
Fanny terbangun keesokan harinya. Ah dia pikir berapa lama dia tidur malam ini. Dia merasa lelah di sekujur tubuhnya. Dan juga... eh kenapa miliknya jadi begitu sakit dan terasa perih.
Berusaha mengingat apa yang sudah terjadi kemarin. Aaahhh....detik berikutnya dia membekap mulutnya sendiri. Lantas mengalihkan pandangannya ke sisi kirinya. Dia membekap mulutnya semakin rapat.
"Aaah siapa dia? Dan kenapa ada seorang pria yang tidur di kamarnya"
Fanny melihat pria itu tidur dengan posisi tengkurap. Menampakkan punggung kokohnya yang tidak tertutup kain apapun.
"Astaga apa yang sudah aku lakukan?" Batin Fanny.
Melirik ke tubuhnya sendiri. Tidak mungkin ...ini tidak mungkin terjadi kan. Apakah dia dan pria itu baru saja bercin**? Oh apalagi ini? Bagaimana mungkin dia begitu ceroboh bercin** dengan pria yang bahkan namanyapun dia tidak tahu.
Fanny perlahan turun dari ranjangnya. Melirik jamnya dan alamak!! Dia akan terlambat. Berusaha berjalan secepat mungkin ke kamar mandi. Walau kenyataannya susah. Perih dan sakit mendominasi di bawah sana. Ketika dia menggerakkan kakinya menuju kamar mandi.
Dibawah guyuran air shower. Fanny mulai mengingat bagaimana dia dan pria itu bisa berakhir diatas kasurnya. Dia mabuk...dan pria itu mengantarkannya ke kamarnya. Lalu kelebatan-kelebatan ingatan bagaimana dia mencium pria itu. Dan pria itu balik menciumnya dan ....
Fanny memukul kepalanya sendiri. Betapa bodohnya dia bisa dengan mudah menyerahkan diri pada pria asing.
Fanny menyelesaikan mandinya dengan cepat. Memakai bajunya. Sedikit merasa lega karena sakit pada intinya mulai menghilang. Meraih koper. Slingbag, ponselnya.
Perlahan dia mendekat ke arah pria yang masih tertidur di atas kasurnya. Dia menatap pria itu. Tampan...satu kata yang keluar dari bibir Fanny. Dia menarik nafasnya pelan.
"Baiklah tuan. Anggap saja anda sedang memenangkan lotere. Dan aku sedang kalah berjudi. Mari lupakan hari ini. Dan semoga kita tidak bertemu lagi" Bisik Fanny lirih.
Mengamati wajah pria itu yang masih setia dengan mata terpejam.
"Sangat tampan. Tapi sayang aku bukan ditempat dimana aku bisa memilih apa yang kuinginkan dalam hidupku" Batin Fanny.
"Selamat tinggal" Pamit Fanny.
Lantas benar-benar berlalu pergi dari kamar itu.
***
Fanny setengah berlari ketika masuk ke pintu keberangkatan domestik di bandara Soetta, Tangerang, Banten.
Kredit goole.com.
Disana Vera sudah menanti. Asisten Fanny itu langsung mengembangkan senyumnya ketika melihat atasannya datang.
"Maaf Ra, aku kesiangan" Ucap Fanny terengah-engah.
"Mbak Fanny tu kebiasaan" Balas Vera lantas meraih koper Fanny.
"Saya sudah check in. Tinggal mbak Fanny" Tambah Vera. Fanny hanya berhem ria.
Gadis itu nampak cantik dengan setelan kemeja hitam juga dengan celana jeansnya. Wajahnya terlihat ayu meski rambut Fanny disanggul asal.
Kredit google.com
Mereka mulai proses check in. Hingga akhirnya masuk ke ruang tunggu boarding pesawat.
"Ra, sarapan dulu yuk. Lapar" Keluh Fanny.
"Belum sarapan to" Tanya Vera.
Melirik ke jam tangannya. Masih ada setengah jam lebih. Harusnya cukup untuk sekedar sarapan.
"Tapi adanya cuma Mc Donald, mbak" Ucap Vera memandang berkeliling.
"Gak papa. Daripada aku pingsan kamu nanti lo yang susah" Canda Fanny.
"Pingsan yo tak tinggal. Paling juga diopeni sama tukang cleaning service" Vera balik bercanda.
"Issh jahat banget sih" Celetuk Fanny.
Vera terkekeh mendengar ucapan Fanny.
Masuk ke outlet Mc Donald. Memesan beberapa menu. Lantas Fanny mulai menghabiskannya.
Setengah jam kemudian keduanya sudah duduk didalam pesawat yang akan membawa mereka ke Surabaya.
"Yakin mbak Fanny mau melakukan hal ini" Tanya Vera lagi.
Fannya menarik nafasnya dalam. Lantas mengangguk yakin.
"Tidak ingin menghubungi mbak Nadya atau mbak Natasya" Vera lagi-lagi bertanya.
Sejenak Fanny teringat dua kakaknya itu.
"Tidak. Lebih baik mereka tidak tahu kepergianku. Aku dan ibu sudah banyak membuat mereka menderita. Aku tidak punya muka bahkan untuk sekedar berpamitan dengan mereka" Ujar Fanny sendu.
Vera meraih tangan atasannya itu. Menggenggamnya erat.
"Semua akan baik-baik saja, Mbak" Hibur Vera.
Vera tahu jelas bagaimana perasaan atasannya itu.
"Terima kasih. Sudah mau bersamaku" Ucap Fanny. Matanya mulai berkaca-kaca.
Vera mengembangkan senyumnya.
"Tidak masalah Mbak. Ayo semangat kita mulai hidup baru di sana" Vera menyemangati Fanny.
"Yah, kita akan mulai hidup baru di sana. Melupakan semua kejadian di sini" Balas Fanny. Tersenyum. Menyeka airmatanya. Lantas memasang seatbelt-nya. Karena pesawatnya akan segera lepas landas.
"Melupakan semuanya. Termasuk melupakan kebodohanku yang telah bercin** dengan pria asing. Dasar bodoh...bodoh" Batin Fanny merutuki kebodohannya sendiri.
Sepanjang perjalanan menuju Surabaya. Fanny terus saja merutuki kebodohannya.
***
Tuan Hadiwinata menatap Kai yang saat ini duduk di depannya. Di sampingnya ada Nadya. Gadis itu benar-benar membuktikan ucapannya. Untuk membuat Kai dan kakeknya bertemu.
"Kak, sudah iiih marahannya" Nadya mengeluarkan jurus andalannya.
Dan Kai hanya bisa menarik nafasnya pelan. Natasya adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya. Tapi Nadya jelas punya trik yang membuatnya selalu tidak bisa menolak apa yang diinginkan Nadya.
"Kembalilah ke kantor" Pinta Tuan Hadiwinata.
"Aku tidak akan kembali ke sana" Jawab Kai tegas.
"Masih banyak kantor lain yang membutuhkanku. Tapi aku bisa merekomendasikan seseorang untuk menghandle stasiun TV-mu" Info Kai.
"Siapa?"
Dan satu nama meluncur dari bibir Kai.
"Tapi dewan direksi tidak akan menyetujuinya" Tuan Hadiwinata memberi alasan.
"Dia akan memimpin atas namaku. Ahhh, tapi aku merasa sudah tidak wewenang di sana atau bagaimana jika aku mengakuisisi stasiun TV-mu" Usul Kai.
Tuan Hadiwinata membulatkan matanya.
"Kai, stasiun TV itu memang atas namamu" Beritahu tuan Hadiwinata.
"Aku sudah mengembalikan semua aset keluarga Hadiwinata. Anda tahu itu kan" Balas Kai.
"Kak...." Nadya ingin menyela.
Tapi Kai memberi kode jangan menyela pembicaraannya.
Tuan Hadiwinata terdiam. Dia memang belum memasukkan nama Nadya dan Natasya dalam daftar kepemilikan aset keluarga Hadiwinata. Meski dia sudah mengakui keberadaan kedua cucunya itu.
"Aku akan mengakuisisi stasiun TV anda. Dan menunjuk langsung GM-nya. Bagaimana?" Tanya Kai lagi.
Tuan Hadiwinata kembali terdiam.
"Tidakkah kamu ingin kembali ke sana?" Tuan Hadiwinata balik bertanya.
"Tidak. Aku tidak ingin kembali ke sana. Dari awal aku memang tidak menyukai bidang itu. Anda tahu kan. Aku ke sana hanya untuk menyelesaikan masalah financial-nya saja" jelas Kai.
"Ehhhmm.. boleh aku menyela?" Tanya Nadya.
Kedua orang menatap Nadya.
"Bukankah stasiun TV itu sebenarnya sudah berada dibawah kendalimu Kak" Tanya Nadya.
Kedua orang itu menatap Nadya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ingat ketika Kakak mendapat investasi dari Kakek Surya. Ada poin yang mengatakan jika investasi itu akan tetap diberikan dengan syarat kak Kai-lah yang memimpin. Dalam artian Kakek Suryo, membuat kak Kai memiliki wewenang dalam memutuskan semua kebijakan di stasiun TV itu" Nadya melihat ke arah kakek Wiranya yang terkejut dengan fakta itu.
Sedang Kai menyeringai penuh kemenangan.
"Dengan kata lain. Jika Kak Kai benar-benar keluar dari stasiun TV itu. Investasinya akan otomatis berhenti. Dan stasiun TV kakek otw bangkrut" Jelas Nadya membuat kakek Wiranya mendelik ke arah Nadya.
"Aku menjelaskan faktanya Kek, peace ..." Nadya berucap sambil nyengir dan membuat tanda "peace" dengan tangannya.
Dan lagi-lagi Kai tersenyum puas. Dia benar-benar kagum dengan rencana tuan Atmaja. Membuat "rivalnya" itu kehilangan stasiun TV-nya tanpa ia sadari.
Sedang tuan Hadiwinata langsung emosi mendapati kenyataan bahwa ia ditipu oleh sahabatnya itu.
"Dasar Atmaja berani sekali dia menipuku" Umpat tuan Hadiwinata.
"Dia tidak menipu kakek tapi itu namanya pintar" Nadya kembali menjawab dengan santai.
"Kamu ini sebenarnya di pihak mana sih?" Tanya tuan Hadiwinata pada Nadya.
"Aku? Aku di pihak yang bisa memberiku untung yang banyak he... he..." Jawab Nadya.
"Kamu...."
"Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Kai menyela perdebatan cucu dan kakek itu.
"Terserah padamu...!" Sahut tuan Hadiwinata kesal.
"Baik, aku akan segera menyuruh Leo mengurusnya. Aku pergi dulu. Kakakmu pulang hari ini" Pamit Kai sambil berdiri dari duduknya. Melangkah keluar dari ruang private meeting room di HD TV.
"Natasya pulang hari ini" Tanya Tuan Hadiwinata.
"He e" Jawab Nadya.
Tuan Hadiwinata menatap sendu Nadya.
"Nanti aku bujuk Kakak buat nginap dirumah kakek? Oke?" Bujuk Nadya membuat tuan Hadiwinata tersenyum.
"Lalu kita bisa buat rencana untuk membalas trik-nya kakek Suryo bagaimana?" Tanya Nadya lagi.
Membuat tuan Hadiwinata semakin melebarkan senyumnya.
Dan Kai yang berada di balik pintu ikut tersenyum mendengar percakapan kakek dan cucunya itu.
Perlahan dia menjauh dari ruangan itu. Tak lama ponselnya berbunyi.
"Ya.."
"..."
"Benarkah?"
"..."
"Awasi saja dulu. Anggap dia sedang liburan"
Kai menutup panggilan ponselnya. Kali ini benar-benar keluar dari HD TV. Mengabaikan sapaan bebarapa karyawan yang melihatnya. Masuk ke Ferarri 458-nya lantas melesat cepat menuju rumah sakit.
**
Up lagi readersku tercintah,
Bonus visual pria yang kata Fanny lagi menang lotere,
Kredit google.com
Jangan lupa ritualnya ya guys ditunggu banget ama author 🙏🙏🙏
Happy reading semua,
Love you all 😘😘😘
***