
"Dia ada di mana?"
"Menurut laporan dia ada di rumah sakit xxx. Sepertinya gadis itu masuk rumah sakit"
"Trik yang licik"
"Kek, bagaimana ini? Aku mencintai kak Kai"
"Tenang saja. Dia pasti akan menikah denganmu"
"Anak itu sudah membuat malu keluarga kita. Aku benar-benar tidak terima dengan kejadian ini"
"Kita akan memberinya pelajaran. Dia sudah dalam perjalanan kemari"
"Benarkah Kek?"
Tuan Hadiwinata mengangguk membuat Fanny senang bukan kepalang.
Kai akhirnya memilih pulang sejenak. Setelah menemani Natasya sebentar. Dia bertanya pada Jocelyn apakah sewaktu-waktu boleh menjenguk atau menemani Natasya. Jocelyn tentu saja mengiyakan pertanyaan Kai.
Dia pulang ke apartemennya hampir tengah malam. Ingin segera mandi dan mengganti bajunya. Namun ketika dia masuk ke apartementnya sebuah pemandangan tidak menyenangkan menyambutnya.
"Tahu pulang kamu setelah mempermalukan keluargamu?!" Tanya tuan Hadiwinata.
"Maaf" Jawab Kai karena memang dia bersalah telah membuat malu keluarga Hadiwinata.
"Kamu tahu betapa sedihnya Fanny" Bentak sang ibu tiri. Membuat emosi Kai mulai naik. Kai teringat cerita Alex tentang bu Sarah yang ingin menabrak Natasya.
"Apa hanya itu yang Bibi pikirkan? Jika kalian tidak menyakiti kedua orang tuanya, mungkin kedua orang tuanya masih hidup dan dia pasti bahagia memiliki orang tua yang lengkap" Teriak Kai.
"Apa maksudmu?" Tanya tuan Hadiwinata.
"Apa kakek tahu siapa gadis yang sudah kakek gunakan untuk mengancamku?" Tanya Kai berkaca-kaca.
Tuan Hadiwinata menatap Kai tajam.
"Jangan bicara yang tidak-tidak denganku Kai" Ucap tuan Hadiwinata.
"Kakek tahu siapa dia? Dia cucu kandungmu. Putri dari om Kevin dan Celina Wulandari"
Jedeerrrr,
"Kebohongan apa lagi yang dia katakan padamu?" Tanya tuan Hadiwinata tenang padahal hatinya tidak karuan.
"Bagaimana mungkin putri Kevin masih hidup? Dia tidak mungkin putri Kevin " Batin bu Sarah.
"Kevin? Itu kan nama ayahku. Celina Wulandari siapa dia? Ini ada apa kenapa seperti ada hal yang aku tidak tahu" Batin Fanny.
"Silahkan jika Kakek ingin terus menyangkalnya. Tapi itulah kenyataan. Dia cucu sah kakek. Karena mereka menikah secara resmi. Jauh sebelum Bibi datang dalam kehidupan om Kevin" Ucap Kai. Melirik ke arah bu Sarah. Yang balik memelototinya.
"Aku tidak punya cucu selain Fanny" Tegas tuan Hadiwinata.
"Terserah jika Kakek tidak mempercayainya. Tapi satu hal yang pasti aku tidak akan meneruskan pernikahan ini. Kalaupun Kakek memaksa aku akan melawan kali ini" Ucap Kai tegas.
"Kau tidak bisa mempermalukan putriku seperti ini" Bentak bu Sarah.
"Aku tidak peduli!" Jawab Kai lagi.
"Kau akan menerima hukuman atas kelakuanmu hari ini" Sahut tuan Hadiwinata.
"Aku tidak takut. Kalian lebih mementingkan ego kalian. Apa kalian tidak ingin tahu keadaannya? Kalian dengan mudahnya mengabaikan keberadaan mereka. Membiarkan mereka hidup di panti asuhan. Membiarkan mereka menghadapi semua sendirian. Kakek macam apa Anda ini?" Ujar Kai dengan mata berkaca-kaca.
Dia ingat bagaimana perihnya hidup yang harus Natasya dan Nadya lalui.
"Itu bukan salahku. Salah mereka sendiri" Balas tuan Hadiwinata lagi.
"Kakek masih bisa berkata seperti itu. Bahkan ketika saat ini dia harus berjuang sendiri melawan leukemia. Penyakit yang diwariskan oleh putramu, Kevin" Jelas Kai lagi.
Kali ini tuan Hadiwinata menatap Kai. Dia jelas terkejut. Dia tahu betul kalau putranya meninggal karena penyakit itu.
"Jangan mengarang cerita!" Teriak bu Sarah.
"Kenapa? Bibi senang kan tidak perlu melenyapkannya lagi. Jika dia tidak bisa bangun dari komanya" Ucap Kai sendu.
"Koma?" Tanya Fanny.
"Kakak perempuanmu sakit dan sekarang koma. Dan kamu justru sibuk dengan pernikahan gila ini!" Bentak Kai.
Fanny tidak bisa berkata apa-apa.
"Kakak? Aku punya kakak perempuan? Dan dia sekarang koma?" Batin Fanny.
Dia jelas bingung dengan situasinya saat ini.
"Apa maksudmu aku berusaha melenyapkan anak sialan itu?" Tantang bu Sarah.
"Jangan pikir aku tidak tahu ya Bi. Dua kali Bibi berusaha untuk menabrak Natasya? Benar?" Ucapan Kai membuat bu Sarah terkejut.
"Aku tidak paham yang kau bicarakan" bu Sarah berusaha mengelak.
Sedang Fanny mulai merasa bingung. Sementara tuan Hadiwinata mulai menatap curiga pada Bu Sarah.
"Terserah jika Bibi mau mengelak. Tapi jangan harap jika kejadian 20 tahun lalu akan terulang lagi" Ucap Kai sambil menyeringai.
Bu Sarah langsung pucat seketika. Yang lain langsung bingung.
"Apa maksudmu?" bu Sarah pura-pura tidak tahu.
"Terserah jika Bibi mau mengelak. Tapi aku tidak akan membiarkan dia terluka lagi kali ini. Kalian sudah cukup menyakitinya. Kalian sungguh tidak berperasaan" Ucap Kai lantas berbalik pergi ke kamarnya.
Langsung masuk ke walk in closet. Meraih paperbag. Mulai memasukkan baju dan beberapa perlengkapan lainnya. Dia bisa membelinya. Tapi dia pikir akan memakan waktu.
Jadi mumpung masih dirumah dia akan membawa beberapa. Dia berniat untuk stay dirumah sakit. Apalagi ketika Jocelyn menunjukkan kamar VIP Natasya. Dia keluar dari kamarnya. Melihat mereka bertiga masih duduk di ruang tengah apartemennya.
"Kau mau kemana lagi? Tetap disini bersama Fanny" Perintah tuan Hadiwinata.
"Aku mau ke rumah sakit. Terserah jika kalian masih mau disini" Ucap Kai.
"Kau akan dikeluarkan dari daftar keluarga Hadiwinata jika berani melawanku" Ancam tuan Hadiwinata.
"Itu lebih baik malahan. Aku tidak perlu hidup bersama kalian. Orang yang tidak punya perasaan sama sekali" Balas Kai tegas.
"Kau! Beraninya kau mengatakan itu!" Bentak tuan Hadiwinata.
"Jangan Kakek pikir aku takut ya, Kek. Kali ini aku akan melawan semua yang akan menghalangi jalanku!" Tekad Kai.
Kai baru saja menyalakan mesin mobilnya. Ah tidak, dia memakai mobil Evan. Karena Leo belum mengirimkan mobil untuknya. Ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk ke nomornya.
"Ya, asisten Sam"
"..."
"Benarkah? Lalu dimana beliau sekarang?"
"..."
"Saya akan ke sana sekarang"
Ucap Kai menutup teleponnya. Lantas membawa mobil Evan ke salah satu kawasan rumah di daerah Sentul. Dia berhenti di sebuah rumah mewah. Yang dulu pernah dia kunjungi bersama Natasya. Rumah keluarga Atmaja.
Kredit google.com
Dia langsung masuk ke dalam ketika seorang pelayan membukakan pintu untuknya. Diarahkan menuju ruang keluarga. Yang walaupun masih dini hari. Tapi aktivitas rumah itu sepertinya sudah dimulai.
Kredit google.com
Di ruang keluarga. Dilihatnya tuan Atmaja duduk dengan wajah yang terlihat begitu segar. Dan di samping tuan Atmaja dilihatnya tuan Marcellino. Papa Jocelyn.
"Tuan apa kabar?" Sapa Kai sambil memeluk hangat tuan Atmaja. Entah mengapa Kai begitu senang dipeluk oleh tuan Atmaja. Terasa hangat dan nyaman.
"Kakek baik. Sangat baik" Jawab tuan Atmaja. Memeluk balik Kai.
Lama keduanya saling berpelukan. Rindu terasa jelas di mata keduanya.
"Lelah?" Tanya papa Jocelyn. Setelah Kai dan tuan Atmaja melerai pelukan mereka.
"Kenapa?" Tanya tuan Atmaja.
"Karena keadaannya?" Tanya tuan Atmaja lagi.
"Dia lari dari pernikahannya" Celetuk papa Jocelyn.
"Benarkah? Aku pikir telah ketinggalan berita. Mengingat penerbanganku yang agak lama" Ucap tuan Atmaja.
"Aku kabur dari sana. Aku dimarahi putri Om. Dan aku baru saja bertengkar dengannya. Jadi kalau ada yang ingin menambah silahkan saja" Kai pasrah dengan ucapannya.
"Ha, ha, kami tidak akan marah. Karena kamu masih harus menghadapi kemarahannya jika bangun nanti" Ucap papa Jocelyn.
Membuat Kai menunduk sendu.
"Dia pasti bangun" Hibur tuan Atmaja.
"Kakek tahu?" Tanya Kai heran.
"Apa yang tidak aku tahu soal cucuku" Ucap tuan Atmaja santai.
"Cucu? Bukankah dia cucu Hadiwinata" Kai kembali heran.
"Dan cucu Atmaja" Papa Jocelyn yang menjawab kali ini.
"Lihatlah" Ucap tuan Atmaja.
Menunjuk sebuah bingkai foto besar di salah satu sudut ruangan itu. Dimana Kai bisa melihat dengan jelas. Foto keluarga Atmaja. Tuan Atmaja, seorang wanita yang Kai pikir itu pasti istri tuan Atmaja. Dan seorang wanita cantik. Yang wajahnya membuat Kai membulatkan matanya.
"Itu Celina Wulandari...."
"Atmaja" Tuan Atmaja menambahkan. Membuat Kai langsung menatap tuan Atmaja.
"Celina Wulandari Atmaja. Dia putri tunggalku" Kata tuan Atmaja sendu.
"Oh my God. Kejutan apa lagi ini" Batin Kai.
"Terkejut?" Papa Jocelyn menyindir.
"Tapi bagaimana bisa?" Kai heran.
"Pada awalnya aku tidak tahu dengan siapa Celine menikah. Aku bukannya tidak setuju dengan pernikahan ini. Tapi rupanya Kevin tahu kalau ayahnya tidak bisa menerima menantu dari keluarga Atmaja. Ada dendam lama diantara aku dan Wira. Jadi mereka menyembunyikan pernikahannya" Kenang tuan Atmaja.
"Aku sudah bersedia menerima cucuku. Namun tiba-tiba Celine ditemukan sudah meninggal. Dan aku kehilangan cucuku. Baru di hari kita bertemu di pantai aku menyadari kalau wajah Natasya sangat mirip Celine. Lalu aku meminta Jocelyn untuk melakukan tes DNA" Jelas tuan Atmaja sambil melirik ke arah papa Jocelyn yang tengah menikmati teh dari cangkirnya.
"Untuk membuat surat wasiatku sah di mata hukum" Tutur tuan Atmaja.
"Kakek harus membagi dua warisan kakek" Ucap Kai lagi.
Membuat tuan Atmaja heran.
"Maksudmu?" Tanya tuan Atmaja.
"Om belum memberitahu" Tanya Kai pada papa Jocelyn. Dan dia hanya menggelengkan kepala.
"Natasya mempunyai seorang adik kandung bernama Nadya. Saat ini masih kuliah di Singapura. Tapi kemungkinan bulan depan dia pulang" Jelas Kai.
"Aku punya dua cucu?" Tuan Atmaja berucap tidak percaya.
"Kevin dan Celine punya dua putri" Papa Jocelyn mengiyakan.
"Ya Tuhan kabar baik lagi yang kau berikan padaku, ditengah duka yang aku alami" Tuan Atmaja mengucap syukur.
Diberitahu mempunyai dua cucu perempuan membuat tuan Atmaja bahagia. Meski dia masih bersedih mendengar Natasya yang masih koma.
***
Up lagi readersku tercinta,
Jangan lupa Like like like
Vote vote vote
Kopi dong author ngantuk berat nih ma kembangnya juga jangan lupa, ( malak mode on)
Love you all 😘😘😘
***