
Natasya tampak menggerakkan tubuhnya pelan. Sejenak dia meringis. Tubuhnya lelah sekali. Kai benar-benar membuktikan ucapannya waktu itu. Soal jika sudah tiba waktunya. Kai akan menghajar dirinya semalaman.
"Sepertinya benar jika aku tidak akan bisa berjalan hari ini" gumannya pelan.
Setelah menyadari sang suami tidak ada disampingnya. Semalam setelah Kai berhasil menerobos miliknya. Mengambil kehormatannya. Pria itu hanya memberinya jeda sekitar satu jam. Setelah rasa perih sedikit berkurang. Kai terus memacu tubuhnya. Tanpa lelah. Hingga hari beranjak pagi. Kai baru menghentikan semua aksinya.
"Oohh staminanya benar-benar gila" gumannya lagi. Memiringkan tubuhnya lantas mencoba memejamkan matanya kembali.
"Kamu sudah bangun" tanya Kai yang datang dari arah depan. Nampak membawa nampan makanan.
"Belum. Aku mau tidur lagi. Aduuhh rasanya" keluh wanita itu.
Kai terkekeh. Dia memang mengakui semalam benar-benar hilang kendali. Bagaimana dia tidak hilang kendali. Melihat tubuh polos nan sek** sang istri membuat has*** dan gai***nya seolah tidak pernah terpuaskan. Apalagi ketika tahu kalau dia adalah yang pertama untuk Natasya.
"Terima kasih sudah menjaganya untukku" ucap Kai mencium lembut kening Natasya.
"Aku menjaganya untuk siapa saja yang menjadi suamiku kelak. Eh ternyata kakak yang kebetulan jadi suamiku" jawab Natasya masih dengan mata tertutup.
"Kamu menyesal menikah denganku?" tanya Kai.
"Siapa juga yang akan menyesal dapat suami seperti kakak. Ganteng, tajir, hebat lagi diranjang. Mau cari dimana coba suami model begini"
"Aku terima pujianmu untukku" kekeh Kai.
"Narsis bener"
"Jadi kamu mengakui kalau aku hebat di ranjang"
"Eemm hebat, hebat. Sampai remuk semua tulangku" kembali Natasya mengeluh.
"Mau lagi?" goda Kai.
"Kak...." rengek Natasya. Wanita itu langsung memanyunkan bibirnya.
Kai tertawa. Merasa puas bisa menggoda sang istri.
"Aku hanya bercanda. Makan dulu. Isi tenaga. Siapa tahu nanti bisa tambah ronde lagi" kembali Kai menggoda Natasya.
"Ogah ah. Mending aku tidur lagi. Kalau ujung-ujungnya minta lagi" Natasya semakin mengeratkan selimutnya. Menutupi tubuh polosnya.
"Iya-iya aku akan minta lagi nanti. Sekarang makan dulu" bujuk Kai.
Pada akhirnya, Natasya mau juga untuk makan. Karena dia memang lapar sekali. Tubuhnya benar-benar tidak bertenaga. Natasya makan tanpa turun dari ranjangnya. Melilitkan selimut erat ditubuhnya. Kai yang melihat hal itu, tersenyum melihat banyaknya kissmark yang dia buat di tubuh sang istri.
"Kak..."
"Hmmm..."
"Pakai baju dong"
Kai mengerutkan dahinya.
"Kenapa?"
"Pakai nanya kenapa lagi. Itu kalau lama-lama dibiarin shirtless bisa bikin aku kalap lagi" batin Natasya.
Natasya memang mengakui rasanya begitu sakit di awal. Tapi setelah itu rasanya benar-benar luar biasa. Benar kata Steven bisa bikin ketagihan. Kai benar-benar bisa membawanya terbang ke angkasa. Menikmati surga dunia. Tanpa kata ingin berhenti.
"Gila aku pasti sudah gila" batin Natasya lagi.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran kotor di kepalanya.
"Pikiran kotor? Bukankah yang dihadapannya ini adalah suaminya. Apa salahnya berpikiran kotor pada suami sendiri" batin Natasya lagi.
"Hei kok malah ngelamun" ucapan Kai membuat Natasya nyengir.
Merasa malu terciduk asyik dengan pemikirannya sendiri.
"Kenapa kamu mau aku baju? Ini kebiasaanku kalau di kamar" jelas Kai.
"Ha kebiasaan di kamar? Wait, jika ini kebiasaannya. Bisa mati kutu sama mati gaya dong aku. Kalau tiap saat harus disuguhi body atletis dengan roti sobek yang begitu sempurna. Aiisshh bisa ngiler aku dibuatnya" gerutu Natasya dalam hati.
"Hei malah diam lagi. Kenapa sih?" tanya Kai heran.
Istrinya sudah selesai memakan makanannya.
"Kakak tidak takut masuk angin kalau shirtless terus seperti itu?"
"Ha jawaban konyol apa ini?" batin Natasya merutuki kebodohannya sendiri.
Kai jelas terbahak mendengar jawaban Natasya.
"Kalau aku masuk angin atau kedinginan kan ada kamu sekarang yang menghangatkanku" goda Kai.
"La kok malah aku yang terjebak dengan omonganku sendiri" batin Natasya semakin merutuki kebodohannya.
Karena Kai sang suami sudah kembali merangkak naik. Ke atas tubuhnya. Sesuatu yang kini mulai Natasya pahami jika sudah seperti itu alamat dia benar-benar tidak akan bisa berjalan hari ini.
"Kakak mau ngapain?"
"Mengabulkan keinginanmu yang ada di sini. Kamu tergoda kan dengan tubuhku" ucap Kai sambil menyentuh kening Natasya dengan telunjuknya.
"Ha dia tahu"
"Travelling ke.....hmmpptt
Suara Natasya langsung tenggelam karena Kai telah mencium bibirnya dengan gai***nya yang kembali naik. Kai menarik selimut Natasya yang menutupi tubuh polos sang istri. Membuangnya ke sembarang arah. Lantas dimulailah lagi sesi panas keduanya yang entah untuk yang ke berapa kalinya.
Kai sendiri tidak ingat. Tubuh istrinya benar-benar sudah menjadi candu baginya. Membuatnya ketagihan untuk selalu menikmatinya lagi dan lagi.
***
Hari sudah berganti malam. Pasangan pengantin baru itu sama sekali tidak keluar dari kamar mereka sejak kemarin.
"Gila! Mereka benar-benar tidak keluar dari kamarnya" guman Luis.
"Kenapa Bro? Iri? Pengen? Tunggu minggu depan. Tapi kayaknya kamu tidak akan bisa seperti mereka. Maraton dari kemarin" ledek Steven.
"Sialan kau!" umpat Luis.
"Yang diomongkan Stev benar Luis.Kau tidak bisa memaksa Lena untuk berci*** dulu. Lihat kondisinya dulu. Kalau dia oke baru kamu bisa melakukannya" kali ini Lin Qian yang menjawab.
Luis langsung merengut mendengar jawaban kakak iparnya. Saat itulah Kai masuk ke ruang makan. Bermaksud membawakan makan malam untuk sang istri.
"Kau benar-benar mengurungnya dan menghajarnya" tanya Luis kepo.
"Mau tahu aja" jawab Kai bikin penasaran Luis.
"Ciiih kalian benar-benar menyebalkan!" gerutu Luis.
Yang lain langsung tergelak.
"Kemana yang lain?" tanya Kai mulai meminum tehnya.
"Pada jalan-jalan semua. Katanya pada mau jebolin kartu kredit suami masing-masing" jelas Steven.
Kai ber-oo ria.
"Ke Nanjing Street paling mereka" tambah Luis.
"Nadya ikut?" tanya Kai.
"Iya. Tapi dia sendiri. Justin balik ke Singapura tadi pagi. Ada operasi yang tidak bisa dia wakilkan" jawab Luis.
"Lah nanti dia cuma ngerecokin yang lain" ucap Kai.
"Aku suruh Han mengikutinya" ujar Steven.
Kai terbahak.
"Kenapa?"
"Kau tanyalah Han sendiri besok. Nadya tiga kali lebih merepotkan dari kakaknya. Aku heran bagaimana Justin bisa menghandlenya" ujar Kai.
"Benarkah? Nampaknya dia gadis yang manis" ucap Lin Qian.
"Kakak belum tahu dia. Berurusan dengan Nadya itu merepotkan" tambah Kai.
"Heii dia itu adik iparmu" Luis mengingatkan.
"Iya, adik ipar rasa musuh" Kai kembali menegaskan.
Semua terbahak mendengar ucapan Kai.
"Cuma satu kelebihannya. Dia oke soal pekerjaan" Kai menambahkan.
"Bagus kalau begitu. Setidaknya dia punya nilai plus selain cantik" ucap Chen yang tiba-tiba ikut nimbrung makan.
"Dia juga tajir lho" info Kai.
"Sudah sold out Tuan Muda" jawab Chen.
Kai terkekeh. Melihat wajah kecewa Chen.
"Hei bagaimana tugas yang kuberikan. Kenapa kau malah ikut makan di sini?" cerocos Luis melihat sang asisten, Chen berada di sana.
"Bos Luis seharusnya itu adalah tugas Bos sebagai ayah dari bayinya Lena. Ini malah kenapa saya yang disuruh bujuk dia buat minum vitamin sama susunya" keluh Chen.
Luis langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu .....soalnya dia seperti tertekan tiap kali berhadapan denganku" jawab Luis.
"Ya Bos maksa sih. Harusnya dibujuk dulu. Minggu depan mau kewong tapi bujuk calon istri nggak bisa. Hellooo kemana bos Luisku yang dulu. Sekarang klepek-klepek ma Alena" ledek Chen.
"Chen sejak kapan kamu berani padaku?" tanya Luis galak.
Chen menutup mulutnya baru sadar dengan semua ucapannya.
"Alamak!! Kelepasan. Sorry Bos Luis. Aku tadi frustrasi banget buat bujuk Lena supaya minum susunya" ucap Chen dengan wajah memelas.
"Jangan pecat eike.Jangan pecat eike. Lagi ngumpulin duit buat kewong tahun depan" batin Chen.
Mendengar hal itu. Luis mendengus geram. Membuat yang lain terpingkal-pingkal melihat interaksi bos dan asistennya itu.
****