You'll Always Be The One

You'll Always Be The One
Chapter 67



Senyum Natasya tak pernah luntur dari bibir manisnya. Dia begitu bahagia, ketika Nek Lastri benar-benar mengajaknya pergi ke pantai keesokan harinya. Dan gadis itu baru tahu jika nek Lastri pergi ke pantai itu bukan untuk berjalan-jalan. Melainkan untuk bekerja.


Nek Lastri rupanya mempunyai sebuah warung kecil yang ia sewa dari pemilik tanah di tempat itu. Yang memang sengaja menyewakan tanahnya untuk dijadikan tempat berjualan.


Natasya baru saja selesai membantu nek Lastri membuka warung kecilnya. Saat ini nek Lastri sedang memasak air untuk mengisi termosnya. Air panas itu akan digunakan untuk menyeduh kopi atau pop mie yang memang menjadi dagangan nek Lastri.


Hari masih pagi tapi beberapa orang nampak sudah berkunjung ke pantai itu. Yah pagi memang waktu yang tepat untuk berkunjung ke pantai. Mengingat kalau sudah siang cuaca panas di sekitar pantai bisa membuat kulit terbakar.


Walau banyak juga yang suka ke pantai siang hari. Seperti bule-bule dari luar negeri itu. Semakin panas cuacanya semakin mereka suka. Berbeda dengan kita semakin panas cuacanya semakin betah kita ngeyup (berteduh) di tempat yang teduh.


"Nek aku pergi ke sana dulu ya" Pamit Natasya.


Ketika dirasa dia sudah selesai membantu Nek Lastri membuka warungnya. Memasak air. Dan menata rencengan kopi dan deretan pop mie di bagian depan warung.


"Hati-hati" Pesan Nek Lastri.


Dan Natasya mengangguk. Lantas setengah berlari menuju arah pantai yang masih sepi.


"Segarnya udara di sini" Bisik Natasya lirih.


"Pantai yang indah" Gumamnya lagi.


Lalu dia mulai bermain dengan ombak di pantai itu. Pantai Glagah begitulah pantai itu diberi nama. Salah satu obyek wisata yang cukup terkenal di Kulon Progo. Keberadaannya semakin terkenal ketika bandara baru dibangun di dekat pantai itu.







All kredit google.com


Natasya benar-benar menikmati waktunya bermain air di pantai itu. Dia sangat suka pantai sejak dia masih kecil. Suka bermain di pantai tapi tidak bisa berenang. Kelemahan Natasya.


Beberapa kali tampak gadis itu mengambil selfie dengan ponselnya.


"Ah pasti kak Kai senang sekali jika aku ajak ke sini" Bisiknya lirih.


Kembali rasa rindu menghantam hatinya. Dia teringat jika kak Kainya dulu pernah berjanji, akan selalu menemaninya jika ingin pergi ke pantai. Hingga terlintas ingatan soal lukisan puzzle milik Kai di ruang kerjanya.


Lukisan puzzle berupa seorang gadis kecil dan seorang anak laki-laki yang tengah berjalan-jalan di tepi pantai. Jadi itu adalah lukisan dirinya dan Kai. Kai mengatakan sengaja memesan lukisan puzzle itu.


"Ketika aku sedang merindukanmu. Aku bisa menatap lukisan ini"


Jawab Kai ketika Natasya bertanya padanya soal lukisan puzzle itu. Kembali senyum terkembang sempurna di bibir Natasya. Lantas memandang ponselnya di mana foto Kai kini telah menjadi wall paper dan lock screen di ponselnya. Pria itu sendiri yang memasangnya.




All kredit pinterest.com


Setelah puas bermain air. Dan rasa lapar mulai mendera Natasya kembali ke warung Nek Lastri.




All kredit google.com


Dimana ternyata banyak pedagang lain yang juga mulai membuka warungnya. Nek Lastri tengah berbincang dengan pemilik warung sebelah yang juga berjualan sama dengan Nek Lastri.


"Nek...." Sapa Natasya lantas menangguk pada lawan bicara nek Lastri.


"Wis puas le main air?" Tanya nek Lastri.


"Belum. Besok lagi" Cengir Natasya.


"La itu anak kota ra tau weruh banyu" Seloroh nek Lastri.


(La itu anak kota tidak pernah lihat air/pantai)


"Wah sopo iki mbah? Ayu temen" Tanya teman berjualan nek Lastri.


(Wah siapa ini Nek? Cantik sekali)


"Ooh turis seko Jakarta. Nginep nang ngomahku" Jawab nek Lastri.


"Ooo kenalin kalau gitu. Saya Surti teman jualane mbah Lastri" Sapa penjual yang bernama Surti itu.


"Saya Anna" Jawab Natasya singkat.


"Wah cantik tenane mbak e ki" Seloroh bu Surti lagi.


Membuat wajah Natasya langsung merona merah karena malu. Dipuji cantik oleh bu Surti.


"Ibu bisa aja" Ucap Natasya salah tingkah.


"Mau nggak tak jodohin sama anakku Raka?" Tanya bu Surti to the point.


Membuat Natasya gelagapan bingung mau menjawab apa.


"Hah kowe ki aneh-aneh wae. Wong ayu koyo ngene iki mesti wis ono sing duwe. Paling ora wis duwe pacar. Bener ora?" Cerocos nek Lastri.


(Hah kamu itu kok aneh. Orang cantik seperti ini pasti ada yang punya. Paling tidak pasti sudah punya pacar. Benar tidak?)


"Iyo yo Mbah. La ini pacarnya nggak ikut liburan" Tanya bu Surti.


"Dia sibuk kerja Bu. Jadi nggak bisa ikut ke sini" Natasya mengiyakan kalau dia memang sudah memiliki kekasih.


"Tu kan wis duwe pacar" Ucap nek Lastri.


Dan ketiganya lalu tersenyum.


"Nek ada warung nasi nggak di sini. Atau warung biasa gitu. Laper" Tanya Natasya sedikit berbisik.


"Ooh sudah mau sarapan. La nenek nek pagi nggak pernah sarapan e nduk. Cuma ngeteh sama tadi rebus singkong" Balas nek Lastri.


"Nggak apa-apa nek. Saya bisa cari sendiri" Jawab Natasya.


"Depan situ lo nduk. Ada warung nasi. Sama toko kelontong" Kali ini bu Surti yang menjawab.


Natasya mengangguk. Lalu permisi pergi mencari warung yang dimaksud oleh dua orang itu.


Tak berapa lama Natasya kembali membawa dua kresek besar di kedua tangannya.


"Nek ini tak beliin nasi sekalian buat nanti kalau nenek mau makan" Ucap Natasya sambil meletakkan kresek besar di atas meja.


"La nenek le makan masih nanti siang. La kok kamu belinya banyak banget" Tanya Nek Lastri melihat dua kresek besar di atas mejanya.


Nek Lastri baru selesai menyeduh kopi dan pop mie yang langsung diserahkan kepada pembelinya.


"Sekalian beliin Agus juga. Kemarin dia sudah beliin aku bakso Nek" Jawab Natasya sambil mulai memakan rotinya.


"Agus jarang ke sini nduk paling kalau ke sini mau minta duit. La kamu kok malah makan roti to wong ini kamu beli nasi" Ujar nek Lastri.


"Nasinya buat nanti siang. Saya kalau pagi nggak bisa makan nasi Nek. Ngantuuuk jadinya" Jawab Natasya.


"La gitu kok beli nasi banyak banget. Terus nasi sebanyak ini mau diapain?" Nek Lastri kembali bertanya.


"Ambil aja secukupnya kita. Sisanya bagiin aja ke bu Surti sama yang lain. Daripada nggak kemakan. Sayang" Ucap Natasya membuat nek Lastri tersenyum.


"Kamu sengaja to mau beliin mereka juga" Tebak nek Lastri.


"Nggak juga" Elak Natasya.


"Ya sudah nenek sisain tiga. Siapa tahu Agus datang. Kalau nggak ya kita makan nanti sore. Kalau belum basi tapi. Sisane tak kasihke bu Surti dulu ya" Nek Lastri. Sudah mau berdiri.


"Biar Anna yang pergi. Nenek istirahat saja. Nanti siapa tahu warung rame. Nenek ndak kesel (capek)" Seloroh Natasya.


Nek Lastri tersenyum.


"Wah wis iso ngomong jowo to" Seru nek Lastri.


(Wah sudah bisa ngomong bahasa Jawa to)


"Sithik ( sedikit)" Jawab Natasya.


Tak berapa lama ucapan terima kasih terdengar dari beberapa penjual di kiri kanan warung Nek Lastri. Senang dibelikan nasi untuk sarapan.


Pun dengan Natasya yang terlihat begitu senang.


"Tak perlu harga mahal sudah bisa melihat senyum mereka dan ucapan terima kasih yang tidak ada habisnya" Batin Natasya sambil mengulum senyumnya.


Dia merasa begitu nyaman dan damai di tempat barunya ini.


******