You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 55



Kai berjalan keluar dari ruangan dimana ia bertemu dengan Sarah.


"Pak Siregar saya ingin meminta tolong pada Anda. Saya ingin mengembalikan semua aset atas nama Hadiwinata yang ada pada saya" Ucap Kai cepat.


Dia pikir tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga Hadiwinata. Dia teringat ucapan Kakek Atmaja beberapa waktu lalu.


"Kakek bukannya ingin kamu menjadi anak yang tidak tahu diri. Lupa dengan apa yang sudah dia lakukan padamu. Karena pada dasarnya memang dialah yang telah membesarkanmu. Menjadikan dirimu seperti sekarang ini. Membuatmu memiliki hutang budi padanya.Tapi ingatlah satu hal bahwa hutang budi tidak akan bisa dibayar dengan metode pembayaran apapun di muka bumi ini Karena hutang budi sejatinya akan kita bawa mati"


Karena itu Kai tidak ingin mengambil sepeserpun harta dari keluarga Hadiwinata.


"Baik tuan. Anda bisa memberikan kepada saya rinciannya. Saya akan mengurusnya untuk Anda" Jawab pak Siregar.


"Asisten pribadi saya akan mengantarkannya ke kantor Anda, Pak"


Kai pikir akan kembali pada bisnis lamanya. Walaupun itu semua kebanyakan sudah dihandle oleh Thomas dan beberapa orang kepercayaannya.


Dia tinggal duduk manis dan mengeceknya jika diperlukan.


***


Kai tergesa-gesa masuk ke kamar VIP Natasya. Dia membawa laptop bersamanya kali ini.


"Nad, Nadya kamu ada disini?" Panggil Kai begitu dia masuk ke dalam sana.


"Apa sih teriak-teriak" Protes Hera yang kebetulan ada disitu.


Ada Alex dan juga Evan di sana.


"Ha? Kagak pada kerja lu pada?" Ucap Kai asal.


"Nanti" Jawab mereka bersamaan.


"Haish, kompaknya" Gerutu Kai.


"Kamu nggak kembali ke kantor?" Tanya Alex.


"Aku mengundurkan diri. Natasya juga" Jawab Kai.


"Whatt!!! Lalu jadinya kantor apa?" Tanya Alex.


"Suruh Fanny yang mimpin. Dia cucu kan Hadiwinata" Sahut Kai. Mulai mengutak atik laptopnya. Menunggu Nadya yang menurut Hera lagi cari sarapan. Dia duduk di meja dekat jendela. Tepat di samping ranjang Natasya yang tengah tertidur.


Tak berapa lama Nadya muncul dengan beberapa paperbag di tangannya.


"Ini pembulian. Hanya karena aku yang paling muda kalian menyuruhku membeli sarapan" Protes Nadya kepada Alex dan Evan. Keduanya juga sibuk dengan laptop masing-masing.


"Kamu juga yang paling cantik. Dan lebih penting lagi kamu yang paling tidak ada kerjaan" Seloroh Alex sambil menerima paperbag sarapannya. Nadya menyerahkan paperbag Alex sambil mencubit keras lengan pria itu yang hanya tertutup kemeja.


"Gila! Sakit tau, Nad" Giliran Alex yang protes.


Sedang Nadya langsung berlari menjauhi Alex sambil menjulurkan lidahnya.


"Kak, sarapannya" Ucap Nadya begitu sampai di dekat Hera.


"Lah Kak Kai kapan sampai? Mau sarapan? Aku beli sandwich banyak" Tawar Nadya.


"Sini sebentar" Kai bukannya menjawab malah melambaikan tangannya kepada Nadya supaya mendekat.


"Apa?" Tanya Nadya begitu duduk di depan Kai. Karena pria itu menyuruhnya duduk.


"Pakai ini?" Pinta Kai sambil menyerahkan sepasang air pods kepada Nadya.


Gadis itu lantas memasang air pods di telinganya karena Kai memberi kode tidak ingin dibantah.


Ketika air pods sudah terpasang. Kai mulai memainkan video dari laptopnya. Lalu membalik layar laptopnya agar menghadap Nadya. Sedang yang lain hanya menatap kepo melihat Nadya dan Kai.


Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Nadya langsung membekap mulutnya. Dan Kai langsung menutup layar laptopnya.


"Yah, Kak belum habis lihatnya" Nadya merengek.


"Lihat apa?" Kai mendelik ke arah Nadya. Membuat gadis itu nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Itu mereka beneran begituan ya?" Tanya Nadya kepo.


"Iya. Dan Thomas nggak akan berhenti dalam satu jam kedepan" Jawab Kai.


"Bisa-bisanya dia mengirimkanku file utuh tanpa dia cut dulu. Mau pamer apa" Batin Kai memaki Thomas.


"Ha? Thomas. Aspri Kak Kai yang di Singapura?" Tanya Nadya.


"Iya kenapa? Pernah ketemu?" Tanya Kai.


"Pernahlah. Kan aku pernah sekali dijemput sama dia" Balas Nadya.


"Jadi Thomas itu suka begituan ya" Tanya Nadya.


"He em. Dia penikmat ONS jadi hati-hati kalau ketemu dia" Warning Kai.


Nadya membulatkan matanya.


"Jangan bilang kamu gak tahu acara begituan" Sindir Kai.


"Kayak kakak pernah aja" Nadya balik menyindir.


Sumpah adik Natasya ini benar-benar susah di lawan.


"Jadi bagaimana?" Tanya Kai.


"Apanya?"


Kai menghela nafasnya.


"Kamu kan dengar sendiri pengakuan Sandra. Kalau dia cuma mau merusak hubunganmu sama Justin. Karena dia cemburu dan iri sama kamu"


Nadya terdiam.


"Dan dia jelas mengakui kalau dia memberi obat pada Justin. Yah walau Justin berhasil menahan reaksi obat itu. Hebat sekali si Justin itu"


"Kenapa dia tidak menjelaskan sendiri kalau dia memang tidak melakukan hal itu. Membuatku salah paham saja" Lanjut Nadya.


Kai kembali menghela nafasnya lagi.


"Memangnya kamu akan mendengarkan penjelasannya waktu itu..."


Nadya terdiam.


"Yang ada kamu akan langsung menghajarnya waktu itu juga" Kai berucap.


"Kalian kakak adik sama saja. Tidak pernah mau mendengarkan penjelasan orang lain kalau lagi marah" Kai menggerutu.


Dan Nadya langsung membulatkan kedua matanya. Ingin protes. Sejujurnya Nadya begitu lega mendengar hal ini.


"Jadi bagaimana? Masih mau lanjut main Tom and Jerry zaman now?" Tanya Kai.


"Maksudnya?"


"Kalian kan kayak kucing sama tikus akhir-akhir ini. Yang satu nguber mulu yang satu ngumpet mulu" Sindir Kai.


"Kakak..." Nadya protes.


"Padahal kamu sudah kalah lo" Ucap Kai lagi.


"La?"


"Itu...." ucap Kai sambil mengarahkan pandangan Nadya ke gedung sebelah. Di mana seorang pria nampak tersenyum kepada Nadya.


"Ngapain dia disana?" Ketus Nadya. Padahal hatinya berbunga-bunga melihat pria tampan yang berhari-hari ini berhasil membuat kepalanya cenat-cenut. Tidak tahu harus berkata apa.


"Itukan spot favoritnya selama dia disini" Balas Kai enteng.


"Maksud Kakak dia selalu nongkrong di sana begitu?" Tanya Nadya.


"Cuma kalau kamu ada disini. Kalau nggak ya dia bobok manis dikamarnya" Jawab Kai.


Membuat yang lain langsung merapat ke tempat duduk kedua orang itu.


"Apa sih?" Nadya kesal karena dipepet terus ke jendela.


"Oh itu cowokmu to Nad. Ganteng juga. Jangan disuruh skin tanning terus bisa item nanti" Seloroh Hera.


Nadya langsung mendesis kesal.


"Turun!"


Satu kata yang diucapkan Nadya ketika menghubungi seseorang melalui ponselnya.


Dan seseorang yang menerima panggilan dari Nadya itu hanya memberi kode "oke" dengan jarinya. Lantas seseorang itu menghilang dari pandangan semua orang.


"Lah dia pergi kemana?" Tanya Evan.


"Apalagi menemui pawangnyalah" Sahut Kai santai.


Mereka pun mencari berkeliling dan ternyata Nadya pun sudah tidak ada di sana.


"Oalah" Seru mereka hampir bersamaan.


"Ini ada apa sih?" Tanya Natasya yang sudah bangun.


"Tidak ada" Kembali mereka kompak menjawab.


"Terima kasih Sayang sudah mau memaafkan aku" Ucap Justin begitu Nadya berada di hadapannya. Ingin memeluk gadis itu tapi gadis itu memberi kode tidak mau.


Jangan pikir aku sudah memaafkan kamu ya?" Salak Nadya.


"Alamak drama apa lagi ini. Aku sudah sangat rindu padanya. Tapi dianya masih marah mode on" Batin Justin.


"Lalu aku harus apalagi?" Tanya Justin putus asa.


Justin pikir semua akan selesai begitu Nadya mendengar kebenarannya dari Thomas. Tapi ini kenapa masih ada sekuelnya lagi.


"Kamu harus dihukum karena berani memasukkan perempuan lain ke apartementmu" Ketus Nadya.


"Anything for you, Darling" Ucap Justin.


Justin mengucapkan hal itu sambil mengedipkan sebelah matanya. Tahu kalau sang kekasih hanya mengerjainya. Dan terlalu gengsi untuk memberikan maaf padanya.


Hingga tanpa aba-aba Justin langsung memeluk Nadya erat. Sesekali mencium pucuk kepala Nadya.


"Aku merindukanmu Nad. Sangat merindukanmu" Bisik Justin lirih.


Sedang Nadya hanya tersenyum simpul. Terus menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat sang kekasih.


***


Up lagi readersku tercintah,



Kredit google .com


Salam teletubbies dari mas Justin sama mbak Nadya ya readers,


Like like like


Vote vote vote


Kembang ma kopi jangan lupa mak, om, tante,


Happy reading semua


Love you all 😘😘😘


****