
Seorang pria mengenakan kemeja merah dengan kaos putih sebagai innernya. Nampak keluar dari mobil Toyota Rush yang dia sewa.
Kredit google.com
Ini hari ketiga pencariannya di Yogyakarta. Setelah kemarin dua hari dia gagal menemukan Natasya. Hari ini dia memutuskan untuk sedikit bersantai. Sedikit menikmati semilir angin laut tidak buruk juga pikirnya.
Hingga akhirnya sampailah Kai di pantai Glagah. Pantai yang direkomendasikan oleh staf hotel padanya. Yang ternyata jaraknya cukup dekat dengan hotel tempat ia menginap.
Kai meraih kacamata lantas memakainya. Meraih ponsel dan dompetnya. Lalu berjalan mendekat ke arah pantai. Sejenak dia menarik nafasnya dalam. Sedikit menikmati sinar matahari pagi menerpa kulit putihnya.
Sosoknya yang tampan menarik perhatian orang-orang yang berada di sana. Banyak tatapan terpesona yang dilayangkan padanya. Namun Kai tidak peduli pada hal itu. Ia hanya ingin menikmati waktunya di pantai itu. Sebelum nanti dia akan meneruskan usahanya untuk mencari Natasya.
Kai mulai berjalan menyusuri pantai.
"Pantai ini sangat indah Anna. Kamu pasti menyukainya" Gumam Kai dengan senyum tipis terukir di bibirnya. Membuatnya terlihat begitu tampan.
Kredit Pinterest.com
Ada kerumunan orang yang sedikit menarik perhatian Kai. Dan juga beberapa teriakan seorang pria dan wanita. Kai pikir mungkin mereka sedang bertengkar.
Tak ingin ikut campur lebih jauh. Kai lantas berniat menjauh. Hingga sebuah suara yang begitu familiar terdengar di telinganya. Membuat kembali Kai mendekat.
Apalagi ketika seorang laki-laki nampak berlari tergesa-gesa. Kai mencoba bertanya.
"Ada apa ya Mas?" Tanya Kai.
"Oh itu ada yang terluka. Lagi mau cari mobil buat bawa ke rumah sakit" Jawab laki-laki itu.
Dan entah kenapa juga hati Kai tergerak untuk membantu.
"Saya ada bawa mobil kalau mau digunakan" Ucap Kai sambil tersenyum.
"Ah bagus sekali. Soale kayaknya lukanya parah. Darahnya banyak banget yang keluar" Info laki-laki itu.
Kembali mendekat ke arah kerumunan dengan Kai mengekor di belakang.
"Hei anak kota. Sudah kubilang jangan mendekati Agus. Dia itu milikku!" Bentak seorang wanita.
"Hei Mbak-nya yang ngaku cantik, aku nggak pernah mendekati Agusmu" Salak Natasya tidak kalah galak.
Walau detik berikutnya dia kembali meringis. Rasa perih di lengannya semakin terasa. Dia nampak begitu khawatir melihat darah yang tak kunjung berhenti mengucur dari bekas luka di lengannya.
"Jaga diri baik-baik. Jangan sampai kamu terluka. Ditakutkan tubuhmu masih belum cukup memproduksi sel darah merah. Hingga pendarahan sekecil apapun harus kamu hindari"
Sebaris pesan dari Jocelyn kembali terngiang di telinganya. Natasya menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih yang mendera. Satu tangan ia gunakan untuk menahan pendarahan di lengannya. Berharap hal itu bisa menghentikannya.
Dia semakin lemas. Sedangkan Agus dan Ika masih beradu argumen. Membuatnya semakin pusing. Sedang Nek Lastri menatapnya cemas.
Kai menyeruak masuk diantara kerumunan orang itu. Hingga dia melihat satu sosok yang begitu dicari dan dirindukannya dalam tiga minggu terakhir ini.
"Anna..." Panggil Kai antara tidak percaya dan bahagia.
Suara Kai sontak membuat Agus dan Ika menghentikan pertengkaran mereka. Mengalihkan pandangannya kepada sosok pria tampan yang tiba-tiba saja datang dan sudah berjongkok di hadapan Natasya.
"Kak Kai...." Bisik Natasya tidak percaya. Pria yang dia rindu ada di depannya.
Sedang semua orang melongo melihat kehadiran Kai.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kai cepat.
"Aku...." Natasya tidak bisa meneruskan kata-katanya. Apalagi ketika raut wajah Kai langsung berubah cemas.
Kai melihat lengan Natasya berdarah. Dengan cepat dia meraih slayer dari balik kemejanya. Segera dia mengikatkannya pada lengan Natasya.
Kai dengan cepat membawa tubuh Natasya dalam gendongannya. Kembali membuat orang melongo. Mereka tentu saja bertanya-tanya siapa pria tampan yang tampaknya mengenal Natasya.
"Kak...." Bisik Natasya.
"Ada apa?" Tanya Kai cepat. Kai bisa melihat wajah Natasya yang mulai terlihat pucat.
"Pusiiinng" Keluh Natasya.
Dengan cepat Kai membawa Natasya menjauh. Berjalan menuju mobilnya. Orang-orang itu mulai mengikuti langkah Kai.
"Bertahanlah sebentar. Kita akan cari rumah sakit terdekat. Oke?" Pinta Kai lembut.
Sampai di mobilnya.
"Ada yang bisa menyetir?" Tanya Kai cepat.
Agus tentu merasa bersalah dengan kejadian itu. Hingga ia ingin menebus kesalahannya.
"Ambil kuncinya" Pinta Kai menunjukkan kunci mobil di saku celana jeansnya.
Agus meraih kuncinya. Sedang Kai dengan cepat masuk ke dalam mobil setelah Agus membukakan pintu mobilnya.
"Mbah neng kene wae yo" Pamit Agus pada nek Lastri.
(Nenek di sini saja ya)
Nek Lastri mengangguk. Menyadari kalau kehadirannya mungkin hanya akan merepotkan saja.
Mobil mulai menjauh keluar dari kawasan pantai.
"Halo Jo. Aku menemukannya. Tapi masalahnya dia terluka" Ucap Kai melalui ponselnya begitu ia berada di dalam mobilnya.
Satu tangannya berada di punggung Natasya. Membiarkan gadis itu bersandar di dadanya. Sejenak pemandangan itu dilihat Agus dari spion tengah mobil itu.
"Aku mengerti" Ucap Kai.
"Bisa menuju rumah sakit XX" Pinta Kai pada Agus.
"Bisa" Jawab Agus cepat.
"Tetaplah sadar" Pinta Kai pada Natasya.Gadis itu mengangguk pelan.
Sementara itu, Jocelyn yang mendapat telepon dari Kai langsung bersorak gembira. Namun detik berikutnya raut cemas langsung nampak diwajahnya.
Jocelyn baru saja menghubungi rekannya yang bekerja di rumah sakit XX di kota Gudeg itu. Memintanya menangani Natasya karena kondisinya yang sedikit berbeda dengan pasien lainnya.
"Ada apa?" Tanya Edgard yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
Melihat Edgard, Jocelyn langsung menghambur masuk ke dalam pelukan pria yang tak lama lagi akan menjadi suaminya.
Keduanya memutuskan menikah bulan depan. Setelah sekian lama, Edgard akhirnya bisa meluluhkan hati Jocelyn.
"Dia ketemu. Kak Kai berhasil menemukannya" Teriak Jocelyn girang.
"Wah, tambah satu lagi dong couple buat nikah massal bulan depan" Seloroh Edgard sambil menciumi puncak kepala Jocelyn. Jocelyn terkekeh dalam pelukan Edgard.
"Tapi ada berita buruk" Ucap Jocelyn sendu.
"Apa?" Tanya Edgard berubah ikut cemas.
"Kak Kai mengatakan kalau Natasya terluka. Dia sedang membawanya ke rumah sakit XX" Jelas Jocelyn.
"Itu tempat Leri dinas" Sahut Edgard.
"Iya aku sudah menghubungi Leri. Dia akan menangani Natasya" Balas Jocelyn.
"Ya sudah kita berdoa saja. Semoga dia baik-baik. Bukankah tes terakhir menunjukkan kalau tubuh Natasya merespon baik sel punca dari Nadya. Itu berarti tubuhnya sudah bisa bekerja dengan normal seperti biasanya. Yeaahh, meskipun kita tetap harus meng-observasinya terus" Tambah Edgard menenangkan Jocelyn.
"Ya semoga semua baik-baik saja" Jocelyn akhirnya mengiyakan ucapan Edgard.
"Kita tunggu saja kabar dari Kai" Ucap Edgard yang diangguki Jocelyn.
"Oh iya. Aku harus mengabari yang lain. Kalau putri kabur sudah ketemu" Kata Jocelyn sambil mengurai pelukan Edgard. Lantas meraih ponselnya. Dan mulai memainkan benda pipih itu.
"Jangan bilang kalau dia terluka. Nanti mereka cemas. Kita belum tahu seberapa parah lukanya" Edgard mengingatkan.
Dan Jocelyn memberi kode "oke".
Sementara itu, mobil Kai mulai memasuki parkiran rumah sakit yang direkomendasikan Jocelyn.
Begitu mobil berhenti. Kai langsung membawa tubuh Natasya masuk ke dalam UGD diikuti Agus yang setia mengekor di belakang mereka.
Masuk ke UGD, seorang dokter berperawakan agak gemuk. Langsung menyambutnya.
"Dokter Leri.." Panggil Kai.
Dan pria yang dipanggil dokter Leri itupun langsung mengangguk. Dan membawa Kai dan Natasya menuju ruang periksa.
"Kami akan memeriksanya sebentar" Ucap dokter Leri.
Paham dengan hal itu. Agus keluar dari ruangan itu. Merasa Kai lebih berhak berada di sana. Melihat interaksi keduanya. Agus yakin, pria itu adalah kekasih Natasya. Apalagi kemudian dia teringat. Kalau foto pria itulah yang ada diponsel Natasya.
"Haaah" Agus menarik nafasnya pelan. Pupus sudah harapan Agus bisa memiliki cinta Natasya. Apalagi melihat Kai. Dipandang dari segi manapun dia tidak akan pernah menang melawan pria sekelas Kai.
"Wis, ngalamat jadi anggota sobat ambyare Didi Kempot kalau begini" Batin Agus.
****