
Lisa jelas terkejut melihat Natasya berada dalam gendongan Kai. Kai menggendong Natasya ala bridal style. Membawanya menggunakan lift khusus yang hanya dirinya dan beberapa anggota direksi yang bisa menggunakannya. Hingga tidak ada orang yang melihatnya.
"Pak, itu Ibu kenapa?" Tanya Lisa.
"Dia hanya tertidur saat menungguku" Jawab Kai. Merebahkan tubuh Natasya di sofa di ruang kerjanya.
Sejenak ditatapnya wajah cantik Natasya. Perlahan dikecupnya kening gadis itu. Selanjutnya diciumnya bibir gadis itu. Tidak peduli dengan Lisa yang cukup terkejut dengan ulahnya. Saat mencium bibir Natasya tanpa sadar air mata Kai jatuh di pipi Natasya.
"Bisa aku minta sesuatu padamu?" Tanya Kai setelah dia melepaskan ciumannya pada Natasya.
"Apa itu Pak?" Tanya Lisa.
"Jaga dia mulai sekarang. Aku tahu kamu selalu melakukannya. Tapi aku ingin kamu lebih memperhatikannya" Pinta Kai menatap Lisa.
"Sebenarnya ini ada apa sih Pak. Bu Natasya sering murung akhir-akhir ini sejak dia bertemu dengan dokter Jocelyn. Sekarang Bapak bicara seperti orang yang mau pergi jauh" Ucap Lisa.
"Dia bertemu Jocelyn? Kapan?" Tanya Kai.
"Tiga hari lalu. Sejak saat itu Bu Natasya kerja kayak orang kesurupan. Tidak berhenti sebelum tengah malam. Dia bilang ingin menyelesaikan semua sebelum dia ingin mengambil libuaran" Jelas Lisa.
"Liburan?"
"Iya, Bu Natasya kemungkinan ingin mengunjungi adiknya yang di NUS"
"Singapura? Adiknya siapa namanya?"
"Iya, di Singapura. Kalau nggak salah namanya Nadya Arina"
"Nadya Arina? Jadi dia adikmu" Batin Kai sambil melihat ke arah Natasya yang masih tertidur.
"Baik aku pergi. Ingat pesanku"
Lisa mengangguk. Kai keluar dari ruang kerja Natasya. Langsung menuju ruang kerjanya. Dimana dia langsung disambut Fanny yang terlihat sangat bahagia.
"Kak, aku dengar dari Kakek kalau kakak menerima perjodohan kita" Ucap Fanny bahagia.
"Hanya sekedar memenuhi permintaan Kakek tidak lebih" Jawab Kai dingin.
Kai jadi sedikit tahu kalau Fanny tipe pengadu. Hingga terselip rasa kesal saat menghadapi gadis itu.
Fanny jelas terkejut mendengar jawaban dingin kakaknya. Biasanya kakaknya itu akan selalu bersikap manis padanya.
"Kakak tidak menyukai perjodohan kita?" Tanya Fanny.
"Aku tidak suka semua hal yang dipaksakan. Apalagi soal pernikahan. Aku ingin melakukan semua itu dengan orang yang kucintai. Bukan karena dipaksa" Jawab Kai tegas dan dingin.
"Apa kakak tidak bisa mencintaiku sedikit saja" Pinta Fanny dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak. Sejak awal aku mencintaimu hanya sebagai adikku. Bukan sebagai wanita yang aku inginkan untuk menghabiskan sisa usiaku bersamanya. Jadi mari lakukan pernikahan konyol ini. Tapi jangan pernah berharap akan ada cinta dariku di dalamnya. Karena cintaku hanya untuknya" Ucap Kai dingin.
"Kak...." Ucapan Kai seolah bagai ribuan duri yang menusuk hatinya.
Pria ini menegaskan banyak hal dalam ucapannya. Dia yang hanya dianggap adik oleh Kai. Kai yang tidak mungkin akan bisa mencintainya. Dan satu hal yang paling menyakitkan. Kai menegaskan kalau cintanya hanya untuk gadis itu. Membuat Fanny hampir menangis didepan Kai. Satu kenyataan pahit yang baru saja dia dapat.
"Pergilah. Ada banyak hal harus aku kerjakan sebelum hari pernikahan konyol itu tiba" Usir Kai.
Membuat Fanny secepat kilat keluar dari sana. Menghindari air matanya agar tidak jatuh di depan Kai.
"Maafkan kakak Fan, kakak tidak ingin kamu semakin mencintai kakak. Karena kakak hanya menganggapmu sebagai adik. Kakak tidak ingin menyakitimu lebih dalam" Batin Kai.
Kai memejamkan matanya. Menyandarkan tubuhnya pada kursinya. Perlahan jemarinya memijat pelan pelipisnya.
"Adakah jalan agar aku bisa keluar dari pernikahan konyol ini" Tanya Kai dalam hatinya.
****
Leo cukup terkejut ketika memasuki apartemen bosnya pada malam itu. Bosnya sudah terduduk di lantai. Dengan gelas wine berada di tangannya. Kai duduk berselonjor di lantai. Dengan satu kaki ia tekuk menopang tangannya yang memegang gelas wine.
Penampilannya sungguh berantakan. Rambut acak-acakan. Bau alkohol di mana-mana.
"Bos, Anda tidak apa-apa?" Tanya Leo.
Dia pikir masalah apa yang sedang dihadapi bosnya itu. Hingga membuatnya terlihat begitu putus asa.
"Bos, ayo bangun dulu" Ucap Leo.
Leo berusaha membantu Kai bangun.
"Ha, ha, ha ini kamu Leo. Kamu tahu aku orang paling tidak berguna di dunia ini. Kamu tahu aku kehilangan Anna dulu dan sekarang aku kehilangan Natasya.... ha, ha, ha..." Racau Kai khas orang mabuk.
"Aiisshhh sudah mabuk rupanya. Aduh, memang kenapa Bos bisa sampai kehilangan bu Natasya" Korek Leo.
"Orang tua gila itu.. orang tua gila .... dia ingin... aku..."bruuuukkkkkk" tubuh Kai jatuh ke lantai.
Berdua dengan Leo karena kaki keduanya saling tersandung.
"Aduh Bos sakit!!" Teriak Leo.
"Ha, ha, ha aku lebih sakit Leo. Lebih sakit..hu..huu...huuuu" Suara Kai berubah jadi tangisan. Membuat Leo semakin heran.
Leo berusaha membantu Kai berdiri. Hingga bunyi bel pintu apartemen berbunyi. Leo mengerutkan dahinya. Siapa yang tahu apartemen bosnya? Dia pikir hanya dirinya dan sekarang ditambah kekasih Bosnya. Ahh mungkin itu bu Natasya..Pikir Leo.
Lantas membuka pintu. Leo membeku melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemen Bosnya.
"Bu Fanny?" Ucap Leo terkejut.
"Lama sekali membuka pintu" Cecar Fanny.
"Di mana dia?" Tanya Fanny mengabaikan larangan Leo.
"Kakak, apa yang terjadi padamu? Kamu mabuk Kak?" Ucap Fanny saat melihat Kai tergeletak di lantai dengan bau alkohol yang menyengat.
"Kamu ngapain? Cepet bantuin!" Teriak Fanny. Membuat Leo terkejut dari lamunannya. Dia tadi melamun, apa yang akan Bosnya lakukan padanya besok, jika Bosnya itu tahu dia sudah mengizinkan orang lain masuk ke apartemennya.
"Ah iya, Bu" Jawab Leo lantas ikut membantu memapah tubuh kekar Kai.
"Di mana kamarnya?" Tanya Fanny.
"Itu, Bu" Tunjuk Leo dengan dagunya.
Lantas keduanya bersusah payah membawa Kai masuk ke kamarnya. Menidurkannya di ranjang king size miliknya. Kai jelas sudah tidak sadarkan diri. Hanya sesekali bibirnya meracau tidak jelas.
"Tinggalkan kami. Aku akan mengurusnya" Ucap Fanny sambil menatap wajah Kai.
"What?!!!" Ucap Leo tanpa sadar. Membuat Fanny melotot.
"Ah, maaf Bu. Tapi biar saya saja yang mengurus tuan Kai" Ucap Leo. Dia teringat pesan Bosnya. Untuk tidak mengizinkan seorangpun dari keluarga Hadiwinata masuk ke apartemennya. Apalagi ini keadaan bosnya sedang tidak sadarkan diri.
"Memangnya apa yang aku lakukan padanya. Aku ini adiknya. Bukan orang lain. Sebaiknya kamu pulang. Pekerjaanmu selesai hari ini!" Perintah Fanny tanpa ingin dibantah.
"Tapi Bu..."
"Aku akan mengurusnya. Pulang sana!" Bentak Fanny.
Membuat nyali Leo ciut seketika. Perlahan dia keluar dari kamar Bosnya. Sedikit berdoa di depan pintu. Agar tidak terjadi apa-apa dengan bosnya itu. Lantas benar-benar keluar dari apartemen bosnya.
Setelah memastikan Leo benar-benar keluar dari apartemen Kai. Fanny perlahan naik ke ranjang Kai. Ditatapnya wajah Kai. Dia terlihat sangat tampan. Berapa lama dia menyukai Kai dalam diam. Mungkin hampir sepuluh tahun.
Dulu dia sama sekali tidak pernah menunjukkan rasa suka pada Kai. Mengingat jika Kai adalah kakaknya. Tapi begitu dia tahu jika Kai, kakak angkatnya. Perasaannya semakin tidak terbendung.
"Kamu tahu Kak? Aku sangat mencintaimu" Ucap Fanny. Perlahan diusapnya lembut wajah Kai.
"Kalau kamu tidak bisa menggunakan cara halus untuk mendapatkannya. Gunakan cara lain. Jebak dia. Buat dia tidak bisa menghindari pernikahan ini"
Ucapan ibunya terngiang di telinga Fanny.
"Aku rela melakukan apapun asal kau jadi milikku, Kak" Ucap Fanny lagi
Perlahan mulai membuka kancing kemeja Kai. Yang memang sudah terbuka sebagian. Begitu semua kancing terbuka. Terlihatlah dada bidang Kai dan juga abs Kai yang terlihat begitu menggoda di mata Fanny.
"Kamu milikku malam ini, Kak" Bisik Fanny lirih.
Lantas mulai mencium bibir seksi Kai. Berusaha membangunkan ga**** pria itu. Perlahan dilum**nya bibir Kai yang dia damba sejak dulu.
Sesaat kemudian, Kai merespon. Dia membalas setiap ciuman Fanny. Membuat Fanny bersorak. Dia semakin berani. Mencium bibir Kai semakin panas.
Hingga satu ketika, Kai membuka matanya. Dia sangat terkejut melihat siapa yang tengah mencium bibirnya dan mulai meraba seluruh tubuhnya. Dia pikir itu tadi adalah Natasya.
"Fanny? Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Kai yang sudah setengah sadar. Mulai menjauhkan diri dari Fanny.
"Aku akan menyerahkan diriku padamu Kak. Agar Kakak percaya kalau aku benar-benar mencintai Kakak" Jawab Fanny.
Membuat Kai membelalakkan matanya.
"Kamu sudah gila? Aku tidak mencintaimu Fanny. Berapa kali aku bilang padamu" Kai hampir berteriak pada Fanny.
"Tapi aku sangat mencintai Kakak. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Kakak" Kembali ucapan Fanny membuat Kai terkejut.
"Fanny dengarkan aku. Aku tidak mencintaimu. Dan aku tidak mungkin bisa bercin** denganmu. Aku hanya menganggapmu sebagai adikku. Tidak lebih" Tegas Kai.
"Tapi kita belum mencobanya. Aku juga bisa melakukan apa yang "dia" lakukan" Ucap Fanny.
"Apa maksudmu?" tanya Kai.
"Tentu saja bercin** denganmu. Apalagi? Dia pasti menggunakan tubuhnya untuk menggoda kakak" Ujar Fanny.
"Jangan bicara sembarangan soal dirinya!" Bentak Kai membuat Fanny terkejut. Kai belum pernah sekalipun membentak dirinya.
"Kak, kamu membentakku hanya karena wanita tidak jelas itu" Ucap Fanny tidak percaya.
"Aku tegaskan sekali lagi. Dia wanita baik-baik. Kalau kami pernah bercin**, kakak pastikan kalau kakaklah yang pertama untuknya" Ucap Kai sengaja membuat panas hati Fanny.
"Bercin** ? Mereka pernah bercin**?. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Kak Kai bukan orang seperti itu" *B*atin Fanny terkejut.
"Kamu terkejut? Pulanglah. Tidak ada gunanya kamu ada di sini. Ini sudah malam. Berhati-hatilah di jalan" Ucap Kai melunak. Bagaimanapun juga Fanny tetaplah adiknya.
Terlepas hal yang baru saja dia lakukan sedikit keterlaluan. Tapi Kai tidak mungkin marah terlalu lama.
Kai langsung melesat masuk ke kamar mandinya. Setelah menyuruh Fanny pulang. Tak lupa dia menguncinya dari dalam. Hal yang tidak pernah Kai lakukan selama ini. Mengunci pintu kamar mandi. Bahkan ketika Natasya ada hari itupun dia tetap tidak menguncinya.
Menghidupkan shower lantas mengguyur tubuhnya. Menghilangkan efek mabuk yang hampir saja membuatnya melakukan hal gila pada Fanny.
***
Up lagi readers,
Thank's sudah mampir,
Happy reading everyone,
Love you all 😘😘😘😘
*****