saja pesta pernikahannya sesuai keinginanmu. Aku akan ikuti semua seleramu. Aku akan ikuti semua pilihanmu. Lagipula bukankah aku sudah kehilangan hakku untuk memberi pendapat" ucap Kai lagi-lagi membuat Fanny hampir menangis.


"Jangan menangis di hadapanku Fanny. Airmatamu tidak akan mempan padaku" ucap Kai lagi.


Inilah Kai yang sebenarnya. Dingin dan tidak berperasaan. Hanya pada orang tertentu saja dia bisa bersikap manis dan lembut.


Dan ucapan Kai seolah menyiratkan kalau dia sama sekali tidak ingin dibantah. Membuat Fanny dengan langkah lemas meninggalkan ruangan Kai.


Dan siang itu Fanny dan ibunya mendatangi sebuah butik terkenal di sebuah mall di kawasan Jakarta Pusat.


Setelah sedikit berbasa basi bahwa sang calon pengantin pria sangatlah sibuk dan tidak bisa datang untuk mengukur baju pengantinnya. Pengukuran baju itu berlangsung lancar.


Dan sang pemilik butik akan langsung mengerjakannya karena waktu yang tersisa tak lebih dari dua minggu.


Fanny sedang menikmati kopinya. Ketika dia melihat sosok yang sangat dibencinya akhir-akhir ini. Dia lantas mengejar sosok itu yang tak lain adalah Natasya. Sementara sang ibu, Sarah harus segera kembali ke kantor. Dan membiarkan Fanny menikmati waktunya sendiri.


Padahal rencana awalnya Fanny ingin berjalan-jalan berdua dengan Kai setelah sesi ukur baju pengantin mereka selesai. Tapi apalah daya. Kai menolak ikut sesi ukur baju pengantin mereka. Membuat Fanny gigit jari dibuatnya.


"Tunggu dulu!" teriak Fanny begitu berhasil mengejar Natasya.


Natasya berbalik dan melihat Fanny, sang adik tiri berdiri di depannya dengan wajah angkuhnya.


"Ya?" jawab Natasya.


"Ada yang ingin aku bicarakan" ucap Fanny cepat.


"Apa?" tanya Natasya singkat.


Sejenak ditatapnya wajah Fanny. Atau ayahnya memberi nama Tania. Tania dan Nadya memiliki wajah yang mirip. Hingga jika keduanya disandingnya akan terlihat seperti anak kembar. Apalagi umur keduanya juga tidak beda jauh.


"Jauhi Kak Kai. Dia akan menikah denganku tiga minggu lagi" ucap Fanny merasa menang.


Bukannya menjawab Natasya malah tersenyum.


"Ayah ingin kamu bisa menjaga kedua adikmu. Terlebih Tania. Mungkin nanti sifatnya akan sedikit berbeda dengan kalian mengingat ibunya mendidiknya menjadi anak yang manja"


Sekilas pesan sang ayah terbersit di pikirannya.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Natasya lembut.


"Kenapa kau menanyakan hal itu. Tentu saja aku sangat mencintainya" jawab Fanny penuh percaya diri.


Satu kalimat yang membuat mata Natasya berkaca-kaca.


"Tentu saja kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikmu. Jika tidak, sekuat apapun kamu berusaha mengejarnya. Dia tetap tidak akan jadi milikmu. Silahkan kalian menikah. Aku tidak akan menghalangi kalian"


Ucap Natasya sambil berlalu dari hadapan Fanny. Perkataan Natasya membuat Fanny terdiam. Hati kecilnya terusik dengan perkataan Natasya.


Sedang sang kakak langsung masuk ke area tangga darurat. Langsung menangis hebat di sana.


"Sebegitu beratnyakah mencintai seorang Kai Aditya" bisik hati Natasya pelan.


Dia sama sekali tidak ingin menghalangi pernikahan Kai dan Fanny. Jika itu bisa membuat Fanny bahagia. Tidak masalah jika dia yang harus menderita karena tetap tidak bisa melepaskan cintanya pada Kai.


Tapi dia sungguh tidak menduga jika sakitnya akan seperti ini. Mendengar adik sendiri meminta dia menjauh dari orang yang dicintainya. Walaupun Natasya memang ingin melakukannya. Menjauh atau bahkan kalau bisa menghilang dari hadapan Kai.


***


Up lagi readers tercinta,


Thank's sudah mampir,


Happy reading everyone,


Love you all 😘😘😘😘


****