You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 90



Natasya terus berlari dan berlari. Tidak peduli lagi dengan apapun, yang penting dia bisa lari dari tuan gila itu. Beberapa penjaga nampak terus mengejar dirinya.


Dan dia tidak punya pilihan selain terus berlari. Mencoba menghindari kejaran para penjaga itu. Natasya terus menerjang lebatnya hutan yang ada didepannya. Oh, ternyata sekitar vila itu hutan beneran. Membuat Natasya beberapa kali terjatuh karena tersandung atau terbelit tumbuhan liar yang ada.


Natasya terus merutuki kebodohan dirinya yang hari itu memakai dres yang lumayan panjang. Hingga benar-benar menyulitkan dirinya dalam bergerak. Dia harus mengangkat gaun sebetisnya setinggi mungkin agar dirinya bisa berlari cepat. Dan hasilnya. Kulit mulus mulai dari lutut ke bawah langsung memerah. Terkena duri dan juga goresan daun-daun yang cukup tajam ujungnya.


"Aarrghhh" Ringis Natasya. Ketika tubuhnya terjerembab diantara tumbuhan liar hutan itu.


"Ah, aku benar-benar seperti seorang putri yang sedang melarikan diri seperti di dongeng-dongeng itu" Ucapnya di sela-sela rasa pedih yang menyerang kaki jenjangnya.


Ingin rasanya dia menyerah. Tapi kemudian bayangan wajah Kai muncul di pikirannya.


"Tidak. Aku tidak boleh menyerah" Tekadnya kemudian.


Natasya teringat bagaimana usaha Kai untuk bisa bersama dirinya. Bagaimana pria itu harus melawan kakeknya kala itu. Bagaimana pria itu bersedia menunggu dirinya hampir dua puluh tahun ini.


Tidak dia tidak boleh jatuh ke tangan tuan gila itu. Dia akan melawan sampai akhir seperti ucapannya semalam.


Perlahan Natasya bangkit. Mulai berjalan lagi. Walau dia tidak tahu kemana sebenarnya tujuannya.


"Ah tahu akan lari maraton begini. Tadi pagi aku sarapan nasi satu bakul" Ocehnya pada diri sendiri.


Dia terus berjalan. Hingga dia tiba di sebuah aliran sungai. Dengan ujung yang tidak terlihat. Bisa Natasya duga kalau ujung yang tidak terlihat itu adalah air terjun yang dia lihat dari balkon kamarnya kemarin.


"Bagus. Sekarang aku harus kemana?" Gumannya pelan. Dia perlahan menyusuri tepian sungai itu. Kembali mengangkat sedikit ujung dres-nya. Agar tidak basah terkena air sungai yang lumayan dingin ketika bersentuhan dengan kulitnya.


"Bbbeerrhhhh dinginnya" Pekik gadis itu.


Natasya masih berjalan mencoba mencari jalan keluar. Hingga suara baritone Luis terdengar di telinganya.


"Kau mau kemana ha?" Teriak Luis dari jarak yang cukup jauh.


Natasya berbalik. Melihat ke arah Luis. Pria itu jelas terlihat marah. Beberapa anak buahnya mulai muncul di sekeliling Luis.


"Kembali ke sini!" Perintah Luis.


Natasya hanya terdiam. Dia justru memundurkan langkahnya. Semakin mendekati bibir jurang di mana air terjun itu mengalir.


"Natasya aku bilang kembali" Kembali Luis berteriak.


Kemarahannya perlahan sirna. Berganti dengan kecemasan yang mulai melanda. Natasya berdiri terlalu dekat dengan jurang air terjun. Bergerak sedikit saja bisa dipastikan kalau tubuh Natasya akan langsung terjun bebas ke bawah.


Natasya tetap diam. Tubuhnya mulai bergetar melihat ketinggian yang terbentang di belakangnya. Dan juga kedalaman air di bawah sana. Jelas gadis itu tidak bisa berenang sekaligus takut ketinggian.


"Sya. Mendekatlah. Jangan berdiri di situ. Itu berbahaya" Luis mengulurkan tangannya. Mencoba mendekat ke arah Natasya. Beberapa anak buah Luis hanya bisa melihat aksi tuannya itu berusaha membujuk Natasya.


"Kemarilah. Ayo kita kembali ke vila" Bujuk Luis. Kini dirinya hanya berjarak beberapa meter saja dari Natasya.


Bisa Luis lihat. Jika dres Natasya hampir basah seluruhnya.


"Kembali ke vila? Untuk apa? Agar kau bisa menjalankan rencana gilamu itu" Jawab Natasya. Akhirnya gadis itu bersuara.


"Rencana gila? Takkan gadis ini mendengar pembicaraannya dengan profesor Huang?" Batin Luis.


Melihat Luis terdiam. Natasya menyeringai.


"Aku tahu yang kau rencanakan tuan gila. Aku tidak salah memanggilmu tuan gila. Kau dan rencanamu benar-benar gila" Balas Natasya marah.


"Tunggu Sya, aku bisa jelaskan itu. Jika kau mendengar pembicaraanku dengan..."


"Cukup! Aku pikir kau menculikku hanya untuk meminta tebusan. Tapi ternyata kau punya rencana yang begitu menjijikkan!" Pekik Natasya.


"Sya...!" Ucapan Luis tercekat di tenggorokannya. Ucapan Natasya seolah sebuah pukulan telak yang menghantam hatinya.


Bagaimana Luis ingin memanfaatkan gadis yang kini berada di hadapannya untuk balas dendam. Tanpa dia sadari jika dirinya telah jatuh ke dalam pesona Natasya.


"Sya, aku bisa jelaskan itu semua. Mari kita bicarakan baik-baik. Tapi kemarilah dulu. Jangan membuatku takut" Bujuk Luis.


Luis benar-benar hilang akal menghadapi Natasya. Gadis itu bisa menghilangkan seluruh kepintaran yang Luis punya hanya dengan satu kalimat saja.


" Aku pernah bilang kan kalau aku akan melawanmu sampai akhir. Aku benar-benar tidak sudi disentuh olehmu!" Teriak Natasya.


"Sya...." Luis mencoba mendekat.


Entah kenapa hati Luis begitu sakit mendengar ucapan Natasya.


"Berhenti! Jangan mendekat!" Gadis itu berkata.


Sekilas Natasya melirik ke belakang. Di mana ketinggian siap menyambut dirinya dan kedalaman air yang mungkin akan menenggelamkan dirinya.


Melihat Natasya lengah. Luis dengan cepat bergerak mendekat. Dan "grab"


"I got you baby"


Bisik Luis tepat di belakang telinga Natasya. Membuat gadis itu dengan cepat menoleh ke sumber suara. Dan wajah Natasya langsung memerah mendapati wajah Luis tepat berada di depan wajahnya.


Bahkan dengan posisi mereka sekarang ini. Pipi keduanya sudah saling menempel satu sama lain.


"Menjauh dariku brengsek!" Umpat Natasya.


"Kau boleh memakiku sepuas hatimu. Tapi ayo kembali ke vila dulu" Bujuk Luis.


Semakin mengeratkan pelukkanya pada tubuh Natasya. Karena gadis itu terus saja meronta.


"Untuk apa? Agar kau bisa meniduriku. Jangan mimpi!" Balas Natasya tajam.


Luis tertegun.


"Oh fix. Gadis ini mendengar pembicaraanku dengan profesor Huang" Batin Luis.


Luis jelas tidak bisa menemukan kata-kata untuk menyangkal tuduhan Natasya. Karena itu memang benar adanya.


"Kenapa? Tidak bisa menyangkal? Kau benar-benar manusia paling mengerikan yang pernah aku temui tuan gila" Ucapan Natasya lagi-lagi membuat hati Luis pedih mendengarnya.


Tapi Luis yang memiliki ego tinggi. Tentu enggan untuk mengalah.


"Kalau benar kau mau apa?" Kali ini Luis bertanya dengan tatapan setajam elang. Seolah ingin menguliti tubuh Natasya.


"Kau mengaku akhirnya" Sindir Natasya.


"Ya, aku ingin menidurimu. Aku ingin bercin** denganmu. Aku ingin mendengar kau mende*** di bawah tubuhku" Jawab Luis tanpa filter sedikitpun.


Membuat Natasya marah seketika. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak. Tidak dihargai. Gadis itu meronta sekuat tenaga. Dia benar-benar jijik dengan pria yang kini memeluk tubuhnya erat. Tidak berjarak sama sekali.


"Lepaskan aku! Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan" Teriak Natasya di sela-sela gerakannya berusaha melepaskan diri dari pelukan Luis.


"Ooo, kau salah Nona. Aku Luis Liu selalu mendapatkan apa aku mau" Sahut Luis.


Pria itu jelas mulai kewalahan mengendalikan gerakan tubuh Natasya. Yang semakin lama semakin liar.


"Itu kalau kau masih melihatku hidup" Balas Natasya.


"Apa maksusmu?" Tanya Luis tidak paham.


"Karena jika semua usahaku gagal untuk mempertahankan milikku. Aku akan memilih mati daripada harus menyerahkan diriku padamu, tuan gila" Pekik Natasya.


Seiring Natasya yang memundurkan langkahnya. Dan gerakan itu reflek ikut membawa Luis turut bergerak. Luis langsung membulatkan matanya. Detik berikutnya dua tubuh itu meluncur turun dengan sangat cepat.


"Apa kau sudah gila?" Pekik Luis.


Natasya memejamkan matanya. Pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


****